Devina, seorang gadis imut nan manis, dengan satu lubang di pipi bagian kirinya. Jika tersenyum, wajahnya bak bersinar cerah sehingga membuat orang-orang yang melihatnya ikut menerbitkan senyum.
Devina melangkah menuju lapangan, dengan sedikit terburu-buru karena upacara akan segera di mulai.
Ia mendesah lega, ketika upacara belum di mulai. Devina kemudian mengisi barisan kosong, dan sedikit merapikan seragamnya yang sedikit kusut karena terburu-buru tadi.
Beberapa menit, upacara kemudian berlangsung. Kepala sekolah mulai mengeluarkan nasihat juga sedikit sindirannya.
Terdengar keluh kesah dari sebagian murid yang mulai bergerak gelisah di barisannya. Matahari cukup terik, hingga menimbulkan peluh di pelipis para murid.
Devina tetap fokus menatap dan mendengarkan Kepala sekolah yang masih berbicara. Meski, ia sendiri pun sebenarnya telah lelah. Apalagi, pagi ini ia melewatkan sarapannya.
"Huh.. akhirnya." Devina duduk, setelah upacara di akhiri. Semua murid berhamburan seperti semut. Devina duduk di bangku tepat di belakang barisan kelasnya.
"Vina!" Seorang gadis, dengan kulit sawo matang mendekat ke arah Devina.
"Hana?" Ucap Devina. Hana, gadis yang memanggilnya tadi mendengus.
"Lo terlambat lagi?" tanya Hana bersedekap dada menatap teman baiknya itu.
Devina meringis kecil, "Em, sedikit?" Devina menggaruk pelipisnya yang sama sekali tak terasa gatal.
"Ckck. Kalau malam tuh, lo ngapain, sih? kok bisa telat mulu?" Hana ikut duduk di samping Devina.
Devina mengedikkan bahu acuh. "Hanya melakukan hal-hal menarik."
Hana memicing. "Hal-hal menarik apa yang lo maksud?"
"Hm.. seperti menonton tv, membaca novel, bermain handphone, makan cemilan, menonton drama, melihat bulan, dan ya.. rebahan." Devina tersenyum sambil mengerjapkan matanya.
Hana terkesiap mendengarnya. Hal menarik apa yang barusan di ceritakan Devina?
"Itu yang lo maksud 'Hal-hal menarik'?" tanya Hana tak percaya.
"Ya." Hana memberi anggukan.
"Hah.. gue yang dengar aja udah bisa tebak kalau itu semua hal yang membosankan."
Devina terkekeh. Raut wajah Hana berubah ceria.
"Vina, kau tahu?" tanya Hana semangat. Devina menggeleng.
"Apa?" tanya Devina.
Hana menggeser tubuhnya lebih dekat ke arah Devina. "Gue baru aja denger pengumuman."
"Lalu?"
"Ck, dengar dulu!" Hana kembali melanjutkan. "Sekolah mengadakan sebuah acara dimana, kita harus bisa berfoto dengan orang yang kita suka! Em, mungkin itu terdengar gampang dan murahan? Tapi, keunikan dari acara ini adalah, kita gak boleh ngajak orang lain foto selain orang yang kita suka! dan lagi, kita hanya di perbolehkan berfoto satu kali. ingat, SATU KALI! Padahal, mungkin saja bukan kita di sukai oleh banyak cowok? Jadi, kita harus bergegas jika tidak ingin kalah." Jelas Hana berbinar.
Kening Devina mengerut. "Kapan pengumuman itu? kenapa gue gak dengar sama sekali?"
"Salah lo sendiri cepat banget balik kemarin." Hana kembali ke tempatnya semula.
"Mungkin, gak ada yang suka sama gue? Gue, kan, sama sekali gak pernah tersorot oleh warga sekolah. Jadi, gue gak usah ikut acara yang menurut gue gak ada manfaat nya sama sekali." Devina memperbaiki duduknya. "Lagipula, kenapa sekolah mengadakan acara seperti ini?" Heran Devina.
"Lo gak seru tau! Gak usah berkecil hati. Mungkin bagi lo, gak ada. Tapi, siapa yang tau jika diam-diam seseorang suka sama lo?" Kesal Hana.
Devina mengedikkan bahu acuh, tak mau ambil pusing. "Terserah saja."
****
Acara yang di ceritakan oleh Hana itu sebenarnya bukanlah sebuah Acara sekolah. Guru guru hanya ingin memberi kebebasan atau mungkin sebuah hiburan? untuk para murid sebelum memasuki ujian minggu depan.
Jadi, acara itu berlangsung khusus minggu ini saja.
Devina sama sekali tak tertarik dengan acara tidak jelas seperti itu. Bukankah lebih baik ia menyiapkan diri untuk ujian minggu depan?
Lagipula, siapa yang tertarik dengan cewek biasa seperti Devina?
Ini sudah hari ketiga, dan ya.. sama sekali tidak ada.
Hana, entah kemana gadis satu itu. Devina sama sekali tidak ingin ambil pusing. Dia lebih tertarik belajar untuk ujian minggu depan.
Hari-hari selanjutnya pun tetap sama. Tidak ada yang mendekati Devina. Dan, Devina bersyukur.
Hari ini adalah hari sabtu, yang merupakan hari terakhir dari acara itu. Kemarin, Hana datang dan gadis itu terlihat begitu senang, di lihat bagaimana raut wajah gadis itu yang tak henti-hentinya menerbitkan senyum.
Devina sampai bergidik ngeri jika sewaktu-waktu bibir Hana akan melebar jika terus tersenyum. Hana sempat bercerita, jika kemarin ada yang menemui dan mengajaknya berfoto. Itu berarti dia memiliki seseorang yang menyukainya. Dia juga bercerita, jika di hari yang sama mereka berdua jadian.
Devina duduk menghadap jendela. Lapangan menyambut penglihatannya. Kelas sunyi, dan hanya ada dia. Ini jam istirahat, jadi wajar bukan?
Baru saja ingin terhanyut dalam lamunan nya, seseorang menepuk bahu Devina. Devina tersentak kaget, dengan kedua mata yang membola, ia berbalik.
"A-ada apa?" tanya Devina mengerjap.
"Maaf gue ganggu."
Devina kembali rileks. "Gapapa. Ada apa?"
Di depannya, seorang murid perempuan berbicara dengan sedikit gugup.
"Itu, gue di suruh manggil lo ke pinggir lapangan." ucap siswi itu.
Devina menyerngit. "Kalau boleh tau, siapa yang manggil gue? dan, untuk apa?"
"Gak tau. Gue cuma di suruh buat manggil lo aja." ucap siswi itu.
Devina menghela nafas. Sebenarnya terlalu malas untuk berdiri dan menemui seseorang yang memanggilnya itu. Tetapi, melihat siswi di depannya membuat Devina mau tak mau bangkit dari duduknya.
"Gue kesana."
Keduanya lalu berjalan beriringan. Ternyata, Devina di bawa ke bangku yang merupakan tempat duduk favoritnya.
"Di sini?" tanya Devina. Siswi itu mengangguk.
"Tugas gue udah selesai. Gue pergi dulu."
"Terima kasih."
Seperginya siswi tadi, dengan bingung Devina duduk. Ia menoleh ke sekelilingnya. Banyak murid yang berlalu lalang di lapangan. Di antara itu, siapa yang memanggilnya? Apa siswi itu bercanda?
"Sudah datang?"
Devina reflek menoleh dengan cepat. Matanya kemudian mengerjap-ngerjap.
"Siapa?" tanya Devina langsung.
Cowok di samping bangku itu tertawa kecil. Dia tampan, dan memiliki senyum yang indah. Devina sudah lama tidak melihat senyum itu. Senyuman yang mirip oleh Alm.Ayahnya.
"Gue? Mau kenalan?" cowok itu menyodorkan tangannya.
Devina melirik singkat. Dia hanya diam.
"Alvandro Gerogra," Cowok itu lagi-lagi tersenyum.
Dengan ragu, Devina menyambut uluran tangan itu.
"De-
"Devina Canvisca." sambung cowok itu, tanpa melunturkan senyum nya. Devina lagi-lagi mengerjap.
"Lo tau nama gue?" Tanya Devina dengan kerutan di keningnya.
"Tentu."
"Tentu?" ulang Devina tak mengerti.
"Lo duduk lagi aja." ucap Alva tidak menghiraukan ucapan Devina.
Devina duduk. "Lo yang manggil gue?" tanya Devina mendongak.
"Hn." Alva berdehem.
"Ada apa?"
"Hanya ingin berkenalan?"
"Lo udah tau nama gue, kenapa harus kenalan?"
"Emang. Tapi, lo gak tau nama gue."
Devina diam. Benar.
"Hanya itu? Gue mau balik kelas." Devina berdiri.
"Tunggu!" cegah Alva.
"Kenapa?"
"Lo udah tau nama gue, kan?" tanya Alva.
"Iya."
"Kalau begitu, boleh gue minta satu hal di hari pertama pertemanan kita?" Tanya Alva.
Devina mengangguk saja. "Apa?"
Alva tersenyum. "Want a photo with you!"
Deg..
***
T.A.M.A.T
Cerpen > Want a Photo With You
Selesai > Sen, 26 April 2021
****
Terima kasih, telah membaca!
Semoga menghibur.