Ramadan Terakhir Bersama Bapak
Sehabis mandi aku mengganti pakaian biasa dengan seragam sekolah. Aku memakai seragam lengkap karena hari ini adalah hari Senin. Sebagaimana biasanya, di sekolah ada jadwal upacara bendera. Aku mengenakan dasi dan topi agar tidak terkena hukuman oleh Bapak Kepala Sekolah. Sebab setiap hari Senin beliau akan berdiri di pintu utama sekolah seperti seorang petugas keamanan bandara. Lalu beliau memeriksa setiap siswa yang hendak masuk. Dan kalau ketahuan tidak mengenakan seragam lengkap dengan atribut sekolah, maka siswa tersebut tidak diperbolehkan ikut upacara. Baru setelah siswa yang lain selesai upacara, siswa yang kena sanksi itu disuruh melaksanakan upacara di bawah terik matahari. Sendirian! Belum lagi ditambah dengan hukuman lari mengelilingi lapangan sekolah hingga mirip jamaah haji yang sedang thawaf. Buku pelajaran yang semalam ada di meja belajar kumasukkan ke mulut tas yang menganga macam mulut buaya. Semua tugas sudah kukerjakan. Setelah itu aku keluar dari dalam kamar. Aku berjalan menuju ruang makan. Di sana aku melihat ayah sedang sarapan bersama kedua kakak lelakiku, Mas Hasan dan Mas Rahmad. Aku duduk di kursi di sebelah kursi Mas Hasan. Aku mengambil piring lalu menyendok nasi.
“Kamu kok tidak ngomong apa-apa sama bapak kalau sepatumu berlubang, Di?” bapak mengawali pembicaraan pagi itu kepadaku dengan melemparkan sebuah pertanyaan.
“Ah, sepatu yang lama itu masih bisa dipakai kok, Pak.” sahutku sambil menuangkan nasi ke piring.
“Bisa dipakai apanya, lha wong bagian depannya sudah menganga macam mulut buaya?” kata bapak melanjutkan lalu tangannya mengambil gelas berisi teh hangat.
Aku menghela napas panjang.
“Sudah. Kamu buang saja sepatu yang sudah rusak itu!” perintah bapak setelah meminum teh hangat.
“Lha terus aku pakai sepatu yang mana, Pak?”
“Bapak sudah membelikan kamu sepatu baru tadi malam,” jawab bapak.
“Sepatu baru?” tanyaku dengan heran. Bapak mengangguk. Lalu aku sarapan dengan nasi putih dan lauk pecel kediri buatan ibu.
Sepatuku memang robek parah di bagian depannya. Namun, aku tidak mengatakannya pada bapak karena aku tidak ingin menyusahkan beliau. Maka dari itu, aku tetap memakainya meski lubangnya semakin lebar. Untuk bisa tetap dipakai, bagian depannya aku ikat dengan talinya. Tentu saja tindakan konyolku itu mengundang tawa teman-temanku yang memang berasal dari keluarga berada. Kalau mereka masih mending karena pekerjaan orang tuanya tidak semelarat orang tuaku. Lagi pula aku tidak ingin menjadi anak manja. Bahkan baik bapak maupun ibu pernah mengajarkan kepada kami bertiga supaya bisa menjadi anak yang mandiri. Kami pegang betul nasehat dari mereka berdua.
Selesai sarapan aku berangkat ke sekolah dengan naik sepeda jengki.
“Masih betah ngontel, Bro?” ledek temanku saat ia melihatku turun dari sepeda jengki. Tatapan matanya penuh dengan penghinaan. Senyumannya juga penuh dengan makian. Begitu juga dengan gadis berambut panjang ikal sebahu yang berdiri di sebelahnya. Keduanya sama-sama menghina.
“Masih. Kenapa?” balasku dengan kalem. Aku berusaha menahan diri dengan bersabar supaya emosiku tidak meledak. Sebab sekali meledak, maka satu kepalan tinju sudah pasti mendarat di pelipisnya. Namun aku tidak menginginkan hal itu terjadi.
“Songong banget nih Anak Kampung!”
Aku mengernyitkan dahi saat mendengar kata-katanya yang semakin pedas.
“Tidak mengapa ngontel daripada naik motor tapi bukan hasil keringat sendiri,” balasku tak kalah pedas.
“Nyindir?” ia tidak terima dengan kata-kataku.
“Memangnya siapa yang nyindir? Memang nyatanya seperti itu!”
Remaja berambut ikal itu berjalan menghampiriku dengan muka merah padam. Aku sudah bersiap. Kalau dia berani memukulku, maka aku akan membalas memukulnya. Aku sama sekali tidak pernah takut menghadapi mereka meskipun mereka anak keluarga berada. Dan aku sama sekali tidak takut andai mau dilaporkan pada kepala sekolah maupun ke pihak berwajib, karena aku membela diriku dari sebuah penghinaan. Mentang-mentang aku anak orang miskin dihina seenak perutnya sendiri. Baru giliran mereka yang dihina lalu dipukul mau melaporkan yang miskin? Yang kaya tidak mau disalahkan, sementara yang miskin dijadikan orang bersalah? Di manakah letak keadilan negara ini terhadap rakyatnya?
Kemudian remaja berambut ikal itu menendang ban sepeda jengkiku dengan keras hingga bergetar. Spontan saat itu darahku mendidih melihat kepongahannya. Aku sama sekali tidak terima dihina terus-terusan oleh anak itu. Lalu kedua tanganku yang sedari tadi gemetar langsung melemparkan sepeda ke tanah. Setelah itu aku meraih kerah bajunya dan kuangkat tubuhnya. Ia tercekik. Kupelototi kedua matanya dengan tatapan tajam.
“Sekali lagi kau menghinaku, maka aku tidak akan segan-segan menghabisimu!” kataku dengan tegas dipenuhi ancaman. “Aku tidak takut!”
Dia terdiam.
“Kau boleh menghinaku, tapi jangan kau rusak barang milikku! Mentang-mentang kau anak orang kaya lalu dengan sesuka hatimu kau berbuat semena-mena, heh?! Meskipun orang tuamu kaya itu pun bukan milik mereka melainkan milik Tuhan. Apakah kau tidak mengenal siapa Tuhan? Sekali Tuhan marah terhadap kesombonganmu, dalam seketika harta orang tuamu akan binasa.” tukasku.
Kedua tangannya berusaha melepaskan cekikan kedua tanganku. Rupanya ia kesulitan untuk bisa bernapas.
“Awas! Camkan baik-baik kata-kataku tadi!”
Lalu aku melepaskan kerah bajunya. Aku menghampiri sepedaku dan membangkitkannya dari tanah. Setelah itu aku masuk ke halaman sekolah. Kulihat saat itu kekasihnya memandangiku.
Pulang dari sekolah aku langsung makan siang. Tampak di dapur ibu tengah mempersiapkan sesuatu. Lalu aku menghampiri beliau. Kuliat di meja ada sebuah tas berukuran sedang. Lalu satu per satu ibu mengeluarkan barang-barang yang sudah dibelinya dari toko kelontong yang ada di ujung kampung kami. Sekilo gula aren, sekilo tepung terigu, satu biji kelapa muda, sekilo ubi, sekilo singkong, dan sebungkus kolang-kaling.
“Mau membuat kolak, Bu?” tanyaku.
“Iya. Nanti kan kita mulai sahur?”
“Masya Allah! Aku hampir saja lupa!” aku menepuk dahi dengan tanganku pelan.
“Kenapa, Di?” tanya ibu heran.
“Aku hampir lupa kalau nanti adalah sahur pertama puasa, Bu.”
“Gimana kamu?”
“Berarti besok sudah mulai berpuasa?”
Hatiku sangat bahagia sekali siang itu karena nanti malam adalah malam pertama salat Tarawih berjamaah. Biasanya dulu, ketika aku masih kecil pas masuk salat Ashar anak-anak musala akan menabuh jidor selama satu jam. Dan orang-orang kampung begitu sangat gembira menyambut bulan puasa. Lalu setelah salat Ashar, mereka akan melakukan ziarah kubur ke makam para leluhur. Di sana mereka akan mengaji surat Yasin dan disambung dengan membaca zikir.
Menurut cerita turun-temurun dari nenek bahwa orang-orang yang telah meninggal dunia ruhnya akan turun dari langit untuk menziarahi keluarga mereka yang masih hidup. Maka dari itu di setiap rumah, orang-orang kampung mempersiapkan sebuah sesaji berupa sepiring nasi lengkap dengan lauknya dan secangkir kopi. Tidak lupa mereka memanjatkan sebait doa untuk kebaikan orang yang telah meninggal. Apakah itu adalah suatu perbuatan bid’ah? Oh jelas tidak. Makanan dan minuman hanya sekedar mediasi. Tapi tujuan utamanya adalah mempersembahkan sesuatu kepada ruh yaitu, keikhlasan. Sebenarnya yang dituju oleh manusia bukanlah ruh orang yang meninggal melainkan ruh Yang Mahahidup yaitu, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu, apakah mempersembahkan hati kepada Allah adalah suatu perbuatan bid’ah?
Malam itu aku berangkat ke musala bersama kedua kakak lelakiku. Tampak di jalan orang-orang berduyun-duyun menuju ke musala untuk melaksanakan salat Tarawih berjamaah. Mereka tampak jamaah yang digiring di Padang Mahsyar dalam balutan jubah ihram. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan ketika manusia kelak berduyun-duyun di bawah terik panasnya matahari yang hanya berjarak sejengkal di atas ubun-ubun. Lalu kami bertiga sampai di musala. Ruangannya sudah penuh dengan jamaah. Biasanya pada malam pertama puasa, ruangan akan penuh. Tapi menjelang malam ke 16, 18, 20, 22, sampai 30 ruangan musala tampak mulai kosong. Jamaahnya sudah mulai menghilang. Mereka malah sibuk membuat kue dan membeli baju lebaran.
Di kampung kami jumlah rakaat salat Tarawih ada 20 rakaat yang ditambah dengan salat Witir berjumlah 3 rakaat. Sehingga total jumlah rakaatnya 23 rakaat. Ada juga di kampung sebelah yang jumlah rakaatnya 11 rakaat. Baik yang salat dengan memakai 23 rakaat maupun 11 rakaat, sama sekali tidak ada yang salah. Semuanya benar. Sebab di hadapan Allah tidak ada yang perbedaan soal jumlah rakaat. Tapi satu, siapa yang salatnya sampai kepada Allah?
Selesai salat Tarawih kami bertiga hendak melanjutkan ikut tadarrus di musala. Tapi tiba-tiba, Pak Ahmad datang menghampiri dan menghampiri kami bahwa ibu menangis di rumah. Kami bertiga saling berpandangan. Apa yang terjadi? Kenapa ibu menangis? Lantas kami pun pulang. Sesampainya di rumah, kami melihat sudah banyak tetangga yang berkumpul memenuhi halaman rumah kami. Di ruang tamu pun sudah banyak orang. Aku bertanya-tanya ada apa ini? Lalu aku berjalan menghampiri untuk mencari tahu apa yang terjadi. Saat itu aku melihat tubuh ibu sudah direbahkan di kursi ruang tamu. Ibuku pingsan.
“Apa yang terjadi, Om?” aku bertanya kepada omku yang duduk menunggui ibu.
Kedua mata lelaki paro baya yang kupanggil om itu tampak sembab. Ia berjalan menghampiriku.
“Bapakmu sudah tiada, Di!” katanya kepadaku dengan menitikkan airmata.
Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh omku. Tapi hatiku yakin kalau ia berkata jujur bahwa bapak memang telah tiada.
“Bapakmu tadi kecelakaan di Pasuruan. Rem busnya blong. Bapakmu sudah berusaha menginjak pedal rem tapi nihil. Akhirnya bus yang dikendarai bapakmu menabrak tiga mobil dan lima pengendara sepeda motor. Semuanya tewas di tempat. Setelah menyeruduk kendaraan yang ada di depannya, bus bapakmu menerobos pintu palang kereta api. Di saat yang sama, sebuah kereta api yang melaju ke timur menabrak bagian kemudi sopir. Akibat benturan keras itu tubuh bapakmu terjepit. Ia tewas seketika. Bahkan badan bus terbawa oleh kereta api sejauh sepuluh meter. Setelah itu jenazah bapakmu dievakuasi ke RS. dr. Soedarsono, Pasuruan. Dan saat ini tengah perjalanan ke sini,” tutur omku menjelaskan dengan panjang lebar. Saat itu hatiku terasa remuk. Airmataku tumpah dan menganak sungai di pipi.
Sebuah mobil ambulans datang dan memasuki halaman rumahku. Suara sirinenya meraung-raung. Para tetangga yang hendak melayat mulai berdatangan. Kursi di dalam rumah dikeluarkan semua dan berganti dengan tikar-tikar yang digelar. Ibuku yang sudah sadar dari pingsannya juga meraung-raung saat melihat jenazah bapak yang sudah kaku. Aku sama sekali tidak mengira, kalau malam ini adalah ramadhan terakhir bersama bapak. Kami tidak akan berbuka dan bersahur lagi bersama bapak seperti ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada lebaran bersama. Rumah kami pun menjadi sepi tanpa bapak.
Lalu kupandangi sepatu baru itu. Sepatu terakhir yang dibelikan oleh bapak. Aku yakin kalau bapak juga berpuasa bersama para shalihin yang ada di sana, di surganya Allah. Malam itu orang-orang bertadarrus di hadapan jenazah bapak yang terbungkus kain batik. Membacakan ayat-ayat kematian kepada para pentakziah yang masih hidup. Al-Quran Karim ingin mengabarkan bahwa, semua yang hidup pasti akan mengalami kematian. Tiada yang abadi di alam ini kecuali hanya Allah.
Satu bulan setelah kematian bapak, bapak sekolah memanggilku ke kantornya. Tadinya aku menduga bahwa pemanggilanku ini adalah untuk menyidangku karena kejadian sebulan yang lalu. Tapi aku sudah mempersiapkan segala pembelaan terhadap diriku sendiri.
“Hadi...” kata Bapak Kepala Sekolah dengan memandangku tajam. Suaranya sedingin udara AC di dalam ruangan itu. Aku duduk di depan meja beliau bagai pesakitan. Sementara suara jarum jam terus berjalan. Kutengok jarum panjang hinggap di angka sembilan, sedangkan jarum pendek mendarat di angka enam. Berarti sudah jam setengah sepuluh.
“Saya dapat laporan dari Pak Khalisun...” lanjut Pak Kepala Sekolah yang membuat keringatku makin dingin. Pasti ini laporan dari si Rambut Ikal yang tidak terima dirinya kuancam. Lalu ia melaporkan aku ke Guru BP.
“Bahwa beliau tadi menerima surat dari kampus Magistra Utama. Adapun isi suratnya adalah pengumuman tentang pemenang lomba karya ilmiah remaja yang diadakan pada dua bulan yang lalu,” tutur Pak Kepala Sekolah melanjutkan. Hatiku merasa lega. Ternyata bukan soal kejadian itu.
“Dan ternyata, salah satu dari pemenang lomba itu adalah kamu. Maka dari itu saya ingin mengucapkan selamat!”
“Apa? Aku menang lomba karya ilmiah remaja?” jeritku membatin.
“Dan sebagai pemenang kamu berhak mendapatkan beasiswa berupa kuliah gratis ke Magistra Utama. Saya bangga sekali atas prestasimu, Nak!”
Pak Kepala Sekolah menyalami tanganku erat sekali. Aku menghela napas lega. Setelah itu aku keluar dari ruangan beliau. Tapi di luar aku melihat seseorang. Ya, gadis berambut ikal panjang sebahu itu tengah berdiri menatapku. Bahkan ia tersenyum padaku.
“Hadi, selamat atas prestasimu!”
“I-iya. Terima kasih.” ucapku tersipu malu.
Kupersembahkan prestasi ini buat bapak yang ada di surga sana. Aku yakin kalau ini adalah karena doa beliau dan berkah bulan Ramadhan. Entahlah. Allahu a’lam.
***
Subang, 26 April 2021