Dian tergesa-gesa mengenakan seragam putih abu-abu nya.. Waktu menunjukkan pukul 06.45 pagi. Aaah.. aku bakal terlambat ini, pikirnya.. apalagi kalau jalanan macet. Biasanya ia berangkat jam 06.30. tapi hari ini ia bangun terlambat. Ya, dia terlambat bangun karena tadi malam ia tidur terlambat juga. Akibat terlalu asyik chat WA dengan Rani, teman sebangkunya.
Entah kenapa mereka suka sekali bercakap-cakap via chat, padahal setiap hari dari jam 07 pagi hingga pukul 16 sore mereka bertemu, di sekolah. Tapi selalu terasa ada yang kurang dalam perbincangan mereka. Apalagi jika topiknya tentang Pak Andre, guru olahraga mereka yang super duper keren itu. Hhmmmm... tak kan habis sejuta lagu untuk menceritakan kerenmu... eh.. kok jadi nyanyi...
Yaaa.. Pak Andre adalah motivasi Dian, Rani, Shinta, Laura, dan teman-teman lainnya untuk berangkat sekolah setiap hari. Sayangnya jam olah raga tidak setiap hari ada di kelas mereka. Tentu saja jadwalnya kan sudah diatur, setiap kelas hanya satu kali dalam seminggu ada jam pelajaran olah raga. Kalaupun ada bonus, itu adalah hari Jumat pagi, saat mereka senam massal bersama.
Nah, hari ini adalah hari Jumat, jangan sampai aku terlambat dan tidak bisa mengikuti senam, pikir Dian. Terbayang olehnya jika terlambat, dia ditahan di pintu gerbang, tidak boleh masuk sebelum membersihkan halaman sekolah.
Dian melesat keluar rumah, mengabaikan suara mama yang mengingatkan bekal makan siangnya. Dipacunya skuter matic di keramaian jalan raya. Selap selip di antara mobil dan motor lain. Uups!! hampir saja ia menabrak angkot yang berhenti mendadak. Dian berbelok masuk ke jalan kecil, lewat gang-gang, tembus persis di jalan belakang sekolah. Dia memutar menuju gerbang depan. Bel masuk berbunyi. Selamat.... Dian menghembuskan nafas lega. Setelah memarkir motor, ia berlari menuju kelas.
Mendadak ia termangu. Ia lupa membawa pakaian olahraga.. uuh! sial! ini akibat terburu-buru tadi. Kelas sudah ramai, mereka sedang bersiap menuju lapangan sekolah.
"Diaaaan...!!!" teriak Rani. Diikuti Shinta, Putri, dan lainnya.
Dian cemberut.
"eh.. kenapa Lo..? kesambet..?" tanya Rani.
Dian diam saja, ia kesal pada keteledorannya. Iiiiihhhh... dia menghentakkan kepal tangannya ke meja. dug!dug!dug!
Rani menatapnya.
"Kenapa sih Lo..?" tanyanya lagi.
"Baju Olga gua ketinggalan.." jawab Dian sambil meringis.
"Ya elaaaah..."
"gimana nih...? gak ikut senam dong gua.." rengek Dian.
"iiih.. rugi tau.. gak liat Mas Boy.." mereka menggunakan nama "Mas Boy" untuk julukan kepada Pak Andre.
"ya abis gimanalah... gua buru-buru tadi.." sesal Dian.
"pake baju gua aja.." tiba-tiba Merry nyeletuk.
"terus Lo pake apa?" tanya Rani.
"gua gak ikut senam. perut gua sakit." kata Merry.
"beneran, mer..?" Dian memastikan.
"iya, benar.. pake aja.." Merry menegaskan.
"Thank you, Mer.. Lo Baek banget deh.." kata Dian.
Diciumnya pipi Merry.
"Lebay..." gerutu Mery, tapi ia tertawa.
"Udah gih sana ganti.. nti kita telat.." perintah Rani pada Dian.
Rani berlari ke ruang ganti.
Semenit kemudian dia telah kembali.
Busyet! cepet amat, pikir Rani.
Lalu mereka bersama-sama menuju halaman sekolah.
Dian dan Rani menerobos barisan teman-teman lain, mereka ambil posisi di barisan paling depan. Tepat di depan Pak Andre.
Pak Andre mengatur barisan.
"Pak Andre..!!" teriak Rani
"Mas Boy..!!" sapa Dian.
"Wuuuuuuuu..." suara sorak teman mereka bagai dengungan lebah.
Pak Andre tersenyum. Manis sekali. Membuat Dian dan teman-temannya berhenti bernafas sejenak. Ya, sejenak saja, kalau lama-lama nanti sesak, kehabisan oksigen.
Suara musik senam mengalahkan suara mereka. Senam dimulai. Pak Andre memberi komando sambil memperagakan gerakan yang diikuti seluruh peserta senam.
Suasana riang gembira. Senam bagi mereka adalah salah satu bentuk refreshing. Saat senam mereka bertemu dengan anak-anak kelas lain, sama seperti saat upacara Senin pagi. Bedanya saat upacara mereka berdiri serius dan harus diam, mengikuti setiap rangkaian acara dengan khidmat, sedangkan dalam senam mereka bebas tertawa dan bercanda, bergerak kesana kemari mengikuti irama musik dan panduan Pak Andre, guru mereka.
Empatpuluh lima menit kemudian, senam selesai.. mereka melakukan peregangan. Keringat mulai mengalir di dahi dan pipi mereka. Wajah-wajah riang tampak semakin cemerlang di bawah sinar matahari pagi.
Pak Andre kembali memberi aba-aba. Kali ini aba-aba untuk istirahat, sebelum kembali memasuki kelas.
Tetapi Dian dan kawan-kawan tetap di tempat, tak beranjak.
"Hei.. istirahat.." kata Pak Andre.
"Gak mauuuu.." jawab mereka serempak.
"lho..!?" pak Andre menatap mereka, keheranan.
"Istirahat sama bapak aja.. disini.. " mereka mulai mengelilingi pak Andre.
Meski bingung, pak Andre tetap tersenyum.
"ada apa tho ini..?" tanyanya.
Mereka tak menjawab.
"Pak.. kami boleh bilang sesuatu..?" tanya Shinta.
"Apa itu..?"
"I Love You...!!!" mereka serempak menjawab.
Pak Andre tampak takjub. Wajahnya memerah. Bingung mau menjawab apa.
"Love you too..." jawab Pak Andre akhirnya.
"Eeeeeaaaaaaaa...!!!!" gadis-gadis itu berteriak.
Pak Andre berbalik, hendak melangkah pergi, saat Dian mencegat langkahnya.
"Pak.." katanya.
"Apalagi tho...?" tanya pak Andre lembut.
Dian berasa meleleh mendengar suara pak Andre.
" Bapak keren banget..!!" ungkap Dian.
Teman-teman bersorak Sorai.
Pak Andre hanya tersenyum.
"sudah..?" tanyanya.
"sudah, pak.. untuk hari ini.." jawab Rani dari belakang. Disambut tawa teman-temannya.
Pak Andre bergegas pergi , masuk ruang guru.
Dian dan teman-temannya berlarian riang menuju kelas.
Merry tampak sedang duduk tenang di kursinya.
Dian menghampiri, Merry sedang menggambar sketsa. Dian agak terkejut saat melihat sketsa yang dibuat Merry. Itu sketsa Pak Andre.
Walah... bahkan Merry yang pendiam itu pun ternyata fans gelapnya Pak Andre, pikir Dian.
=000=
Selasa pagi, jam pertama adalah mata pelajaran olahraga. Dian sudah mengenakan pakaian olahraga sejak dari rumah, takut lupa lagi. Kali ini dia bersiap pagi-pagi sekali. Dian tak ingin terlambat. Begitu pun teman-teman sekelasnya, terutama yang putri, mereka selalu hadir lebih pagi di sekolah setiap hari Selasa. Andre's effect memang luar biasa. Andai saja semua guru mata pelajaran seperti Pak Andre, dijamin semua anak SMA Harapan tidak ada yang terlambat.
Jalan raya belum padat, Dian memacu skuter matic nya dengan tenang. Hatinya riang gembira, terbayang Pak Andre dengan tubuh atletis, kaos olahraga yang matching, dan wajah cakepnya. Pak Andre memang keren abis, cuy..!!! Beruntung sekali yang menjadi istrinya.
Dan.. ssstttt.. Pak Andre tuh bukan hanya keren secara fisik lho.. kompetensinya sebagai guru juga benar-benar ajib. Dia pandai meramu proses belajar, sehingga belajar bersama pak Andre adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan, jauh dari kata membosankan. Bahkan meski hari hujan dan mereka tak bisa ke lapangan, kegiatan belajar di kelas pun jadi menarik.
Dian sampai di sekolah. Suasana masih agak lengang. Ya, ini masih pagi sekali. Baru beberapa anak yang terlihat hadir. Salah seorang security mengarahkan tempat parkir.
"Pagi, nona cantik.. silakan parkir di sebelah sana ya.. masih banyak tempat kosong.." katanya.
"Jangan lupa, kuncinya dibawa..!!" serunya lagi.
Dian tertawa, dia memang sering lupa melepaskan kunci motornya. Pernah suatu ketika Dian meminta security mengumumkan kehilangan kunci motor miliknya, petugas sekolah bahkan ikut membantu mencari-cari ke toilet sekolah dan sebagainya. Ternyata kunci itu masih nyantol di motor.
Berjalan di koridor, terdengar sebuah teriakan memanggil namanya,
"Diaaaan...!!" itu suara Rani
Dian menghentikan langkahnya.
Rani berlari-lari kecil menyusulnya.
"PR elo sudah selesai..?" tanya Rani.
"PR apaan..? memang ada PR..?" Dian keheranan. Waduh, gawat! pikirnya. Penyakit pelupanya bertambah parah ternyata.
"Tugas sosiologi minggu kemarin.." terang Rani.
"Sosiologi..? kan gurunya gak pernah ngasih PR.." Dian masih berpikir keras.
"itu lho.. smile projects.. " jawab Rani.
" ya elaaah... itu bukan PR, itu tugas observasi.." gerutu Dian.
"ya sama aja..." kata Rani.
"beda laaah.." elak Dian.
"Lo dapat berapa orang untuk proyek senyum itu, Ran..?" tanya Dian
"Lima.." jawab Rani.
"Iiih.. sombong banget sih Lo.. seminggu cuma lima orang yang Lo ajak senyum.." ejek Dian.
"eh ... enam.." ralat Rani.
"satunya Pak Andre.." lanjut Rani sambil terbahak.
Dian ikut tertawa.
Hari itu pelajaran olahraga mempraktekkan tehnik olahraga tolak peluru.
Pak Andre memperagakan contoh singkat gerakannya. Diulang tiga kali. Posisi berdiri, tehnik memegang besi peluru, cara memutar badan, dan melakukan tolakan.
Mereka memperhatikan dengan seksama. Lalu beberapa anak mencoba bergantian.
Dian ikut mencoba mempraktekkan gerakan. Pak Andre membimbing dengan sabar. Dia mengoreksi posisi kaki, tangan, dan punggung. Dian berpura-pura tak mengerti, tangannya yang menggenggam besi naik turun, tidak stabil. Bola besinya ternyata berat, guys...
Lama Pak Andre memegang tangan Dian agar stabil. Dian senyum-senyum sendiri.
"modus...modus...!!!" teriak teman-teman mereka.
Pak Andre dan Dian cuma tertawa.
Ternyata modus Dian juga dilakukan oleh anak-anak perempuan lain, Shinta, putri, Rani, Merry, Indah, dan yang lainnya.
Anak-anak lelaki cuma memandang sebal ke arah mereka.
"Pak Andre.. Sarangheo..!!!" teriak anak-anak perempuan itu saat jam pelajaran berakhir.
"wuuuuuuuu..!!!!" seru anak-anak lelaki.
"gombal..!!" teriak mereka.
"weeeww.. iri yaaaaa..?" jawab Dian dan teman-temannya.
Mereka berlari meninggalkan lapangan olah raga dan anak-anak lelaki yang masih bersungut-sungut mengejek.
=000=
Pak Andre adalah magnet bagi siswa SMA Harapan. Mata Pelajaran Olahraga menjadi pelajaran favorit. Kegiatan ekstrakurikuler yang dibimbing pak Andre diminati banyak siswa.
Dalam beberapa tahun terakhir prestasi olahraga SMA Harapan meningkat pesat. Cabang atletik, lari estafet bahkan mendapat medali emas di olimpiade pelajar Asia. Belum lagi cabang-cabang lain di tingkat nasional dan provinsi.
Saat ada pemilihan guru terbaik, Pak Andre selalu menempati posisi teratas. Tiga tahun berturut-turut. Olahraga menjadi trademark SMA Harapan.
Menjelang kenaikan kelas, Dian dan teman-temannya sedih. Tahun depan guru olahraga mereka bukan pak Andre lagi. Pak Rizal, ganteng dan berwibawa. Tapi beliau sudah tua dan galak sekali. Sehingga banyak anak yang merasa takut berhadapan dengannya.
Kadang Dian dan teman-temannya bingung, mengapa ada guru yang bangga dengan sikap galaknya, bangga jika siswa takut pada mereka. Bukankah lebih menyenangkan seperti Pak Andre? Baik, ramah, friendly. Sehingga siswa merasa nyaman belajar. Terbukti prestasi olahraga mereka meningkat banyak dibawah bimbingan dan pembinaan pak Andre.
Akhir tahun pelajaran Dian dan teman-temannya bersepakat memberi cinderamata kepada Pak Andre. Mereka membeli jam tangan analog lalu membungkusnya menjadi sebuah bingkisan.
"Pak Andre, We love you...
as a teacher, as a brother..
Tetaplah menjadi guru terbaik bagi kami."
Tulis mereka dalam selembar kertas berwarna biru.
Sebenarnya Dian ingin menambahkan kalimat lain, tapi tidak jadi. Ia malu pada Rani dan kawan-kawan nya yang lain. Mungkin nanti saja, pikirnya, saat ia memberi cinderamata sendiri.
Ya, Dian memang jatuh cinta pada Pak Andre, bukan sebagai guru, tapi sebagai lelaki.
"Eh, Pak Andre sudah punya istri.. memang Lo mau jadi pelakor?" bisik hati nya.
"Bodo amat, kan gua cuma jatuh cinta, gak minta dinikahin.." jawab hatinya yang lain.
"Ngeri banget sih Lo.. jatuh cinta sama guru Lo sendiri.." bisik hatinya lagi.
"Di hadapan cinta, kita gak pernah bisa milih, cuy.." sisi lain hatinya menjawab.
"Ah, terserah Lo deh.. buang-buang waktu ngomong sama Lo.." hatinya mulai kesal.
Dian senyum-senyum sendiri.
"Eh.. Lo kesambet apa lagi..? senyum-senyum sendiri di tempat sepi..?" Rani mengagetkannya.
Dian tergagap.
Ia benar-benar terkejut.
"Gua... emmmm...gua.. lagi.. emmm.." Dian terbata-bata.
"Gak jelas gitu sih Lo..." gerutu Rani.
" Gua sebenarnya lagi..."
" mikirin mas boy pasti... " tukas Rani
Wajah Dian memerah.
"Tenang, guys.. Lo gak perlu malu.. karena kita sama... " kata Rani sambil terbahak.
Dian tertawa, malu nya agak berkurang.
"Terus kita mau gimana..?" tanya Dian.
"Gimana apanya?" Rani balik bertanya.
"yaaa.. dengan Mas Boy.."
"ya gak gimana-gimana, Dian sayang.. cinta kita bertepuk sebelah tangan.. Mas Boy kan udah punya istri.." jawab Rani dengan entengnya.
Dian lagi-lagi merasa malu. Rani benar.
Untung saja Rani yang bicara seperti itu, kalau Pak Andre yang bicara bukankah ia lebih malu..?
"Cinta tak harus memiliki, Di.. Lo harus inget itu.." kata Rani.
"Sok tua Lo...!!" gerutu Dian.
"Cinta itu tak harus berbalas. Kalau minta dibalas itu namanya bukan cinta, tapi pamrih.." lanjut Rani, tak menghiraukan gerutu Dian.
Dian terkesima, takjub, pada pemikiran Rani.
"Ran.. Rani..." panggil Dian sambil menepuk-nepuk pipi Rani.
"Apaan sih..?" tanya Rani.
"Lo gak lagi ngigau kan..?" tanya Dian.
Rani tertawa.
"Perasaan ini memang berat, Di.. tapi harus kita pupus.." kata Rani.
Dian mengangguk-angguk.
"Suatu saat kita bakal jatuh cinta lagi sama lelaki lain, yang mungkin lebih keren dari Mas Boy.. dan yang pasti belum punya istri.." kata Rani lagi.
Lalu mereka berdua tertawa.
"Yook, ah.. pulang.. udah sepi nih.." ajak Rani.
Sekolah memang telah bubar setengah jam lalu.
Mereka menuju lapangan parkir.
Di kejauhan mereka melihat sosok yang mereka impikan siang dan malam, Pak Andre.
"Pak Andre..!!!" panggil Rani.
Pak Andre melambaikan tangan.
"Langsung pulang ya, hati-hati..!!" pesannya.
Dian dan Rani tersenyum, duuuuh.. baiknya pak guru ini.
Hati Dian tak henti berbisik,
Pak Guru, I Love You...