Bisakah aku mengeluh sejenak?
Saat dunia memintamu mendengar curahan hati semua orang. Saat dunia memintamu memberikan segala nasehat bijak yang bisa menenangkan hatinya. Saat dunia selalu memintamu untuk mendengar segala pedih luka dan keluh kesah mereka. Bagaimana? Apa aku keberatan? Tidak, tidak sama sekali. Bahkan akupun senang bisa membantunya. Namun yang paling aku sesali adalah, saat hatiku rapuh, saat jiwaku tertekan, saat seluruh beban dunia menghantamku, aku tidak bisa menceritakannya apalagi membaginya dengan orang lain.
Tidak ada yang bisa aku jadikan sandaran, tidak ada yang bisa aku jadikan topangan, untuk mengeluhkan segala masalahku. Lupakan tentang mengeluh, yang ku ajak untuk bercerita pun rasanya tidak. Aku tidak butuh segala nasehat bijak 1001 bahasa. Inginku hanya satu, ceritaku didengar maupun itu suka dan duka. Jikalau pun itu duka, aku hanya ingin mendengar, sebuah untaian kata 'tenang semua akan baik - baik saja'. Kata - kata yang selalu aku katakan, ketika mendengar kata putus asa dari orang - orang. Namun sayang, aku tak bisa mendengar, apalagi meresapi intinya.
Kenapa? entahlah, mungkin aku yang kurang pandai mencurahkan keluh kesah ku seperti orang - orang atau mereka yang sengaja tidak mau mendengarkan. Saat rasa kecewa menghampiri, saat hati kita sedang tidak baik - baik saja. Kemudian diperparah dengan pemandangan yang mampu memberikan goresan yang begitu dalam. Pemandangan yang mampu membuat bulir tetesan air mata mengalir begitu saja. Sudut air mata yang selalu basah oleh pilu yang teredam.
Saat harapan yang didustai oleh takdir, saat kesempatan diambil alih oleh orang lain. Hatiku merenung mesra, meresapi dan mencerna segalanya. Kenapa? Apa yang salah? Dimana letak salahnya? Adakah yang bisa mengatakannya? Aku tidak mengerti, ini terasa begitu rumit.
Saat orang yang benar - benar kau harapkan untuk mendengar segala keluh kesahmu untuk dijadikan sandaran saat badai menerpa hatimu, malah berpaling begitu saja. Seolah janji manis yang pernah terucap hanya bualan semata dan hanyalah omong kosong. Setumpuk rindu terasa sia - sia saat penantian hanya berujung sendu.
Malam kian pekat, dingin semakin merantai, serta rindu semakin menukik tajam. Aku menatap luasnya malam, yang dipenuhi jutaan bintang untuk mencari jawaban pada setiap pertanyaan yang selalu mengusik jiwaku.