Malam ini cuaca sangatlah ekstrim, petir-petir nampak saling menyahut dengan angin yang berhembus dengan kencang. Seorang pelayan di sebuah manor langsung mengunci sebuah jendela berukuran besar di ruang tamu, ketika suara dua sisi jendela tersebut saling bergesekan dan menimbulkan bunyi yang berisik.
Para pelayan di manor tersebut nampak saling mengeratkan cardigan rajut mereka, kecuali seorang nona muda yang masih duduk manis di meja makan sambil membaca buku favoritnya. “Nona, apa anda tidak kedinginan ?” tanya salah satu pelayan sambil membawa sebuah lilin yang menyala di tangan kanannya.
“Tidak, Jane. Aku baik-baik saja.” sahut nona muda tersebut. Mendengar perkataan nona mudanya itu, membuat pelayan yang bernama Jane itu khawatir. “Tapi, setidaknya anda harus tetap hangat nona. Saya akan membuatkan nona cokelat hangat.” sahut pelayan tersebut sambil bergegas menuju ke dapur.
Nona muda tersebut adalah Alice Wilhelmina, anak semata wayang dari seorang pengusaha sukses yang bernama Euginius Wilhelmina dan Bellinda Wilhelmina. Saat ini ia sedang menunggu kekasihnya untuk merayakan hari jadian mereka yang kedua tahun.
“Apa tuan Herold akan datang, nona ?” tanya pelayan yang bernama Jane sambil meletakkan cokelat hangat di samping buku yang dibaca oleh Alice. “Aku yakin, ia pasti datang Jane. Aku tahu bahwa dia adalah orang selalu yang menepati janjinya.” sahut Alice.
Mendengar hal itu, pelayan bernama Jane itu nampak tersenyum sendu dan sambil menatap cahaya lilin, ia mengatakan, “Semoga tuan Herold akan tiba ke sini tepat pada waktunya, nona. Saya permisi dulu.”. Alice yang mendengar itu hanya mengangguk pelan sambil meminum cokelat hangatnya.
Cuaca ekstrim di luar manor nampak semakin menjadi-jadi, tetapi berbeda dengan Alice yang masih setia menunggu kedatangan kekasihnya. Jam demi jam berlalu, menit demi menit berlalu dan detik demi detik pun berlalu, Herold pun masih belum datang.
Para pelayan di dalam manor menatap cuaca di luar jendela dengan tatapan cemas, menunggu kedatangan tuan Herold yang nampak tidak muncul walau, hanya batang hidungnya. Alice sendiri pun nampaknya juga sudah selesai membaca buku kesukaannya.
“Apa ia masih ingat janjinya ya ? Atau cuaca sudah membohonginya ?” tanya Alice lirih sambil menatap jam berukuran besar yang terletak di samping pintu ruang makan. Alice bangkit dari bangkunya dan mulai berjalan perlahan menuju jendela berukuran besar yang terletak di ruang tamu.
Malam ini nampak lebih kelam, daripada biasanya. Alice menatap kesekeliling manor yang nampak penuh dengan cahaya lilin malam ini. Ia menatap pemandangan luar dari jendela dan melihat cuaca yang masih sama dengan keadaan sebelumnya, kelam dan berbahaya untuk dilalui. Ketika Alice menatap keadaan di luar manor dari balik jendela berukuran besar, ia hanya bisa menghela napas lalu, muncul sebuah pertanyaan di dalam hatinya, apa kekasihnya akan datang dengan selamat malam ini ?
Apa kalian percaya bahwa cinta dapat merubah segalanya ? Jika kalian mengatakan tidak, kurasa apa yang pernah dialami oleh Alice dapat mengubah persepsimu. Dulunya, Alice terkenal sebagai salah satu anak pengusaha paling jutek dan keras kepala di tempatnya. Para pelayan di manor pun dibuat kewalahan oleh sifat buruknya itu, tetapi semuanya langsung berubah dalam sekejap ketika ia bertemu dengan tuan muda bernama Herold Ryker yang merupakan seorang pengusaha sukses di usianya yang masih terbilang belia.
Apa kalian pikir Alice jatuh cinta dengan Herold karena ia merupakan seorang pengusaha sukses ? oh, tentu saja tidak ! Ketika pertama kali mereka bertemu, Alice sangat membencinya karena ia merupakan seorang pengusaha muda yang akan menyaingi usaha ayahnya. Puncak kekesalan Alice pun semakin menjadi - jadi ketika Herold menjelaskan mengenai apa saja usahanya dan keuntungan apa saja yang ia peroleh dari bisnisnya di hadapan para pengusaha saat pesta pertemuan di tempatnya. Hal itu membuat beberapa pengusaha menyindir usah ayahnya dan mengatakan bahwa usaha ayahnya itu akan kalah saing dengan seorang pengusaha muda bernama Herold Ryker.
Saking kesalnya Alice dengan pengusaha muda bernama tuan Herold Ryker itu, membuatnya memikirkan berbagai macam rencana buruk. Mulai dari menculik salah satu tangan kanannya, hampir meracuni makanannya secara diam – diam dengan menyamar menjadi salah satu pelayan dan hampir membunuhnya dengan sebuah pedang tetapi, semua itu berhasil dicegah ketika tuan muda Herold Ryker memutuskan untuk bertemu dengan tuan Wilhelmina.
Pertemuan itu membuat Alice dimarahi habis-habisan oleh ayahnya. Alice yang merasa kecewa dengan sikap ayahnya memutuskan untuk bunuh diri. Iya, keputusan gila dan kekanak-kanakan itu tiba-tiba muncul di otak Alice.
Tanpa sepengetahuan para pelayan dan keluarganya, Alice diam-diam keluar rumah malam itu. Tepatnya, di jembatan Oris. Ia memutuskan untuk berdiri di pinggir jembatan dan menenggelamkan dirinya di sungai hingga ia kehabisan napas. Ia sangat putus asa dan lemah saat itu.
Malamnya, ketika Alice tiba di jembatan Oris. Ia langsung berdiri di pinggir jembatan, awalnya ia terlihat berani, tetapi perlahan - lahan rasa takut menghampirinya. Sungai itu memiliki arus yang deras dan Alice berpikir bahwa sepertinya tak perlu waktu yang lama untuk mati di sana.
Alice yang awalnya takut, segera meneguk salivanya. Ia sebenarnya tak ingin melakukan ini, tetapi di sisi lain ia juga merasa putus asa. Ia benci ini. Ia segera menutup matanya perlahan dan ketika tubuhnya yang mungil ingin jatuh, tiba-tiba sebuah tangan menariknya dan itu adalah tangan seorang Herold Ryker.
Pertemuan itu sangat klise. Ya memang sangat klise, tetapi bisa merubah perasaan Alice dalam sekejap ketika ia melihat dua manik cokelat dan cemas dari seorang Herold Ryker. “Nona, apa anda tidak ingin tidur ?” tanya seorang pelayan yang tiba-tiba muncul.
Alice pun nampak tersentak dari lamunannya, “Tidak, aku akan menunggunya.” sahut Alice sambil menatap hujan yang masih turun dengan derasnya dan petir-petir yang saling menyahut dari jendela berukuran besar di ruang tamu.
Pelayan tersebut menatap Alice dengan tatapan khawatir, “Tapi, anda harus tidur nona. Nanti, nyonya dan tuan akan memarahi saya. Saya akan mengabarkan jika tuan Herold Ryker akan tiba nanti.” kata pelayan itu.
Alice yang mendengar perkataan dari pelayannya tersebut hanya bisa menghela napas, tuan dan nyonya Wilhelmina memang lumayan tegas untuk mengatur jadwal rutinitasnya sehari-hari “Baiklah, jika tuan Herold Ryker datang. Tolong beritahu aku.” kata Alice sambil membalikkan badannya dan segera pergi ke kamarnya yang terletak di lantai dua manor.
Kamar Alice memang sangat anggun dan indah, karena di kamarnya dipenuhi dengan bunga-bunga mawar dari Herold. Saking penuhnya bunga mawar pemberian Herold, membuat tubuh Alice selalu tercium aroma mawar ketika ia baru keluar dari kamarnya.
Alice menutup pintu kamarnya lalu, menghela napas perlahan. Ketika ia baru masuk kamar, kedua maniknya pun langsung tertuju kepada salah satu meja yang terletak di dekat Gramofon. Meja tersebut berwarna tortilla lengkap dengan ukiran rumit, di atas meja tersebut banyak buket bunga mawar pemberian dari Herold. Ia langsung mendatangi meja tersebut perlahan dan mengusap jemari tangan kanannya dengan lembut di atas tumpukan bunga mawar tersebut, bunga mawar memang indah sampai-sampai ia bisa mencium bau parfum Herold dari tumpukan buket bunga mawar tersebut.
Alice menatap para buket mawar tersebut dengan tatapan lembut, sampai sebuah buket menarik perhatiannya. Buket itu berisi lima buah bunga mawar Juliet berwarna putih, kata Herold bunga itu melambangkan kesetiaan dan ketulusan. Alice sangat menyukai maknanya.
Alice segera mengambil salah satu bunga mawar Juliet putih tersebut dan sambil memainkannya, ia menatap jendela kamar. Cuaca masih ekstrim, Alice meneguk salivanya dan air matanya pun nampak menggenang dari kedua bola matanya yang berwarna violet.
“Aku harus tidur, ya aku harus tidur. Dia pasti datang, setelah aku bangun.” kata Alice lirih sambil mengusap mata kanannya. Ia segera pergi menuju ranjangnya yang berukuran king size, meletakkan setangkai bunga mawar Juliet itu di sampingnya dan tertidur dengan lelapnya.
Suara petir di luar manor semakin saling sahut - menyahut. Alice nampak gelisah ketika mendengar bunyi petir tersebut. “Jane, kau di mana ? Jane ?” panggil Alice dengan mata yang terpejam. Kepalanya terasa sakit, berbagai macam sinar warna-warni muncul di pikirannya, sampai sebuah cahaya tersebut digantikan dengan warna kuning dan putih lembut yang memenuhi pikirannya saat ini.
“Alice, apa kau tertidur ?” tanya seseorang dengan nada suara lembut. Alice yang merasa seberkas sinar cahaya kuning dan putih memenuhi kedua maniknya nampak mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. “Kau siapa ?” tanyanya lirih.
Seseorang itu nampak meneguk salivanya. Senyumannya nampak getir, tetapi ia langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi senyuman yang sendu dan sulit untuk didefinisikan. Ia tiba-tiba duduk di samping Alice dan sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Alice yang masih bingung. Ia bertanya, “Apa kamu lupa dengan kekasihmu ?”.
“Herold ? kau sudah datang ?” tanya Alice nampak heran. “Tentu saja.” Sahut Herold sambil mengangguk-anggukan kepalanya dengan penuh rasa percaya diri. “Tetapi, mengapa ini....”, belum sempat Alice menyelesaikan kalimatnya, Herold pun langsung menarik tangannya dan mengatakan, “Ayo ! Ada sesuatu hal yang ingin kutunjukkan padamu !”.
Alice yang tangannya langsung ditarik oleh Herold dan membuatnya bangun dari hamparan bunga nampak kaget. “Herold ! Apa kau sudah gila ?! Kepalaku serasa pusing !” teriak Alice. “Sebentar, Alice. Kau pasti akan menyukainya.” sahut Herold sambil tersenyum.
Mereka berdua berhenti berlari dan sampai di sebuah danau berwarna violet, dengan dua angsa yang mengapung dengan indahnya. “Nah, bagaimana ? Kau suka ?” tanya Herold. “Ya, aku menyukainya.” sahut Alice nampak kaget, karena seingat dirinya tidak ada danau berwarna violet di tempatnya.
“Kau mengatakan bahwa kau pusing kan tadi ? Duduklah, di sana. Aku akan membawakanmu sesuatu.” kata Herold. Alice pun segera duduk di sebuah bangku yang berhadapan langsung dengan danau. Ia memandang sekelilingnya dengan tatapan tak percaya. Apa ia sudah lama tidak keluar manor ? Atau ada tempat - tempat indah yang tidak diketahui olehnya tetapi, diketahui oleh Herold ? pikiran itu terus - menerus menghantui Alice saat ini.
Kedua manik Alice pun beralih kepada permukaan danau, danau itu sangat cantik persis seperti kedua bola matanya. “Danau ini sangat cantik. Aku pernah mendengar cerita mengenai sebuah danau yang bisa memantulkan masa lalu dan masa depannya, apa kau bisa melakukan keajaiban itu ?” tanya Alice tiba-tiba.
Alice menatap lekat danau tersebut, tetapi danau tersebut tidak menunjukkan apa - apa. “Kurasa aku memang harus ingat dengan umurku.” kata Alice lagi sambil terkekeh pelan. Sedetik Alice mengatakan hal itu, tiba-tiba di permukaan danau Alice melihat sebuah bayangan. Bayangan mengenai dirinya dan Herold.
Alice meneguk salivanya, kedua maniknya pun tiba-tiba membulat sempurna ketika danau tersebut menampilkan kisah cinta Alice dan Herold dari awal hingga akhir. Khayalan tersebut tiba-tiba bergerak perlahan, ketika menampilkan Alice yang sedang menunggu Herold di tengah cuaca ekstrem.
“Apa yang terjadi selanjutnya ?” tanya Alice penasaran. “Hayo ! lagi ngelamun apa ?!” tanya sebuah suara yang tiba-tiba muncul, sambil menepuk pundak Alice. “Herold ?” tanya Alice tersentak kaget. “Ini.” Kata Herold sambil menyerahkan sebutir apel kepada Alice. Alice pun langsung menerimanya, tetapi rasa penasaran memenuhi pikirannya mengenai tempat ini saat ini.
“Herold, aku ingin....”, belum selesai Alice menanyakan sesuatu, Herold langsung memotong pertanyaannya dan mengatakan, “Tara !! Untuk nona sekaligus kekasihku !” sambil menyerahkan setangkai bunga mawar Juliet putih kepada Alice.
“Astaga ! Ini untukku ?!” tanya Alice sambil mengambil langsung setangkai bunga mawar tersebut dari tangan Herold. “Bagaimana ? kau suka kan ?” tanya Herold sambil tersenyum dan Alice pun mengangguk semangat karena ini bunga mawar Juliet putih yang paling harum yang pernah diciumnya.
“Tadi, kau mengatakan bahwa kau lapar bukan ? Bagaimana kalo kita pergi ke Eva's Bakery ?” tawar Herold. “Eva’s Bakery ? Astaga ! Aku sangat sayang padamu, Herold !” kata Alice tiba - tiba dan langsung memeluk Herold. Ketika dipeluk oleh Alice, Herold bertanya, “Kau sayang padaku atau nyonya Eva ?” sambil terkekeh pelan.
Detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam telah dilalui Alice dan Herold dengan penuh kesenangan. Sampai hari mulai senja dan itu berarti Alice harus pulang. “Aku harus pulang, Herold.” kata Alice. Herold yang mendengar itu nampak tersenyum kecil dan mengatakan, “Ada satu tempat yang belum kutunjukkan padamu.”. Alice yang mendengar itu nampak menatap Herold dengan ekspresi penasaran.
Herold memegang tangan Alice dengan erat, dan tiba-tiba mereka sampai di sebuah jembatan. Iya, jembatan itu adalah jembatan Oris. “Herold, apa maksudmu membawaku ke sini ?” tanya Alice nampak bingung. Herold menghela napasnya perlahan lalu, sambil tersenyum lirih ia langsung memeluk Alice. “Alice, kau harus mengikhlaskan aku ya ? Jangan pergi ke sini lagi, aku sayang padamu. Kau harus terus melanjutkan hidupmu, Alice.” katanya dengan suara yang parau. “Apa maksudmu ?” tanya Alice yang tiba-tiba khawatir dan detak jantungnya pun mendadak menjadi cepat.
Herold sama sekali tidak menjawab pertanyaan Alice, kedua maniknya penuh dengan air mata dan secara perlahan, menetes ke kerah gaun Alice. Alice memejamkan matanya perlahan. Ketika ia memejamkan matanya, ia melihat pantulan dirinya dan Herold di danau violet dan dalam sekejap kedua maniknya membulat sempurna, jantungnya serasa ingin berhenti berpacu dan air mata serasa ingin turun dari kedua manik violetnya dan sambil tersenyum lirih ia mengatakan, “Aku mengikhlaskan dirimu, Herold.” dan wujud Herold pun perlahan menghilang dari hadapannya.