gadis itu lain dari pada perempuan yang lain. itu menurut pandanganku! entah apa yang membuatku tertarik padanya.sejak pertemuanku di bus kota ini, membuat aku merasa ada yang hilang jika tidak melihatnya dalam seharipun.
setiap hari aku menunggu di halte depan sekolahku, hanya untuk melihatnya. aku sendiri tidak tahu tapi, aku merasa senang kalau sudah melihat wajahnya.
aku merasa benar-benar telah gila dibuatnya, meskipun hanya melihat senyum dan mendengar suaranya padahal dia sekedar knek bus mini, eh salah mini bus. aku tersenyum kecil.
"Rangga"
suara seseorang yang ku kenal, randy teman sekelasku membuyarkan lamunanku. ia datang membawa motor lalu aku menghampirinya.
"ada apa?"
"kuperhatikan beberapa hari ini kamu sering naik bus. motor kamu pada kemana?"
"oh ada. cuma aku sedang ingin naik bus saja" tentunya aku tidak ingin dia banyak tahu
"pulang bareng ga? aku antar" randy menawarkan diri padaku namun aku cepat-cepat menjawabnya
"tidak perlu ran. aku naik bus saja. kita beda arah. thank's ya"
randi mengerti maksudku
"baiklah. aku pulang duluan ga. kamu hati-hati ya" kata randi sambil berlalu
aku sengaja menolak ajakan randi demi ingin bertemu dengan gadis itu lagi dan lagi. sesaat setelah itu bus yang ku tunggu telah tiba, aku langsung naik dengan semangat. tapi, kemana gadis itu?
hari ini aku tidak melihatnya. bahkan aku belum tahu siapa namanya. aku merasa frustasi karena malu dan tidak mungkin aku bertanya, aku tidak melihatnya hari ini.
sesampai dirumah, jalan kristal gang berlian no 97, aku langsung saja masuk ke dalam kamarku dengan tidak bersemangat. tetapi tante riona menghampiriku dan duduk di samping tempat tidurku. aku bangun karenanya.
"rangga, kamu kenapa? biasanya kamu pulang dengan wajah yang gembira tapi hari ini kenapa wajahmu menunjukkan kesedihan? apa ada masalah disekolahmu?
aku menggelengkan kepala pertanda tebakannya salah
"lalu, apakah kamu tidak senang berada disini?"
aku kembali menggelengkan kepala
"bukan begitu tan, aku hanya merindukan mama"
tanteku sepertinya prihatin tapi bukan itu yang mengganjal di hatiku tan....
"papmu terlalu sibuk ga, hanya tante yang bisa memperhatikanmu saat ini. jadi tante bisa melihat apa yang kamu resahkan"
wah gawat, kalau tante tahu apa yang aku pikirkan aku akan malu
"tidak ada tan, rangga cuma ingin istirahat" singkatku membuat tante riona mengerti
tidak mungkin aku bercerita bahwa aku merindukan gadis itu. dia adalah orang yang pertama kali menggetarkan hatiku ini untuk tersenyum sejak mama meninggalkan aku untuk selamanya.
aku merasa kesepian, tak ada seorangpun yang bisa membuat aku tersenyum kecuali gadis itu dengan penuh ceria membuat canda dalam bus kota.
papa terlalu sibuk sejak kepergian mama karena itu aku lebih memilih tinggal bersama tante riona adik dari mamaku daripada bersama papa di jakarta tapi jarang sekali bertemu. karena kota B lebih damai bagiku.
keesokan harinya randi main kerumahku dengan menunjukkan gitar barunya. kami memainkannya ditaman belakang rumah, sambil aku menceritakan hal yang aku temui beberapa hari yang lalu.
mulai sejak aku kepindahanku ke SMA NUSA BANGSA itu dan aku duduk di kelas dua belas ipa sampai aku bertemu dengan gadis itu, yang aku tidak tahu siapa dia dan siapa namanya.
randi hanya mengangguk-anggukkan ceritaku tanpa komentar. iapun tersenyum dan mengajakku bersiap-siap untuk pergi. aku ikut saja.
kemudian randi mengajakku mampir ke toko buah dan membeli beberapa parcel
"untuk apa ran?" tanyaku masih kebingungan
"nanti kamu juga akan tahu" jawaban singkat randi membuatku hanya diam saja lagi
ternyata randi mengajakku kerumah sakit kasih Bunda
"ran, kenapa kita kesini?"
aku dibuat penasaran olehnya tapi randi masih diam saja sambil mengajakku masuk, kembali lagi aku bertanya
"ran yang sakit siapa sih?"
randi kembali diam, dia hanya membuka mulutnya bertanya kepada bagian resepsionis disana tentang ruangan dimana orang yang dituju dirawat mungkin aku memang tidak tahu.
aku hanya berdiri menunggunya datang, tapi randi segera menarikku dan aku di ajak masuk ke kamar 506. aku berdiri di depan pintu melihat seorang gadis menangisi ayahnya yang sedang terbujur di tempat tidurnya.
dia adalah gadis itu, gadis yang aku temui beberapa hari yang lalu
"bagaimana keadaan paman, ara?" kata randi akrab kepadanya sambil meletakkan buah tangan yang kami bawa tadinya.
" ayah sudah siuman, tapi lukanya belum cukup kering dari operasinya ran" kata gadis itu dengan wajah sayu lalu iapun menatapku
"siapa orang bersamamu ran?" tanyanya pada randi ketika melihatku masih berdiri di depan pintu.
randipun mengenalkan aku padanya. dia adalah amara, gadis manis yang kucari kemarin hari yang sempat membuat kacau hariku ketika tidak bertemu
dia sengaja menjadi knek mini bus untuk biaya operasi ayahnya yang kecelakaan. dan randi mengenalnya dekat, karena amara adalah teman kecilnya waktu randi belum pindah rumah. artinya mereka adalah tetanggaan.
mataku membulat heran, dunia sempit sekali. aku masih belum percaya kalau hari ini aku bisa bertemu dengannya lagi, juga aku tidak menyangka kalau randi tahu maksudku pada gadis itu.
Amara namanya selalu ku ingat, bahkan aku tidak ingin sampai lupa pada nama gadis yang memberi warna di hari-hari baruku tiba di kota ini.
sejak hari itu aku sering berkunjung sekedar menemani ayahnya dirumah sakit. dia benar-benar gadis yang sangat aku kagumi, dia pandai membawa keceriaan meskipun hati dan pikirannya penuh masalah, dia pandai bicara dan bercerita sehingga tidak membuatku merasa bosan untuk menemuinya. seperti sekarang ini, aku merasakan dunia baru hadir bersamaku.
sebulan kemudian, papa datang mengunjungiku dan mengajakku makan malam di restoran langganan keluarga kami.
papa memintaku berpakaian rapi, karena sekalian papa ingin bertemu dengan sahabat lamanya.
setibanya disana aku melihat ara ada direstoran yang sama, dan tidak kusangka papa mengajakku ketempat dimana ara dan ayahnya duduk.
aku mulai salah tingkah, karena ara berada tepat di depanku. oh,,,, melihat sambutan papa, ternyata ayahnya ara adalah sahabat yang papa maksudkan.
"loh, kok rangga disini" ayahnya ara menunjukku yang ikut duduk bersama
"iya om" singkatku
"iya ini fatih, altarrangga elfatih. putra semata wayangku. sekarang dia sudah besar. kelas 3 SMA. mana ara?"
Aku hanya tersenyum kepada pak amir, ayahnya ara
"benarkah? dia sering mengunjungiku dirumah sakit beberapa minggu lalu. oh ya, ini amara yang dulu pernah pipis di gendonganmu ahaha"
mereka tertawa bersama. aku menangkap wajah tersenyum malu ara yang tertunduk diam.
lama berbicara tentang masa lalu, semakin membuat kami menjadi salah tingkah. ternyata kami dijodohkan sejak kecil.
dulu kami juga tinggal disini, sebelum papa menjadi penerus kakek di perusahaan besar, Jakarta.
sungguh hari ini aku sangat senang dan bahagia, ada papa di dekatku dan juga gadis manis di bus kota itu adalah jodohku. aku tersenyum malu begitu juga ara.
end