Malam itu hujan turun begitu deras, terlihat seorang gadis berada di balik jendela sedang menikmati setiap tetesan air hujan yang turun.
Dia adalah Tiara seorang gadis cantik yang berdarah jawa bugis, ia dikenal sangat baik dan ramah sama semua orang. Jiwa sosial yang sangat besar membuat ia disenangi semua kalangan, dari anak-anak sampai lansia sangat menyukainya. Parasnya yang cantik dan hatinya yang baik membuat semua lelaki yang melihatnya jatuh cinta. Banyak lelaki yang mendekatinya tapi belum ada yang bisa membuatnya jatuh cinta, sampai suatu hari ia sedang jalan-jalan sore di taman dan ia melihat seorang pemuda sedang menolong anak kecil untuk mengambilkan layang-layang yang menyangkut di atas pohon. Pemuda itu terlihat sangat akrab dengan anak-anak kecil dan baik.
“Laras kamu lihat pemuda itu? Ia terlihat sangat baik bukan?” ucap Tiara kepada sahabat karibnya.
“Pemuda yang mana sih ra?” jawab Laras (sambil mencari pemuda yang dimaksud Tiara).
“Pemuda itu ras yang sedang bermain dengan anak-anak.” Ujar Tiara (sambil menunjuk ke arah pemuda itu).
“oh maksud kamu Arfan, kenapa kamu suka sama dia? Hayo ngaku.” Jawab Laras menggoda Tiara.
“Apa sih kamu? Aku cuma kagum saja melihatnya.” Jawab Tiara tersenyum malu.
“Oya ngomong-ngomong kamu kok bisa tau namanya?” Lanjut Tiara.
“Dia kan yang tolongin aku sama abel kemarin ra.” Jawab Laras.
“Kok abel gak cerita sama aku ya ras?” jawab Tiara.
“Kemarin kan aku udah cerita tapi kamunya gak percaya.” Jawab Laras.
Ditengah berdebatan mereka telihat gadis kecil yang berlari menuju arah mereka, ia adalah Abel adiknya Tiara. Saat lari Abel tidak melihat jalan dan akhirnya ia pun terjatuh di depan Arfan. Arfan yang melihat Abel terjatuh di depannya langsung menolong gadis kecil itu. Tiara yang melihat Abel jatuh pun langsung berlari ke arah Abel sampai ia lupa kalau ada Laras.
“Abel kamu tidak apa-apa sayang? Apa ada yang luka?” tanya Tiara panik.
“Aku baik-baik aja kak, untung ada malaikat penolongku.” Jawab Abel gembira.
“Siapa yang kamu maksud Malaikat Penolong?” sahut Laras.
“Iya kak Arfan lah kak, kan kak Arfan selalu nolongin aku.” Jawab Abel tersenyum.
“Kamu berlebihan Abel, udah menjadi tugas kakak untuk melindungi gadis kecil yang lucu seperti kamu.” Ujar Arfan lembut sambil tersenyum.
Tiara makin kagum dibuatnya sampai ia tak berkedip melihat Arfan yang baik dan sangat menyayangi anak-anak itu. Tiara merasa penasaran dengan sosok Arfan dan ia ingin mengenal Arfan lebih dekat lagi. Tiara selalu teringat dengan senyum manisnya Arfan hingga ia tak bisa tidur karna selalu kepikiran dengan Arfan.
Saat sore harinya Tiara mengajak adiknya Abel jalan-jalan ke taman dengan harapan bisa bertemu dengan Arfan lagi dan ternyata harapannya jadi kenyataan.
“Kakak Malaikat Penolong.” Panggil Abel gembira.
“Hallo Abel sayang, gimana lukamu udah sembuh?” tanya Arfan lembut.
“Udah dong kak kan ada kak Tiara yang mengobati lukaku jadi cepet sembuh deh.” Jawab Abel.
“Oh begitu, iya bagus deh jadi kan bisa main sama temen-temen lagi.” Ujar Arfan.
“Kak Tiara aku main dulu ya.” Ucap Abel.
“Oya kakak malaikat penolong aku titip kakakku ya, tolong jagain dia. Oke” lanjut Abel (sambil berlari untuk bermain bersama teman-temannya).
Arfan yang mendengar ucapan Abel hanya tersenyum dan memberi jempol untuk Abel yang menandakan kalau Arfan mengiyakan. Dan Tiara yang juga mendengar ucapan Abel juga tersenyum malu, dalam hatinya merasa bahagia.
“Boleh aku duduk di sini?” tanya Arfan.
“em boleh kok, silahkan!” jawab Tiara gugup.
“Abel itu gadis yang cantik ya, lucu lagi.” Ucap Arfan kagum.
“em iya.” Jawab Tiara singkat.
“Kamu suka dengan anak kecil ya?” lanjut Tiara.
“Iya aku suka dengan anak kecil, apalagi seusia Abel itu masih lucu-lucunya dan bikin gemes.” Jawab Arfan tersenyum.
“Sama kalau begitu.” Jawab Tiara nervous.
Beberapa bulan berlalu kesamaan mereka yang suka dengan anak kecil membuat keduanya selalu bertemu dan merasa nyaman satu sama lain. Hingga suatu ketika Arfan mengungkapkan rasa sayangnya kepada Tiara dan Tiara pun menanggapi perasaan Arfan itu karena diam-diam ia juga menyimpan rasa sayang kepada Arfan. Kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu selalu melewati hari-harinya bersama dan mereka terlihat begitu bahagia.
“Sayang apa kamu bahagia bersamaku?” tanya Arfan.
“Iya aku sangat bahagia bisa bersama dan memilikimu sayang.” Jawab Tiara (sambil menyender di bahu Arfan).
“Aku ingin kamu bisa menjadi ibu dari anak-anakku nanti.” Ucap Arfan penuh keyakinan.
“Iya sayang aku pasti akan bahagia bersamamu dan anak-anak kita nanti.” Ujar Tiara bahagia.
“Kamu sabar kan nunggu aku datang untuk melamarmu sayang?” tanya Arfan penuh harapan.
“Aku akan selalu sabar menuggumu sayang.” Jawab Tiara tersenyum.
Tiga tahun berlalu hubungan mereka semakin hari semakin harmonis. Arfan yang sangat menyayangi Tiara ingin selalu bersama dan melindungi gadis yang ia cintai. Arfan dan Tiara berjanji untuk selalu menjaga cinta mereka hingga maut yang memisahkan.
Pada suatu hari Tiara berpamit kepada Arfan, ia akan pergi ke luar kota bersama keluarganya.
“Arfan aku mau pamit sama kamu kalau lusa aku harus pergi ke luar kota.” Ucap Tiara lembut.
“Kenapa mendadak begini? Apa kamu akan meninggalkan aku?” Tanya Arfan marah.
“Mana mungkin aku sanggup meninggalkan orang yang sangat aku sayang.” Jawab Tiara (mencoba menenangkan Arfan).
“Lalu kenapa tiba-tiba kamu mau pergi?” tanya Arfan penasaran.
“Aku pergi ke luar kota karena ada acara sayang, percayalah aku gak akan lama.” Ucap Tiara tenang.
“Kamu janji kan gak akan lama dan kamu gak akan ninggalin aku kan, kamu pasti balik untuk aku kan?” ujar Arfan sedih.
Tiara yang mendengar ucapan Arfan langsung memeluk Arfan dan hanya mengangguk, menandakan Tiara mengiyakan pertanyaan kekasihnya itu. Tangis Tiara pun pecah saat dipelukan Arfan, saat Arfan bertanya kenapa ia malah makin memeluk Arfan dengan erat seolah-olah itu pelukan terakhir. Arfan tidak sedikitpun curiga dengan kepergian Tiara yang mendadakan, karena ia yakin dan percaya kalau Tiara akan kembali kepadanya.
Sebulan berlalu tapi Tiara tak kunjung pulang, Tiara selalu bilang sama Arfan kalau sebentar lagi dia akan pulang dan Arfan pun selalu menunggu kedatangan kekasihnya itu. Enam bulan berlalu tapi Tiara tak kunjung datang, Arfan pun mulai resah ia ingin sekali menyusul kekasihnya tapi Tiara tak pernah mau memberi tau alamatnya kepada Arfan. Tapi Arfan tidak patah semangat, ia selalu yakin jika wanita yang dicintainya itu akan kembali dan setelah itu mereka akan hidup bahagia bersama. Seminggu berlalu penantian Arfan ternyata tidak sia-sia, Abel adik Tiara datang menemuinya. Arfan pun sangat bahagia karena Tiara tidak ingkar janji.
“Abel kapan datang?” tanya Arfan gembira.
“Semalem kak.” Jawab Abel.
“Lalu mana kak Tiara? Pasti kak Tiara sembunyi ya mau ngasih kejutan buat kakak?” ucap Arfan (sambil mencari Tiara).
Abel hanya menggelengkan kepala tanpa berkata apapun kepada Arfan.
“Kenapa kamu diam bel, kenapa cuma menggelengkan kepala? Kak Tiara ke mana bel?” tanya Arfan resah.
Tangis Abel pun pecah dan Arfan mulai panik melihat Abel tak menjawabnya tapi malah menangis. Arfan bingung dengan sikap Abel yang aneh. Dia hanya bisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Arfan mencoba menenangkan dirinya sendiri, lalu ia juga mencoba menenangkan Abel dengan memeluknya dan membuatnya nyaman untuk bercerita. Abel pun tak kunjung bicara, ia hanya mengulurkan tangannya dan memberi sebuah surat untuk Arfan.
“Surat apa ini bel?” tanya Arfan penasaran.
“Kakak baca aja nanti juga tau.” Sahut Abel.
Perlahan Arfan membuka surat itu dan mulai membacanya.
“Hallo sayang apa kabar? Pasti kamu baik-baik aja kan. Apa yang kamu lakuin selama gak ada aku? Hmm pasti banyak hal seru dan unik yang aku lewati ya? Maaf ya sayang aku udah buat kamu menunggu lama, sebenarnya aku tak pernah bermaksud begitu. Aku hanya mencoba mengajarkanmu melewati hari-hari tanpa aku di sampingmu, bukan karena aku gak cinta sama kamu tapi aku pengen kamu jadi seseorang yang strong dan gak gampang putus asa dengan keadaan. Maaf ya sayang aku gak bisa nepati janji tapi percayalah jika hati dan cintaku hanya untukmu. Jika aku bisa meminta, maka aku akan meminta kepada Tuhan untuk bisa menjadi istri dan ibu dari anak-anakmu walau hanya sekejap. Tapi sayangnya aku tak bisa meminta itu untukmu, Tuhan menyayangiku dan menginginkan aku bersamanya karena Ia memiliki rencana yang jauh lebih indah untuk kita. Sayang aku hanya ingin satu hal dari kamu, jika nanti kamu menemukan penggantiku tolong selalu ingat aku dalam hatimu. Aku akan selalu mendo’akan yang terbaik untukmu dan semoga wanitamu nanti bisa mengertikanmu. I always love you, until God take my soul. See you in heaven dear.”
Setelah membaca surat itu Arfan pun terdiam dan badannya lemas seketika. Ia tak percaya jika wanita yang sangat ia cintai begitu cepat meninggalkannya. Tetesan air mata membasahi pipinya, ia merasa tak berguna karena ia tak ada saat detik-detik terakhir kepergian Tiara. Satu tahun berlalu tapi Arfan masih belum bisa melupakan Tiara, tak ada yang bisa menggantikan Tiara di hatinya dan tak ada seseorang yang sebaik Tiara selama ia mengenal wanita. Walau banyak teman wanitanya tapi ia merasa semuanya sama tak ada yang spesial seperti Tiara.
Arfan melalui hari-harinya sendiri tanpa seorang kekasih, sangat sulit move on baginya tapi ia yakin jika suatu saat nanti Tuhan akan mempertemukannya dengan seorang wanita yang bisa membuatnya nyaman seperti Tiara dan Arfan akan selalu mengingat pesan Tiara