Di sebuah desa, hiduplah dua orang perempuan kakak beradik. Perempuan pertama yang berusia 20 tahun bernama permata, sedangkan adiknya yang baru berusia 17 tahun bernama Intan. Keduanya kehilangan kedua orang tua sejak 3 tahun terakhir akibat kecelakaan lalu lintas saat berusaha mencari pekerjaan di kota. Hal ini membuat Permata dan Intan mau tidak mau berjuang merasakan pahitnya dunia sejak usia muda demi mempertahankan hidup.
Sang kakak, Permata, adalah gadis yang berperangai lembut dan penyayang. Ia selalu berusaha agar adiknya tetap bisa hidup normal layaknya anak-anak desa yang lain. Saat kedua orang tuanya meninggal, Permata sudah lulus dari sekolah menengah atas, sedangkan adiknya baru hendak memasuki bangku sekolah menengah atas. Ia tidak ingin melanjutkan pendidikan karena takut tidak ada lagi yang akan memperhatikan kehidupan adiknya.
Di lain sisi, Intan adalah anak yang pintar dan cantik. Ia selalu berhasil mendapatkan peringkat tiga besar di kelasnya. Ia selalu bermimpi untuk bisa bersekolah setinggi-tingginya dan menjadi orang sukses di kota. Setelah itu, ia akan membawa kakak tercintanya untuk tinggal di kota bersama. Namun, manusia memang sangat pandai bermimpi, hingga seringkali sebagian besar dari mereka melupakan hakikatnya dan bahkan sebagiannya lagi tidak memenuhi usaha yang nilainya sepantas dengan apa yang mereka impikan. Bagaimana semuanya akan terwujud jika demikian?
Suatu hari, desa kedatangan sekelompok mahasiswa KKN dari salah satu universitas negeri di kota. Warga desa menyambut dengan baik kedatangan mereka.
Warga desa sangat mengagumi anak-anak perkuliahan, karena warga menganggap setiap mahasiswa adalah orang yang pintar, cerdas, berprestasi, keren, berwajah tampan dan cantik, dan penilaian-penilaian positif lainnya.
Ya meskipun kenyataannya tidaklah melulu seperti demikian. Banyak mahasiswa yang diterima di universitas hanya karena beruntung, nasib lagi memihak mereka, atau bisa jadi juga karena ada faktor lain di balik itu semua yang tidak pernah terungkap. Siapa yang tahu bukan?
Selain ke desa, ada juga sebagian mahasiswa yang bersosialisasi ke sekolah-sekolah untuk kepentingan tertentu, termasuklah sekolah Intan. Saat itu ada 6 orang, diantaranya 3 mahasiswa dan 3 mahasiswi yang datang ke sekolah Intan.
“Hallooo semuanyaaa,,,, apa kabarrr?”, ucap salah satu mahasiswa.
“Baikkkk!,,,,,,”, balas siswa/siswi.
Pada 3 orang mahasiswa memiliki kepribadian yang berbeda.
Yang pertama, adalah pemuda yang memiliki wajah rupawan, namun ia sangat sedikit berbicara, bicaranya jika seperlunya saja.
Yang kedua, adalah pemuda yang aktif berbicara, seperti toa es krim keliling yang jarang berhenti bunyinya meskipun tukang penjualnya sedang menepi di tepi jalan, tapi hal itu justru enjadi daya Tarik khususnya ketimbang muka yang pas-pasan.
Adapun yang ketiga, adalah pemuda yang benar-benar menjadi idaman, karena sudah wajahnya yang tampan rupawan, kemampuan bicaranya pun sangat jempolan. Mungkin pemuda ini adalah salah satu wujud orang yang beruntung di dunia ini?
Saat itu, Intan bersama teman-teman dekatnya membicarakan pemuda ketiga. Mereka memuji-muji dan mendamba-dambakan agar kelak mendapat jodoh seperti pemuda ketiga itu.
“Wah gilaa,, kakak yang paling tampan menurut kalian siapa?”, tanya Ani, teman sebangku Intan.
“Aku sih kak Luki lah ya, tampan dan pinter ngomong juga >.< ”, jawab Intan.
“Aku juga kakak itu sih”, jawab teman yang lain.
“Aku juga”, tambah yang lain lagi.
Hingga ntah bagaimana cara dan jalannya, tiba-tiba saja Intan dan pemuda ketiga tadi saling kenal di sosial media. Lambat laun keduanya semakin dekat dan akrab. Hingga 2 minggu kemudian tersebar rumor bahwa keduanya sedang berpacaran.
Rumor ini terdengar sampai ketelinga sang kakak, Permata. Sontak saja ini membuat Permata kaget dan khawatir dengan kehidupan adiknya kedepannya. Permata paham betul bagaimana dampak yang akan dirasakan sebagai akibat dari pacaran.
Saat sekolah dulu hingga kini, Permata tidak pernah berpacaran. Karena selain akan adanya dampak negative yang diterima, orang tua mereka juga selalu mengingatkan untuk tidak pernah berpacaran terutama saat masih menuntut ilmu. Hal ini selalu diingat dengan baik oleh Permata.
Oleh karena itu, Permata mencoba berbicara dengan adiknya itu.
“Intan, apa iya, rumor yang sedang beredar itu adalah benar dan nyata?”, tanya permata serius.
“Hehe, kakak tidak percaya ya?. Tapi itu memang betul kok. Kakak jangan khawatir”, balas Intan.
“Kamu perlu tahu, kakak justru akan khawatir kalau rumor itu benar!. Kakak tidak suka kamu yang masih di usia ini sudah berpacaran”. Suara permata menegas.
Intan mengerutkan dahinya, “Hah, apa sih kak. Temanku saja sudah banyak yang berpacaran, toh keluarganya tidak akan melarang”.
“Itu kan mereka, ka….” Belum selesai permata bicara, tiba-tiba dipotong oleh adiknya.
“Sudahlah-sudahlah,, aku sungkan untuk mendengar omongan kakak yang sok mengatur-ngatur, aku ini sudah besar!”, ucap Intan sembari meninggalkan rumah.
Semenjak hari itu, hubungan kakak beradik ini semakin kacau. Sang adik tak pernah lagi mendengarkan perkataan dan nasehat dari kakaknya.
Hingga tiba di hari kelulusan, nilai belajar Intan mengalami penurunan. Ia tidak lagi mendapat peringkat dalam 3 besar. Hal ini tak lain dan tak bukan tersebab karena Intan yang tidak pernah rajin belajar lagi, waktunya hanya dihabiskan dengan berpacaran, seperti obrolan chat yang tidak penting, pergi ke kota untuk berkencan, hanya fokus pada hubungan dan tanpa sadar telah menyampingkan kewajiban menuntut lmunya.
Setelah mengetahui nilai nya yang turun drastis, ada rasa kesal yang menyelinap kedalam diri Intan.
“Bagaimana bisa jadi seperti ini?”, Intan bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
“Ah sial!,, aku tidak bisa membiarkan kak Permata mengetahui hal ini. Entah apa yang akan dia lakukan padaku nantinya jika ketahuan”.
Intan berusaha untuk menutupi berita kelulusannya dari sang kakak. Namun, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, sepandai-pandainya menjaga rahasia tetap akan terungkap juga jika memang sudah saatnya.
Sehari kemudian, Permata mengetahui apa yang tengah dirahasiakan adiknya darinya.
Permata menghampiri adiknya di Kamar,
“Intan!, sekarang kamu sudah tau kan akibatnya?. Sekarang apa yang akan kamu lakukan?”.
“Kalau kakak ingin aku memutuskan hubunganku, mending kakak berhenti saja!. Aku bisa tetap semangat seperti ini juga berkat pacarku yang selalu mendukungku”, gerutu Intan.
“Kamu masih belum sadar juga ternyata. Lalu bagaimana dengan rencana kuliahmu hah?, pasti kacau juga”, balas Permata.
“Sudahlah jangan sok tau, itu biarlah menjadi urusanku pribadi, kakak tidak perlu repot-repot. Mending kakak pergi saja dari kamarku!,” gertak Intan pada kakaknya.
“Kamu sudah berani bicara seperti itu pada kakak?. Kenapa tidak kamu saja yang pergi?, sekalian pergi meninggalkan rumah ini!, kalau dinasehati tapitak mu mendengarkan lagi!”, bentak Permata yang sudah mulai habis kesabaran.
Mendengar ucapan kakaknya, wajah Intan menunjukkan rasa ketidakpercayaan. Kakak yang selama ini menyayanginya bisa sampai hati untuk mengatakan hal yang seperti itu.
Tanpa berpikir panjang, Intan langsung berdiri dari duduknya.
“Oke!, aku juga sudah muak hidup bersama seseorang seperti kakak. Tidak ada kebebasan hidup di rumah ini!. Jangan menungguku, kelak aku tidak akan kembali ke rumah!”, ujar Intan penuh kepercayaan diri.
Hari demi hari berlalu, pekan demi pekan terlewati, bulan berganti bulan. Sudah tepat 2 bulan Intan pergi meninggalkan rumah. Namun seperti biasa, kenyataan tidaklah selalu mulus seperti ubin mesjid. Intan yang tadinya berniat ke kota sekalian menyusul sang pacar, ternyata terkhianati. Pemuda itu, Luki, memiliki kekasih yang lain, yang juga seorang anak kuliahan. Benar-benar di luar dugaan.
Intan menjadi marah dan menemui Luki.
"Ada apa dengan kakak?, kenapa sudah bersama dengan wanita lain?, kakak sudah tidak peduli denganku?", keluh Intan.
"Loh Intan? kamu ada di sini?", tanya Luki sedikit kaget.
"Iya aku datang. Tak disangka ya?, kalau tidak begini mana mungkin kebenaran kakak terungkap!", balas Intan.
"Hah kebenaran apanya?. Kalau saya punya pacar yang lain?. Kamu saja yang tidak pernah sadar. Dari dulu itu kamu yang selalu mengejar-ngejar saya dan berharap lebih. Kamu pikir karena saya baik dan akrab denganmu kamu bisa memiliki saya?. Haha ayolah, berpikirlah yang tepat sedikit. Toh aku juga tidak pernah mengungkapkan perasaanku padamu. Apa yang salah?", perkataan Luki menukik tajam.
Intan hanya bisa terdiam, mulutnya tak bisa tergerak lagi. Jika dipikir-pikir meemang benar, pemuda itu tidak pernah menyatakan perasaannya pada Intan saat itu, semua hanya berawal dari rumor yang beredar, dan salah satu pihak terlalu terlena. Intan membaalikkan tubuhnya dan berlari sekencang-kencangnya. Hingga saat kakinya terhenti, airmatanya berjatuhan.
Intan mengingat kembali selama 2 bulan terakhir ia mencari Luki yang jarang membalas pesan nya, ia bertahan hidup dengan bekerja di rumah makan, dan setelah bertemu ternyata Luki menghianatinya.
Di saat yang begitu sulit ini, Intan teringat akan kakak perempuannya di desa, entah bagaimana kabarnya. Rasa penyesalan mulai menyelinap dalam jiwa Intan.
Hari pun berganti, Intan terbangun dari tidurnya dengan berlinangan air mata. Ternyata, semalam Intan bermimpi, di dalam mimpi itu ada ayah, ibu, dan juga kakaknya. Ketiganya tertawa ria bersama. Lalu mereka menoleh ke arah Intan, dan ibunya berkata : "Kakakmu sudah selalu memberikan yang terbaik, dia menggantikan posisi ibu. Tapi anehnya kamu tidak pernah menyadari kepeduliannya selama ini. Ibu menyayangi kakakmu, dan tidak dengan anak yang angkuh sepertimu”.
Mimpi yang benar-benar menyakitkan. Namun itu membuat Intan benar-benar tersadar. Ia memutuskan untuk bertekad pulang ke desa menemui kakaknya hari itu juga. Selama di perjalanan, Intan tak henti-hentinya memikirkan bagaimana cara meminta maaf yang tepat pada kakaknya, ia takut kakaknya tidak akan memaafkan dan menerimanya lagi.
Hari mulai sore, Intan telah sampai perbatasan desa. Ia segera berlari menuju rumahnya. Setelah beberapa langkah dari rumah, ia berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Setelah siap, ia melanjutkan langkahnya. Sampailah Intan di depan pintu rumah. Ia melihat bahwa rumah itu sudah mulai berdebu dan pintunya tergembok.
Intan menjadi kebingungan, ia bertanya pada tetangga.
"Oh Intan lama tidak bertemu. Kamu mencari kakakmu?. Tapi bukaannya sudah ebulan yang lalu kakakmu menyusulmu ke kota. Ia ingin memastikan apakah kamu baik-baik saja di kota. Dia selalu khawatir tentangmu nak. Apa kalian tidak bertemu?", ujar bu Sarah.
Seketika, tubuh Intan terduduk lemas di lantai. Ia tidak pernah mengira bahwa kakak nya selama ini tetap memperdulikannya meskipun adiknya penuh dengan salah. Air mata Intan tak henti-hentinya berjatuhan.
“Apa…kah a..aku terlam..bat?..” ucap intan tersedu-sedu.
Intan bingung harus bagaimana lagi. Akhirnya ia menetapkan untuk tinggal di desa dan setia menunggu kepulangan kakaknya.
"Kak Permata, ayolah pulang. Tolong maafkan adikmu yang pernah menyakitimu ini. Ayolah kak temui adikmu ini setidaknya sekali lagi saja sebelum hayat ini berakhir", ucap Intan berlinangan air mata.
3 bulan kemudian,
Di suatu hari,
Ttriiinggggg…… hadphone Intan berbunyi.
“Iya halo?, ini siapa?”, tanya Intan.
“Intan,,,,, ini kakak….”
_TAMAT_