Kriiiiing, begitu suara ponselnya berdering "waalaikumussalam, iya saya ibunya. Apa ? Baiklah saya segera kesana sekarang juga"
Hati ibu mana yang tak hancur mendengar kabar bahwa anak perempuan semata wayangnya sedang sekarat, berjuang melawan maut akibat kecelakaan tunggal yang mengakibatkan dirinya harus dilarikan ke Rumah Sakit.
Setibanya di Rumah Sakit, seorang pria yang menunggu di depan pintu ruangan operasi sudah menanti kedatangan ibu Neni. Dengan berat hati Bintang menjelaskan kejadian yang dilihatnya sore itu, dimana Bulan sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan berakhir dengan hancurnya sebuah toko roti milik Bintang.
Ibu Neni tak dapat menahan air matanya mendengar penuturan dari Bintang. Permintaan maafnya mewakili Bulan yang sedang berjuang di dalam sana pun tak akan mampu menggantikan seluruh kerugian yang dialami oleh Bintang. Bulan harus bekerja demi menghidupi dirinya dan ibunya yang sudah tiga tahun belakangan ini ditinggalkan oleh ayahnya.
Operasi berjalan dengan lancar dan dokter pun keluar dengan memberitahukan kepada Bintang dan juga ibu Neni, bahwa dengan berat hati Bulan harus kehilangan sebelah kakinya karena terjepit akibat kecelakaan yang dialaminya. Ibu Neni menjerit mendengar penjelasan dokter. Bagaimana mungkin anak gadisnya harus mengalami kejadian seperti ini. Mengapa begitu berat ujian hidup yang harus mereka jalani.
Bintang mencoba menenangkan ibu Neni, dan mengajaknya duduk. Biar bagaimanapun dia juga mengerti keadaan seorang ibu yang harus kuat menerima kenyataan pahit dari anaknya. "ibu harus kuat demi Bulan, saya akan urus semuanya. Ibu ngggk usah khawatir, saya tidak akan meminta apapun dari ibu dan Bulan."
Beberapa jam setelah itu, Bulan mulai sadarkan diri. Awalnya dia juga shock mengetahui kalau dia harus kehilangan sebelah kakinya. Namun Bintang selalu menghiburnya dan memberikan semangat untuknya. Ibu Neni begitu merasa sungkan dengan Bintang, karena banyak menyusahkannya. Namun Bintang malah merasa senang melakukannya.
Hari ini, dokter sudah membolehkan Bulan pulang. Bintang yang tetap setia mendampinginya pun sudah menunggu untuk mengantarkan mereka pulang ke rumah. Kedekatan keduanya semakin intens, bahkan ibu Neni saja sudah menganggap Bintang seperti anaknya sendiri. Karena Bintang memang seorang anak sebatang kara yang tak memiliki keluarga.
Besok rencananya Bintang akan mengajak Bulan untuk pergi jalan-jalan. Bulan tampak tak sebahagia dulu, dirinya yang kini merasa malu dengan tubuhnya yang cacat, membuatnya menjadi lebih tertutup pada siapapun. Bahkan saat teman-teman sekantornya datang pun, dia malah tak ingin ditemui. Lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarnya, membuat Bintang merasa iba dengannya.
Sesampainya di sebuah danau, Bintang membantu Bulan untuk turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya. Bulan tampak sedih, ini pertama kalinya dia keluar rumah setelah kejadian itu. Kejadian yang membuatnya harus rela kehilangan sebelah kaki kirinya. Air matanya pun tumpah mengingat kembali saat dia mengetahui bahwa kaki kirinya sudah tidak ada.
"Kamu kenapa nangis ?" Tanya Bintang mencoba menenangkan Bulan. "Aku harus bagaimana setelah menjadi wanita cacat, tak akan ada yang mau menjadi temanku pastinya. Aku juga pasti tak bisa bekerja lagi, aku harus apa untuk membiayai kebutuhan kami" tangisannya pecah di tepi danau. Bulan seakan tak berdaya dengan dirinya saat ini.
Bintang berlutut di hadapannya dan menghapus air mata Bulan dengan kedua ibu jarinya. "Menikahlah denganku, aku akan mengurus semuanya. Aku yang akan menjadi kakimu, kemana pun kamu mau pergi. Aku yang akan mencari nafkah untukmu dan juga Ibu, dan aku hanya minta kamu untuk bahagia denganku" Bintang meraih kedua tangan Bulan dan mengecupnya bergantian.
Akhirnya Bulan dan Bintang menjadi satu. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Tetap bersyukur dengan apa yang kita dapatkan dan yang kita miliki.
Tamat 🙏