Kupandangi wajah-wajah kecil tak berdosa yang sedang terlelap tidur, yang hanya beralaskan kasur busa tipis. Ramadhan ini adalah Ramadhan pertama kami tanpa tulang punggung keluarga. Tanpa sumber senyumanku dan ketiga buah hati kami yang masih kecil-kecil.
Aku tak menyangka begitu cepat engkau pergi, meninggalkanku dengan ketiga anak-anak kita yang masih sangat membutuhkan kasih sayangmu.
Dua anak gadisku yang besar duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas satu dan kelas dua. Sedangkan si bungsu masih berusia 3 tahun.
Kusadari berat sungguh beban yang aku tanggung. Walau ada sedikit peninggalanmu untuk kami melanjutkan hidup, tapi itu sudah dipastikan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang senantiasa meningkat setiap harinya.
****
Aku kayuh sepeda Deki butut milik putriku, menuju balai desa, tempat diadakannya pelatihan menjahit gratis untuk ibu rumah tangga dan remaja putri. Sebenarnya keahlian menjahit sudah lama aku kuasai. Selain untuk mengisi waktu luang, di sana juga ada pekerjaan menjahit baju, untuk anggota yang sudah mahir. Tentu saja ada imbalannya. Yang dengan hasil menjahit itu, aku harapkan dapat membeli baju lebaran dan makanan layak untuk ketiga buah hatiku.
Tempat yang kutuju berada di seberang jalan besar tempat perumahan sederhanaku berada. Jalanan kelihatan lengang. Aku menyeberang jalan raya itu dengan menuntun sepedaku perlahan. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi datang dari sebelah kananku. Bruk....Aku terkejut dan tak sempat menghindar, seperti berada di alam mimpi saja, aku sudah berada di sisi jalan yang akan aku tuju. Terseret sejauh 5 meter, dengan sepeda yang menindih kakiku.
“Woiii...” kata orang-orang yang kebetulan ada di jalan itu. Pengendara motor itu seperti tidak mendengarkan teriakan warga, terus kabur dengan kecepatan tinggi.
“Bu Ida gak papa” kata pak Sarip, yang kebetulan lewat. Beliau mengangkat sepeda yang menindih kakiku.
“Alhamdulillah gak apa-apa, pak” jawabku sambil berusaha berdiri. Beberapa orang berusaha membantuku berdiri.
“Ada yang sakit, bu” kata Anto, tukang ojek yang selalu mangkal di depan perumahanku.
Aku berdiri sambil dipegangi Anto. “Kaki kananku sakit sekali. Sepertinya terkilir, Nto “ jawabku.
Aku lihat ada sedikit lecet di kaki dan tanganku. Untungnya aku memakai celana panjang dan baju lengan panjang, sehingga sedikit menghambat pergeseran kulit dengan aspal.
“Anto antar ke klinik ya, bu. Atau ke tukang urut aja, bu” kata Anto.
“Ga papa, Nto. Ibu pulang aja. Lagian Cuma lecet ama terkilir sedikit kok” tolakku.
“Tapi bu, ibu terkilir lho. Nanti tambah parah kalau di paksa jalan. Lagi pula roda sepeda ibu baling, bu. Gimana mau dinaikin. Anto antar ya, bu “ kata Anto kemudian.
“Ya sudah, antar ibu pulang aja, Nto. Nanti luka ibu obati di rumah. Kalo terkilir, nanti ibu coba urut sendiri” kataku.
Selagi masih bisa diobati sendiri, lebih baik di lakukan sendiri. Sayang uangnya, seharusnya bisa untuk memberi makan ketiga anakku. Apalagi hari ini aku pulang tanpa membawa hasil apa-apa.
Anto mengantarku pulang dengan menaiki motornya. Tangan kirinya menuntun sepedaku dan tangan kanannya dengan lihai mengendarai motor di jalanan perumahan kecil kami yang tidak rata.
****
Kuurut perlahan pergelangan kaki kananku yang terasa sakit dengan balsem, sambil melafaskan sholawat dan doa dalam hatiku.
Ya Allah, di bulan yang mulia ini aku bermohon, bukakanlah pintu rezekimu untukku dan ketiga anak yatimku. Jagalah mereka dengan rahmat dan kasih sayangmu.. Kuatkanlah diriku untuk mengemban amanahMu ini ya Allah, ya Rob. Hanya kepadaMu tempatku meminta dan memohon pertolongan....
Watashi no aisuru okasan no chisana memo. Mama, aishiteruyo.....