Tengah malam ketika bulan purnama begitu bulat sempurna. pak dharya sedang mengendarai motor hendak pulang ke rumahnya yang terletak di desa terpencil.
salah satu akses menuju desanya adalah sebuah jalan aspal yang samping kanan dan kirinya sawah yang begitu luas dan sungai besar. kebetulan di sepanjang jalan tersebut tak ada lampu penerang jalan. hanya pohon sawo yang tumbuh berjajar di sepanjang jalan.
di bawah salah satu pohon sawo berdiri seorang lelaki jangkung yang membawa sangkar burung. pak dharya menepikan motornya menghampiri lelaki tersebut.
"mau naik tidak pak? " ujarnya menawarkan tumpangan mengingat jalanan masih sangat jauh dari pemukiman penduduk dan di jam segini hampir tak akan ada seorangpun ojek apalagi angkot.
"oh iya Pak, terimakasih. " jawab lelaki tersebut. kemudian naik ke atas motor pak dharya.
pak dharya adalah seorang peternak dan pebisnis burung hias. melihat lelaki itu membawa sangkar burung dia pun tertarik untuk mengobrol.
"kok bawa sangkar burung memangnya habis darimana? " tanya pak dharya.
"saya habis nyari burung perkutut di hutan dari tadi sore. baru pulang sekarang, " jawab lelaki tersebut dengan santai sesekali sambil tertawa dan tersenyum.
"loh kok sekarang udah pada gak ada?, " tanya pak dharya kembali.
"iya, tadi sudah di beli orang di jalan. " ujarnya.
"anu pak. nanti di depan sana ada masjid. di depannya ada kios yang jual pakan burung. nanti saya turunkan di situ ya, " sambungnya kembali.
"oke Pak." pak dharya menimpali.
"nama saya dharya, bapak ini namanya siapa?, " tanya pak dharya untuk kesekian kalinya. biasalah obrolan Bapak-bapak.
"nama saya estiawan, orang sini biasa manggil wawan penjual pakan burung." jawab lelaki tersebut yang ternyata namanya wawan.
beberapa menit kemudian motor pak dharya sudah sampai di depan kios milik pak estiawan.
"terimakasih pak ya, " ujar pak estiawan sambil merogoh sakunya hendak memberi uang namun di tolak oleh pak dharya.
"saya kebetulan peternak burung hias. lain kali saya bakalan mampir buat beli pakan burung Insya Allah, " pak dharya berucap sambil tersenyum ramah.
pak estiawan tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "iya Pak, lain kali mampir pak ya. assalamu'alaikum, "
"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab pak dharya kemudian pergi melanjutkan perjalanan pulangnya yang masih agak jauh.
* * *
seminggu kemudian...
Giandra, karyawan pak dharya dan pak dharya sendiri sedang mengobrol di sofa teras rumah.
setelah mengobrol kesana kemari sampai lah kepada pembicaraan tentang peristiwa pak dharya yang memboncengkan penjual pakan burung.
"heh Giandra! ngomong-ngomong kemarin bapak ini mboncengkan penjual pakan burung loh. namanya estiawan. kios ada di depan masjid desa sebelah. kapan-kapan kita kesana yuk mana tau pakan burung di sana lebih bagus." ujar pak dharya bersemangat sambil mengunyah kacang goreng.
sementara itu Giandra mengernyitkan keningnya.
"estiawan? maksudnya wawan pakan burung itu pak? " tanya Giandra ingin memastikan.
"iya, kok kamu tau kalo julukannya wawan pakan burung?, " pak dharya balik bertanya.
"ya iyalah. dia kan kenalan saya juga. tapi kapan bapak mboncengin dia?, " tanya nya kembali. kali ini pandangan nya lebih menyelidik.
"sekitar seminggu yang lalu, " jawab pak dharya enteng.
"ah yang bener pak! bapak yakin itu estiawan?, " Giandra kaget, pak dharya lebih kaget lagi.
" emangnya kenapa ndra?, " tanya pak dharya. kali ini ia berhenti mengunyah.
"wawan itu udah meninggal sekitar satu setengah bulan yang lalu pak. kios nya juga udah tutup sejak lama, " Giandra menjelaskan.
pak dharya shock sebenarnya. tapi ia masih ingin memastikan lagi. "kamu salah orang kali, "
giandra menjawab, "orangnya tinggi jangkung kan?, "
"iya, " jawab pak dharya.
"nah itu bener berarti dia, " ucap Giandra.
pak dharya menghela nafas. ternyata dia telah membonceng kan seseorang yang sudah lama mati.
* * *
terimakasih sudah membaca karya author. jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca sebagai dukungan terhadap author... sekali lagi Terima kasih banyak yaaaa