dug dug dug!!!
brak brak brak!!!
dug dug dug!!!!
sudah jam tiga pagi namun berisik itu masih belum hilang. Kaila yang terjaga dari tidur nya memilih menenggelamkan dirinya ke dalam selimut. Meskipun suara itu sudah ada sejak dia kecil namun tetap saja ia masih merasa takut dan merinding kalau mendengarnya.
Suara berisik tadi berasal dari jendela yang ada di kamar nenek Kaila yang biasa dipanggil mbah kasmirah. Semenjak kakek Kaila meninggal dunia entah kenapa ada yang selalu mengganggu mbah kasmirah setiap malam.
di mulai dari jam 8 malam sampai jam 4 pagi. kadang kurang atau lebih dari itu. akan ada yang mengetuk-ngetuk jendela kamar mbah kasmirah. lebih tepat nya bukan di ketuk, namun di dobrak!!!
tak ada yang tau apa yang membuat jendela mbah kasmirah seperti itu, ketika di dobrak sampai jendela terbuka pun tak ada manusia di sana.
jendela mbah kasmirah benar-benar bergerak sendiri. di gedor namun tak ada pelaku. sesekali anak lelaki nya yaitu bapak kaila meminta tolong orang yang habis pulang dari masjid selepas sholat isya untuk mengintip jendela nenek dari luar supaya ketahuan siapa yang menggedor jendela.
namun nihil, menurut mereka jendela tersebut di gedor dari dalam karena di luar tak ada siapapun. mereka terkejut setelah bapak kaila memberi tahu kalau tak ada yang menggedor dari dalam.
cerita mengenai jendela mbah kasmirah yang selalu di gedor tiap malam ini akhirnya menjadi perbincangan tetangga, saudara, hingga kampung sebelah.
awalnya para tetangga mengeluh berisik, namun lama kelamaan memaklumi karena itu sudah di luar kuasa mbah kasmirah dan keluarga.
pernah satu kali tetangga yang sedang meronda melihat bayangan tinggi besar di jendela mbah kasmirah yang sedang di gedor. ketika para tetangga ini muncul, bayangan itu langsung menghilang.
keluarga mbah kasmirah tak diam saja soal jendela ini. mereka beberapa kali melakukan ruqyah mandiri di kamar mbah kasmirah. beramai-ramai mereka membaca ayat-ayat suci Al-Quran berharap gedoran di jendela mbah kasmirah tak muncul lagi. namun percuma. tak pernah ada perubahan.
tak hanya gangguan lewat jendela kamar nya. terkadang ketika mbah kasmirah sedang tidur. badannya berpindah tempat tanpa ada yang tahu siapa yang memindahkan nya.
seringkali mbah kasmirah ketiduran di depan televisi yang letak nya ada di ruang tengah. di dalam mimpinya ia melihat seorang lelaki berjubah putih dengan wajah yang bercahaya namun tidak jelas wajahnya seperti apa sedang mengendongnya ke kamar.
esoknya ia mendapati dirinya sudah berada di kamar dan terbangun akibat suara gedoran di jendela. ketika ia bertanya kepada penghuni rumah siapa yang memindahkan nya ke kamar tak ada yang mengaku. mereka mengira mbah kasmirah pindah dari ruang TV dengan sendirinya.
terkadang mbah kasmirah begitu muak dengan suara gedoran di jendela. terutama ketika sakit gigi atau sakit kepala nya sudah kumat. suara di jendela itu sungguh membuat keadaan nya semakin buruk.
"Diam!!!! bisa diam nggak!!! emangnya kalau aku tambah sakit kamu bisa belikan aku obat hah?!!! kalau gak bisa belikan obat ya diam gak usah ganggu ganggu aku lagi!!!! berisik tau gak!!!, " teriak mbah kasmirah malam-malam.
dia sering berteriak seperti itu, di usianya yang hampir 70 tahun sakitnya memang sering kambuh. semakin sering sakit maka semakin ia muak dengan suara di jendela kamarnya.
***
suatu hari anak dan menantu mbah kasmirah ingin pergi kondangan ke saudaranya di luar kota, mbah Kasmirah tak mungkin ikut karena beliau sudah tua dan akan sangat lelah bila di paksa ikut perjalanan. lagipula dia tak mau.
akhirnya mbah kasmirah tetap di rumah di temani tiga cucunya. yaitu Kaila yang saat itu sudah kelas 5 SD serta dua adiknya sean dan kinan yang masih kelas satu SD dan TK besar. mbah Darmini yaitu besan mbah kasmirah akan menginap di rumahnya untuk menemani ketiga cucunya.
mbah Darmini bukan tak tahu soal cerita itu. Dia sudah dengar tentang ketukan di jendela Mbah Kasmirah dari anak dan menantunya sejak lama. jadi kasihan pula dia dengan cucu-cucunya yang masih kecil ini. kalau mereka ketakutan siapa yang akan jadi tempat peraduan?.
Lepas sholat maghrib mbah Darmini sampai di kediaman mbah kasmirah. Rumah mbah Darmini sendiri tak terlalu jauh. Hanya berbeda kecamatan saja. Kaila berlari menyambut nenek nya dengan senang di ikuti sean dan kinan.
mereka tertawa sembari membuka buka oleh-oleh dari nenek nya. Sambil mengemil mereka mendengarkan mbah Darmini dan mbah Kasmirah mengobrol saling menanyakan kabar. sesekali tertawa renyah.
Waktu berlalu begitu cepat malam itu. selepas sholat isya kedua nenek-nenek ini sudah di kamarnya masing-masing sambil rebahan untuk mengistirahatkan punggung mereka yang nyeri. jam menunjukkan pukul 20.00, Kaila, Sean, dan Kinan menyusul tidur bersama mbah Darmini.
Semua lampu rumah telah mati. membuat suasana begitu gelap gulita kecuali lampu di dalam kamar.oh iya, mbah Darmini ini tidur bersama di kamar Kaila yang kasurnya besar.
Dug dug dug!!!!
Brak Brak Brak!!!!
Baru satu jam mereka semua terlelap sudah dikagetkan dengan suara dobrakan di jendela mbah Kasmirah. adik Kaila dua-duanya menangis karena takut. Biasanya mereka tidur dengan Ibunya.
Mbah Darmini menenangkan bahwa semuanya baik-baik saja,
"cup cup cup... udah nggak papa, nggak usah nangis. Kan ada mbah Darmi di sini. Sean sama Kinan bobok lagi ya. Kayak mbak Kaila tuh pemberani," ucap mbah Darmini sambil menunjuk Kaila.
Kaila sebenarnya sedang menahan agar tak teriak. Walau bagaimanapun dia ini tetaplah Kaila yang penakut. Ia menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut seperti biasa untuk mengatasi rasa takut nya supaya bisa tidur lagi.
Begitu juga dengan Mbah Darmini dan adikk-adik Kaila. Mbah Darmini mencoba tidur kembali sambil memeluk Sean dan Kinan yang masih sesenggukan.
dug dug dug!!!
Brak Brak Brak!!!
dug dug dug!!!
Jendela itu masih di gedor dan akan terus begitu sampai jam tiga pagi. Mbah Darmini mulai merasa ingin menyerah. Ia sudah tua dan masih memiliki rasa takut akan setan. meskipun ia sudah dengar soal cerita ketukan di jendela mbah Kasmirah, nyatanya ia tetap terkejut saat mengalami nya langsung. Detak jantung nya berpacu begitu kencang karena merinding luar biasa.
"Kaila, Gimana kalau kita malam ini tidur di rumah mbah aja? mbah kasmi di ajak sekalian. kalo begini caranya nenek juga takut, nggak bisa tidur. Merinding!! " ujar mbah Darmini sambil duduk.
"Ayok kalau gitu!!! " jawab Kaila langsung. Mereka pun beranjak dari tempat tidur dan menghampiri kamar Mbah Kasmirah untuk mengajaknya sekalian menginap di Rumah Mbah Darmini.
Mbah Darmini mengetuk pintu sembari memanggil manggil, "yu!! mau ikut nginep di rumahnya nggak yu? halo yuuu assalamu'alaikum! buka pintu nya!! mau ikut nggak? , " ujar nya, namun nihil tak ada jawaban. Sepertinya Mbah Kasmirah tidur sangat nyenyak dan tak mendengar suara mbah Darmini.
Akhirnya Mbah Darmini membuka pintu kamar Mbah Kasmirah yang jendelanya masih di Dobrak-dobrak. Saat Itulah Sean melihat pintu jendela Mbah Kasmirah yang setengah terbuka, di sana ada tangan hitam legam dengan sedikit bulu-bulu putih dan kuku-kuku yang panjang.
Mbah Darmini belum sempat melihat tangan itu, ia sudah takut duluan karena melihat jendela yang terbuka dan segera menutup pintu. Mbah Kasmirah masih nyenyak di atas kasurnya.
tanpa babibu Mbah Darmini langsung mengajak Kaila, Sean Dan Kinan keluar dari rumah dan mnecegat bus malam di jalan besar untuk pergi pulang ke rumahnya.
esok pagi nya mbah Kasmirah telpon sambil marah-marah, karena semua nya pergi tanpa mengajaknya dan meninggalkannya sendirian di rumah.
* * *
Kini Kaila sudah berumur 20 tahun. Neneknya sudah semakin tua dan sakit-sakitan. suara di jendela itu telah hilang dengan sendirinya baru-baru ini.
TAMAT
terimakasih sudah membaca karya baru author.. jangan lupa untuk tinggal kan jejak dan dukung terus author.