Ada 3 kesempatan istimewa yang diberikan Tuhan kepada seorang hamba perempuannya:
Pertama, saat dia menjadi seorang putri dari kedua orang tua terhebatnya. Kedua, saat dia menjadi seorang istri dari suami terbaiknya, dan yang terakhir adalah saat dia menjadi seorang ibu dari anak-anak kebanggaannya.
***
Suara gaduh karena benda yang berbenturan dengan benda lainnya sangat jelas terdengar dari dalam kamar di sudut rumah ini, membuat beberapa orang yang sedang duduk-duduk di ruang tamu berlarian mendekat ke sumber suara. Pecahan-pecahan bingkai foto, gelas, dan benda lainnya berceceran di lantai. Dapat disimpulkan keadaan kamar ini sudah seperti gudang.
Berantakan!
Lalu berbarengan dengan itu, suara tangisan dan teriakan seorang wanita kemudian menjadi fokus semua mata yang sempat tercengang di depan pintu yang terbuka. Wanita itu meringkuk di sudut ruangan dengan kedua tangan yang menutupi telinganya. Melihat hal itu dengan kesadaran secepat kilat seorang pria segera berlari mendekat, menarik wanitanya dalam dekapan. Tangisannya tak henti, malah semakin jadi. Terdengar memiluhkan bagi mata lainnya.
"Sayang tenanglah! Aku di sini. Tenanglah."
Suara itu lembut dan sedikit bergetar. Digiringnya wanita dalam dekapannya itu ke sisi ranjang. Mereka duduk di sana. Kemudian, orang-orang yang menjadi penonton ikut mendekati, mencoba menenangkan wanita itu dengan berbagai cara, ada yang mengatakan kata-kata bijaknya, ada yang mengambilkan air minum, atau ada yang terus saja menyuruh wanita itu untuk mengingat sang pencipta. Semua yang bisa mereka lakukan dicoba untuk menenangkan wanita itu.
"Kau harus selalu ada di sampingnya, Lang. Jangan sekali-kali kau tinggal dia. Istrimu itu sudah mulai gila!"
"Hush! Jangan bilang seperti itu mas! Septi hanya sedang dalam kondisi terpuruk. Bukan hanya tugas Gilang untuk memotivasinya agar bangkit. Kita juga!" Sahutan bernada tinggi keluar dari seorang wanita berjilbab kuning yang duduk di seberang pria bertubuh tambun itu. Kali ini mereka semua sudah kembali ke ruang tamu. Sibuk saling membicarakan keadaan Septi yang lagi-lagi mengamuk hilang kontrol.
Gilang, pria yang istrinya sedang dibicarakan saudara-saudaranya ini kemudian beranjak dari duduknya, mendekati perempuan paruh baya yang hanya diam duduk di sudut sofa dengan menundukan kepala dan menangis tanpa suara. Sesekali perempuan itu mengusap matanya dengan jilbab yang dikenakannya.
"Buk, sudah jangan menangis terus nggih. Septi akan baik-baik saja. Gilang janji itu." Wanita paruh baya itu masih saja menangis, ditepuk-tepuknya pundak Gilang.
"Ibuk sedih, Leh. Ibuk ndak sanggup lihat Septi kayak gitu." Gilang mengangguk pelan sambil menenangkan ibu mertuanya perlahan.
Gilang sama sakitnya seperti Septi saat dokter memvonis istrinya itu tak akan bisa memiliki anak. Pendarahan yang terjadi karena kehamilan di luar kandungan yang dialami Septi sebulan lalu, membuatnya harus mengambil keputusan cepat untuk melakukan operasi. Mengeluarkan janin yang belum sempat ia sematkan namanya tak hanya menyayat hati Gilang, tetapi seakan memotong nadinya untuk berhenti berfungsi sejenak. Tak cukup itu, dia juga harus dihadapkan oleh kenyataan bahwa rahim istrinya harus diangkat. Sungguh! Gilang yang notabenya seorang lelaki saja merasa terguncang, apalagi Septi yang harus merasakan kehilangan dua bagian dari dirinya sendiri.
Gilang menghela napasnya berat, diusapnya dengan lembut rambut istrinya yang lepek. Septi sedang tidur setelah kembali mengamuk seperti tadi. Dilihatnya tamat-tamat wajah istrinya yang tambah tirus, lingkar matanya menghitam dengan bekas air mata di pipi. Gilang menyadari istrinya semakin kurus setelah pulang dari rumah sakit. Septi kehilangan berat badannya hampir 10 kg karena memang tak banyak makanan yang bisa masuk ke lambungnya, setiap kali diantar makanan seringkali Septi lebih dulu melempar makanan itu dan berteriak bahwa dia tak pantas diberi makan, bahkan tak pantas hidup setelah lalai menjaga janin di dalam kandungannya. Setiap harinya, setelah kematian calon anak mereka Septi selalu menyalahkan dirinya sendiri, padahal menurut siapapun itu semua bukanlah kesalahan Septi. Gilang percaya semua sudah pada garis takdir Sang Ya Rob.
Sebenarnya Gilang takut, rasanya dia ingin menangis sekeras-kerasnya dan memohon pada Ya Rob untuk menyudahi semuanya. Kehilangan calon anak yang ditunggu-tunggu setelah dua tahun pernikahan merupakan hantaman keras untuknya, dan kini menyaksikan kondisi istrinya yang seperti ini membuat Gilang merasa gagal menjadi seorang suami. Lebih dari itu, Gilang merasa takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Septi, mungkin Gilang yang akan benar-benar gila di sini.
Gerakan tubuh Septi yang merasa terusik membuat Gilang melonggarkan pelukannya. Septi terbangun, matanya menatap lamat-lamat pada kedua mata Gilang yang memerah. Tangannya yang kurus terulur menyentuh wajah Gilang.
“Mas nangis,” kata Septi lirih. Gilang menggelang, digenggamnya jari-jari Septi yang menyentuh wajahnya.
“Cuma kelilipan. Kamu mau makan?” tanya Gilang. Ganti Septi yang menggeleng.
“Kamu belum makan sejak pagi, Septi. Sejak kemarin malam malah.”
Septi bergeming, ditariknya tangannya yang digenggam Gilang. Lalu dia beranjak duduk, menyandarkan kepalanya yang berdenyut sakit pada kepala ranjang. Air matanya kembali menetes dan rasa sakit di dadanya juga kembali menyerang. Hal yang selalu dia rasakan setiap membuka mata sehabis tidur sejak kematian calon anaknya. Gilang ikut mengubah posisinya, duduk sambil memeluk istrinya yang kembali menangis.
“Dia makan apa di sana? Mungkin juga dia belum makan," racau Septi.
“Tuhan tidak akan membuatnya terlantar, Sayang. Anak kita hidup bahagia di sana. Tidak kurang apapun.”
Sudah berkali-kali Gilang meyakinkan istrinya bahwa anak mereka telah bahagia di surga, tak kurang apapun. Bahkan anak mereka kini sedang diasuh oleh para malaikat dan bidadari baik hati, lalu bermain bersama dengan malaikat-malaikat kecil lainnya yang mungkin saja senasib dengannya. Gilang juga meyakinkan Septi bahwa kelak saat mereka diizinkan bertemu dengannya, dia yakin anak yang tak sempat dipelukkan mereka itu telah tumbuh menjadi sosok sempurna yang akan memaafkan kedua orang tuanya, sosok yang akan menyambut mereka di pintu surga dengan uluran tangan lembut. Gilang berjanji, saat pertemuan itu terjadi, dia akan menceritakan sebesar apa Septi merasa bersalah karena tak bisa menjaganya, dan Gilang juga akan menceritakan sebanyak apa rasa sayang Septi pada sosok bayi yang tak sempat ada dalam gendongan tangan hangat seorang ibu.
Hari-hari berlalu, tapi duka di hati Septi masih basah dan makin merana. Wanita muda itu sedang mencoba bangkit dari ujian Sang Pencipta. Tapi sepertinya alam semesta tak mengizinkannya semuda itu. Saat dia sedikit demi sedikit dapat menerima calon anaknya telah pergi dan dirinya yang tak bisa lagi mengandung, halangan itu datang lagi. Tuntutan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan, membuat hati Septi kian teriris. Bagaimana ceritanya dia bisa hamil lagi jika rahimnya sudah tidak ada, dia sudah menjadi wanita mandul yang tak akan bisa memberikan keturunan pada suaminya.
“Sep, makan ya. Mas bawakan capcay kesukaanmu.” Septi diam, tidak mengacuhkan ucapan suaminya. Dia hanya diam melihat bagaimana Gilang begitu telaten merawatnya. Sejak kondisi Septi seperti ini, semua urusan rumah pun Gilang yang menanganinya.
Septi kembali memerhatikan Gilang. Suaminya itu terlihat makin kurus. Ada guratan lelah di wajah teduhnya. Hal yang membuat jantung Septi seakan ditendang dengan keras. Dia menangis dan membuat Gilang yang sedang melahap makannya terkejut. Lelaki itu meletakan begitu saja sendoknya, lalu beralih berjongkok di depan istrinya.
“Hei ada apa? ada yang sakit?” Septi menggelang.
“Lalu apa? katakan! Atau kita ke rumah sakit sekarang ya.” Lagi-lagi Septi menggeleng. Tangannya terulur membelai wajah Gilang.
“Mas gak capek?” Gilang menggeleng.
“Harusnya Septi yang merawat mas. Harusnya Septi yang ngurus rumah. Tapi.. tapi malah..”
“Sudah. Tidak apa-apa. Jangan nangis lagi. Kamu sembuh dulu, baru bisa rawat mas lagi. Mas mau kamu kayak dulu. Sehat, banyak senyum. Bukan nangis.”
Septi menggeleng. Dia tidak akan bisa lagi seperti dulu, kenyataannya dia sudah kehilangan keistimewaannya sebagai istri.
“Aku gak akan bisa ngasih mas kebahagian. Aku terus merepotkan dan nyusahin mas. Aku gak akan bisa ngasih mas anak. Aku mandul mas. AKU MANDUL!” Teriak Septi.
Gilang mendekap tubuh istrinya erat. Jantungnya teramat sakit mendengar kenyataan itu dari bibir istrinya sendiri. Bohong jika dia tidak mendambakan anak dari istrinya. Tapi, lebih dari itu semua, Gilang lebih mendambakan hidup hingga tua bersama Septi.
Dua hari setelah itu Gilang memutuskan membawa Septi keluar rumah sekadar mencari udara segar. Tujuan awal mereka adalah pasar tempat biasa Septi belanja. Gilang tidak membeli apapun, dia hanya mengajak Septi berkeliling sambil mengamati orang-orang. Kemudian keduanya menuju ke sebuah warung nasi padang.
“Kamu lihat ibu penjual bubur itu!” Septi melihat ke arah yang ditunjuk Gilang. Seorang ibu tua duduk di emperan pasar dengan bakul bubur yang dia taruh di samping kakinya. “Suaminya baru setahun meninggal… dan bulan lalu, anak lelakinya meninggal karena tawuran supporter sepak bola. Kamu bisa bayangkan seberat apa rasa kehilangan beliau?”
Tiba-tiba saja air mata Septi menetes dengan sendirinya. Dia tidak tahu maksud suaminya mengatakan hal itu. Gilang hanya tersenyum, menyerahkan tissu lalu beranjak membayar pesanan makanan mereka.
“Makanan sebanyak itu untuk siapa?” tanya Septi merasa heran Gilang membeli banyak nasi padang. Lagi-lagi Gilang hanya tersenyum, digandenganya tangan Septi untuk menuju ke tempat selanjutnya.
Mereka ada di sebuah taman. Ada beberapa anak jalanan yang tampak sedang duduk melingkar. Saat didekati, anak-anak itu sedang menggambar atau membaca buku. Septi masih diam sampai saat Gilang melepas tangannya dan beranjak mendekati anak-anak itu, membagi makanan yang tadi dia beli.
“Entah sejak kapan sepulang kerja aku selalu mampir ke sini, dulu awalnya cuma mau isi angin ban di sana. Tapi aku jadi memperhatikan aktifitas mereka.” Gilang mulai bercerita. “Sejak kamu bilang ingin berpisah karena tidak akan bisa memberiku keturunan. Aku jadi berpikir, apa seberat itu untukmu hidup berdua denganku? Apa aku akan mengalami seperti ibu penjual bubur tadi? Kembali kehilangan. Memikirkan itu membuatku hampir gila.”
Septi terus saja sesenggukan. Dia tidak sadar menyakiti Gilang seperti ini. Sekarang dia tahu, sejak tadi Gilang mencoba membuka matanya. Gilang melihatkan bahwa di luaran sana masih banyak yang lebih menderita daripada mereka. Banyak bentuk kehilangan yang serupa dengannya, ibu yang kehilang anak dan suami, anak-anak yang mungkin kehilangan orang tuanya dan harus mencari nafka sendiri. Bedanya, mereka yang kehilangan kemudian memilih bangkit.
Lalu kenapa dia tidak? Bukannya, dia masih memiliki Gilang sebagai teman membentuk bahagia. Lantas, kenapa dia malah menyerah dan memilih kembali kehilangaan? Padahal membayangkan hidup tanpa Gilang membuatnya takut. Dia tak akan bisa. Tidak. Dia harus bangkit. Harus!
“Apa kita bisa bahagia lagi? Bersama?”
“Ya. Pasti.”
“Aku harus apa?” Ada perasaan lega di dada Gilang.
“Ikhlas. Kita harus mengikhlaskan kehilangan ini, Sayang. Kita akan mulai dari awal ya? Ada banyak kebahagian yang menunggumu di depan.”
Septi menangis di pelukan Gilang. Tempat yang dia pilih untuk kembali mengukir kebahagiaan.
--- end ---