Tak terasa sudah dua bulan Tama berada di LA untuk mengenyam pendidikan lebih lanjut, ia akan berusaha secepatnya menyelesaikan pendidikan itu dan kembali ke negara tercinta, lebih tepatnya kembali ke sisi gadis pujaan, ah sekarang Raisa bukan gadisnya lagi tetapi wanitanya.
"Ah, aku merindukannya, apa yang sedang dia lakukan? Kenapa akhir-akhir ini tidak ada kabar darinya, bahkan bertanya kepada orang rumah percuma saja, tidak ada yang menjawab panggilan telphone satu orang saja." ..... "Apa mungkin sesuatu terjadi kepada Raisa?" ..... "Oh, aku ingin secepatnya kembali!!" Ucap Tama bermonolog sendiri, Tama sangat gusar. Dari tadi Tama hanya gulang-guling kesana kemari di kasur empuknya bahkan mundar-mandir seperti setrikaan menunggu kabar kekasihnya.
Tring.....
Notifikasi handphone Tama berdering menandakan pesan masuk. Tama langsung meraih Handphone itu dan membaca apa isi dari pesan, seketika Tama mengernyitkan alisnya. Tama kebingungan mengapa tiba-tiba Raisa memberi pesan seperti ini. Tama langsung menelpon Raisa, dalam deringan kesekian kalinya baru terdengar suara kekasihnya.
"Hello?" "Kau dari mana saja dan apa maksud pesan ini? Apa kamu menangis? Kenapa suara mu sangat parau?" Tanya Tama dengan beruntun, ia sangat mengkhawatirkan Raisa.
"Ah maaf, aku sekarang sedang banyak tugas kuliahan. Badan ku kurang fit, mungkin besok akan lebih baik setelah istirahat beberapa jam." Ucap Raisa.
"Terus apa maksud pesan itu?" Tanya Tama, meski ia sangat mengkhawatirkan Raisa tetapi penasaran lebih mendominasi dari kekhawatirannya.
"Ah aku rasa untuk saat ini kita fokus dalam belajar saja, aku tidak ingin kita saling menunggu kabar. Sedangkan disini maupun kau disana akan banyak memiliki kesibukan. Jadi sebelum kau menyelesaikan study disana kita lose kontek dulu, kau jangan khawatir aku disini akan tetap menunggu mu kembali dan semangat untuk belajar agar kau cepat kembali ke sisi ku." Ucap Raisa panjang lebar, Tama terdiam membisu mendengar pernyataan Raisa. Entah apa yang harus dia lakukan, Tama sudah terbiasa setiap hari selalu diselingi canda tawa bersama Raisa.
"Baiklah jika itu mau mu, tapi ingat kalau ada apa-apa kabari aku. Aku akan secepatnya menyelesaikan study dan kembali bersama mu." Putus Tama, meski ia sangat keberatan dengan pernyataan Raisa tetapi ia tak boleh egois. Mungkin benar sebentar lagi akan ada banyak tugas yang menumpuk. Mereka mengakhiri panggilan tersebut, Tama menjatuhkan tubuhnya di kasur dan menerawang bahwa ia akan kesepian selama beberapa waktu tanpa mendengar suara pujaan hatinya.
Sedangkan di sisi lain, tempatnya di kediaman ayah dan ibu Tama. Mereka sedang berkumpul, bersama nenek Tama di ruang keluarga, mereka mendengar ucapan Raisa dan Tama. Ya panggilan tersebut di loudspeaker oleh Raisa sehingga yang lainnya dapat mendengarkan apa yang dikatakan Tama dan Raisa.
"Bagus, aku harap kamu tidak mengganggu cucu ku lagi. Dan soal kehamilan mu jangan pernah kamu memberi tahu Tama soal ini, aku harap kamu bisa meninggalkan mansion ini untuk selamanya!" Ucap Desy nenek Tama.
"Mah jangan seperti itu, janin yang ada dikandungan Raisa juga darah daging Tama otomatis ia merupakan keturunan dari keluarga Louise." Ucap ayah Tama.
"Aku tidak mengharapkan keturunan ku dilahirkan dari wanita seperti dia. Tama berhak mendapatkan gadis yang lebih baik dari dia. Dan Jangan coba-coba kau membela dia atau kau akan melihat akhir hidupku saat ini." Ucap Desy dengan sinis sehingga Kenji tak bisa berbuat apa-apa.
Raisa mengurung dirinya di kamar, menangisi nasibnya kelak. "Nak, makanlah jangan membuat anak-anak mu kelaparan. Hiraukan perkataan Madam Desy jangan sampai perkataan itu membuat kamu setres." Akhirnya mau tak mau Raisa memakan makanannya.
Raisa yang tak mau berlarut dalam kesedihan, ia merefresh otak dan hatinya dengan jalan-jalan disekitar taman. Tapi apa boleh buat, bukannya membuat dirinya lebih baik malah membuat hati Raisa seolah berhenti berdetak pada saat itu.
"Aku tak mau melihat wajahnya dan jangan sampai keturunanku lahir dari seorang wanita seperti dia." Ucap Desy kepada Joshua tangan kanan keluarga Louise.
Raisa yang mendengar hal itu langsung mengemas barang-barangnya dan meninggalkan mansion keluarga Louise.
Selama satu minggu Raisa berada disalah satu apartement, meski tempatnya kecil dan sumpek ia harus tinggal disana. Raisa mencari pekerjaan sampingan yang kebetulan salah satu penghuni apartement sedang mencari guru less.
Raisa yang sedang keluar mencari makanan, ia tak sengaja menabrak seseorang.
"Hem, ternyata aku tak perlu mencari kau. Kau menunjukan batang hidungmu dengan sendirinya." Ucap Joshua.
Raisa yang panik berusaha melarikan diri, namun Joshua telah mencekal pergelangan tangannya.
"Lepaskan aku, aku mohon tuan." Ucap Raisa dengan memelas, entah kenapa ada desiran aneh yang dirasakan Joshua ketika ia memegang Raisa.
"Hem, Ikutlah denganku. Aku akan mencoba melindungimu, ini perintah langsung dari tuan besar." ... "Tetapi..." Raisa langsung bungkam ketika melihat tatapan tajam dari Joshua, mau tidak mau ia mengikuti kemana Joshua membawa dia.
Tiga tahun lamanya Tama mengenyam pendidikan bahkan Tama telah memiliki gelar professor.
"Ah i coming Raisa Jovanka." Teriak Tama ketika ia menginjakan kaki di negara tercintanya. "Ah bagaimana keadaan kekasih ku apa dia akan makin menggemaskan." Lanjut Tama, dengan terburu-buru Tama menyetop taxi dan langsung pergi ke kediaman Louise.
Bruk Tama menggerbak pintu bak orang kesetanan. "Hey nak, akhirnya kamu sudah pulang kami merindukan mu." Ucap Kenji memeluk putra tunggalnya begitu pula ibu dan nenek saling bergantian memeluk Tama. Namun mereka terkejut dengan apa yang ditanyakan Tama. "Yah, dimana Raisa? Apa di dapur? Raisa dimana kamu sayang?" Tama mencari Raisa sambil berteriak-teriak, namun ia mematung ketika mendengar ucapan neneknya.
"Wanita itu pergi dari rumah ini, ia tak sanggup menunggumu kembali dan dia pergi bersama laki-laki lain." Ucap Desy dengan sinis. "Pah, mah itu bohongkan, apa yang dikatakan nenek semuanya bohong?" Tanya Tama dengan raut sendunya. Kenji dan ibu Tama hanya bisa diam, mereka tak tau harus berbicara apa. Mereka hanya saling pandang dan melirik ke arah Desy. Dugaanya benar, pasti tidak ada yang beres. Tama langsung pergi meninggalkan mansion dan mencari Joshua sang tangan kanan keluarga Louise.
"Dimana kau menyembunyikan Raisa?" Ucap Tama tanpa basa-basi. "Tuan muda baru saja kembali dari LA kenapa terburu-buru, tuan bisa istirahat dulu." "Cepat katakan saja dimana Raisa?" "Tuan masih tidak sabaran seperti dulu. Tapi maaf aku tidak tahu dimana Raisa sekarang, meskipun aku tahu. Aku tidak akan pernah memberi tahu dimana putriku berada sebelum kau bisa menaklukan nenek mu itu." " Tunggu kau bilang Raisa putrimu?" Joshua hanya diam tak memberi jawaban sama sekali. "Baiklah aku akan mencarinya sendiri dan aku akan mencari jawabannya sendiri." Tama yakin pasti ini ada kaitan dengan penculikanya pada umur 5 tahun dan menyebabkan keluarga Joshua hilang tanpa jejak.
Tama mengerahkan para pengawalnya untuk mencari Raisa, bahkan Tama menyewa detektif handal untuk mencari Raisa. Tama sehari-hari hanya kerja dan mencari Raisa, bahkan Tama kehilangan berat badan, lingkar mata panda selalu ada diwajah tampannya. Tama tak memperdulikan diri dan sekitarnya, Tama hanya menginginkan Raisa berada disampingnya.
Keadaan Tama menjadi sorotan publik, terutama keluarganya. Nenek yang melihat keadaan cucu kesayangannya sangat memperihatinkan membuat hatinya berdenyut. Hingga akhirnya ia memberanikan diri menghampiri Tama di kantor.
"Ada apa kau kesini?" Desy semakin teriris ketika Tama tak mau memanggilnya nenek. "Maafkan semua keegoisan nenek, apabila Raisa memang kebahagianmu, nenek akan mencari Raisa untuk mu. Dan kebetulan sekali cucu teman nenek berteman dengan bocah yang mirip denganmu, mungkin itu darah dagingmu. Meski kau mendapatkannya dengan cara yang tidak benar, tapi kamu mau bertanggung jawab untuk mereka. Maafkan nenek yang pernah mencoba membunuh anak mu, semoga kau selalu bahagia bersamanya." Mendengar perkataan Desy, Tama sangat terkejut. Apa iya bahwa bocah itu anaknya? "Semoga kau segera menemukan Raisa, nenek akan mengirimkan lokasinya kepadamu."
Tama memandangi wanita pujaan bersama anak-anaknya di taman bermain, Tama sangat terkejut mengetahui bahwa ia mempunyai 3 anak sekaligus dari Raisa. "Maafkan aku telah meninggalkan mu Raisa, kamu pasti sangat menderita ketika aku tak berada disampingmu." Ucap Tama, Tama menyeka buliran bening yang mengalir dari matanya dan menatap nanar ke arah Raisa dan anak-anaknya.
"Paman, kenapa sedih? Apa tidak ada yang mau berteman dengan paman? Kalau begitu biar Keana yang menjadi teman paman, Keana akan mengenalkan paman kepada Keano dan Keanu. Mereka pasti senang mendapatkan teman baru." Ucap gadis kecil berambut pirang itu, Tama hanya diam mematung menatap gadis kecil yang mirip dengan dirinya. Tanpa babibu Keana menarik tangan Tama untuk ikut dengannya.
"Keano, Keanu lihat kita mendapatkan teman baru." Keanu yang melihat Keana membawa pria dewasa sangat tidak menyukai itu. "Keana, kata bunda tidak boleh bermain dengan orang asing. Bagaimana kalau mereka akan menculik kita." "Hey, Keanu. Bunda hanya menyuruh kita untuk berhati-hati dengan orang asing, bukan tidak boleh bersama orang asing." Timpal Keano mengkoreksi perkataan Keanu. "Betul itu, anak kecil tak akan mengerti ucapan orang dewasa, hanya orang dewasa seperti kita yang mengerti." Sahut Keana dengan bangga menepuk dadanya sendiri. "Ck kak, kau dan aku hanya beda 39 menit saja. Ingat itu!!" "Diamlah Keanu, kakak mu memang sangat sangat dewasa dan sangat menyebalkan." Timpal Keano. "Apa kau bilang aku menyebalkan?" Keana bertolak pinggang. "Hey, kenapa kalian bertengkar. Tidak boleh bertengkar apalagi itu saudara sendiri." Keano dan Keonu menjulurkan lidahnya mengejek Keana sang kakak. "Kau.." "BUNDA..." Teriak Keano dan Keanu sehingga mengurungkan niat Keana untuk memarahi adik-adiknya.
Langkah Raisa terhenti bahkan ice cream yang dikantong kresek langsung jatuh saat melihat pria yang selalu dalam pikiran berada tepat didepannya, lidahnya kelu ia tak mau berharap lebih jauh. "Ra..Raisa." Bulir bening sudah memenuhi mata hitam Tama. "Raisa maafkan aku." Tama menunduk wajahnya ia tak berani menatap Raisa. Tama merasa malu dan kecewa kepada dirinya sendiri. Bruk, Raisa langsung mendekap Tama dengan erat. "Ini benar-benar kau Tama, hiks..hiks.." "Sayang maafkan aku yang datang terlambat, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu dan anak-anak kita hingga kita dipertemukan di keabadian."