Aku selalu tertarik terhadap hal yang diabaikan orang lain. Aku menganggap hal itu unik, tapi terkadang kau bilang itu konyol.
Waktu kecil aku suka mengoleksi pasir. Ya, pasir. Lucu bukan? Tapi tidak semua pasir aku kumpulkan. Aku akan memilih pasir yang mirip seperti berlian. Berwarna putih dan terlihat berkilau ketika diterpa sinar matahari. Jika ingin mendapatkan pasir yang putih bersih sebaiknya dicari setelah hujan turun. Aku seperti seorang pemburu harta karun, berwujud pasir.
Kegiatan mencari pasir, biasanya aku lakukan pada sore hari karena matahari tidak terlalu terik. Sehingga aku bisa memilih pasir yang terbaik.
Pasir yang kukumpulkan akan kugunakan untuk kolase. Selebihnya kusimpan sebagai koleksi di sebuah wadah kecil. Suatu waktu, aku kehilangan koleksiku. Kucari di tempat biasa, tetapi aku tetap tidak bisa menemukannya sehingga kuputuskan bertanya kepada ibu.
"Bu, lihat wadah kecil yang kutaruh di sini, nggak? "
Ibu menoleh lalu menjawab, "ooh, yang itu. Udah ibu simpan ke dapur, dekat wadah garam. "
Aku melihat ibu dengan ekspresi bingung, "lah, kenapa ibu simpan ke dapur?"
"Itu garam kan? Lagian kamu, ngapain nyimpan garem di rak buku? " jawab ibu dengan nada santai.
"Itu bukan garam, Bu. Tapi pasir. "
Aku bergegas ke dapur untuk mengambil koleksiku meninggalkan ibu yang masih mengoceh.
Untung saja ibu tidak mencampurnya ke dalam garam.