“Setiap hal yang memabukkan itu khamr, dan setiap yang memabukkan itu haram.”
Sabda Rasulullah dari Ibnu Umar yang tercantum dalam Hadits Riwayat Bukhari terngiang-ngiang di telingaku. Jadi, menurut hadits, bukan hanya anggur yang difermentasikan, arak, atau minuman keras lainnya saja yang diharamkan oleh agama, tetapi semua yang memabukkan. Aku bukan ahli agama, belajar pun dulu sewaktu masih kecil. Namun, untuk pengetahuan dasar seperti ini masih paham selama aku masih berstatus sebagai orang-orang beriman. Bukan hanya babi dan arak, ganja pun diharamkan. Lagi pula, meski memberi manfaat sedikit, bukankah lebih banyak kerugiannya dan berbahaya?
“Jadi, gimana Shal?”
Pertanyaan Widari membuatku menoleh kepadanya. Bimbang, antara memilih agama sebagai pedoman atau memilih sahabat yang sudah menemani sejak duduk di kelas satu sekolah menengah atas.
“Liat besok ya, Wid.”
“Ah, gak asik! Gak gaul! Besok kita terakhir ujian, coret-coret baju. Sekalian kita pake itu barang. Nyobain aja. Kukasih gratis.”
Aku merespons dengan anggukan. Dia terlihat berbinar dan berkata, “Nah, itu baru Shaleha Mustika Sari.”
Kemudian kami berpisah jalan, dia menuju jalan raya untuk menanti angkutan yang akan mengantar ke rumahnya, sementara itu langkahku gontai menuju rumah yang ada di belakang sekolah.
Di perjalanan menuju rumah, salah satu teman menghadang. Nama lengkapnya Shona Zahratussita. Aku memanggilnya Shona. Kami baru kenal selama setahun ini, sejak duduk di kelas tiga. Akan tetapi, rasanya aku sudah berkawan lama. Hanya kepadanya aku menceritakan semua kisah, walau dibumbui paksaan darinya. Aku tidak marah mendapat paksaan itu, tak pernah menyesal telah terbuka kepadanya.
“Jadi, kau gak bosan dapat masalah terus, Shalsa?” sindirnya.
Dia memang memiliki panggilan tersendiri untukku. Katanya panggilan darinya itu seperti nama mata air di surga. Entahlah, aku tidak tahu.
“Oh, kau sekarang jadi tukang nguping?”
“Kenapa kau baru tau sekarang?” balasnya.
Aku diam. Dia membuat tak tahu harus berkata apa. Bukan karena tak ada jawaban. Bisa saja menjawab bahwa urusanku bukanlah urusanmu, tetapi dia pasti punya kalimat lain untuk menyerang balik.
“Dengar, Shalsa! Kau adalah saudariku. Saudari seiman, sebangsa, sesuku, sekota, sesekolah, sekelas, sesama perempuan dan sesama bani Adam.”
“Ya terus?” Aku berkacak pinggang.
Dia tersenyum. “Kau tentu tau apa seterusnya. Bukannya ini selalu kuucapkan sampai kau bosan?”
Hampir saja aku tertawa karena dia lebih cepat satu tingkat dalam memahami diriku sendiri.
“Jauhi, jangan ikuti apa yang Widari ajak. Haram!”
“Aku tau itu haram.”
“Lah, terus?!”
“Ya, apa?”
“Ih, bodoh!”
Sepertinya Shona kesal. Ia ambil ponsel dari saku baju seragam sekolah. Kemudian mengetikkan entah apa. Setelah menunggu satu menit dia hadapkan ponsel itu tepat ke depan mataku.
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”
Sungguh, aku tahu! Aku tahu akan hal ini. Namun entah kenapa rasanya ada yang menutupi hati dan mengingkari ayat suci.
“Sok suci! Udahlah ... kayak gak pernah buat dosa aja. Aku males gaul sama orang-orang kolot, konservatif macem kau. Udah dari lama aku muak!”
Kulihat wajahnya merah, demikian pula matanya yang berkaca-kaca.
“Aku kek begini karena aku sayang sama kau. Aku kayak gini karena kewajiban sebagai sesama orang-orang beriman.”
Kalau aku ngeganggu kau karena menyuarakan ini, maaf. Bukan maksud mau sok suci. Atau mau ngurusin urusanmu.”
Setelah itu dia balik badan, pergi. Sempat kulihat ia menyeka mata dengan khimar putihnya.
Kupegang dada sebelah kiri. Rasanya sesak dan seperti ada yang hilang dari diri ini. Azan berkumandang, dan saat itu pula air mata jatuh menuruni pipi untuk alasan yang belum diketahui, atau aku menolak mengakuinya.
Aku pun berlari ke rumah, membuka khimar dan mengganti pakaian. Selera makan menguap begitu saja. Mau tidur juga susah. Apakah ini efek dari kalimat yang menyinggung Shona?
Untuk mengusir suara-suara di kepala, aku membaca novel karangan seorang penulis favorit dan ternama di Indonesia dengan nama pena seperti kosa kata India. Novel ini dihadiahkan oleh Shona kepadaku, kami sesama menyukai penulis ini. Ah! Dia lagi yang kuingat. Kulirik jam dinding, biasanya Shona akan mengabari jika sudah sampai di rumah. Biasanya aku bosan membaca pesan darinya yang terkesan berlebihan, hanya sudah sampai di rumah, untuk apa buat laporan. Akan tetapi hari ini, aku merindukan laporannya itu.
Detik berganti menit. Demikian pula menit bergulir menjadi jam. Lalu siang berganti malam.
Ponselku berbunyi. Karena semangat, aku tak melihat siapa yang menghubungi. Langsung saja berteriak kegirangan menyebut nama Shona.
“Widari! Gimana bida jadi Shona sih? Jauh!” katanya dari seberang telepon
“Oh, iya maaf, kupikir Shona.”
Kemudian dia berbicara entah apa, aku tidak peduli. Namun yang jelas dia jengkel setengah mati.
“Aku juga mau bilang, jangan lupa besok!” katanya lagi.
Juga? Memangnya sebelumnya dia bicara apa?
“Iya!” Kumatikan sambungan telepon, entah mengapa rasanya aku kesal sekali karena bukan Shona yang menghubungi.
Aku menangis. Kesesakan ini semakin menjadi saja, hampir-hampir aku tidak bisa menahannya. Jujur saja, saat disakiti mantan kekasih atau ketika kami putus hubungan, perasaanku tidak sesakit ini.
Aku berusaha menakuti hati ini dengan prasangka buruk agar rasa aneh yang bersarang di dada ketika bertengkar dengan Shona menjadi hilang, tetapi prasangka itu tidak mempan menghilangkan rasa bersalah dan rinduku kepadanya.
Kukirim pesan padanya. Hanya satu kata: maaf.
Biasanya dia akan membalas cepat, tetapi kali ini tak ada balasan yang kuterima. Bahkan hingga tengah malam, aku masih setia menanti. Habis sudah! Dia benar-benar marah dan kecewa. Lagi-lagi air mata ini jatuh, kali ini membasahi bantal. Aku tergugu hingga tertidur.
Paginya, aku terbangun mendengar azan. Cepat-cepat ke kamar mandi, membersihkan badan lalu berwudhu. Kudirikan kewajiban sebagai hamba di kala subuh. Tak lupa doa terselip di sana untuk masalahku dengan Shona. Setelah itu kembali kembali memeriksa ponsel, kalau-kalau gadis bertahi lalat di bibir itu membalas pesanku.
Nihil! Kosong. Sekian banyak pesan, tak ada namanya di daftar orang-orang yang memberiku pesan. Ya, Allah!
Dalam perjalanan menuju sekolah, aku telah bernazar, jika hubunganku dengan Shona membaik hari ini, maka nama Shaleha Mustika Sari tidak akan ada pada barisan ajakan Widari mengisap ganja dan meminum arak.
Takdir mengizinkan kami bertemu di gerbang sekolah.
“Assalamu'alaikum, Shona!” antusiasku padanya.
Dia menjawab salam. Terdengar datar dan tidak bersemangat. Aku mendekatinya, menggamit tangannya dan berjalan bersama menuju kelas.
“Hari ini kau ikut coret-coret gak, Na?”
Dia menggeleng. Aku pun mempertanyakan. Shona hanya tersenyum.
“Shona, aku ….” Sebenarnya malu mau mengatakan maaf, tapi kalau tidak kukatakan, batin ini semakin tersiksa.
“Aku kirim pesan loh tadi malam ke kau.” Akhirnya hanya itu yang kuucapkan setelah lama menggantung suara.
“Hm, aku tau.”
“Terus kenapa gak kau balas?” rajukku.
“Salah alamat.”
“Hah? Gimana maksudnya?” Sungguh aku tidak paham apa yang sedang ia sindirkan kali ini.
“Kata itu mestinya kau tujukan kepada Allah dan dirimu sendiri.”
Aku bungkam, mendengarkannya, entah kenapa kini merindukan siraman rohani darinya. Kepala ini tertunduk bagai anak kecil yang sedang dimarahi ibunya.
“Maaf kepada Allah karena akan melanggar larangan-Nya. Maaf kepada dirimu sendiri karena kau akan menzolimi dirimu.”
“Astaghfirullah ....”
Wajah dinginnya tadi bertransformasi menjadi sehangat mentari pagi.
“Lagian,”
Aku kembali menatapnya. Matanya lekat memandang, seakan elang akan menangkap mangsa.
“Aku tidak perlu permintaan maaf dari setan.”
Hey, tunggu dulu! Apa dia sedang mencoba mencela? Penistaan sebagai manusia ini namanya.
“Aku manusia!” protesku.
“Apa ada aku bilang kau bukan manusia?” balasnya santai.
“Ada!”
“Kapan? Mana buktinya?”
“Kau bilang aku setan.”
“Saat itu! Saat itu kau memang berbicara buruk, kan?”
“Tapi menghina manusia sebagai setan itu tidak baik, Shona.”
Dia tertawa. “Bacalah surah An-Nas kalau begitu.”
Ya, aku tahu kalau tri qul yang terdiri dari An-Nas, Al-Falaq dan Al-Ikhlas itu pelindung diri dari setan. Namun, apa maksudnya? Daripada penasaran, aku pun mengerjakan yang dia minta.
Ketika selesai, dia memintaku memperdengarkan terjemahannya juga. Banyak maunya! Namun, tetap saja kulakukan.
“Jadi?” tanyanya.
“Apa?”
“Kau memang payah!” cibirnya seperti biasanya. Tak mengapa, Shona yang seperti inilah yang kuinginkan selalu.
“Jadi, apa hubungannya kau mengataiku setan?” cecarku.
“Dalam An-Nas, kita tahu kalau setan itu dari golongan jin dan manusia. Setan itu sifat. Jadi, kalau kelakuanmu kayak setan, ya pantas aja aku sebut kau setan.”
“Kau betul-betul menyebalkan!” Meski demikian, aku sangat sayang padanya, dan itu baru kusadari.
Dia tertawa dan aku suka dengan situasi seperti ini. Tak lama, Widari menghampiri meja kami, menanyakan janji yang kemarin.
“Wid, aku enggak kau ajak? Cuma Shalsa aja nih?” Shona bertanya sambil menyeringai.
“Oh, mana mungkin malaikat mau ikut sama setan,” Widari tak kalah pedas menanggapi.
“Loh? Kalau gitu kau salah alamat dong ngajakin Shalsa. Selain malaikat, manusia pun mana bisa berbaur sama setan. Karena apa? Karena setan adalah musuh manusia yang nyata.”
Widari hampir saja meladeni sindiran Shona jika saja aku tetap diam.
“Wid, aku gak ikut.”
Raut wajah Widari menampilkan rasa tak suka yang kentara.
“Kau udah gak asik lagi sejak gaul sama dia!” Widari menunjuk Shona yang kini senyum-senyum penuh kemenangan.
Widari berlalu dari sana. Aku sudah tak peduli lagi kepadanya. Kata ibu, teman yang baik adalah teman yang mengingatkan kita kepada Allah. Maka itu, Shona lebih kupilih dan kuutamakan daripada temanku yang lainnya.
Seperti untaian kalimat seindah mutiara yang kulupa siapa pemiliknya, bahwa tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang erat-erat.
Aku tidak akan melepasnya lagi. Sama seperti Shona Zahratussita, maka Shalsa ... Shaleha Mustika Sari juga ingin bersahabat sampai surga bersamanya.
*
“Lima remaja mati kecelakaan di jalan Abdul Haris Nasution. Diduga kecelakaan itu karena pengemudi motor yang terdiri dari pasangan remaja sedang mabuk. Beredar kabar, mereka juga melakukan pesta ganja.”
Tanganku bergetar membaca potongan pokok berita yang ada di koran langganan ayah di pagi hari. Setelah mengucapkan syukur karena terbebas dari kecelakaan yang mungkin saja namaku akan tercantum bersama nama Widari dan temannya yang lain, maka ucapan lain yang diajarkan agama ketika mendengar musibah pun menyusul.
Maha Besar Engkau Atas Segala Firman-Mu, Allah.