Setelah beberapa hari Tama menjadi guru pribadi Raisa, ia begitu kagum akan kepintaran dan kecerdasan Raisa, sehingga Tama memberanikan diri meminta kedua orang tuanya untuk mensekolahkan Raisa di tempat Tama mengenyam pendidikan, tetapi semua itu tidak gratis.
Dan Tama entah mengapa hari ini ia sangat menyesali telah membawa Raisa sekolah, Tama sangat geram saat semua orang melihat Raisa tanpa berkedip apalagi laki-laki. Hari ini hari perpisahan kelas 3 SMA dan kelas 3 SMP sekaligus kenaikan kelas bagi kelas 1 dan 2, dan kelas 2 menjadi panitia penyelenggara.
Kebetulan sekali Raisa menjadi salah satu panitia tersebut dan lebih parahnya lagi Raisa menjadi salah satu Host di pesta perpisahan bersama seorang laki-laki.
Tama sangat geram sekali melihat senyuman kedua host tersebut, apalagi banyak yang berbisik bahwa mereka sangat cocok.
"Sial*an, Raisa hanya akan menjadi milik ku. Hanya milik Kenu Tamalouis!!" Ucapnya dengan menahan amarah di hatinya, yang sudah mencapai ubun-ubun sampai giginya bergemerutuk akibat gesekan antar gigi karena geram melihat kedua orang yang berada di panggung.
"Okey, sekarang kita memasuki pembagian penghargaan bagi mereka yang berprestasi." Ucap Han dengan bahasa santainya. Pembagian penghargaan terus berlangsung dan... "Penghargaan murid terbaik dengan nilai yang sempurna akan diberikan kepada, jreng jreng jreng. Kalian pasti sudah tau siapa iyakan?" Teriak Raisa. "Tama... Tama... Tama..." Ucap para penonton. "Ya Kenu Tamalouis." Ucap kedua host tersebut. "Silahkan kepada saudara Tama untuk memasuki tempat yang sudah tersedia." Ucap Han. "Dan untuk pemberi penghargaan akan diserahkan oleh kepala sekolah kita yaitu Pak Raiden Kyle, waktu dan tempat kami persilahkan." Lanjut Raisa.
Acara berjalan sangat lancar, para murid dan guru sudah meninggalkan tempat acara begitu pula Raisa dan Tama. Mereka sedang berjalan beriringan dan bergandeng tangan.
"Kak Tama kenapa wajah mu muram sekali?" Tanya Raisa, Tama menghentikan langkahnya dan menatap dalam ke manik biru Raisa. "Aku ingin tetap sekolah disini." Raisa kebingungan mendengar ungkapan Tama. "Bukannya kakak ingin segera seperti Tuan Besar? Kenapa ingin menetap sekolah disini?" Tama menarik nafas dengan kasar. "Aku tak rela meninggalkan kamu sendiri disini, kamu hanya milik ku, milik Kenu Tamalouis saja." Sekarang Raisa mengerti kenapa Tama sering mengatakan hal itu. "Kak, aku disini hanya belajar. Kita bisa bertemu di rumah seperti biasanya dan aku janji akan menjaga hati ini untuk kakak seorang." Tama yang mendengar pernyataan Raisa ia menjadi agak tenang, Tama memperpendek jarak Raisa dan Cup. Raisa terbelalak merasakan bibirnya bersentuhan dengan bibir tuan muda. Kecupan itu berubah menjadi lum*atan kecil dan ganas. Hingga keduanya terengah-engah setelah melepaskan bibir mereka. "Aku akan pegang perkataan mu sayang." Raisa semakin merah merona mendengar perkataan Tama.
Waktu makin berlalu, tak terasa Tama sudah memasuki akhir semester kuliahnya dan begitu pula Raisa akhir semester sekolahnya. Tama selalu kebelingsetan menahan nafsunya untuk tak meninju orang yang mendekati Raisa, meskipun mereka berbeda sekolah, tetapi Tama memberi Raisa mata-mata sehingga ia tau setiap pergerakan Raisa.
Seperti sekarang ini, baru saja Tama datang diacara perpisahan Raisa ia sudah diberikan pemandangan yang membuat gatal matanya. Salah satu laki-laki sedang mencoba mengungkapkan perasaan di depan banyak orang kepada Raisa. Tama meninggalkan tempat itu dengan hati bergemuruh saat Raisa menerima bunga dari laki-laki itu. Sedangkan di sisi lain...
"Raisa aku mohon, meskipun kau menolak ku tolong terimalah bunga ini. Jangan membuatku semakin malu, aku mohon padamu." Bisik Rey ditelinga Raisa. Raisa akhirnya menerima bunga itu hanya agar Rey tidak menerima bullyan oleh teman-temannya. Tetapi matanya menatap punggung Tama yang hampir meninggalkan tempat itu, Raisa mengikuti Tama hingga...
"Kak, kenapa kamu pergi?" "Kau masih bertanya?" Tama tersenyum miring melihat Raisa. "Itu tidak seperti kakak pikirkan, aku menerima bunga itu hanya karena kasihan. Rey juga tidak masalah aku menolaknya tetapi ia memohon agar menerima bunga itu, Rey hanya menjadi bahan taruhan temannya untuk mengungkapkan cinta padaku." Ucap Raisa panjang lebar. "Apa aku harus percaya dengan perkataan mu?" Ucap Tama dengan nada dinginnya. "Aku akan melakukan apapun untuk kakak agar kakak percaya padaku." Tama malah tersenyum mengejek. " Apapun?" Raisa mengangguk bahwa dia besedia melakukan apapun agar Tama tidak marah kepadanya lagi. "Ikut aku!!" Perintah Tama.
"Kak kenapa aku dibawa kesini?" Tanya Raisa. "Menurut mu apa yang dilakukan laki-laki dan perempuan di kamar apartement berduaan?" Raisa meneguk ludahnya dengan kasar, apa mungkin ini akhir baginya.
"Kak apa yang kamu lakukan?" Gelagap Raisa saat melihat Tama melepaskan semua pakaian di hadapannya. Tama semakin mendekat. "Kak, jangan mela... hemp." Tama tak memberikan Raisa kesempatan berbicara, sehingga terjadi perbuatan terlalarang keduanya. Hingga Tama memberikan benihnya ke dalam rahim Raisa.
"Aku akan selalu membuatmu bergantung kepadaku selamanya." Ucap Tama diakhiri dengan kecupan dikening Raisa. Mereka berdua saling mendekap, Raisa yang sudah kelelahan tertidur pulas sedangkan Tama ia masih betah menatap wajah cantik Raisa hingga suara dering handphone Tama mengalihkan dunianya.
"Kau dimana cepat kembali, ada yang perlu Papa sampaikan." Tanpa menunggu jawaban Tama, panggilan tersebut sudah diputuskan. "Sial." Umpat Tama sambil memakai kembali pakaiannya. "Aku akan kembali, tunggu disini sayang." Tama mengecup Raisa sekilas dan meninggalkan note untuk Raisa.
"Ada apa Pa?" Tanya Tama langsung to the point. "Nenek menyuruhmu untuk melanjutkan studimu di LA, minggu depan kamu sudah terbang kesana. Papa yang akan mengurus semuanya untukmu." Ucap Kenji tanpa basa-basi. "Pah itu tidah sesuai dengan perjanjianmu!!" Ucap Tama menahan amarahnya. "Nenek sudah mengetahui hubunganmu dengan Raisa, apabila kamu membatah, Papa tidak tau apa yang akan diperbuat nenek kepada Raisa. Pilihanmu hanya ada dua, tinggalkan Raisa untuk sementara waktu atau selamanya. Kau harus menduduki singgasana untuk menjadi pemimpinnya." Tama mengetahui maksud Papanya, hingga akhirnya ia tak punya pilihan lain untuk pergi.
"Aku pergi untuk kembali, jangan menangis." Ucap Tama sambil menyeka air mata Raisa. Mereka saling mendekap tanpa ada yang mau mengakhirinya, mereka tak peduli ketika banyak orang menatapnya begitu pula kedua orangtua Tama dan tangan kanan ayahnya. "Tama, kau harus segera check in." Ucap Mama Tama, dengan berat hati Tama melepaskan pelukannya. "Ma, Pa, Om, aku titip Raisa. Kalau terjadi sesuatu pada Raisa, aku tak akan memaafkan kalian." Ucap Tama dengan tegas. "Dia sama sepertimu." Ucap Mama Tama. "Karena dia anakku." Jawab Kenji singkat. "Percayakan dia padaku." Tambah Kenji dengan yakin.
Tama meninggalkan Raisa bersama Papa dan yang lainnya. Sebelum ia memasuki pintu keberangkatan ia berbalik arah dan mencium bibir Raisa dengan derai air mata, sesungguhnya ia tak sanggup meninggalkan Raisa ia takut akan nenek yang melakukan sesuatu kepada Raisa. Tetapi ia hanya bisa mempercayakan kepada Papanya. Akhirnya ciuman itu berhenti dengan kecupan didahi Raisa dengan penuh perasaan. "Aku mencintaimu Raisa Jovanka." Raisa hanya bisa menangis melihat kepergian Tama.
"Aku akan selalu menunggumu disini, akan tetapi jika suatu saat terjadi sesuatu dan aku tak bisa bertahan. Maafkan aku, semoga kau tetap bahagia dan mendapatkan orang yang lebih baik dariku dan lebih segalanya." Gumam Raisa sambil tersenyum melambaikan tangan kepada Tama. "I LOVE YOU RAISA JOVANKA." Teriak Tama sebelum menghilang dari pandangan Raisa. "I love you too." Jawab Raisa meski pelan.
Uhuy naskah perama terpanjangku sepanjang masa😅 Hanya hayalan semata yang didapatkan dari hobi tidurku, entah mengapa dapat mimpi seperti ini meski ada tambahan cerita. Mungkin kebanyakan baca novel ama halusinasi. Sekarang aku tak peduli ada yang baca syukur gak juga gak apa, hanya untuk meringankan pikiranku dalam dunia ke haluanku🤗 Terimakasih bagi yang baca.