Salsa adalah anak yang identik dengan julukan kutu buku di kelasnya. Bahkan perempuan itu diketahui sering datang ke perpustakaan untuk sekedar membaca buku. Hal itu lantaran di karenakan hobinya yang memang suka membaca.
Beragam jenis buku di baca oleh seorang Salsa. Dan disitulah awal dimana dirinya disebut seorang kutu buku.
"Aku adalah seorang kutu buku di kelasku. Hanya aku seorang."
"Menjadi seorang kutu buku? Tidak masalah. Selain menjalankannya karena hobi, ilmu yang didapat pun biasanya akan tersampaikan dan melekat di benakku ini." lanjut Salsa.
Di sebuah koridor, Salsa dengan model ala kutu buku pada umumnya, masuk ke dalam ruang pustaka. Membuka pintu dengan dengan perlahan, dirinya masuk seraya menjaga suara.
"Di ruangan anti suara ini, aku harus menjaga sikap dan juga suaraku agar tidak mengganggu orang lain yang ada disini."
Kacamata, tas sandang, dan juga pakaian yang amat rapi, menggambarkan sosok dari Salsa tersebut. Salsa melangkah menuju sebuah meja yang berada cukup jauh dari ramainya orang-orang berada. Tempat yang tersudut dan juga sepi. Perempuan itu langsung meletakkan barang bawaannya dan memulai aktivitasnya, yakni membaca buku.
Dimulai dari lembaran pertama, dirinya membaca dalam hati agar tidak menghasilkan suara dan juga memahami situasi di tempatnya berada saat ini.
Saat tengah membaca menuju halaman tengah, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mejanya dan duduk disana. Tepat di depan matanya, Salsa melihat seorang anak laki-laki yang ada di hadapannya dengan lirikan kedua mata. Ia merasa sedikit terganggu, lantaran tujuan awalnya mulai lebur.
"Aku mencari tempat yang tersudut agar bisa merasakan baca dalam kesunyian tanpa seorang pun. Akan tetapi lelaki yang ada di hadapanku ini..." gumam Salsa terputus.
Terlihat olehnya beberapa buku di keluarkan oleh lelaki itu. Salsa memperhatikannya dengan kepala sedikit menunduk.
"Dia membawa buku sebanyak itu? Untuk dibaca semua?" Salsa bertanya-tanya dalam hatinya.
Laki-laki itu kemudian mulai membuka sebuah buku, dan setelah itu lanjut membacanya.
"Halaman tengah ya. Berarti buku itu sudah pernah ia baca sebelumnya." pikirnya.
Usai melirik, Salsa pun memutuskan untuk lanjut membaca buku yang ada di antara kedua tangannya itu. Bacaan telah sampai pada kembar-lembar terakhir dari satu buku yang dipegangnya.
Saat selesai membaca buku, Salsa langsung menutup bukunya dan kembali memandang orang yang ada di hadapannya itu.
Ternyata keduanya saling memandang satu sama lain. Salsa seketika salah tingkah usai mengetahui orang di depannya juga sedang menatap dirinya.
"Sebaiknya aku pergi dari sini."
Bersiap-siap meninggalkan ruang perpustakaan.
Melangkah melewati lekaki itu, Salsa bergerak dengan cepat dan keluar dari ruangan tersebut. Di taman kota, Salsa duduk sembari melihat orang-orang di sekitar taman tersebur. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh para pengunjung taman. Dan tidak ada satupun kegiatan yang sama dengannya.
"Tidak ada yang membaca ya? Apakah kota ini krisis pembaca buku?" tanyanya dalam hati.
---
Esok harinya, Salsa kembali mengunjungi perpustakaan. Ia ingin membaca salah satu buku di perpustakaan itu. Mencari nama dari buku tersebut sekian lamaz dan pada akhirnya Salsa menemukan apa yang ia cari sedari tadi.
Di posisi yang sama seperti hari sebelumnya, Salsa membaca buku dengan penuh tatapan serius.
"Buku ini menarik perhatianku, usai menelusurinya kemarin di internet." gumamnya.
Setelah selesai membaca, Salsa kembai melihat orang yang sama seperti hari sebelumnya. Yang pernah ditemuinya waktu tengah membaca buku di sudut ruangan. Laki-laki itu kini sedang berdiri di hadapan penjaga perpustakaan yang tengah bertugas. Dilihat perempuan itu dari jauh, lelaki itu tampak memberikan beberapa buku miliknya pada sang penjaga perpustakaan.
"Dia memberikannya? Apakah dia menyumbang bukunya untuk perpustakaan ini?"
Setelah memberikan buku, laki-laki itu pun pergi meminggalkan ruangan.
Esok harinya, Salsa datang ke perpustakaan mencari buku kembali. Buku atas rekomendasi para lembaca di internet. Karena hal itu Salsa pun terdorong untuk mencarinya di perustakaan.
"Aku lebih suka membaca buku fisiknya langsung dari pada versi digital. Karena kesannya akan terasa berbeda." pikirnya seraya mencari buku di rak-rak yang ada.
Usai menemukan buku yang dicarinya, Salsa pun bergegas menuju meja untuk membacanya.
Akan tetapi, saat baru beberapa langkah ia berjalan, pandangannya seketika tertuju pada oranh yang dilihatnya kemarin. Orang yang serupa dan sudah beberapa kali dilihatnya di tempat yang sama. Salsa mengintipnya dari rak buku. Tampak laki-laki itu sedang menyumbangkan buku miliknya pada sang penjaga pustaka. Hal itu seketika membuat Salsa merasa heran.
"Sudah berapa banyak buku yang telah dia sumbangkan di tempat ini?"
Saat tengah memgintip, dalam sekejap lelaki itu melihatnya dan menghampiri dirinya.
Salsa terkejut, lalu ia beranjak pergi menuju sebuah meja. Saat tengah duduk, dirinya di hampiri oleh laki-laki tersebut.
"Kamu barusan mengintipku ya?" tanya sang lelaki pada Salsa.
Perempuan itu menggelengkan kepala seolah berkata tidak, walau sebenarnya dia sudah ketahuan barusan.
Laki-laki itu duduk di sebelah Salsa yang tengah membuka sebuah buku.
"Oh buku ini ya. Kamu menyukainya?"
Salsa mengangguk meskipun baru membuka halaman awal.
"Baguslah. Beritahu aku apa yang dapat kamu simpulkan dari buku ini nanti ya." laki-laki itu tegak dan berjalan meninggalkan Salsa di sudut ruangan pustaka.
Lain waktu, perempuan bernama Salsa itu berhasil menemukan laki-laki yang sempat ditemuinya beberapa kali tersebut di sebuah kafe dekat pustaka. Dengan sapaan dan gaya bicara yang sedikit gugup, Salsa coba untuk angkat bicara. Dengan langsung ke intinya saja, dirinya mengungkapkan apa yang telah ia pelajari dari buku sebelumnya. Laki-laki itu mendengarkannya dengan penuh tenang. Setelah berbicara, Salsa pun mendapatkan pujian dari orang itu.
"Kamu memang pandai. Berarti kamu memang membaca keseluruhan dan mengambil pelajaran penting di dalamnya. Aku salut padamu."
Lalu Salsa kembali bicara dan juga menyempatkan diri untuk bertanya. Kemudian mereka berdua pun mengobrol setelahnya.
"Kamu menyampaikan penjelasan sangat baik, serta memahami konteks yang ada di dalam sebuah buku penuh akan tulisan itu. Kamu adalah tipe orang yang cepat paham, aku pikir." cakapnya kepada Salsa.
Lalu Salsa mulai menanyakan perihal buku yang di sumbangkan olehnya tersebut.
"Aku ingin tanya lagi. Mengenai banyak buku yang sudah kamu sumbangkan ke perpustakaan kala itu. Jadi mengapa kamu menyumbang begitu banyak buku kesana?" tanya Salsa penasaran.
"Soal itu, aku ingin menyumbangkannya sebab semua buku itu telah aku baca. Dan selain itu aku memiliki niat yang mana ingin berbagi kepada para pembaca lainnya mengenai buku yang telah aku baca sebelumnya. Seperti seorang perempuan kutu buku yang melihat buku hasil dari sumbanganku dan mengintipku kala sedang memberi buku eaktu itu." ujarnya sekaligus sedikit menyindir.
"Aku tahu kamu menyindir diriku kan? Jadi itu buku darimu ya?" lanjut Salsa bertanya.
"Iya. Bahkan seharusnya kamu sudah tahu saat aku membuka buku itu tepat di hadapanmu kala itu. Atau mungkin kamu tidak melihat dengan jelas karena lirikan mata yang terbatas itu? haha."
Salsa terdiam karena merasa malu, sebab dirinya sudah ketahuan sejak awal.
"Sudah jangan pikirkan itu lagi. Nanti kamu sakah tingkah pula." lanjutnya.
Sebuah buku di keluarkan dari saku baju dalamnya. Dan itu diberikan kepada seorang Salsa.
"Ambilah. Ini buku khusus untukmu. Ini adalah buku bacaanku sedari kecil. Aku harap kamu menyukainya. Hidup jangan terlalu datar wahai kutu buku."
Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan Salsa seorang diri dengan buku pemberiannya.
"Ini sebuah..."
"Buku komik."
-----SELESAI-----