Dalam bidikan lensa. Sebuah gambar berhasil didapatkan dalam sekejap saja. Cahaya silau muncul setelah tombol di tekan. Tampak hasil yang cukup memuaskan dari seorang fotografer lepas, yaitu Rita. Wanita itu memotret beberapa kawasan yang nantinya akan dijadikan koleksi maupun portofolio bagi dirinya sendiri. Bisnis yang dijalankannya itu memang tidak mendapatkan hal lebih dalam segi keuangan. Tetapi karya-karya yang di hasilkannya, dapat untuk dibanggakan. Baru dua bulan ia menjajal dunia fotografer, usai tertarik pada sebuah foto yang terdapat di kamar mendiang kakaknya itu.
Bermodal kamera sang kakak, Rita memberanikan diri untuk mencoba hal yang baru ini. Mempelajari segi pengambilan gambar serta gaya yang ada, Ia berhasil meningkatkan kemampuannya itu.
Suatu hari, Rita berjalan dengan menenteng kameranya menuju sebuah tempat. Taman kota menjadi pilihannya saat itu. Rita berkeinginan untuk mengambil gambar yang bagus agar dapat memenuhi ketentuan kontes foto yang tengah berlangsung tersebut. Dengan hadiah yang besar, Rita merasa makin bersemangat. Dia memiliki keinginan untuk membuat studio fotonya sendiri suatu saat nanti. Itu cita-cita yang ingin digapainya. Beberapa jepretan berhasil diambil. Dan sudah memenuhi beberapa bagian dari kontes tersebut.
Usai mengambil gambar, Rita berjalan ke sebuah restoran untuk makan siang sejenak. Di jalan ia bertemu dengan seseorang dengan pakaian kemeja kota-kotak sembari mengenakan tas selempang. Rita menduga bahwa dia adalah seorang anak kuliahan yang usianya setara dengannya.
Saat tengah duduk, orang yang ditebaknya itu datang. Lalu duduk disana bersama dengan Rita. Mereka duduk secara berhadapan. Rita merasa sedikit canggung karenanya. Mereka makan secara bersamaan pula, dan membuat Rita makin tidak nyaman. Saat tengah melirik lelaki orang itu, dirinya seketika ketahuan karena lirikan matanya tersebut.
"Apa yang kamu lihat?" Tanya orang itu.
"Tidak ada."
"Terus kenapa melirikku begitu?" Lanjutnya.
"Kamu sendiri, kenapa mengikuti cara aku makan?" Rita balik bertanya.
Orang itu seketika tertawa. Dan meminta maaf.
"Haha Kamu sadar ya akan hal itu. Baiklah maaf telah menganggumu." Ucapnya.
"Jelas aku menyadarinya. Karena kamu juga berada di hadapanku persis seperti ini." kata Rita.
"Iya.. Dan aku ingin bertanya mengenai kamera itu. Apakah kamu seorang fotografer?" Tanyanya pada Rita.
"Hanya seorang Fotografer lepas." Jawabnya.
Setelah itu mereka mengobrol tentang aktivitasnya si Rita. Obrolan itu cukup lama dan akhirnya mereka pun berkenalan sesudahnya.
Rita berkenalan dengan seorang anak kuliahan bernama Tio. Tio merupakan seorang mahasiswa sekaligus model tidak tetap. Jadi mereka sama-sama bebas dalam melakukan tugasnya. Satu seorang fotografer lepas, dan satunya lagi seorang model bebas dari kaitan brand.
Rita menceritakan mengenai kontes foto yang diikutinya itu pada Tio. Ada beberapa kategori yang belum bisa diisi olehnya, agar dapat memenuhi segalanya dan bisa dekat dengan hadiah utama itu. Tio mendengarkannya dan setelah itu ia mulai mengajukan diri.
"Bolehkah aku menjadi modelmu untuk mengisi beberapa kategori yang tersisa?" tanya Tio.
Rita terdiam sejenak sebelum akhirnya menyetujuinya.
"Baiklah. Kita akan bekerja sama disini." ucapnya.
Berjalan bersama menuju suatu tempat. Rita langsung memulai sesi pemotretan itu tanpa berlama-lama. Dan sang model pun menuruti permintaannya. Beberapa foto berhasil didapatkannya. Kini tinggal sedikit lagi untuk memenuhi semua kategori yang ada di kontes tersebut.
"Sudah ada beberapa yang terpenuhi. Kamu sangat pandai dalam bergaya ya." kata Rita seraya memuji Tio.
"Haha terimakasih. Kamu juga pandai dalam mengambil sudut pandang yang bagus." Balas Tio.
Mereka berdua saling berbalas pujian. Setelah itu keduanya lanjut berfoto di tempat lain. Memakan waktu cukup lama, akhirnya semua kategori berhasil di penuhi. Rita senang bahwa semuanya sudah selesai. Dan Tio merasa cukup senang karena melihat si fotografer turut dalam kebahagiaan.
"Terimakasih sudah mau menjadi teman kerjaku kali ini." Rita menundukkan badan seolah tanda terimakasihnya.
Tio membalas dengan angggukan tanpa kata.
Lalu mereka berpisah jalan setelahnya.
Hari demi hari telah berlalu. Tiba saatnya untuk Rita mendengarkan sebuah pengumuman pemenang lomba foto yang telah di nantinya tersebut. Tangannya sedikit gemetar dan tentu saja dirinya sangat deg-degan. Ia masih menunggu saat-saat penyebutan nama sang pemenang lomba. Dalam hitungan mundur, Rita berharap akan impiannya.
Tiga...Dua...Satu.
Pemenang kali ini adalah.....
Nama telah disebut. Rita tersenyum setelah mendengarnya.
Beberapa hari kemudian, Rita bertemu dengan Tio di sebuah kafe. Mereka telah janjian jauh hari sampai saat dimana Tio memiliki waktu senggang sekarang ini. Rita bingung harus mengawalinya darimana. Mereka duduk berhadapan sambil saling tatap menatap.
"Apa yang ingin kamu katakan? Apakah sudah diketahui siapa pemenang kontes foto tersebut?"
Tanya Tio langsung ke intinya.
"Iya. Sebenarnya aku ingin memberitahumu mengenai kontes tersebut." ujar Rita.
"Jadi bagaimana hasilnya? Siapa yang menang? Apakah kamu?" lanjut Tio.
"Aku.... Aku..." Rita menahan diri sedikit.
Tio makin penasaran, dan ia langsung membuat wanita itu mengatakannya dengan cepat.
"Jadi siapa pemenangnya?!" Tanya Tio dengan nada sedikit tinggi.
Rita yang mendengar suara sedikit tinggi itu langsung menyebutkannya.
"Orang lain!" Jawab Rita dengan nada tinggi.
Orang-orang yang berada di kafe tersebut langsung tertuju pandangannya terhadap seorang Rita. Wanita itu merasa malu setelahnya. Dan tertunduk lesu.
"Aku gagal mendapatkan hadiah itu. Maafkan aku. Aku tidak sehebat yang kamu kira." ucap Rita.
Telapak tangan menggenggam dengan erat. Bola mata saling berhadap satu sama lain. Dan sebuah ucapan memulihkan rasa sedih dihati dalam sekejap.
"Tidak apa-apa. Mungkin inilah takdirmu. Tetapi jangan mudah menyerah karena hanya suatu kegagalan. Teruslah melangkah demi mewujudkan impianmu itu. Jalan kehidupan tidak akan mulus, Rita." ujar Tio dengan genggaman tangan yang erat.
Rita membalas genggaman itu dengan pelukan hangat.
"Terimakasih atas dorongannya, Tio. Aku akan berjuang lebih keras lagi."
Balas Rita.
-----SELESAI-----