Teng...Teng...Teng.
Terdengar suara bel sekolah yang mengisyaratkan untuk segera masuk ke dalam kelas masing-masing. Para murid yang mendengar itu, langsung masuk ke dalam kelas.
Sebuah kelas yang berada di paling ujung lorong tersebut salah satunya. Kelas ini memiliki murid yang tak banyak. Berbeda dengan kelas lainnya yang setiap bangkunya sudah pada di tempati para murid kelas. Kelas D dianggap kelas terasing. Sebab selain berada di ujung kelas, kelas tersebut juga memiliki stereotip bahwa para muridnya adalah anak-anak golongan bawah. Golongan bawah disini maksudnya adalah perbedaan berdasarkan tingkat kepintaran yang dimiliki. Ini anggapan anak kelas lain pada mereka, dikarenakan berada di kelas akhir yang menjadi tempat anak yang dilabel 'kurang' dalam hal akademik.
Kelas D memiliki murid yang mengisi separuh dari jumlah bangku yang tersedia. Tidak banyak, tetapi kelas ini juga tidak begitu datar suasananya.
Karena murid-murid disini memiliki hubungan sosial yang tinggi antar murid satu kelasnya. Setiap ada murid sekelasnya yang memiliki masalah, mereka akan segera membantunya.
Seperti kasus yang selalu saja terjadi di sekolah, yaitu bully. Tari dan Edo di buly oleh siswa kelas lain saat sedang makan di kantin. Melihat hal itu, salah seorang murid kelas D lainnya bernama Bill langsung menghampiri mereka. Bill datang dengan lagaknya yang keras.
"Hey! Jangan ganggu mereka. Lebih baik kau pergi dari sini!" Tegas Bill pada mereka-mereka yang membuly dua teman sekelasnya itu.
Para murid itu tidak mau pergi begitu saja. Mereka menyiram sebuah minuman ke arah Tari yang sedang tertunduk di belakang Bill. Dan baju perempuan itu basah karenanya.
Bill yang melihat itu jelas merasa emosi. Tanpa berkata-kata Bill langsung menghajarnya. Tepat di area wajah, Bill melayangkan tinjuannya dengan kuat. Dan terjadilah perkelahian di kantin tersebut.
Usai kejadian itu, Bill dipanggil ke ruangan guru.
Ia di marahi oleh salah seorang guru yang menanganinya.
Setelah di marahi dan diberi peringatan, Bill kembali ke dalam kelas. Suara riuh tepuk tangan terdengar olehnya. Para murid kelas D bertepuk tangan karena aksinya yang membela teman sekelasnya tadi. Tari dan Edo menghampiri Bill yang masih berdiri di depan pintu kelas.
"Terimakasih Bill. Kamu telah membantu kami."
Ucap Edo dibarengi dengan Tari.
Bill meresponnya dengan mengangguk. Lalu setelah itu matanya tertuju pada seragam Tari yang basah terkena minuman tadi.
"Tari, sebaiknya kamu jangan menggunakan seragam itu dulu. Itu sudah basah kan." Kata Bill pada Tari.
"Tidak apa-apa kok. Nanti juga kering sendiri."
Balas Tari sambil sedikit senyuman.
Bill memberi jaketnya pada perempuan itu. Dan menyuruhnya untuk memakainya sementara waktu sebagai pengganti seragam.
"Pakailah ini. Lalu jemurlah bajumu di dekat jendela itu. Selagi sinar matahari masih mengarah ke jendela." Suruh Bill padanya.
Lelaki itu berjalan menuju bangku dan duduk santai sambil membaca komik.
Kelas D jarang di datangi oleh guru. Entah kenapa. Tapi mereka semua sudah tahu bahwasannya sudah terjadi penyimpangan. Terlebih stereotip itu membekas sampai pada guru-guru sekalipun.
"Hanya karena kami murid terbelakang menurut mereka, dan kelas sosial kami jauh dibawah. Kami semua di anggap seperti buangan yang tiada gunanya?" Gumam Bill dalam hati.
Ujian sekolah sudah diumumkan tanggalnya. Dan hal itu akan terjadi tak lama lagi. Bill beserta teman-temannya mengetahui jadwal tersebut. Mereka pun tampak biasa saja menanggapi pengumuman itu. Para murid tidak ada yang langsung berinisiatif untuk belajar, sebab mereka pikir itu tidak ada gunanya. Apalagi mereka semua sangat jarang sekali di datangi oleh guru di kelas tersebut. Akan tetapi saat Bill memandangi seluruh ruangan kelasnya itu, terlihat satu murid sedang membaca sebuah buku tebal dengan menundukkan kepala terlalu kebawah.
Dia yang menyadari itu, langsung berjalan mendekat. Perempuan itu dikenal dengan nama Anita. Bill menyapanya, lalu duduk di sebelahnya sembari mengajaknya ngobrol sejenak.
"Buku apa yang kamu baca?" Tanya Bill.
"Hanya buku pelajaran." Jawab Anita.
"Kamu diam-diam belajar juga ya. Itu bagus."
Kata Bill padanya.
"Terimakasih. Sebentar lagi kan ada ujian, jadi aku harus belajar untuk itu." Lanjut Anita.
Mengetahui bahwa Anita orang yang mau belajar, Bill meminta tolong padanya akan sesuatu.
"Bisakah kamu menolongku?"
"Tolong apa?" Tanya Anita.
"Aku ingin kamu mengajari kami semua." balas Bill.
Mendengar itu, Anita langsung menolak.
"Kenapa tidak?" Tanya Bill.
"Aku tidak bisa. Apalagi ilmuku tidak begitu luas. Aku juga masih dalam masa belajar juga."
jawab Anita.
Bill tersenyum dan berkata pada perempuan itu.
"Kita juga akan belajar bersama. Kamu tahu sendiri kondisi kelas ini bagaimana? Kita ibarat berada di kasta terbawah yang tidak begitu dianggap di sekolah ini. Dan karena hal itu pula aku ingin kita semua dapat merubah pemikiran orang diluar sana mengenai kelas kita dengan hasil dari belajar kita nanti." ungkap Bill.
Anita awalnya ragu. Namun, pada akhirnya perempuan itu pun menerima permintaan dari seorang Bill tersebut.
"Baiklah. Aku akan berusaha sebaik mungkin."
Kata Anita.
Setelah itu, Bill berdiri di depan kelas dan menarik perhatian seluruh murid yang ada di dalam ruangan kelas. Lelaki itu mengajak para teman sekelasnya untuk belajar bersama sebelum menghadapi yang namanya ujian sekolah. Ujian yang bakal menjadi akhir dari penentu kelulusan mereka semua. Dirinya berbicara panjang lebar dengan berbagai penjelasan yang diketahuinya. Usai berbicara di depan kelas. Bill kembali ke bangkunya, dan menghela nafas.
"Aku harap mereka bisa datang besok di tempat yang aku sebutkan tadi."
Gumam Bill.
Anita memandang ke arah Bill. Dan mengisyaratkan kata semangat melalui kepalan tangannya yang terangkat sebelah.
Esok harinya di tempat yang dijanjikan. Bill datang bersama Anita terlebih dahulu. Mereka duduk sambil mengeluarkan buku pelajaran yang telah mereka bawa.
"Akhirnya kita sampai disini." ucap Anita.
"Aku harap mereka semua bisa datang kesini." Kata Bill sembari berharap.
Anita memegang pundak lelaki itu dan berkata agar jangan begitu pesimis.
"Tetaplah semangat dan tetaplah positif."
ucapnya pada Bill.
Beberapa menit kemudian, salah satu murid kelasnya tiba di lokasi. Dia bernama Jen. Lelaki itu datang menghampiri mereka dan bersalaman.
"Maaf sedikit terlambat." ucap Jen pada mereka berdua.
"Tidak mengapa. Yang penting kamu sudah mau datang." Kata Anita.
Dan seiring waktu berjalan, murid-murid lain pun menyusul. Lalu terkumpulah sudah seluruh siswa kelas D itu di satu tempat.
Sebelum mulai belajar, Bill berterimakasih pada semuanya yang sudah mau hadir atas permintaannya kemarin.
"Terimakasih semua. Aku harap dengan ini kita dapat merubah stereotip akan kelas D. Walau kita berlatar belakang yang beragam dan sedikit sulit, Tapi aku ingin kita bisa merubah itu suatu saat nanti. Tidak hanya stereotip belaka, Namun juga masa depan kita kelak." Ungkap Bill seraya menunduk.
Semua temannya mengangguk dan Anita memegang pundaknya.
"Mari kita lakukan yang terbaik." Katanya pada Bill yang ada di sebelahnya.
Kegiatan belajar bersama pun dimulai. Anita tamoak bersemangat memimpin kegiatan itu. Dia mengajari para temannya sebisa mungkin. Termasuk Bill yang turut senangat dalam mempelajari suatu mata pelajaran yang di kerjakannya. Hal itu berlangsung selama beberapa jam, hingga akhirnya langit terlihat mendung, yang menjadi akhir dari kegiatan belajar bersama kala itu. Semua berpamitan dan kini tinggalah Anita dan Bill di lokasi tersebut.
"Hari sebentar lagi akan hujan. Sebaiknya kita pulang juga." Kata Bill pada Anita.
"Ya. Mari kita pulang bersama." ucap Anita yang mulai berjalan dahulu.
Bill tersenyum setelah perempuan itu mengajaknya pulang bersama. Dan mereka pun jalan seirama menuju kediaman masing-masing.
Jadwal ujian sudah semakin dekat, tinggal beberapa hari lagi. Seluruh murid kelas D tampak deg-degan dengan jadwal yang semakin dekat itu. Mereka terus sambung kegiatan belajar sebelum hari ujian tiba. Suasana kelas makin bewarna. Kini tidak hanya sekedar obrolan dan main-main saja. Tetapi juga sudah diisi dengan kegiatan utama dari bersekolah, yaitu belajar di dalam kelas. Bill belajar di bangkunya, sementara Anita duduk di depan layaknya guru yang mengawasi bila ada pertanyaan datang dari murid lainnya.
Sepulang sekolah, Bill berjalan keluar kelas bersamaan dengan teman satu kelasnya. Canda tawa tampak seiring mereka semua berjalan. Saat tengah berjalan melewati kelas lain, beberapa murid dari kelas D di ganggu oleh murid kelas lain. Bahkan ada yang mengerjain mereka dengan siraman air serta lemparan sampah kertas.
Seragam basah kuyup dan rasa hina yang diberikan murid kelas lain itu, membuat Bill murka. Tangannya mengepal dengan kuat dengan rasa geram yang mengiringinya. Anita memegang sebelah tangan dari Bill dan berkata untuk tidak melayani mereka.
"Mari kita teruskan berjalan. Jangan sampai ada masalah lagi. Bukankah kita sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir? Mari." ajak Anita.
Disaat mereka berdua mulai lanjut berjalan, tiba-tiba suara teriakan dari salah satu temannya itu, membuat Bill berbalik badan. Tampak Tari tengah di lempar dengan beberapa benda yang menyakitkan diri.
Bill sudah terlanjur marah dan dia pun mulai melancarkan serangannya terhadap pelaku.
Satu lorong bersuara gaduh dengan aksi yang dilakukan oleh seorang Bill terhadap murid kelas lainnya itu.
Hari ujian pun tiba setelah sekian lamanya. Dan suasana kelas tampak begitu tenang dan serius.
Jarum jam terus berputar hingga menandakan waktu selesai. Para siswa keluar dari ruangan kelas dan berhamburan pulang setelah ujian selesai.
Di suatu hari yang begitu cerah dengan suhu yang hangat. Sebuah minuman kaleng bersoda tampak berada di atas meja, serta sebuah buku komik tengah terbuka lebar di selipi sebuah kertas bercap dari sebuah instansi pendidikan. Dibawah meja payung yang meneduhkan, seseorang berkaos polos tampak tengah duduk diam memandang suasana sekitarnya.
Dan beberapa saat tibalah seseorang dari belakangnya. Dengan stelan pakaian formal, orang itu memegang salah satu pundak orang yang berada di depannya itu. Membalikkan badan dan memandangnya. Terlihat sesosok perempuan beserta beberapa orang lainnya berada di belakang dirinya dengan eskpresi yang menyatakan layaknya rindu yang sedang melekat.
"Bagaimana kabarmu?"
"Bill."
----- SELESAI-----