Sama seperti Ramadan tahun lalu, pagi ini Nayla berjumpa lagi dengan sosok lelaki bertubuh tinggi. Ia sedang merakit kameranya, setelah memarkirkan motornya di pinggir jalan.
Jaket coklat dan sepatu boot navy, setelan yang sama dengan hari itu. Mengingatkan Nayla akan parasnya yang manis dan tegas.
Ingatan Nayla sangat jelas, tapi bisa jadi dia orang lain. Sayangnya wajahnya memakai masker. Nayla hanya bisa berandai-andai bahwa ia adalah lelaki yang ditemuinya waktu itu, di jembatan ini.
Dia menoleh ke arah Nayla, wajah Nay langsung dibuang ke arah depan. Nayla melanjutkan memainkan gawainya bersiap untuk memotret pemandangan indah menyejukkan mata.
Tiba-tiba, orang asing itu membuka pembicaraan.
"Sudah dari jam berapa di sini? Berapa kali kereta lewat di bawah sana?"
Sembari membetulkan lensa kamera, ia hanya terdiam setelah bertanya.
Nay juga ikut terdiam sambil menganggukkan kepala tanda santun yang ia berikan pada orang asing.
Nay berpikir, laki-laki itu sedang menunggu jawabannya.
Cekrekk..
"Ehh, apa dia memotretku ya? Duh malunya," batin Nayla.
"Sunrise di jembatan ini memang sungguh elok. Sudah beberapa kali aku ke sini. Lihat, apa kau suka hasilnya?
Tenang, wajahmu tidak terlihat. Hanya siluet saja, bolehkah aku menyimpannya?" tanya laki-laki itu pada Nayla sembari menyodorkan kameranya.
Nayla yang terlalu dekat dengan laki-laki itu, segera mundur beberapa langkah.
"Oh ya tidak mengapa. Mmm sedari tadi aku di sini, kereta baru lewat 3 kali. Tadi bahkan ada hanya kepalanya saja, lama sekali jalannya," jawab Nay.
Hahahaha
Tawa lelaki itu sangat memuaskan. Nayla yang melihat bekas semburat tawanya, tersenyum kecil.
"Benar ternyata dia, aku bisa melihatnya lagi. Beruntung, masker yang ia pakai dilepas sejenak untuk melepas tawanya. Sungguh indah," batin Nayla.
Entah sudah berapa kali jepretan yang lelaki itu ambil. Pikiran dan hati Nayla yang hampir meledak itu, memutuskan untuk meninggalkannya.
Nayla sedikit membungkukkan dan menganggukkan kepala, sembari pergi jalan meninggalkan lelaki misterius yang menarik hatinya.
Melihat gadis itu pergi, laki-laki itu mencoba untuk menghentikannya.
"Hei tunggu, bisakah aku pinjam Hpmu?" pintanya.
Nay yang sudah beberapa langkah pergi menjauh, berhenti sejenak dan membalikkan badan. Ia tak dapat berpikir jernih, melihat lelaki di depannya mengejarnya. Sontak Nayla memberikan gawainya ke tangan lelaki itu.
"Aku tadi tak sengaja melihat fotomu. Pencahayaan dan sudutnya kurang bagus, kamu salah memotretnya. Biar aku bantu," ujar lelaki itu sembari ia mengutak-atik gawai Nay.
Nayla yang terkejut melihat tingkah seorang manusia di depannya itu, lantas tertegun dengan matanya yang berbinar.
"Hei ini, lihatlah. Bandingkan dengan punyamu tadi. Mmm, kamu kalau mau pergi, silakan," ucap lelaki itu.
Nayla yang kaget mendengar ucapan laki-laki di hadapannya, langsung mengambil gawainya. Ia mengucapkan terima kasih dengan lirih, dan pergi meninggalkan lelaki itu di belakang.
"Hihh Nay, bodoh sekali dirimu ini. Nama hei nama! Kok lupa tanya namanya sih Nay?" gerutu Nayla kesal.
"Gadis cantik, sikapmu tidak berubah dari setahun yang lalu. Nama akun Instagram di Hpmu sangat jelas sekali. Biarkan aku mengenalmu lebih dalam," batin Rega dengan senyuman tipisnya.