Kuelus rambut kucing putih di depanku pelan. Warna bulunya mirip sekali dengan susu manis botolan yang biasa dijual di toko-toko di tepi jalan. Namanya Kyuu, hobinya mengeong dan menjilati kaki-kakinya. Aku bukanlah orang yang pandai memberi nama, nama Kyuu itu kudapatkan dari orang itu.
Kyuu mendekat, lalu menjilati tanganku, entah kenapa dia suka sekali menjilat ini-itu. Dia kelihatan manis sekali. Setelah puas menggesekkan lidahnya kemana-mana, ia meloncat ke meja nakas di sampingku. Ekornya bergerak-gerak manja, lalu jatuh di atas botol obat.
"Terimakasih sudah mengingatkanku minum obat," ujarku seraya menurunkan kucing putih itu ke ranjangku.
Yaah, beginilah keseharianku. Harus kuakui, menegak pil putih pahit setiap hari bukanlah hal yang menyenangkan. Kata orangtuaku aku harus cepat sembuh. Padahal ditinggal setiap hari di ruangan serba putih ini dengan seekor kucing sudah membuatku merasa sakit.
Tapi setidaknya Kyuu mau menemaniku.
Seperti biasa, sesaat setelah menegak pil putih itu kepalaku akan berdengung sesaat. Pusing sekali, semuanya terasa berputar di hadapanku. Jam putih di dinding terlihat amat jauh padahal aslinya tidak jauh-jauh sekali.
Lalu seperti biasa pula, orang itu akan datang. Entah darimana munculnya, aku tidak pernah tahu. "Apa kabar?" tanyanya. Padahal orang yang makan-tidur di rumah sakit bukanlah orang yang baik-baik saja 'kan?
Aku memalingkan wajahku ke sisi lain. Orangtuaku saja tidak pernah menanyakan hal itu. Mereka hanya datang dua hari sekali. Tidak seperti dia yang datang berkali-kali dalam sehari dan menanyakan "apa kabar" setiap kali ia datang.
Kulirik meja putih di sebelahku, semuanya putih. Lantai putih, dinding putih, kasur putih, selimut putih, pakaianku juga putih. Aku sudah cukup bosan melihat warna seperti ini sepanjang waktu.
Kulirik lagi orang yang berpakaian mirip denganku itu. Dan, tuh! Dia menatapku dengan tatapan yang … yang seperti itu! Seakan-akan ia akan membuka bajunya dan mengibarkan dalamannya yang berwarna pelangi itu!
"Aku tidak senorak itu tolol!" Dan kenapa ia selalu bisa menyahuti perkataanku meski di dalam hati? Apa ia pandai membaca ekspresi?
Orang itu mendekat, lalu duduk di sebelahku. "Kau tidak apa-apa?"
Harus kalian ketahui, aura orang disampingku ini sungguh tidak mengenakkan. Auranya menusuk dan penuh tekanan. Kepalaku semakin sakit dibuatnya.
"Menurutmu?" tanyaku datar. Bahkan hampir tidak terdengar seperti kalimat tanya.
"Kau pasti akan baik-baik saja."
"Aku tahu itu," sahutku cuek.
Orang itu tersenyum hangat, lalu meraba keningku. Seperti biasa pula, orang itu akan selalu menghilang entah kemana. Aku menghela nafas berat, aku tidak tahu namanya. Yang pasti dia akan datang pada jam-jam tertentu dan menanyakan "apa kabar". Meski aku tidak tahu ia siapa, tapi entah mengapa ia terasa begitu berarti.
___
Aku duduk di lantai bersama Kyuu. Kucing putih itu duduk manis di dalam pangkuanku, ekornya bergerak-gerak manja mengelus pahaku. Manis sekali.
Melihatnya bergerak dan bermain-main dengan lincah saja sudah membuatku merasa senang. Ia benar-benar mirip dengan seekor kucing.
Ah, tunggu! Kyuu 'kan memang seekor kucing!
Entah mengapa hari ini aku merasa ada sesuatu yang kurang. Kulirik ke sana kemari, tidak ada apa-apa yang spesial. Kulirik jam dinding yang menggantung di dinding. Kurasa bukan disana letak masalahnya.
Deg, deg, deg, deg, deg …
Kudengar irama jantungku dengan tenang. Ruangan ini terasa begitu sepi. Sangat sepi. Hanya ada aku dan Kyuu. Entah apa lagi yang sedang kucing putih itu lakukan di pojok kamar.
"Hai!"
Orang itu datang lagi. Anehnya ia datang lebih awal dari biasanya. Ia duduk di atas ranjang, memperhatikan aku dan Kyuu yang duduk di lantai. "Ada apa?"
"Kucingmu tidak mengingatkanmu untuk minum obat ya?"
Ah, benar juga. Kyuu dari tadi hanya sibuk di pojokan. Segera kuraih botol obat di atas meja nakas, lalu menelan sebutir pilnya dengan segelas air putih.
Sejenak aku merasa kakiku diinjak, Kyuu nyantol disana. Sepertinya dia memanggilku tadi? Entahlah, semenjak ada penyakit ini, aku kurang bisa fokus ke hal-hal seperti itu. Kadang-kadang kepalaku jadi terasa sakit dan tak jarang pula sampai kehilangan kesadaran. Oleh karena itu Kyuu rajin mengingatkanku minum obat. Tujuannya agar ia punya teman untuk bermain.
"Dipikir lagi, sepertinya hari ini akan ada sesuatu yang spesial." Orang itu menceletuk tiba-tiba.
"Hah?" Orang itu langsung mengangguk mengiyakan.
Kyuu mengeong di bawah kakiku, seolah sedang menyuruhku untuk duduk kembali setelah selesai meminum obat. Tentunya aku langsung duduk di bawah, diikuti oleh Kyuu yang bermain-main di atas kakiku yang kuselonjorkan. Ia meloncat, berguling, lalu berhenti. Kucing putih itu tiba-tiba saja lari ke lubang hitam di tembok yang muncul tiba-tiba. Lalu lenyap bersamaan dengan lubang itu.
"Hai!"
Kepalaku mendadak terasa sakit. Kupegangi kepalaku dengan kedua tangan untuk menahan rasa sakitnya. Orang itu turun dengan panik lalu duduk di sebelahku. Ia memaksakan sebuah senyuman hangat di wajahnya, mulutnya bergerak, tapi aku tidak bisa mendengar suaranya.
Kepalaku terlalu … pusing. Orang itu mengelus punggungku, lalu menatapku dengan tatapan iba sekaligus sedih.
Aku meraung kesakitan, sementara dia mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak bisa kudengar lantaran sakit ini. Tak perlu berselang lama penglihatanku mulai memudar.
Aku menangis, menangisi kehidupanku, menangisi rasa sakit ini, juga orang yang selalu ada di sampingku untuk menenangkanku.
___
"Sakit ya?" Kyuu bertanya, kucing itu duduk di kursi di seberang ranjangku. Sementara aku duduk di ranjangku dengan kedua tangan yang masih memegang dahiku.
"Iya," ucapku lirih. Suaraku bahkan terlalu serak dan kecil untuk didengar.
"Mor …," ucap kucing itu seraya menjilat tangan- eh, atau kakinya sih?
"Mor apa?"
Kyuu terdiam, lalu kucing itu meloncat dari kursi dan kembali pergi ke lubang hitam di dinding dan kemudian lenyap. Lalu sebuah bayang-bayang muncul lagi di depanku, orang itu datang dan kemudian duduk di kursi.
"Bagaimana?" tanyanya lugu.
"Kata Kyuu mor."
Orang itu menelengkan kepalanya, "Mor? Maksudmu tumor?"
Aku menggeleng tidak tahu, "Entahlah. Aku sendiri tidak tahu apa itu tumor."
Orang itu menatapku, mungkin dia marah? Oh kurasa bukan, ada kesedihan yang terpancar dari matanya. Ia ingin menangis, tapi ia menahan tangisnya sampai-sampai matanya memerah dan kelopak matanya membengkak. Orang itu memilin bibirnya, "Jahat …."
Kuangkat kepalaku, melawan rasa sakit untuk menatap wajahnya lebih jelas, "Maksudmu apa?"
Lalu … dia hilang.
___
Orang itu berdiri.
Berdiri di dalam kegelapan.
Berdiri di tengah kesunyian.
Ia menangis. Mengeluarkan segala deritanya yang ia tampung selama ini. Aku berjalan mendekatinya, lalu menyentuh bahunya dan bertanya, "Ada apa?"
Orang itu mengukir senyuman pedih. "Aku harap kau ingin pergi bersamaku."
"Kemana?"
"Kesini."
"Aku mau-mau saja sih …."
Orang itu mengusap wajahnya yang sempat sembab tadi, "Sungguh? Kau serius?"
Aku mengangguk, "Ya, apapun untukmu."
Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, "Kurasa aku mulai menyukaimu, apapun akan kulakukan untukmu."
___
•Nama pasien : (name)
•Dokter yang menangani : Kyuu
•Keluhan :
》sakit kepala
》halusinasi
》sering kehilangan kesadaran
》tumor otak
》tidak diketahui dengan jelas
•Meninggal : 7/4/2021 [22.23]
•Penyebab kematian : operasi gagal
•Keterangan :
Yang tumbuh di dalam otaknya bukanlah tumor, melainkan sel saudara kembarannya yang gagal tumbuh sewaktu di dalam kandungan