hanya fiktif belaka, seolah Bumi yang berbicara
Hai, Bagaimana Kabarmu?
Aku harap kamu baik-baik saja.
Akupun berharap demikian, namun apa kau tau sesuatu?
kali ini aku tidak merasa baik-baik saja.
mungkin kamu tau kenapa.
atau mungkin kamu tidak mengetahuinya.
namun, kau tau ataupun tidak, bukan lah masalah, karna aku akan memberitahukanmu sesuatu.
kau yang berada di dalam tubuhku, aku membutuhkan mu, begitupula dengan mu, kau hidup di dalam tubuhku, kau memakan dan menggunakan segalanya yang berasal dari sel dan nadiku.
aku sama sepertimu, didalam tubuhmu terdapat makhluk hidup yang sangat kecil, kau tidak akan bisa melihatnya, namun kau bisa merasakannya.
ketika makhluk kecil itu melakukan kebaikan didalamnya, maka kau akan menikmati manfaatnya, tubuhmu akan merasakan kesejukan dan kesegaran, tubuhmu akan terasa ringan, itu karna makhluk kecil di dalam tubuhmu yang membantumu.
begitupula denganku, ketika kau melakukan hal yang baik bagiku, akupun akan merasakan kesegaran dan kesejukan yang kau upayakan, kau pun akan merasakan hal yang sama, ketika bakteri diluar akan memasuki tubuhku, daya tahanku dapat mengalahkannya, sehingga tubuhku dapat melindungimu dari berbagai sumber penyakit yang akan menyerangku.
Namun, jika kau berbuat sebaliknya, maka daya tahan tubuhku akan semakin melemah, bahkan aku tak kan mampu menghalau penyakit dari luar, sehingga tubuhku tak lagi dapat melindungimu.
apa kau tau sesuatu, ketika kau menghancurkan gunung-gunungku? gunung itu adalah tulang rusukku yang menopang tubuhku, kemudian setelah kau menghancurkan gunungku, aku tak lagi mampu menahan rasa sakitnya sehingga akupun kemudian terjatuh, namun dengan tiba-tiba kamu mengatakan aku tak lagi bersahabat dengan mu. perlu ku tegaskan TIDAK seperti itu, aku membutuhkanmu, aku mengharapkanmu, bahkan aku ingin melindungimu, namun ku akui, kerusakan itu membuat aku tak berdaya, rasa sakit yang ku alami seolah aku kehilangan tulang rusukku.
apa kau tau sesuatu, ketika kau hancurkan lautku?
kau mengharapkan suatu keuntungan didalamnya, yaa, kau mengharapkan ikan keluar dengan mudah, namun hal itu membuatku merasa mual, hingga aku tak mampu menahannya, sesekali aku berhasil menahannya, namun kesekian kalinya aku tak lagi mampu menahannya, itu hukum alam! karna usiaku kini sudah tidak muda lagi.
apa kau tau sesuatu, ketika kau bakar hutan-hutanku dan membunuh sebagian besar makhluk hidup yang sangat bermanfaat didalamnya? hutan itu seperti urat syarafku, ketika kau bakar hutanku, aku merasa semakin tak berdaya, hingga pendarahan didalam tubuhku terjadi, jika kau melihatnya, yaa, kau menyaksikan ketika air laut tumpah kedaratan, akupun merasakannya, sakit di dalam tubuhku, aku tak lagi mampu menahannya, bahkan hingga kini aku tak lagi dapat berdiri sempurna, aku tak lagi dapat menyembuhkan diri, urat syarafku sudah banyak yang hancur, tulangku sudah tinggal tersisa beberapa, dan perutku mungkin takkan lagi mampu menampung beban.
tubuhku semakin melemah, aku tak tahu hingga kapan aku bisa bertahan, aku akan berusaha semampuku, sejujurnya aku menyayangi mu, aku sungguh mengharapkanmu, sebagaimana kamu membutuhkan makhluk hidup yang berada di dalam tubuhmu.
ketika kau menghancurkannya lagi, mungkin itu membuatku tak sadarkan diri, kemudian aku tak lagi dapat memberikan manfaat bagimu, kemudian kaupun mungkin akan banyak menyaksikan atau bahkan merasakan penderitaan didalam tubuhku yang sudah melemah ini.
aku hanya ingin ucapkan banyak terima kasih karna kau yang berusaha merawat tubuh bagian dalamku, dan kau telah berusaha sebaik mungkin, aku berharap kau melakukannya sekali lagi, agar kau tidak menyaksikan atau bahkan merasakan penderitaan didalam tubuhku.