Peluru tak henti ditembakkan dari senapan laras panjang di tanganku, hawa panas dan penuh ketegangan mencampuri seluruh atmosfer, menimbulkan adrenalin dan sedikit rasa takut mati.
Dan kini, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mengutuk satu-satunya hal yang dapat membuatku kagum: teknologi.
Sebuah pesawat nirawak melintas, menjatuhkan dua benda bulat sialan itu lagi. Aku segera menghentikan aksiku dan berlari kencang ke base camp.
"Bazoka!!" Aku berteriak sekuat tenaga, bahkan pita suara nyaris putus, namun tidak akan ada tindakan jika bukan aku yang bergerak lebih dulu.
Dua orang segera membuang senjata di tangan mereka lalu meraih sebuah bazoka sesuai seperti yang kuteriakkan, dengan kesigapan khas tentara profesional mereka memperkirakan jarak dan juga amunisi, dua peluru besar langsung meluncur ke arah dua benda bulat yang sebelumnya dimuntahkan oleh pesawat nirawak.
Aku masuk ke base camp dan memungut bazoka, sekejap pandangan menebar ke seluruh isi camp.
"Bagaimana kondisi 447?" Tanyaku pada satu-satunya petugas medis di situ, dengan angka 131.
Pria itu menggeleng pelan dibarengi dengan raut wajah yang sendu, menandakan sudah tidak ada lagi harapan untuk 447 bertahan dari kondisi kritis.
Sementara aku hanya bisa mendecak kesal, semakin berkuranglah jumlah kami di sini dan semakin menggila mereka di sana. Segera kemudian kutepis rasa kesal itu sebab tak akan membawaku kemana pun kecuali ke dalam rasa putus asa.
"3!!"
Aku segera menoleh ke arah orang yang memanggil angkaku.
"Cepat bantu aku, mereka sudah hampir menembus lingkar barat daya!" Dan orang itu menghilang dari depan camp.
"Terima kasih atas usahamu, 131," ucapku sebelum meninggalkan pria malang itu sendirian lagi di camp, hal yang bisa kulakukan hanyalah memberi apresiasi dalam kondisi yang sudah hampir mati ini.
Aku keluar dari camp dengan membawa senjata tambahan, yaitu bazoka yang kuambil sebelumnya, kudongakkan kepala demi melihat langit yang seakan terluka penuh darah, terbakar, pertanda semakin lemahnya kondisi kami disamping berkurangnya jumlah orang yang ada.
"Sebelah sini 3!" Suara orang itu mengalihkan perhatianku dari langit sana, akupun segera memajukan langkah ke tempatnya berada.
Tanpa berkata apapun orang tadi segera menyerahkan sebuah telescope night vision begitu aku tiba di sampingnya, aku lihat dari telescope tersebut sebuah perlawanan besar-besaran dari kedua kubu, yang satu berusaha mempertahankan dan yang lain berusaha untuk menghancurkan. Jika saja aku masih punya hati, mungkin aku sudah menangis ketakutan saat ini.
"Apakah ada arah mata angin lain yang lebih parah dari ini, 504?" Aku menyerahkan kembali telescope tadi pada pria di sampingku.
504 menggelenng sebagai jawaban, "tampaknya semua benda itu mengarah hanya pada satu mata angin ini saja."
"Tidak, kupikir ini hanyalah pengalih perhatian," aku menimpali jawaban 504 tadi, " mereka tidak mungkin sebodoh itu."
"Itu juga yang kupikirkan, maka dari itu aku memanggilmu ke sini karena kau lebih paham soal ini ketimbang aku."
Aku terdiam sejenak, kembali mengingat pola pikiran lawan setelah setengah tahun ini menjadi tentara dadakan, bukan tentara terlatih dan gagah. Begitulah yang menimpa kami sekarang.
"Biasanya mereka akan menyerang titik perbatasan sampai kritis, dan saat itulah senjata baru mereka akan menyerang daerah vital kita," ujarku kemudian, merasa lelah juga dengan segala hal spektakuler yang dapat teknologi ciptakan. "Persiapkan semua orang dengan senapan laser."
"Tapi kita sudah tidak memiliki daya untuk mengisi senapan itu, bisa dibilang kita kehabisan amunisi."
Astaga, kepalaku semakin pening saja menghadapi kritisnya semua yang kita punya.
"Bukannya aku bermaksud ikut campur, tapi mengapa kau tak menemui 1A saja?" 504 terlihat penasaran dengan hal tersebut.
"Dan membiarkan kalian mati di sini?" Aku kesal juga menanggapinya. "Tidak akan!"
"Ada dan tiadanya kau akhir bagi kami sama saja, yaitu kematian..."
"Tutup mulutmu dan bunuh perasaan pesimis itu! Aku punya cara yang lebih baik agar umat manusia bisa tetap berada di muka bumi!"
504 tidak berbicara lagi, namun wajahnya lebih putus asa dari sebelum aku mengucapkan kalimat tadi. Sejujurnya aku merasa takut pada kenyataan, setelah bertahun-tahun menghadapi kesulitan akibat perang dunia ketiga yang tiba-tiba meletus, kini perang itu memasuki gelombang kedua sebab kegilaan dari seorang pria yang merasa diri memiliki ide brilian untuk memakmurkan dunia ini, yaitu dengan memusnahkan ancaman utama yang bernama: manusia.
Memang bukan anggapan salah jika menghancurkan satu peradaban dan memulai lagi peradaban baru dengan orang-orang pilihan, namun bukan berarti membunuh semua orang yang ada adalah tindakan yang benar.
"Ya sudah, kita bertahan dengan apa yang ada dan jangan menyerah," aku melakukan penekanan di akhir kalimatku, dan 504 menerima titah tersebut lalu meneruskannya.
'Jangan menyerah, huh?' Pikiranku mulai sedikit teracuni, 'sampai kapan?'
Sebuah pesawat nirawak kembali melintas sembarangan di langit area kami, tentu saja dengan bazoka di tangan aku hancurkan pesawat tersebut dalam sekali serang.
'Tidak! Lebih baik aku mempertahankan api kecil ini daripada harus menyerah pada angin,' tekadku semakin kuat bersamaan dengan tebaran kepingan pesawat nirawak yang hancur tersebut. Dan aku melangkah ke medan perang dengan harapan penuh di dada.
Hal pertama yang harus aku bereskan adalah benteng lingkar barat daya yang sudah hampir jebol, bersama dengan 504, kami berdua menarik katana dari sarungnya dan menghadapi para benda itu lewat pertarungan jarak dekat. Tebasan ke segala arah dan tiap goresan seolah tak menggetarkan benda-benda di depan kami, wajah mereka tetap datar seperti batu.
Ya, benda. Robot android type 6,7 adalah musuh kami saat ini, AI yang semula kami ciptakan untuk mempermudah urusan keseharian kini justru menyerang balik bagai anak durhaka, dan menjadi masalah utama kami para manusia yang masih bertahan di sini. Semua perang dan AI ini dikendalikan oleh satu orang yang juga menjadi pencetus perang ini ada, kami biasa menyebutnya 1A.
1A dan keluarganya, 1B, 2A dan 2B tidak bertempat tinggal dengan manusia lainnya, tentu mereka bisa bebas berkeliaran sebab merekalah bossnya, boss dari segala permaslahan yang aku dan 400 orang harus hadapi sekarang.
.
"3 awas!!" 504 berteriak sekuat suaranya saat melihat sebuah cahaya plasma hendak memecahkan kepalaku, berkat dia aku dapat selamat dan kembali bertarung dengannya. Namun yang baru kutahu kemudian serangan barusan hanyalah sebuah pengalih perhatian dari serangan sesungguhnya.
Gelombang pengubah ferkuensi memekakkan telinga kami, bahkan membuat 504 oleng seperti habis diserang banteng, dari lubang telinganya mengalir darah segar dan merah.
Aku sendiri mencoba untuk tetap bertahan, pandanganku mulai mengabur dan kedua telingaku juga mengeluarkan darah, dengan segala pertahanan aku mencoba mencari-cari dimana sumber senjata baru itu.
504 sudah hilang entah kemana, aku berdiri seorang diri dengan katana yang masih tergenggam erat di tangan.
"MAJU!!!"
Merasa dapat undangan, semua robot android semakin gencar memburu nyawaku, akupun semakin terpacu menyerang mereka sebagai upayaku bertahan dan usahaku mempertahankan hidup ke 400 manusia yang tersisa di bumi.
Sedetik kemudian gerakan mereka berhenti secara mendadak, seolah mati kehabisan daya. Wajah datar mereka memang tidak menggambarkan apapun tapi aku tahu persis apa penyebab kediaman mereka, juga apa yang akan terjadi selanjutnya.
Satu robot android sedikit mendekat lalu memancarkan sebuah hologram manusia berjenis pria, pria yang kutahu betul siapa itu.
"Pulanglah," suara yang amat kubenci kini harus kudengar lagi. "Pulang dan jadi bagian dari kami."
"Kau uruslah kebiadabanmu sendiri!" Aku menebas hologram itu beserta robot android yang memancarkannya. Bersamaan dengan itu tetiba banyak cahaya laser ditembakkan lurus dari arah belakangku, tepat mengenai jejeran robot android yang masih terpaku.
Segera kutolehkan wajah ke belakang dan menemukan perjuangan kawan-kawanku sendiri, dengan amunisi terakhir dari senjata tercanggih yang kami punya, semua orang melawan habis musuh-musuh yang juga mulai bergerak dan memberikan perlawanan.
"Cepat kemari 3!!" Teriak seorang pria berumur berangka 742 sambil matanya fokus menatap pergerakan musuh kami. Aku langsung berlari ke tempat mereka berada dan menyerang dengan bazoka.
Kedua kubu mulai saling adu ledakan, menyerang dari segala sisi yang ada. Setelah amunisi di bazokaku habis, aku kembali maju dengan katana di tangan dan bergerak lincah di antara tembakan peluru dan serangan terarah para robot. 504 juga ikut maju bersamaku dan membantuku lebih baik dari sebelumnya, meski darah segar masih tersisa di sisi kepalanya, tapi kami tidak punya pilihan.
Tak sedikit juga korban luka di pihak kami, yang terluka akan langsung digotong ke bagian belakang dan yang masih sehat akan maju lebih depan, sampai akhirnya robot android itu berhasil dipukul mundur dan kami memenangkan pertempuran, namun ini hanyalah kemenangan sementara sebab setelah ini pertempuran yang lebih besar akan datang berikutnya.
Aku dan beberapa orang yang disebut 'elite pertempuran' berkumpul di tengah lahan kepunyaan kami, dengan api unggu sebagai pusat, kami saling berdiskusi dan membuat strategi baru untuk perang selanjutnya.
"Kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi," 742 berkata lurus saja, tanpa ada yang memintanya. "Hanya ada bazoka dan senapan biasa."
"Setelah kematian 447 jumlah kami kini tinggal 498, 3," timpal 93, "Dan tidak semua dari 498 itu bisa bertarung sebaik kita."
"Aku yang didata paling terakhir di klasterku kini benar-benar jadi yang terakhir," 1.000 tampak pasrah, wajahnya murung dan berona pucat.
"Belum lagi senjata baru mereka itu," 504 teringat kembali saat bertarung bersamaku, "aku masih pening sampai sekarang."
"Kita coba saja buat senjata dari bangkai-bangkai pesawat atau robot tadi," 500 mencoba mencari jalan. "Kita bisa merancang senjata baru juga."
"Apa aku harus kembali ke tempat 1A berada?" Usulku tiba-tiba.
"Apa?" 666 bertanya dengan nada tidak senang.
"Apa sebab aku bertanya tadi, kau jadi berpikiran begitu?" 504 tampak sendu. "Aku hanya penasaran, kau tahu?"
"Maksudmu apa berkata seperti itu hah?" 93 lebih tidak suka. "kami di sini berkat kau, kami bertahan juga berkat kau!!"
"Aku hanya bertanya oke?" Aku coba melerai perasaan mencekam yang tiba-tiba datang menguasai keadaan. "Kita sudah berada di ujung tanduk sekarang, dan rasanya mustahil untuk bertahan lebih lama lagi."
"Kau tidak perlu pergi dan pertaruhkan nyawa terakhirmu," akhirnya orang yang sedari tadi hanya diam, 4, angkat bicara soal ini. "Berkatmu kita semua bisa tetap hidup, dan jika kau tiada, maka tak akan ada lagi kekuatan bagi kami di sini."
"Terima kasih atas pujianmu 4," aku membalas tatapan tajam saudara sepupuku itu. "Dan juga terima kasih untukmu sebab kau sudi berjuang bersamaku."
"Sudah kalian, tak perlu saling sindir begitu!" 93 melotot, dia memang selalu menjadi yang paling dewasa di antara kami jika sudah berkumpul seperti ini.
Aku dan 4 hanya saling buang muka dan mendengus kesal. Dia yang memiliki ambisi tinggi akan selalu cemburu dengan angka yang kini tersandang padaku. Angka yang selalu menjadi ujian dan pujian.
"Mungkin sebaiknya kita tidur saja," 1.000 bangkit dan meregangkan otot di seluruh tubuh. "Aku yakin saat aku bangun nanti, aku pasti akan berubah dari waras menjadi gila."
Tak ada yang menanggapi perkataannya, jangankan saat dia akan bangun nanti, sekarang pun kami semua sudah hampir tidak waras.
Beberapa orang ikut bangkit, terutama yang sedari tadi hanya diam menonton dan tak ikut berdiskusi, namun semua orang itu tak lupa memberi salam 'Selamat malam', kepada kami yang masih terjaga.
"Kau juga butuh tidur 3," 93 mendekatiku dan menepuk pundak.
"Tidak, pikiranku terlalu kalut untuk dibawa tidur," aku mencoba mengembangkan senyum seramah dulu, namun yang hadir justru rasa lelah pada kenyataan kami di sini.
"Ya, aku sudah berusaha untuk memberitahumu," mata 93 menyipit, "awas kalau kau kabur di saat kami semua tertidur!"
"Tidak akan 93," aku tertawa juga akhirnya, "kau bisa percaya padaku sekarang."
93 sedikit terdiam memandang mataku, mencari kebenaran dari apa yang kusebut barusan. Dia yang merupakan satu-satunya wanita di antara kumpulan para 'elite pertempuran' tentu masih punya rasa lembut yang khas dimiliki oleh semua kaum hawa meski hal berat seperti ini sudah menjadi kesehariannya.
"Selamat malam 3," hanya itu, dan dia berpaling dariku.
Aku menghela nafas panjang, dan menatap langit yang masih berdarah, terbakar. Berharap malam ini aku bisa mengakhiri sesuatu yang bukan ulahku, tapi tiba-tiba menjadi tanggung jawabku.
Berdiam di sana beberapa lama, kemudian bangkit dan berkeliling perbatasan yang sudah tak bisa dibilang sebagai perbatasan sebab dinding yang menutupinya kini berlubang di mana-mana, ketenangan malam ini sedikitnya bisa menjernihkan pikiranku dari semrawutnya perang di detik lalu. Putus asa pasti ada, dan sesekali aku ingin menceburkan diri ke sekelompok robot Android itu untuk sekejap kemudian mati dihajar, namun aku juga memikirkan orang-orang di sini, orang-orang yang ada sebab aku ada dan bertahan.
'Apa sebaiknya aku tidak perlu bertahan lagi?' Aku kembali teringat pada kematian 447, kepergiannya disebabkan oleh aku. Dia menjadi tameng saat sebuah peluru plasma hendak mengarah ke kepalaku, dan aku tidak bisa berbuat sesuatu saat dia meregang nyawa di base camp, bahkan untuk berada di sisinya dan mengantarkan nyawa ke pada semesta saja tidak.
"bertahan..." Ucap 447 lirih saat hendak dibawa ke camp, "pertahankan kami di sini..."
Bulu kudukku meremang mengingat itu, awalnya aku hanya berpikir rasional dan bersimpati pada 900 orang yang tak terpilih menjadi bagian dari rencana 1A. Di mana saat manusia hanya tinggal berjumlah 1.000 orang, semua didata sesuai status sosial mereka, dan dibedakan menjadi 10 tingkat. 1-100 adalah orang yang sebelum perang memiliki kepentingan dan derajat, seperti seorang presiden atau raja di suatu negara, 101-200 adalah para menteri dan pembantu pemerintahan, 201-300 diposisikan untuk petugas medis, polisi, tentara. guru dan dosen, 301 sampai 1.000 untuk rakyat sesuai kepemilikan barang mereka.
Tapi yang terjadi justru kesembilan tingkat itu hendak dimusnahkan, sementara di tingkat satu itu berisikan orang-orang yang tidak jujur sebagian. Kepala pemerintahan yang tidak adil dan jujur pada rakyat mereka dulu merupakan parasit, namun entah mengapa 1A bersikukuh untuk mempertahankan tingkat satu. Aku yang berada di nomor 3 tentu menolak tegas dan mengacungkan senjata padanya, yang berimbas pada pengusiran dan perang besar antara para manusia dan AI yang kini telah terjadi selama setengah tahun.
Kami semua bertahan dari keserakahan orang-orang yang menganggap mereka lebih penting dari apapun di dunia, kami bertahan atas rasa solidaritas yang memang harus dimiliki oleh semua manusia. Tak mudah menjadi 'manusia' yang seharusnya, dan kami juga masih berusaha dan belajar untuk itu.
Aku menengadahkan kepala ke arah langit dan kulihat sesuatu bercahaya terang di atas sana. Rasa heran segera mendera pikiranku, sebab sudah sejak perang dunia ketiga meletus matahari dan bulan tak lagi hadir di langit sebagai penerang bumi, lalu bagaimana ada sebuah cahaya terang di atas sana?
"Apa jangan-jangan..." Tanpa banyak berpikir lagi aku segera berlari menuju menara pengawas yang berada di lingkar utara, lingkar yang berada tepat di tengah wilayah pertahanan dan juga berdiri tegak di samping camp. Aku tekan kuat-kuat alarm peringatan yang berada di dinding, menimbulkan suara bising yang tentu akan mengganggu semua manusia yang hanya berjumlah 498 itu, termasuk aku yang menekan tombol hampir terpental sebab suaranya yang amat kuat.
Semua orang dengan wajah panik bangkit dari segala aktivitas mereka dan saling melempar pertanyaan, lalu semuanya fokus padaku yang menekan alarm.
Aku hanya menunjuk ke arah langit, tak sanggup menjelaskan apa yang akan terjadi pada kami nanti.
"Apa...?" Suara orang-orang tidak berbarengan namun berbunyi sama, mata mereka membulat dengan raut wajah terkejut pada cahaya yang semakin mendekat.
"3!!" 93 segera mendekat, rambutnya yang pirang panjang berantakan bagai ditiup angin kencang. Sementara aku masih terpaku di sini, di tempat aku berdiri dengan ketakutan. Wanita itu memegang dua pundakku dengan erat dan menggoncangkannya. "Ada apa ini!? Mengapa harus alarm besar itu?"
"Karena hal besar ini yang aku maksud saat mengusulkan untuk membuat alarm ini," perlahan mataku sanggup membalas tatapan 93, "aku tidak tahu persis apa itu, tapi dampaknya bisa menghancurkan kita semua menjadi abu."
"Dia pasti sudah mau melepasmu."
"Dia sudah melepasku sejak setengah tahun yang lalu, pertarungan kita ini hanya permainannya saja."
"Lalu apa yang bisa kita lakukan menghadapi cahaya itu?"
"Kalian bersembunyi saja di ruang bawah tanah, bersama anak-anak dan orangtua."
Tak ada suara lagi dari 93, dia hanya memandangku dengan tatapan kosong.
"Kalian?"
"Hanya aku yang bisa menangani cahaya itu, kalian semua pergilah, cepat!!"
"Tidak, kita harus hadapi ini bersama-sama!"
Aku paling tidak bisa tahan jika sudah melihat tangisan dari mata seorang gadis, maka dari itu aku hanya bisa membuang muka.
"Siapa saja, tolong bawa 93 ke ruang bawah tanah," aku berucap cukup kencang, "dan kalian semua juga, kumohon."
Semua orang yang mendengar tentu terkejut disertai rasa tak paham yang tinggi, namun aku tak bisa berlama-lama di sana, aku harus menghadapi apa takdirku sebagai nomor 3.
"504, tolong jaga semuanya untukku," aku menepuk pundak pria itu begitu melintasinya.
"Apa? Kau mau apa?"
"Menyelamatkan kalian," aku masih berjalan, pelan menuju lingkar timur yang memiliki dinding yang paling tinggi. "Cepat pergi ke ruang bawah tanah!!!"
Dan bagai tersihir, kini mereka mau mendengarku dan bergerak sesuai apa yang tadi kuteriakkan, 93 menangis keras dan tak mau dibawa oleh sepuluh laki-laki yang berusaha menyeretnya ke ruang bawah tanah.
Aku berdiri di atas menara setelah bersusah payah menaikinya, katana kugenggam erat dan pandangan tak lepas dari cahaya di atas sana, menantinya bagai hujan di tengah kemarau panjang. Ingatan saat masa kecil mengeruak begitu saja, teringat pada penjelasan sesosok pria yang dulu pernah kusebut Ayah.
Hari itu kami sedang berjalan-jalan ke tempatnya bekerja, sebuah ruang yang luas luar biasa dan berada di bawah tanah. Aku berumur tujuh tahun saat itu, tidak begitu paham dengan semua yang ayah jelaskan terkait benda-benda di depan kami. Benda-benda yang menjadi pusat perhatiannya selama bertahun-tahun bahkan jauh sebelum dia bertemu ibu
"Kau harus tahu kalau matahari di atas sana tidak selalu bisa diandalkan," ucap ayahku memberi tahu, "maka kami menciptakan ini."
Dengan bangga ayah menunjuk ke sebuah benda logam besar berbentuk bulat, benda itu tak hentinya berputar melawan arah jarum jam, uap panas tampak jelas memancar darinya.
"Suatu saat matahari buatan ini akan ditembakkan ke langit dan menjadi penerang bumi," lanjut ayah, kemudian dia menoleh padaku. "Atau bola ini akan digunakan sebagai senjata pemusnah massal, dan hanya ada satu orang dengan gen sempurna yang bisa mematikannya..."
Kini aku berdiri tegap di puncak menara, menatap tajam cahaya yang semakin mendekat itu bagai melihat musuh utama, 1A itu dan menantangnya berduel. Meski pada kenyataannya cahaya itu adalah malaikat mautku saat ini, tapi aku tidak peduli.
Kukumpulkan kekuatan di telapak kaki kemudian melompat, tinggi menuju sang cahaya. Akan kutebus dosaku, sebab akulah perang ini ada, dan akan kupenuhi takdirku sebagai yang terpilih: nomor 3!