Aku berjalan keluar kamar dengan langkah ringan. Bi Asih, ART di apartment kami, tampaknya tidak terusik dengan keberadaanku. Aku memilih duduk di balkon apartment agar leluasa memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Pandanganku beralih ke dalam apartment, melihat bi Asih yang tengah sibuk membersihkan unit tempatku tinggal, lalu kembali menatap jalanan.
Tatapanku terpaku pada pohon besar yang tumbuh tak jauh dari apartmentku. Sepasang laki-laki dan perempuan terlihat berteduh di bawah pohon rindang itu dari panas terik matahari. Laki-laki itu mulai mengenggam tangan perempuan yang berada di sisinya lalu tampak mengatakan sesuatu. Wajah perempuan itu tampak merona lalu mengangguk pelan dengan malu-malu. Laki-laki itu lalu memeluk perempuan dihadapannya dengan wajah bahagia.
Aku kembali mengalihkan pandanganku ke dalam apartment, namun belum juga menemukan dirinya. Aku menundukkan kepala, Apa mas Artha tidak pulang lagi..?? Apa dia benar-benar marah padaku..??
Terdengar suara pintu apartment ditutup dengan cukup keras. Otomatis aku menengadahkan kepala dengan cepat ke arah pintu. Kembali memasang wajah kecewa mendapati bukan mas Artha yang datang. Sepertinya bi Asih sudah selesai dengan pekerjaannya dan pulang.
Mataku menatap pasangan yang masih berdiri di bawah pohon besar itu. Wajah mereka begitu bahagia. Laki-laki itu tampak beberapa kali mencium puncak kepala perempuan dalam pelukannya. Tanpa sadar sudut bibirku terangkat.
"Mereka sangat serasi." Gumamku dalam hati.
Mereka berjalan meninggalkan pohon itu dan terus bergandengan tangan. Sesekali mereka tertawa lepas tanpa melepaskan pegangan masing-masing. Mereka tampak bercengkerama satu sama lain, mengabaikan tatapan iri yang ditujukan pada mereka.
Aku tersenyum kecut. Seandainya aku bisa seperti mereka, seandainya kesalahpahaman itu tidak pernah terjadi, seandainya aku bisa lebih menahan emosi, seandainya.. Aaah seandainya saja kecelakaan itu tidak pernah terjadi, mungkin sekarang aku masih bisa bersamanya.
Ingatanku kembali pada kejadian seminggu lalu. Waktu itu aku sengaja datang ke restoran milik mas Artha untuk memberi kejutan. Aku baru pulang dari rumah orangtuaku untuk merawat ibu yang sakit. Selama dua minggu berada di sana, mas Artha selalu mengeluh betapa besarnya rasa rindu yang dia tanggung.
Setelah sampai ke restoran aku langsung menuju ruang kerjanya. Rasanya aku pun tidak sanggup menahan rindu pada pria yang sudah tiga tahun ini menjadi suamiku.
Mas Artha sengaja turun tangan langsung menangani restoran itu. Meninggalkan pekerjaannya yang sudah cukup mapan di sebuah perusahaan IT. ALMA'S DINER. Mas Artha sengaja menggunakan namaku untuk restoran itu karena dia begitu mencintaiku.
Aku langsung masuk ke dalam ruangan itu tanpa permisi dan terkejut dengan apa yang kulihat. Di dalam ruangan itu kulihat mas Artha tengah berpelukan dan berciuman dengan Ita, mantan kekasihnya yang juga teman dekatnya sejak kecil.
"Alma..!! Apa yang kau lakukan disini..??" Alih-alih menenangkan aku, mas Artha justru berteriak kepadaku. Entah dia menyadari itu atau tidak.
Sebenarnya aku sangat takut saat mendengar suara mas Artha, namun aku menutupi semua itu dengan mendongakkan daguku di hadapannya. Bersikap menantang.
"Melakukan apa yang juga harus aku lakukan. Menemui suamiku yang katanya sangat merindukan aku. Tapi nyatanya.." sahutku tak kalah emosi. Aku menatap Ita yang terlihat mencibirku.
"Ciiiih.. mengganggu saja." Cibir Ita.
"Tutup mulutmu..!!" Bentak mas Artha.
"Kalau bukan karena ulahmu yang terus mengejarku dan memaksa menciumku, kesalahpahaman ini tidak akan terjadi..!!" Serunya lagi.
"Tidak ada salah paham. Aku tahu kamu masih mencintaiku. Kamu hanya bertahan dengannya karena tanggung jawab sebagai seorang suami." Sahut Ita dengan santai.
"Aku memang bodoh karena dulu pernah mencintai wanita mu**han sepertimu. Tapi setelah bertemu Alma yang kucintai hanya dia. Jangan pikir aku akan menyia-nyiakan hidupku untukmu..!!" Seru mas Artha. Wajah Ita tampak memerah karena malu dan kesal.
"Pergi dari sini..!!" Usir mas Artha. Ita menghentakkan kakinya lalu melangkah keluar dari ruangan mas Artha.
Mas Artha bergegas menghampiriku, tapi aku mundur untuk menghindarinya. Mas Artha mengusap rambutnya dengan kasar.
"Demi Tuhan, Alma..!! Ini tidak seperti yang kau lihat. Aku tidak menciumnya, tapi wanita itu yang menciumku..!!" Serunya sambil menunjuk ke arah Ita yang tengah membanting pintu ruang kerjanya.
"Kenapa kau tidak menolaknya..??!!" Teriakku dengan wajah merah padam, mas Artha terdiam.
Itulah yang membuatku marah. Kenapa mas Artha diam saja..??!! Kenapa dia tidak menolak ciuman itu..??!! Apa dia menikmati ciuman sialan itu..??!!
Mas Artha masih diam. Ia mendekat dan mendekapku dengan erat.
"Aku tidak mau kehilanganmu, Alma. Aku sangat mencintaimu. Dulu, sekarang dan juga nanti," Aku terdiam di dalam pelukannya.
"Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikanmu, termasuk Ita." Bisiknya padaku.
Saat mas Artha menyebut nama wanita itu, emosi yang tadi hampir surut kembali menyeruak. Akupun mendorong tubuhnya dengan kuat sampai ia mundur beberapa langkah.
"Tapi kamu masih mencintainya kan..??!! Semenjak kita pacaran bahkan sampai sekarang berapa kali kita ribut karena dia..??!! Sampai kapan hubungan kita terus dibayangi oleh Ita, mas..??!!" Mata mas Artha melebar, terkejut dengan apa yang kukatakan.
Katakanlah aku wanita bodoh, pencemburu. Mengingat dulu mas Artha menyukai gadis itu karena mereka teman sejak kecil. Namun mengetahui kalau wanita itu adalah cinta pertama mas Artha membuat sudut hatiku tercubit. Mas Artha menggeleng tak percaya.
"Alma, itu hanya cinta monyet. Bahkan aku tidak yakin kalau itu bisa dikatakan sebagai cinta..!! Itu hanya perasaan seorang kakak kepada adiknya, Al..!!" Terangnya. Aku mendengus mendengar ucapannya.
Mas Artha kembali mendekatiku namun aku mundur beberapa langkah.
"Aku ingin kita bercerai..!!" Ucapku begitu saja.
Bahkan aku sendiri tidak sadar saat mengucapkannya. Dan kata-kataku tadi sepertinya justru membangkitkan kemarahan mas Artha.
"Apa katamu..??!!" Geram mas Artha.
Dapat kulihat sorot matanya yang tajam, rahangnya yang mengeras bahkan kedua tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya.
Aku tahu keputusan ini terlalu cepat. Tapi aku sudah lelah. Lelah dengan keposesifannya, lelah dengan rasa cemburunya yang berlebihan. Walaupun aku juga merasakan cemburu ketika ia bersama wanita lain. Tapi aku lebih lelah terus bertengkar dengannya karena seorang wanita bernama Ita. Wanita yang selalu mengusik kami dengan menggunakan topeng hubungan baik mereka di masa lalu. Aku ingin mengakhiri segalanya.
"Aku lelah dengan hubungan kita." Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku.
Aku menunduk tidak berani untuk menatap langsung matanya. Kurasakan ia berjalan ke arahku.
"Lelah..??" Tanyanya pelan.
"Jangan bilang saat ini kau ingin menjalin hubungan dengan si brengsek itu..??" Geram mas Artha.
Aku langsung mendongakkan kepalaku, tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.
"Apa maksudmu, mas..??" Tanyaku lirih.
"Kamu pikir aku lupa bagaimana Aldo mencintaimu..?? Aku bahkan ingat bagaimana dia memelukmu saat itu..!!" Desis mas Artha di depan wajahku.
Mendengar hal itu aku balas menatapnya dengan tajam. Tuduhan mas Artha benar-benar tidak masuk akal. Dia sangat tahu saat itu Aldo memelukku untuk mengucapkan perpisahan. Bahkan mas Artha saat itu ada disana dan Aldo juga meminta ijin padanya.
"Jangan melibatkan orang lain, mas..!! Ini masalah kita. Aku dan kamu..!!" Tunjukku menekan dada bidangnya. Mas Artha mendengus.
"Tidak usah pura-pura, Alma..!! Bukankah pelukannya cukup menghangatkan tubuhmu..?? Kamu menyukainya dan berharap lebih kan..??" Sindirnya.
Tentu saja sindirannya sangat menusuk hatiku. Serendah itukah pandangan mas Artha terhadapku..??!! Mas Artha sedikit tersentak saat tanpa sengaja air mata turun begitu saja di kedua pipiku. Aku menghapusnya dengan kasar.
"Alma, aku tidak bermak.." aku mengangkat tanganku guna menghentikan kata-katanya.
Kupejamkan mata sebentar, lalu membukanya kembali. Kulihat wajahnya penuh penyesalan. Rasa marah dan emosi yang tadi melingkupi mas Artha berganti dengan rasa penyesalan atas apa yang telah terlanjur dia ucapkan. Mata mas Artha sarat akan kesedihan, wajahnya terlihat mulai pucat.
"Cukup..!!" Suaraku bergetar.
"Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi. Karena sekarang aku tahu serendah apa kamu menilai aku selama ini..!!" Desisku dengan suara tercekat.
Aku mengambil tas selempang yang tadi sempat kuletakkan di sofa, berjalan melewatinya. Aku dapat merasakan dia melangkah dibelakangku.
"Tinggalkan aku sendiri..!!" Teriakku pada mas Artha. Dapat kulihat tubuhnya membeku dengan wajah yang penuh penyesalan.
Aku membuka pintu dan menutupnya dengan keras. Setengah berlari aku menuruni tangga. Tak kuhiraukan lagi tatapan pegawai mas Artha dan juga pengunjung yang penasaran melihatku saat aku melewati mereka.
"ALMAAAA..!!" Teriak mas Artha.
Seperti yang sudah kuduga, mas Artha tidak akan mendengarkanku yang memintanya untuk meninggalkan aku sendiri. Aku yang masih kesal dengan ucapannya beberapa menit yang lalu, makin mempercepat langkahku.
mas Artha mengejarku. Aku pun refleks berlari. Saat ini yang ada dalam pikiranku hanya menjauh darinya.
"AWAAASS..!!" Teriak seseorang tak jauh di depanku.
Aku menoleh dan terkejut mendapati mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arah mas Artha.
"MAS ARTHA..!!!" Teriakku memanggil mas Artha.
CEKLEKK..
Suara pintu membuyarkan lamunanku. Kembali kuarahkan pandanganku ke arah pintu. Mataku menangkap sosok yang sangat kurindukan. Sosok yang beberapa hari belakangan aku tunggu kepulangannya.
Aku tersenyum menatapnya. Tapi ia sama sekali tidak membalas senyumku. Melihat keadaannya sekarang benar-benar membuatku makin merasa bersalah. Mas Artha tampak mengabaikan aku, dia lalu melangkah ke dapur dan membuat kopi hitam tanpa gula.
Sejak kapan mas Artha jadi pecandu kopi..?? Bukankah selama ini dia selalu memilih teh tawar..?? Tidakkah dia sadar keadaannya sekarang..?? Kantung mata yang membesar, wajah yang kusut, rambut yang sedikit berantakan. Belum lagi bulu-bulu kasar yang mulai tumbuh di sekitar rahangnya. Mas Artha sekarang bukan sosok yang kukenal.
"Mas Artha..!!" Panggilku.
Mas Artha berdiri mengabaikan panggilanku. Dia tampak duduk sejenak di sofa ruang keluarga, lalu menyesap kopi hitam. Setelah lama terdiam, mas Artha berjalan menuju kamar tidur kami. Aku mengikutinya dari belakang. Sama sekali tidak berniat menganggunya, aku hanya cemas dengan keadaannya.
Mas Artha merebahkan tubuhnya di atas ranjang kami bahkan tanpa melepas sepatunya. Kebiasaan buruk yang biasanya akan selalu membuatku kesal dan terus mengomelinya. Tapi bukan itu yang kupikirkan sekarang.
Kulihat mas Artha memejamkan mata kemudian salah satu tangannya terangkat untuk memijit pangkal hidungnya, menandakan betapa lelahnya dia sekarang. Mas Artha terlihat begitu tertekan. Aku memilih duduk di sampingnya masih terus memperhatikannya.
"Alma." kudengar ia memanggilku lirih.
"Mas, maafkan aku... aku.."
Aku tidak sanggup meneruskan kata-kataku. Hatiku teriris melihat kondisinya yang cukup mengenaskan. Ingin sekali aku memeluknya namun apakah aku mampu..?? Kurasakan mas Artha menghela nafas berat lalu beranjak bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah balkon kamar kami. Pria yang kucintai berdiri menatap gedung-gedung tinggi dihadapannya. Tatapannya kosong, sekosong hatiku.
Aku berjalan dengan ringan, berdiri di sampingnya. Meletakkan kepalaku ke bahunya yang kokoh. Mas Artha tidak bergeming dengan atau tanpa kehadiranku.
"Aku mencintaimu, Alma. Sangat mencintaimu. Aku mohon maafkan aku. Tolong jangan tinggalkan aku." ucapnya pelan. Setetes airmata jatuh membasahi pipinya.
"Aku tahu, mas. Aku tahu. Aku juga sangat mencintaimu. Dan aku telah memaafkanmu. Aku juga bersalah padamu, mas. Maafkan aku." Kataku mulai terisak.
Aku menegakkan kepalaku, mencium pipinya lalu beralih pada sudut bibirnya. Kurasakan ia terkejut lalu menoleh ke arahku seraya memegang pipinya.
"Alma..??" ucapnya lirih.
Bunyi ponsel dalam kantung celananya membuat mas Artha segera meraih ponsel itu. Tanpa mengucapkan kata sapaan dia mendengarkan perkataan dari sana dalam diam.
Aku mundur perlahan, menjauhi dirinya. Wajahnya sangat pucat, airmatanya mulai turun dengan deras. Ponselnya terjatuh begitu saja. Ia berlutut dengan tubuh gemetar. Aku tahu ia akan hancur. Tapi semuanya tidak bisa kembali seperti dulu. Ini adalah takdir yang harus kami jalani.
Aku memandangi kakiku yang sudah tidak terlihat lalu memandangi kedua tanganku yang perlahan menghilang.
"Almaaaa.. Almaaaa.."
Hanya kata-kata itu yang kudengar dari mulutnya. Tubuhku sangat ringan, melayang ke udara.
"Aku mencintaimu, Artha Suseno." ucapku untuk terakhir kalinya.