Apaaa... . .??"
"Sekarang apalagi? Hah??"
"Kamu pikir aku buta Mas?"
"Kamu pikir aku tuli !! iya??"
Teriakan dari seorang wanita muda yang cantik nan sexy terhadap seorang pria dihadapannya, yakni suaminya. Seorang CEO tampan, muda kaya raya. Tetapi ada saja cobaan dalam rumah tangganya yang baru seumur jagung tersebut.
Si pria hanya bisa terdiam membisu setelah apa yang dia ucapkan hanya sia-sia saja. Sang istri tak mau mendengarkan penjelasannya sedikitpun.
"Sayang. ." Panggil Angga lirih dengan air mata berderai diwajah putihnya yang kini menjadi merah karena menangis, penampilannya sudah sangat memprihatinkan. Pakaian dan rambut acak-acakan, sepatu yang sudah entah kemana.
Ia tak lagi memperdulikan harga dirinya sebagai CEO terkenal. Yang ia perdulikan hanya satu, yaitu Manda sang istri tercinta.
"Apalagi yang harus aku lakukan supaya kamu bisa percaya sama aku?"
"Percaya sama kamu? Setelah semua yang aku lihat tadi, Mas?" Jawab Manda masih dengan teriakan yang juga didiringi isak tangis dan air mata bercucuran.
"Semua itu fitnah Manda, kenapa kamu nggak percaya sama aku? Kita udah saling kenal sejak kecil, kita selalu bersama setiap saat. Apa sedikitpun aku pernah melakukan hal yang tidak baik?" Ucap Angga dengan sisa-sisa harapan agar orang yang dikasihinya mau sedikit saja mengerti dirinya.
Manda bergeming ditempatnya, ia berfikir memang benar apa yang diucapkan oleh suaminya itu. Tetapi, kenapa yang dia lihat tadi begitu menyakitkan? Wanita mana yang tak sakit hati melihat suami yang amat dicintainya berduaan bersama wanita lain didalam mobil dengan keadaan yang, huh! Menyebalkan.
"Kurang apa aku ini, Mas?"
"Apa aku kurang cantik? Atau kurang sexy?" Suara Manda melemah, ia meremas dadanya kuat-kuat. Menahan rasa sakit yang menghujam jantungnya sejak satu jam yang lalu.
"Apa aku kurang muasin kamu, Mas? JAWAB!!" Manda kembali berteriak histeris melihat suaminya hanya terdiam dan menangis. Ia mengguncang-guncangkan tubuh suaminya.
"Manda sayang. . Kamu tau kan dari sejak kità masih kecil, cuma kamu yang selalu aku sukai. Sampai kita beranjak dewasa pun hanya kamu yang aku cintai. Hanya kamu Manda, cuma kamu satu-satunya, sejak dulu dan selamanya."
"Cih! Sejak kapan kamu pinter gombal. Sejak kenal perempuan tadi?" Manda berdecih dan tersenyum miris..
"Aku berani bersumpah Manda, dengan seluruh kehidupanku yang telah kujalani bersama denganmu selama ini. Aku nggak kenal wanita tadi." Angga berlutut dihadapan Manda dengan mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi mengambil sumpah.
Amanda sedikit luluh, atau karena sudah lelah berteriak, dia memelankan suaranya "Lalu kenapa dia bisa berduaan sama kamu di mobil? Dengan posisi yang tak pantas, dengan keadaan bajumu yang seperti itu?"
"Aku juga nggak tau sayang, daritadi aku nungguin kamu di mobil. Tapi aku ketiduran, terus pas aku bangun, udah ada kamu sama perempuan gila tadi." Angga menjeda perkataannya, ia memperhatikan raut wajah istrinya yang tetap cantik meski dalam keadaan menangis. Melihat Amanda tenang, ia mulai membuka mulutnya kembali.
"Aku juga bingung, kenapa tadi bisa jadi seperti itu. Kamu harus percaya sama aku ya, kalau dihati aku cuma ada kamu. Tak akan pernah tergantikan, sampai maut memisahkan." Angga menggenggam kedua tangan Manda yang gemetar, ia masih saja menangis dan semakin tersedu mendangar kalimat mutiara yang diucapakan oleh suaminya tercinta.
"Sekarang kita pulang ya sayang. ." Angga berdiri dan merangkul pundak Manda, akan tetapi Manda menepisnya dengan kasar. Ia masih belum bisa melupakan kejadian tadi yang begitu nyata didepan matanya. Bibir tebal nan indah milik sang suami, sudah terjamah oleh bibir wanita tak dikenal. Hal itu terus terbayang diotaknya dan membuat hatinya seperti tersayat-sayat oleh silet.
"Jangan sentuh aku, Mas! Kejadian tadi nggak semudah itu untuk aku lupakan." Setelah mengucapakan kalimat tersebut, Manda berjalan perlahan dengan seluruh tubuh yang lemas, ia menyeret pelan kakinya yang tak mengenakan alas kaki, karena sepatu heels yang tadi diapakinya telah ia gunakan untuk memukuli suami serta wanita yang tak jelas itu. Dan karena itulah, wajah serta tubuh sang suami terdapat luka-luka, tapi luka seperti itu tak dihiraukan oleh Angga.
Amanda terus berjalan menelusuri trotoar, dimalam yang gelap dan dingin ditambah dengan rintik hujan yang mulai turun. Angga masih setia mengikutinya dari belakang. Rasa lelah, letih, dingin serta lapar yang mendera sama sekali tak mereka rasakan lagi. Mereka hanya berjalan dan berkecamuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, mereka sampai disebuah jembatan besar, dan dibawahnya membentang sungai yang sangat lebar dan berarus deras.
Amanda menghentikan langkahnya, dan menatap kearah sungai tersebut dari atas jembatan. Entah apa yang dipikirkannya, ia mulai menapakkan kaki kanannya pada pagar besi kokoh jembatan. Melihat hal seperti itu, Angga langsung panik dan berlari menghampirinya. Angga memeluk erat tubuh Amanda dari belakang, tangisnya kembali pecah dan lebih keras dari sebelumnya.
"Jangan Manda, jangan lakukan ini. . Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Lebih baik kamu bunuh aja aku Manda, daripada kamu yang harus terluka. Selama aku masih hidup, aku nggak akan biarin kamu terluka sedikitpun!" Suara serak Angga menggema ditengah suara hujan. Amanda hanya diam, cuma isak tangisnya saja yang terdengar di telinga Angga. Ia hanya pasrah kala tubuhnya yang lemah dipeluk erat oleh sang suami, ia merasa sedikit kehangatan ditengah guyuran hujan yang semakin deras.
Asisten Angga yang tadi sempat dihubungi oleh Angga, sudah sampai pada tempat dimana Angga dan Amanda berada. Ia melihat kondisi tuannya yang memprihatinkan, segera berinisiatif menghubungi dokter pribadi tuannya. Ia tak berani mendekat begitu saja, takut-takut jika nanti membuat sang tuan marah, jadi ia lebih memilih sampai sang dokter datang.
Tak berapa lama, dokter pun sampai. Sang asisten perlahan mendekati Angga.
"Maaf Tuan, saya terpaksa melakukan ini kepada kalian." Ucap sang asisten, yang lalu meminta dokter untuk menyuntikkan obat penenang kepada keduanya, agar lebih mudah untuk menolong mereka dan membawa mereka pulang. Tetapi melihat kondisi boss dan istrinya yang seperti itu, si asisten memutuskan untuk membawa keduanya ke rumah sakit agar bisa segera mendapatkan perawatan yang terbaik.
Segera berbaikanlah kalian Tuan, Nona..
Semua ini hanya salah faham.
Saya akan menyelesaikan semuanya untuk kedamaian hidup kalian.
Selesai