¤ Sebuah kondisi, dimana logika tak diperlukan sepenuhnya. Insting mengendalikan permainan sesungguhnya ¤
Derrrrttt....Dertttttt...
Antoni yang tertidur, sayup-sayup mendengar ponsel yang bergetar. Matanya terbuka dengan malas ketika melihat jam di nakas masih menunjukkan pukul enam pagi.
Dia menguap tanda masih mengantuk dan akan melanjutkan tidur lagi.
Kriiing....kriiing.
Ponselnya kali ini berdering.
Dengan malas Antoni menjawab ketika melihat siapa yang menelponnya.
" Kenapa lu bro, pagi amat sih nelponnya", kata Antoni malas.
" Jangan sok lupa lu, sore besok kita ada pertandingan di kota Cannes, jam 10 lu kudu standby di bandara", sahut suara diseberang telpon.
" Whattt? emang sekarang tanggal berapa? beneran besok kita tandingnya?", Antoni bertanya-tanya.
" Iya lah hari ini, tanggal 20 November tepatnya", sahut suara di seberang telpon lagi.
" Ya udah kalo gitu gue siap-siap dulu masukin barang yang mau gue bawa, nanti lu jemput gue
kan? Oi....Ricardo!", tanya Antoni memastikan.
" Iya....tenang aja, couch udah nyiapin mini bus buat team kita", sahut Ricardo.
" okey bro, jumpa nanti ", ujar Antoni memutuskan panggilan teleponnya.
Sebelum berangkat mandi, Antoni memeriksa kembali barang apa saja yang akan dia bawa. Hari ini hari besar baginya, bertanding sepak bola dengan team besar di negara Prancis di kota Cannes.
Hari itu juga penentuan dia dan teman-temannya terpilih atau tidak dalam pertandingan internasional.
Sudah tujuh tahun Antoni menjadi Atlit sepak bola liga kecil di kotanya. Sekarang dia punya kesempatan menjadi pemain inti dari tim internasional.
_____________
Bandara Internasional Caves Endes
Orang berjumlah 23 orang keluar dari mini bus yang terparkir di depan bandara. Ada 20 pria dan 3 wanita yang membawa koper masing-masing.
Mereka melangkah bersama, masuk kedalam Bandara dan melakukan pengecekan tiket dan passport.
Setelah semuanya selesai, waktu penerbangan semakin dekat. Mereka menantikan momen bersejarah dalam hidup mereka. Pergi keluar negeri dan bertanding dengan tim liga utama.
#Mohon perhatian, pesawat Hercules boeing 2155 dengan tujuan Cannes akan segera lepas landas, para penumpang diharap memasuki kabin pesawat.#
Terdengar pengumuman dari ruangan tunggu.
" Akhirnya kita berangkat juga", seru Gladlin gembira. Anak dari pelatih Andy.
" Kita ngumpul dulu, ayo kita foto rame-rame buat kenangan", Ricardo menjulurkan ponsel yang sudah dia pasang tongkat narsis.
" Kita cewek bertiga harusnya didepan", protes Keyla.
" Kalian ini....buruan gih kedepan", suruh Mateo.
Mereka tertawa dan mengambil foto bersama sebelum memasuki kabin pesawat. Cuaca hari ini cukup cerah walaupun di seberang wilayah terjadi hujan salju mendadak.
Dalam kabin, mereka sudah menemukan tempat duduknya masing-masing.
Mereka juga tak lupa mengambil foto kenangan perjalanan tim sepak bola Avengers.
Pesawat mulai lepas landas, seatbelt yang mereka pakai ketat terasa. Setelah ketinggian 1000 kaki dari permukaan laut. Pesawat, terbang dengan indahnya. Pemandangan terlihat mengagumkan di balik jendela pesawat.
Tak lama kemudian, selang 30 menit berlalu. Cuaca mulai mendung, petir menggelegar. Pesawat masih berada di jalur penerbangan. Penumpang masih sibuk dengan obrolan mereka. Tiba-tiba salju turun dengan jelas dari kaca jendela pesawat.
" Itu....salju, cantik sekali", ujar keyla semangat melihat hujan salju dari dalam pesawat.
" Liat deh, itu kan pegunungan Kilimanjaro, bagus ya. Puncaknya tertutup salju abadi", Gladlin menunjuk kearah pegunungan.
" Seru banget hari ini, kita bisa liat macem-macem pemandangan", Keyla antusias.
" Kalian berisik sekali sih", keluh asisten pelatih, Peter.
Mereka tertawa melihat reaksi para gadis yang di tegur asisten pelatih peter.
" Salju nya semakin lebat, semua jendela berwarna putih salju", Antoni menunjuk.
Tiba-tiba pesawat yang mulai kehilangan pandangan akibat hujan salju yang turun. Perlahan menukik turun karena dirasa sudah sampai tujuan.
Cabin Pilot dan Copilot.
" Tunggu sir, disini bukan titik koordinat pesawat take off, pesawat melenceng ke arah 18,9 derajat Lintang utara," ujar Copilot.
" What...liat itu didepan kita, kita seakan buta dengan arah pandang terbatas, lakukan komunikasi dengan Control tower terdekat", perintah Pilot.
Semua badan pesawat tertutupi hujan salju yang berubah jadi badai salju dalam sekejab.
Pilot dan Copilot berusaha melakukan kontak dengan Control Tower terdekat.
Pesawat mulai hilang kendali, titik koordinat semakin tak mampu di kendalikan akibat cuaca ekstrim.
Mayday....mayday....mayday....Hercules Air boeing 2155 emergency total.
Control Tower mendapat signal baru dan mendengar sesuatu yang mencurigakan. Suaranya tak terdengar dengan jelas. Para ahli memverifikasi
dari mana datangnya signal tersebut.
Terjadi goncangan di dalam pesawat, pesawat tidak bisa lagi di kendalikan. Pesawat menukik dan menurun dengan tak biasa.
Para penumpang chaos di kabin pesawat.
Mereka menggunakan masker oksigen untuk bernafas. Antoni berharap ini semua hanya mimpi.
Begitu pun para penumpang yang lain.
Terucap doa dari mulut mereka masing-masing.
Tangan mereka berpegangan berharap saling menguatkan diri.
Pesawat menukik turun tidak terkendali dan.
Bruaakkkk.....chassssss.
Pesawat turun di hamparan salju nan luas. Badan pesawat tidak utuh lagi, terpecah menjadi 2 bagian. Begitu pula para penumpang yang sudah berhamburan tubuhnya.
Selang beberapa jam kemudian.
Antoni mengerjapkan matanya, dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Pandangannya melihat sekeliling. Dia tak sanggup melihat teman-temannya dan penumpang lain tergeletak tak bernyawa. Bahkan ada beberapa yang jasadnya tidak utuh lagi. Dia menangis sesenggukan. Kali ini dia merasakan sebuah penderitaan mendalam.
" To-to-looonnnggg", terdengar suara permintaan tolong.
Antoni mencari sumber suara, dia berdiri tertatih. Berharap tenaganya pulih kembali.
Dia melihat tangan yang bergerak diantara kursi pesawat yang tak berbentuk lagi.
Antoni mencoba menarik beberapa barang yang menindih tangan dan tubuh orang tersebut.
" Keyla...", kagetnya sambil membantu keyla keluar dari tempatnya yang terjepit kursi dan beberapa barang milik penumpang.
" Teman-teman, aku disini, tolong aku", seru sebuah suara ketika mendengar suara Toni.
Dia menyelamatkan Keyla, dan mendudukkannya di atas koper yang berserakan agar tidak terkena dinginnya salju.
" Siapa disana? jawab aku!", seru Antoni mengumpulkan tenaganya kembali sambil tertatih.
" Disini....tolong", sahut suara itu.
Antoni melihat ada kaki bergerak dibawah tumpukan mayat. Dia menarik mayat paling atas dan menarik kaki orang itu.
Nafasnya tersengal, tenaganya hampir habis, tubuhnya juga sakit tak terkira.
" Antoni.....ini aku", seru Ricardo yang akhirnya berhasil keluar dari tumpukan mayat itu.
Hosh....Hoshhh...
Nafas mereka berdua terengah-engah.
Sekeliling mereka hanya terdapat hamparan salju yang luas. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain selain mereka bertiga.
" Oh no, gue gak nyangka nasib kita bakal kaya gini", Keyla menangis melihat badan teman-temannya yang tak bernyawa.
" Kita harus disini dulu, besok pagi kita harus pergi dari sini, kita cari bahan makanan yang ada", suruh Toni.
Mereka mencari pakaian yang bisa mereka kenakan pada koper koper yang sudah tak beraturan dan terbuka.
" Disini....ada buah kaleng, ada snack juga", Seru keyla. Tangannya yang berbalut kain mulai mengucurkan darah kembali akibat luka terhantam kursi pesawat.
" Oh ....tidak, kalian harus menyelamatkanku", pinta keyla.
" Cari kotak p3k di puing-puing kabin pilot," suruh ku pada Ricardo.
Ricardo yang berjalan terseok-seok, terhambat akibat tumpukan salju. Dia mencari ide untuk mengambil pecahan badan pesawat dan mengikatkannya pada kakinya supaya bisa berjalan diatas salju tebal.
Antoni berusaha membuka kursi penumpang dan mengambil kain serta busa didalamnya untuk pakaian mereka agar tidak kedinginan.
Keyla masih terduduk di tumpukan koper sambil menekan lengannya yang berdarah tadi.
" Ini, aku temukan perban tergeletak di tas tangan penumpang", ujar Ricardo mulai melingkarkan perban ke lengan keyla agar darahnya bisa berhenti.
Antoni memberikan jaket yang terbuat dari kain kursi penumpang. Tak lupa kakinya juga di ikat dengan busa kursi dan menyambungkannya dengan pecahan badan pesawat yang di bawa Ricardo.
Mereka bertiga bertahan dengan bahan-bahan yang ada diantara pecahan pesawat.
Mereka sungguh tak percaya, di depannya. Salju yang putih bersih tercemari dengan darah yang berceceran dari badan penumpang yang sudah tidak utuh lagi.
" Besok pagi, kita harus keluar dari sini, mencari penduduk diluar sana, kita harus berjalan sejauh mungkin keluar dari tempat ini", ujar Antoni.
Keyla dan Ricardo hanya mengangguk pasrah.
" sekarang, kita harus tumpuk koper-koper ini dan memasukkannya kedalam badan pesawat yang masih utuh itu!", tunjuk Antoni pada ujung ekor pesawat.
Mereka juga mencari alat komunikasi di kabin pilot yang sudah tak berbentuk, tapi ....nihil, mereka tidak menemukannya. Semuanya sudah pecah berantakan.
Rasa lapar mulai menyerang. Mereka memeriksa kembali isi dari koper yang tadi mereka tumpuk dan di masukkan sebagai penutup di badan ekor pesawat.
" Tidak mungkin, kita harus bertahan disituasi seperti sekarang, tapi kita harus memakannya agar kita tidak kelaparan", Antoni menemukan sebungkus besar makanan kucing terbaik yang separuh dari isinya berhamburan.
" Tunggu, jangan dimakan sekarang, itu bisa buat bekal kita besok, bungkus kembali", perintah Ricardo.
" Kita coba cari makanan lain, kita harus mengelilingi area kecelakaan pesawat, siapa tau kita beruntung", usul Ricardo.
" Baiklah, kita berpencar sekarang. Kita berkumpul ketika hari mulai malam di ekor pesawat tempat kita tidur", Antoni menambahkan.
Mereka memungut apa saja yang sekiranya bisa mereka makan dan gunakan. Keyla melihat ada bola kevin yang di bawanya tadi.
" Ini, bisa buat toilet cadangan, aku harus menampung air seniku nanti didalam ekor pesawat", gumam keyla yang menemukan bola kempes dan akan menggunakannya sebagai penampung air seni di tengah cuaca dingin ini.
Hari mulai gelap, tidak ada penerangan sama sekali di tempat ini. Mereka berkumpul kembali dan masuk kedalam ekor pesawat yang masih utuh.
Mereka bertiga memasukkan barang2 penemuan mereka. Dan menyusun koper sebagai pintu untuk menutup bagian ekor pesawat yang terbuka agar cuaca dingin tidak menembus masuk.
" Kalian menemukan apa?", tanya Antoni.
" Aku menemukan air yang membeku di dalam botol ini, tapi lihatlah, sekarang mulai mencair semenjak masuk ruangan ini", Keyla girang.
" Kita harus menyiasati makanan dan minuman kita, besok kita akan berjalan jauh, jadi malam ini seharusnya kita beristirahat", Antoni berujar lagi.
" Jangan pernah melepaskan kain yang terikat dari badan kalian, ini akan mengusir hawa dingin", Antoni berkata lagi.
" Duh...kok aku kayaknya mau pipis, gimana nih?", kata Ricardo panik.
" Tenang saja, aku menemukan ini tadi", jawab keyla sambil menyerahkan bola kempes yang separuhnya sudah berlubang.
" Ide bagus key", Ricardo mengambil bola itu, dia merangkak menjauhi 2 orang temannya dan menampung air seninya.
" Trus buangnya gimana ini?", tanya Ricardo.
" Biarkan saja, nanti pasti akan beku dengan sendirinya", sahut Antoni.
Mereka bertiga diserang kantuk karena tadi berkeliling mengitari puing-puing pesawat.
Malam ini mereka tidur ditempat yang tak terduga.
Paginya.
Matahari mulai muncul, Keyla yang menyadari itu langsung membangunkan kedua temannya.
Mereka bersiap melakukan perjalanan mencari pertolongan.
" Semua sudah siap, dan makanan beserta barang yang ditemukan masuk kedalam tas ini", Ricardo menegaskan.
" Jangan lupa pakai ini", Antoni memberikan tongkat yang dia dapat dari pencarian kemarin.
Hari sudah mulai naik, mereka tetap berjalan tanpa henti, Keyla yang seorang perempuan harus beristirahat berkali-kali.
Ini baru hari pertama dan mereka belum melihat tanda-tanda kehidupan.
Sudah 10 km mereka berjalan diatas salju tebal.
Perjuangan mereka untuk berjalan saja tidak mudah.
Hari mulai gelap, mereka mencari tempat untuk beristirahat sejenak dan akan melanjutkan perjalanan kembali.
" Itu ada batu besar, kita berlindung di balik batu itu saja dan merebahkan diri diatasnya sejenak." tunjuk Antoni.
" Sampai kapan kita akan berjalan?", keluh Keyla.
" Ini baru hari pertama, kita harus kuat keyla. Jangan sampai kita menyerah." semangat Antoni.
Mereka memejamkan mata sejenak. Berharap letih itu berkurang dan melanjutkan perjalanan lagi tanpa menunggu pagi.
" Badanku mulai dingin, kenapa kita tidak melanjutkan perjalanan saja", usul Ricardo.
" Baiklah, ayo kita berangkat sekarang", Antoni mengiyakan.
Mereka bertiga menyusuri kembali padang salju nan luas dan masih saja belum menemukan tanda-tanda kehidupan.
Keyla mulai terbatuk, kondisinya memburuk setelah seharian berjalan. Lukanya pun masih belum sembuh.
" Tahan keyla, kita akan pulang. pasti kita bisa pulang", ujar Antoni sambil memapah tubuh Keyla.
Matahari bersinar kembali dihari kedua ini. Untung saja tidak ada salju longsor. bisa-bisa mereka tertimbun dan tidak pernah kembali.
" Kakiku sudah tak kuat lagi", ucap Keyla.
" Kalian berdua pergi saja, tinggalkan aku disini", tangis Keyla.
" Tidak, kami tidak akan meninggalkanmu, kami akan pulang bersamamu dan mengobati lukamu itu", Ucap Ricardo.
Mereka berdua memapah tubuh Keyla di kanan dan kiri.
Senja mulai menyembul di hari kedua ini.
" Itu....disana!", tunjuk Antoni bersemangat.
Dia melihat sebuah pohon besar yang ditutupi salju. Tanda kehidupan sudah mulai terlihat.
" Pasti pemukiman warga tidak jauh dari sini, kita harus terus berjalan," Antoni berjalan semakin cepat seakan menyeret Keyla. Tak dihiraukannya perut lapar dan badan yang letih.
Semakin lama, pondok kecil mulai terlihat.
"Mungkin itu tempat istirahat pemburu liar." pikirnya.
" Kita masuk kesana dulu!, kita lihat apa isinya!", ujar Ricardo semangat.
Mereka sampai di depan pintu dan hendak membuka pintunya, namun sayangnya pintu itu terkunci.
Mereka menggedor pintu itu dengan tenaga yang tersisa.
Mereka sudah tidak sanggup berbuat apa-apa lagi dan pingsan di depan pintu secara bergantian.
-------
Dalam pondok.
" Lupa mau nyopot nih headphone", sambil melepaskan sumpalan di telinganya.
Pria paruh baya itu bersiul dan sudah seharian menunggu jebakannya berhasil di makan binatang atau tidak. Dia keluar untuk mengecek jebakannya dihutan.
¤ Klik....pintu terbuka dan....", Akh....ada mayat disini", sambil melihat 3 orang tergeletak di depan pintu.
Dia memeriksa denyut nadi mereka, dan ternyata, mereka bertiga masih hidup.
Pria itu menghubungi rekan kerjanya dan menyuruhnya membawa ambulans di pinggir jalan raya dekat hutan.
Antoni, Ricardo dan Keyla akhirnya tertolong berkat pria paruh baya yang berada di dalam pondok pemburu itu.
________ TAMAT_________
Maaf kepanjangan ....entahlah bingung mikirnya 😆😆 apalagi gak punya pengetahuan tentang penerbangan. Kisah ini hanya fiksi semata. 😁