"Kita harus segera masuk ke salah satu tempat, karena kalau tidak.. kita akan menjadi mangsa para mayat hidup itu!" seru seorang pria.
Kami mengikuti pria itu karena terlihat pria itu membawa banyak sekali senjata.
Matahari bersinar dengan membawa aura yang sangat gelap. Entah apa yang terjadi, namun dunia ini tiba-tiba menjadi gelap. banyak orang harus bertahan bersama-sama, aku dan orang-orang yang ada di kota merasakan sebuah teror. tidak ada nafas segar. saat tiba-tiba sebuah wabah penyakit menyerang kota.
"kita harus membuat Apartemen ini tetap bertahan selamanya, karena kalau tidak.. kita akan dimangsa oleh para mayat hidup itu," ucap salah seorang pria kepada teman-temannya.
"lalu apa yang akan terjadi kepada kita," aku bertanya kepada pria itu. karena mungkin nyawa Kami tidak akan bertahan hingga matahari menampakan sinarnya.
Entah berapa orang yang masih bertahan di kota. namun aku yakin tidak banyak orang yang bertahan. karena terlihat dari jalan raya Saat kami melihat dari apartemen. para mayat hidup itu semakin banyak.
"Aku tidak mau mati mengenaskan di tempat ini!" seru sepasang kekasih yang tiba-tiba memaksa keluar dari tempat persembunyian kami.
"Kau tidak boleh keluar dari tempat ini, kalau tidak kita semua akan mati karena ulahmu!" seru pria itu.
"Aku tidak peduli, karena aku harus mencari tempat yang paling aman dari tempat ini, John!" seru pria itu kepada pria yang menolong kami.
"Kalau seperti itu keinginanmu, maka pergilah dari sini. kami tidak akan mau menolong kalian!" seru pria yang bernama John.
Tak lama kemudian, salah satu tetangga yang yang ada di sebelah rumahku.. nampak dia juga ingin mengikuti sepasang kekasih itu.
"Aku juga akan ikut dengan mereka, Alda. karena aku tidak ingin mati di sini!" seru tetanggaku.
Aku terdiam mendengar perkataan tetanggaku, karena jujur saja.. aku tidak punya nyali untuk keluar dari tempat persembunyian kami.
"Aku akan di sini saja," jawabku kepada tetanggaku. karena jujur saja nyaliku sangat kecil untuk melawan para mayat hidup itu. Terlihat ketiga orang itu sudah keluar dari dalam ruangan tempat kami bersembunyi.
Sesaat kemudian, saat kami hendak tertidur.. tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berteriak, aku terbangun dari tidurku karena mendengar suara teriakan itu begitu keras. saat kutatap ruanganku, terlihat jelas pria yang bernama John itu sedang menusuk salah satu orang yang ada di ruangan.
"Kau carilah senjata untuk membunuh mereka! karena mereka sudah tertular virus mayat hidup itu!" seru Jhon kepadaku.
Aku bingung mencari alat untuk mempertahankan diri, tiba-tiba kulihat sebuah pedang yang berada di sofa ruangan itu. dengan segera kuambil pedang itu, ku ayunkan pedang itu dan kutebas salah satu kepala Mereka.
"Di belakangmu!" seru Jhon kepadaku.
Aku sangat ketakutan melihat 3 mayat hidup dari orang-orang yang bersama kami, aku berdiri dengan tubuh yang gemetar tanpa melakukan apapun.
Dengan sigap John yang melihatku seperti itu, dia langsung menebas kepala ketiga mayat hidup itu. aku terkulai lemas karena melihat para mayat itu kepalanya terpenggal.
"Kita harus segera meninggalkan tempat ini!" seru Jhon kepadaku. aku mengikuti pria itu, nampak terlihat tubuh John sudah berlumuran darah. Kami melangkahkan kaki keluar dari apartemen yang kami tempati untuk bersembunyi. Aku berjalan mengendap-endap sambil melihat situasi yang ada di kota.
"Kita harus mencari mobil untuk keluar dari kota ini!" seru Jhon kepadaku. Sesaat kemudian, nampak beberapa mayat hidup telah menemukan keberadaan kami. para mayat hidup itu langsung memburu kami.
John terus berusaha mendobrak pintu mobil itu, namun para mayat hidup itu semakin lama semakin mendekat.
"Jhon para mayat itu semakin mendekat!" seruku kepada John.
"Tebas kepala Mereka!' seru Jhon padaku. Aku bingung karena aku tidak pernah membunuh seekor lalat pun. Namun untuk bertahan hidup.. aku mengikuti apa kata John. Ku ayunkan pedangku dan menebas para mayat hidup itu. saat aku bisa membunuh beberapa, para mayat hidup itu nampak jumlah mereka semakin banyak. karena beberapa dari mereka menemukan kami kembali.
"Jhon, jumlah mereka semakin banyak!" seruku kepada pria itu. sesaat kemudian, nampak sebuah senyum tersirat di bibir John.
"Segera masuk!" seru Jhon kepadaku. pria itu sudah memasuki mobil, aku berlari sekencang mungkin dan ikut masuk ke dalam mobil. di depan jalan kami nampak begitu banyak para mayat hidup yang mencoba untuk menghalangi jalan. Jhon melindas para mayat hidup itu, karena mobil yang kami ambil terbilang mobil andrenalin yang lumayan besar.
"Lihatlah, kita sangat beruntung hari ini. karena di dalam mobil ini ada begitu banyak senjata," ucap Jhon kepadaku. Aku menatap senjata yang dikatakan oleh Jhon.
"Apakah kau bisa menggunakan senjata?" tanya Jhon kepadaku.
"Bisa sedikit," jawabku.
"Kalau begitu, kita bunuh mereka dan kita cari jalan untuk keluar dari kota ini!" ucap Jhon kepadaku. aku menganggukkan kepala.
"Buka Sedikit kaca mobilnya dan tembak Mereka!" seru Jhon kepadaku. Aku mulai membuka pintu kaca mobil sedikit, lalu...
"Dor!.. dor!.. dor!" beberapa peluru melesat dan menembus kepala para mayat hidup itu.
"Apakah kau bisa menyetir mobil ini?" tanya Jhon kepadaku lagi.
"Bisa," jawab ku.
''Kau gantikan aku untuk menyetir mobil ini, karena aku akan menembak mereka. tembakan mu kurang bagus!" seru Jhon kepadaku.
Kami berdua berganti posisi, aku mengemudikan mobil dan Jhon menembaki para mayat hidup itu. Jhon menggunakan senjata laras panjang yang berukuran besar.. apa itu namanya,
"Door!..dor!.. dor!" pria itu menembaki para mayat hidup itu, tembakan Jhon sangat hebat. tepat pada sasarannya kepala mereka. begitu banyak para mayat hidup yang ada di jalan.
"Jumlah mereka sangat banyak!" seruku kepada Jhon.
"Fokuslah pada mengemudi, aku akan membunuh mereka," jawab Jhon.
Sesaat kemudian, John mengambil senjata-senjata yang ada di mobil dan menembakkan kepada para mayat hidup itu. entah berapa lama perjalanan kami lalui, namun yang jelas aku mengemudikan mobil itu dengan sangat kencangnya. saat Matahari mulai bersinar, ternyata Tuhan masih memberikan nyawa kepada kami berdua.
"Bensinnya mau habis!" seluruku pada pria itu.
"Tancap gas nya, karena Sebentar lagi kita akan sampai di perbatasan kota," jawab Jhon.
Benar Apa kata Jhon, beberapa saat kemudian.. kami telah sampai di perbatasan kota. terlihat di sana ada begitu banyak tentara. sesaat kemudian, John melambaikan tangannya dan menunjukkan sesuatu para tentara itu. mereka membuka jalan untuk kami masuk.
"Hentikan mobilnya!" seru Jhon kepadaku.
Sesaat kemudian, ternyata John turun dari mobil dan berseru kepada mereka.
"Perbanyak jumlah senjata kalian. karena para mayat hidup itu jumlahnya sangat banyak!" seru Jhon kepada pada para tentara.
"Baik Komandan!" jawab Mereka. ternyata John adalah komandan dari tentara perbatasan.
Aku menghela nafasku secara teratur, aku bisa bernafas lega. Jhon menarikku masuk ke dalam mobil para tentara dan dia membawaku keluar dari kota para Zombie.
*** END ***