Eppe menghentikan motor King nya. Ia menepi di ujung jalan yang sudah mulai nampak lengang karena sudah memasuki area perdesaan.
"Kenapa? " Tanya Dee yang tidak lain adalah kekasih Eppe
"Bocor ban nya. Kita tambal dulu.. " Kata Eppe pelan sambil menuntin motor kesayangannya itu
"Kita ketinggalan rombongan nanti.. " Kata Dee
"Pake Maps kan bisa. Kita ga akan kesasar kog.. " Kata Eppe
"Itu ada bengkel.. " Kata Dee sambil menunjuk ke sebuah bangunan tua yang mirip dengan bengkel.
Eppe mng hentikan motornya dan terlihat ada lelaki tua yang berada di situ tetapi hanya diam saja tidak menyapa kedatangan Eppe dan pacarnya itu.
"Mau nambal pak? " Kata Eppe
Lelaki tua itu hanya mengangguk dan memeriksa motor Eppe. Dan bersiap untuk menambal ban yang bocor tersebut.
"Sayang,, kog aku merinding" Kata Dee
Eppe hanya mengangguk dan mencoba meneliti sekitar, sudah hampir gelap. Ia melirik GShock melingkar di tangan kanannya. Jam 17.57.seharusnya masih terang tapi itu di desa jadi lumayan sudah gelap dan sepi.
Awalnya mereka mengikuti touring ke gawang mangu yang di adakan oleh salah satu club motor. Namun karena ban mereka bocor harus di tambal lebih dahulu.
Mereka terhenti di sebuah desa. Entah apa nama desa tersebut. Yang pasti sepengatahuan Eppe kira kira setengah jam lagi sudah memasuki arean tawang mangu yang sejuk dan dingin.
Tidak lama mereka mendengar alunan musik Jawa dari kejauhan. Suaranya yang terdengar merdu tapi membuat bulu kuduk mereka merinding.
Dee menggengam eeat tangan Eppe, ia merasakan takut yang dalam. Sementara Eppe sendiri biasanya tidak penakut tapi saat ini pun nyali nya tiba tiba ciut.
"Bapak yang menambal ban kita kemana? " Tanya Dee
Eppe membalikkan badannya dan lelaki tua itu sudah tidak berada di tempatnya tadi. Eppe mendekati motornya dan memeriksa ban nya sudah tidak kempes lagi namun ia tidak melihat peralatan yang di gunakan lelaki tua tadi.
"Mungkin dia sudah buru buru tutup ini kan sudah malam.. " Kata Eppe menghibur dirinya
"Ya udah kita lanjut jalan aja.. " Ajak Dee
Eppe menyalakan motornya dan Dee segera naik.dia tidak ingin terlalu lama di tempat yang membuat tibuhnya mengigil ketakutan.
Eppe melajukan motornya pelan. Ia sambil mengingat ingat jalan yang ia lalui saat ini. Namun berbeda dengan yang pernah Eppe lewati sebelumnya.
"Buka Maps aja yank. Aku takut kita nyasar. Aku ga yakin dengan jalan ini.. " Kata Eppe
Dee membuka aplikasi Maps nya, tapi sayang tidak ada signal. Dee mengulanginya lagi dan memang tidak dapat menggunakan aplikasi tersebut.
Eppe mengambil ponselnya untuk digunakan namun sia sia saja. Kedua ponsel itu tidak dapat di gunakan. Dee yang sedari tadi sudah ketakutan pun bertambah rasa takutnya.
"Aku takut sayang.. " Kata Dee pelan lalu mengeratkan pelukan nya
"Tenang.semoga kita tidak salah jalan.. "Kata Eppe terus melakukan motornya
Jalan jalan berliku telah mereka lewati dengan alunan musik Jawa yang sedari tadi terdengar dan sampai kini masih terdengar. Tiba tiba Dee merasakan di belakangnya ada yang mengikuti. Dia menoleh ke belakang dan berteriak histeris.
" Hantuu...!!! "Teriaknya kencang
Eppe menghentikan laju motornya. Ternyata sekelompok kelelawar yang mengikuti mereka yang di sangka hantu oleh kekasihnya.
" Cuma kelelawar sayang.. Bukan hantu..! "Kata Eppe menenangkan
Dee menutupi wajahnya dengan ke dua tangannya. Bukan kelelawar yang ia lihat tapi seperti kepala manusia tanpa Badan hanya jerohannya yang menggantung yang tertawa menyerigai seperti hendak menerkam dirinya.
" Minum dulu. Kamu hanya kurang tenang.. "Kata Eppe kemudian menyodorkan air mineral yang diambilnya dari tas
Dee menerima air mineral itu namun kemudian ia membuangnya. Air putih itu berubah menjadi kemerahan seperti darah. Dan memang benar benar darah.
*Itu darah sayang..! Darah..! " Kata Dee sambil menunjuk nunjuk botol minuman tersebut
Eppe terkesirap,matanya nanar melihat air mineral yang ia bawa berubah menjadi darah yang mengalir dari botol yang tutupnya telah terbuka.
Eppe meraih kekasihnya yang sudah pucat karena ketakutan. Dan beringsut mundur. Ia pun takut terjadi hal buruk dengan mereka.
Eppe masih menggenggam erat tangan kekasihnya itu dan berjalan mundur menjauhi tempat tersebut dan terhenti karena menabrak sesuatu. Bruuck..
Sontak keduanya menoleh, ia melihat wanita berrambut panjang berpakaian putih lusuh sambil menggendong bayinya.
"Maafkan kami. Kami tidak tahu kalau ada orang disitu.. " Kata Eppe
Wanita itu hanya mengangguk, sementara rambutnya terurai ke depan menutupi wajahnya.
"Maaf Bu saya mau nanya jalan menuju tawang mangu sebelah mana ya Bu? " Tanya Eppe
Wanita itu tidak menjawab hanya menunjukkan satu jalan di depan Eppe dan Dee.
"Terimakasih Bu. Kami hanya takut kesasar.. " Kata Eppe
Wanita itu mengangguk dan membalikkan badannya dan nampak lubang besar di punggung nya yang di penuhi belatung yang mengeliat liat dan ada yang jatuh dari punggung wanita itu.
Jantung mereka seakan berhenti menyaksikan pemandangan di depan matanya. Biasanya mereka melihatnya hanya di TV di serial horor namun kini nyata di depan matanya.
"Dia bukan manusia yank.. " Bisik Dee tertahan
Eppe hanya mengangguk sambil melihat wanita itu menjauh dan menghilang entah kemana.
"Mungkin kita tersesat di desa hantu. Gimana kita bisa kembali? " Tanya Dee lirih
"Kita pasti bisa nemuin jalan. Sabar ya.. " Kata Eppe menenangkan kekasihnya.
Belum selesai ketakutan mereka, terdengar derap langkah yang terasa mendekati mereka.
Srek.. Sreekk!
Srek! Srek!
Dee merangkuk erat tubuh Eppe. Dan Menatap sosok yang menatapnya dengan mata yang merah menyala. Reflek mereka mundur dan terus beringsut mundur.
Sosok tubuh besar itu terus maju seperti hendak menerkam mereka bulat bulat. Dengan air liur yang menetes dan sangat beringas.
"Tamatlah kita sayang. Jangan lepaskan pegangan tangan kamu.. " Bisik Eppe gemetar
Dee bersembunyi di dada bidang kekasihnya. Ia pasrah jika harus mati saat ini. Yang pasti tetap bersama kekasihnya.
"Kita lari sayang. Pegang tangan aku.. " Kata Eppe yang setengah berbisik, ia tidak mampu menatap makhluk besar yang sedang berjalan kearahnya dengan mata yang menyala nyala.
Dee mencoba bangkit dan menggenggam tangan Eppe dan mencoba berlari meski langkahnya teramat sangat berat. Eppe setengah menarik tangan kekasihnya karena ia tidak sanggup jika harus menggendong Dee dalam keadaan seperti ini.
Makhluk besar menyeramkan itu masih saja mengikuti mereka namun Eppe dan Dee tidak mau menyerah begitu saja. Ia masih tetap bertahan. Merek tidak mau menjadi santapan makhluk itu.
Mereka terus berlari dan tanpa mereka sadari mereka diambang sebuah jurang yang dalam.
"Kita bagaimana yank? " Tanya Dee dengan menangis
"Tenang sayang.. Kita tetap bersama.. " Kata Eppe lalu memeluk erat kekasihnya itu.
Eppe membayangkan kalau ini saat terakhir dalam hidupnya. Kalau dia berhenti ia akan menjadi santapan makhluk itu dan kalau mereka berlari mereka akan jatuh kedalam jurang yang dalam. Dua pilihan yang amat sulit.
Bukan keputusasaan yang ada dalam benak Eppe. Dia hanya berserah dan pasrah akan nasib yang akan menimpanya bersama kekasihnya itu.
"Pasrah sayang. Berdoalah. Tidak ada yang dapat menolong kita saat ini kecuali Allah.. " Kata Eppe sambil terus menerus berdoa dan memeluk kekasihnya.
Dew tidak sanggup menatap makhluk itu, di sela katakutannya ia menutup kedua matanya dan berdoa seperti yang Eppe lakukan saat ini.
Terasa tubuh mereka di hantam makhluk besar itu hingga jatuh melayang ke dalam jurang yang sangat dalam. Tubuh mereka seperti terbang dan semuanya nampak gelap dan mereka tidak tahu sedang berada di alam sebelah mana.
Riuh suasana di sekitar, mereka terlihat kebingungan dan memanggil manggil nama Eppe dan Dee. Mereka seperti sudah mati dan berada di dunia yang lain.
"Pe,, bangun elo? Elo kenapa? " Teriak salah satu anggota club motor itu.
Eppe nampak membuka matanya yang sangat perih, badannya terasa linu dan seperti terasa remuk. Sakit sekali. Ia berpikir apakah ia sudah di siksa oleh malaikat di alam kuburnya.
"Eppe! Elo sadarkan?! Elo kenapa? " Tanya nya kembali
Eppe menoleh di samping kanan dan kirinya ia mencari sosok Dee yang sedari tadi di peluknya.
"Dimana Dee? " Tanya Eppe pelan
"Dia udah sadar. Di ada di tenda. Namun seperti ketakutan gitu" Katanya
Eppe mencoba bangkit namun terjatuh.
"Minum dulu. Elo sebenarnya kenapa? Kita menemukan elo di sebelah pohon ini bersama Dee dalam keadaan pingsan.. " Jelasnya
"Gue kesasar di desa hantu sepertinya.. " Jawab Eppe
"Untung kalian bisa lolos. Kalian masih bernasib baik bisa keluar dari desa hantu. . " Kata lelaki itu
Eppe mengangguk dan mencoba berdiri kembali di bantu anggota club motor yang lain dan kenemui Dee yang sepertinya masih trauma berat dengan penampakan penampakan yang mereka temui di desa hantu itu.
"Kamu baik kan sayang? Kamu gapapa?? *tanya Eppe
" Aku takut.. "Jwab Dee
" Tenanglah. Kita di dunia nyata. Kita udah selamat. Jangan takut lagi yaa.. "Kata Eppe menghibur Kekasihnya
Dee mengangguk dan menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Eppe. Bayang bayang menakutkan masih menghantui pikirannya kembali.
" Selalu minta perlindungan kepada Allah sayang. Kita tidak lagi akan ke dunia itu.. "Kata Eppe lalu memeluk kekasihnya.
Dan Eppe tersentak kembali, ia mendengar nyanyian Jawa yang membawanya singgah ke desa berhantu tersebut. Ia menutup ke dua telinganya dan berdoa yang indah indah. Namun nyanyian itu semakin jelas di telinganya hingga ia menjerit sekencang nya dan tertutup lah kembali jalan menuju desa tidak Kasat mata itu.