"Tolong!"
Suara itu terus bergema, kami para wanita akan dijadikan budak. kami akan diperjualbelikan, kami sama-sama menjadi korban penjualan manusia.
Namaku Dea, kala itu aku dan temanku Rasti pulang dari kerja shift malam. tiba-tiba kami diculik oleh beberapa pria, dan kami disekap di sebuah rumah. Aku tidak tahu dimana tempat keberadaan kami, yang terlihat banyak sekali tawanan yang ada di tempat tersebut.
Semuanya adalah wanita muda, nampak para wanita itu menangis histeris saat mereka tahu mereka akan dijual ke luar negeri. tidak hanya mereka, aku pun menangis karena aku tidak akan tahu bagaimana nasibku sekarang.
"Kita akan menjadi korban trafficking." ucap Rasti.
"..." Aku menangis tanpa bisa mengatakan apapun.
"Dea katakan sesuatu, kita akan selamat bukan?!" seru Rasti kepadaku.
"Aku tidak tahu pasti," jawab ku.
Karena aku pun bingung harus menjawab apa, kami tidak tahu bagaimana nasib kami semua yang ada di rumah tempat kami disekap. Tidak ada cahaya di tempat itu, Bahkan makanan untuk kami pun bisa terhitung.
"Sudah berapa lama kalian berada di sini?" tanyaku kepada para gadis yang ada di sana.
"Aku tidak tahu," jawab salah satu dari mereka.
Aku begitu kaget saat mendengar perkataan mereka, namun sesak yang ada di dadaku terasa mengatakan kalau aku akan mati hari ini.
Hari berganti, Entah berapa hari kami ada di tempat itu. namun setiap hari para penjahat itu membawa gadis-gadis baru dan ditaruh di tempat kami berada. Kami selalu mencoba untuk melawan mereka, namun para penjahat itu membawa pistol hingga kami tidak ingin mati konyol di tempat itu.
Entah apa yang terjadi, namun seolah hidup sudah memberikan takdir kepada kami. bahkan salah satu dari gadis-gadis yang disekap tersebut nampak ada yang dilecehkan, karena salah satu penjahat itu memperkosanya dihadapan kami semua.
"Ya Tuhan, apa yang akan terjadi kepada kita," ucapku kepada orang-orang yang ada disana. nampak mereka seperti kehilangan nyawa sekaligus.
Setiap hari aku selalu menandakan 1 coretan Di dinding tempatku disekap. jika terhitung hari ini kami sudah disekap di tempat itu selama 30 hari. Kondisi kami sudah sangat mengenaskan, rambut yang tidak terurus, badan yang sangat bau, bahkan kuku-kuku Kami semuanya nampak menghitam dan badan yang kurus kering.
"Aku akan bertahan hingga ada seseorang yang membantu kami," ucapku kepada Rasti. nampak Rasti menganggukkan kepalanya. setiap hari banyak dari Gadis itu di seret keluar dan dikembalikan dengan kondisi yang depresi.
"Sudah 30 hari kita disekap disini, apakah akan ada penolong?" tanya Rasti kepadaku.
"Pasti kita akan mendapatkan kebebasan," jawabku. setelah hari ke 32 para penjahat itu menyeret kami satu persatu menuju sebuah mobil kontainer yang sangat besar. Aku sangat yakin kalau mobil itu digunakan untuk mengangkat Kami semuanya.
Kami memasuki mobil kontainer itu, Entah kami akan dibawa kemana, Entah berapa lama perjalanan kami. nampak mobil itu terhenti di suatu tempat, salah satu penjahat itu menjaga kami di dalam kontainer hingga kami tidak berani bersuara.
Namun ketika aku menempelkan telingaku di dinding kontainer, nampak di sana terdengar suara polisi yang sedang memeriksa mobil kami.
"Polisi," ucapku lirih kepada Rasti.
Nampak Tasti menganggukkan kepalanya,
"Aku tidak mau mati konyol menjadi korban penjualan manusia kalau aku mati lebih baik aku mati disini. saja daripada aku menjadi budak di luar negeri," ucapku dalam hati.
Aku memberanikan diri, dan aku secara spontan berteriak dan mendobrak dobrak dinding kontainer tersebut,
"Sore!!"
Suara tembakan langsung meletus di tempat kami berada, saat itulah hidupku seperti di ambang kematian. Karena salah satu lengan ku tertembak.
"lebih baik aku mati disini, daripada aku mati di tempat lain," ucapku kepada Rasti.
"Dhea!!"
Rasti berteriak dengan sangat keras, karena melihat darah di tanganku, sesaat kemudian.. terlihat cahaya karena pintu mobil kontainer itu terbuka, beberapa polisi langsung menembak penjahat tersebut. terdengar di luar juga suara pistol yang ditembakkan, mataku serasa berat karena darahku keluar dengan sangat banyaknya.
Entah apa yang terjadi, kemudian nampak mataku terbuka. Nampak aku berada di dalam sebuah kamar rumah sakit.
"Rasti, berapa lama Aku pingsan?" tanyaku. saat kubuka mataku yang terlihat adalah para gadis yang disekap di tempat itu. Sesaat kemudian, nampak pak polisi mendatangiku dan mengucapkan terima kasih kepadaku. karena berkat keberanian ku, korban trafficking tidak terjadi lagi dan dapat di gagalkan. ku hembuskan nafasku dengan sangat kasar.
"Setelah kejadian itu, aku selalu berhati dan tidak mau keluar malam hari,"
*** END ***