Sebuah rasa bahagiaku telah hilang sudah, saat Kerajaan suamiku telah dikalahkan oleh musuh-musuhnya. Aku yang baru menikah dua hari, belum tersentuh oleh suamiku dan merasakan kebahagiaan.
Aku harus dibuang ke pengasingan oleh musuh-musuh dari Kerajaan. Aku dan para dayang istana di bawang ke tempat pengasingan yang sangat mengenaskan. tidak ada air, tanah yang kering, dan terik matahari yang sangat menyengat.
Aku begitu pilu, baru kemarin aku merasakan kebahagiaan. namun putus sudah karena tiba-tiba musuh dari Kerajaan suamiku menyerang dan memporak-porandakan tempat kami. Aku dan dayang istana melarikan diri lewat jalan rahasia yang di perintahkan oleh suamiku, hingga kami tertangkap dan dibuang ke pengasingan.
Aku harus bertahan hidup bersama para dayang dan orang-orang yang masih setia kepada suamiku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada kami, Aku tidak ingin berhenti di sana. Aku ingin membalaskan dendam suamiku kepada orang-orang yang telah membunuhnya di depan mataku sendiri. kepala suamiku dipenggal, aku tidak bisa menjerit karena para dayang membawaku melarikan diri dari sana. Ingin sekali aku meratapi nasib ku ini, namun orang-orang kepercayaan suamiku selalu mengatakan agar aku bertahan hidup dan membalaskan semua dendam Kerajaan.
Namaku adalah Sin-lah, Aku adalah seorang wanita bersuami, namun kebahagiaanku telah direbut oleh musuh-musuh Kerajaan. aku bertekad untuk membalaskan dendam ku, aku menerima pengasingan ini. aku beserta orang-orang kepercayaan suamiku akan membuat Desa pengasingan itu menjadi tempat yang disegani di seluruh dataran Kerajaan Bailang.
Air mataku akan kujadikan perisai sebagai penguat ragaku. hari-hari kulalui dengan rasa dendam yang membara.
"Permaisuri, Apakah Anda tidak ingin menemui para pengawal itu?" tanya dayangku kepadaku.
"Aku akan menemui mereka, persiapkan senjata untuk kubawa!" seruku kepada kedua dayang kepercayaanku.
"Apakah permaisuri akan mengadakan negosiasi kepada para penjahat itu?" tanya kedua dayangku.
"Apapun akan kulakukan dan agar aku bisa membalaskan dendamku kepada mereka," jawabku dengan nada yang begitu tegas.
Aku mengatakan negosiasi dengan para penjahat yang sangat ditakuti di dataran Kerajaan Bailang.
Kulangkahkan kakiku menuju tempat seorang perampok yang begitu terkenal hingga disegani di seluruh Kerajaan di dataran Utara. Aku pergi sendirian tanpa ada orang yang menemaniku, karena aku yakin kalau pemimpin perampok itu mempunyai maksud tersembunyi.
Aku bertemu dengan pria itu, nampak kulihat pria itu masih sangat muda. katanya dia memiliki kekuatan yang hebat, bahkan strategi perang pun dia menguasai. Akan kulakukan apapun, bahkan untuk merayunya agar mau membantuku menghancurkan Kerajaan Sinbe yang telah membunuh suamiku.
"Ternyata kau adalah istri dari Kaisar Bae!" seru pria itu kepadaku.
Aku tidak menjawab, aku terdiam dengan menatap pria itu.
"Lihatlah, kau bahkan begitu cantik. aku yakin suamimu itu belum menyentuhmu. karena 2 hari pernikahan suamimu telah tewas di Medan peperangan," ucap pria itu kembali padaku.
Nampak kulihat pria itu seumuran Dengan Suamiku, aku tidak peduli.
"Apa yang ingin kau lakukan dan apa yang kau inginkan?!" tanyaku kepada pemimpin perampok itu.
"Aku akan membantumu untuk membalaskan dendam dan memulihkan Kerajaan," ucap pria itu kepadaku
Nampak aku terkejut dengan perkataan pria itu.
"Lalu apa imbalannya?" tanyaku kepada pria itu.
"Namaku adalah Hay-wan. Aku adalah pemimpin perampok yang paling ditakuti di dataran Utara ini. aku akan menawarkan kerjasama ini. namun aku meminta sesuatu kepadamu," ucap pria itu.
"Memangnya Apa yang kau inginkan?" tanyaku.
"Aku ingin menikahimu," ucap pria itu sambil memandangku. Memang pria itu bukanlah pria yang suka berbuat kurang ajar. karena yang aku dengar, walaupun dia seorang perampok. tidak pernah sekalipun pria itu melakukan pelecehan kepada wanita.
"Jika aku menikahimu. Apakah kau mau membalaskan dendam suamiku dan Kerajaanku?" tanyaku kepada Hay-wan.
"Tentu," jawabnya.
Akhirnya aku memilih untuk menerima tawaran itu, Entah berapa ratus pasukan yang dimiliki oleh pria itu. namun aku yakin pria itu mempunyai kekuatan sebanding dengan kerajaan suamiku.
Beberapa hari kemudian, akhirnya pria itu datang ke pengasingan dengan membawa begitu banyak perhiasan dan barang mahal untuk melamarku. orang-orang kepercayaan suamiku datang dengan menyamar sebagai orang yang diasingkan. acara itu kami laksanakan secara sembunyi-sembunyi, karena kami tidak ingin para musuh musuh kami mengetahuinya.
Satu minggu setelah acara pernikahan itu, pria itu menepati janjinya. Dia berkata kalau dia tidak akan menyentuh ku Jika dia belum memenangkan peperangan itu. Aku begitu takjub kepada Hay-wan. Karena pria itu dengan kejujurannya yang besar dia akan menepati janjinya kepadaku. tak kusangka pria itu mempunyai pasukan yang begitu banyak, bahkan pasukan itu tersebar di seluruh daratan Utara dan Selatan.
17 hari setelah hari pernikahan.
Hay-wan mengajakku untuk melakukan penyerangan ke Kerajaan Sinbe, kerajaan yang telah memporak-porandakan Kerajaan suamiku. dengan bangga aku mengikuti pria itu yang juga suamiku. kami akan melakukan penyerangan ke Kerajaan Sinbe, dan aku telah mengirimkan surat rahasia kepada orang-orang kepercayaan Suamiku.
Dua hari kemudian.
"Serang!!" seru Hay-wan yang memberikan perintah kepada para pasukannya untuk menyerang Kerajaan Sinbe. Aku begitu takjub kepada pria itu, dengan gagahnya dia memimpin pasukan untuk menyerang para musuh musuh suamiku.
"Tunggulah di sini, jangan pernah kau menginjakkan kaki mu di medan perang. tunggulah aku kembali!" seru pria itu kepadaku.
"Aku tidak mau," aku mengikutinya karena aku ingin membunuh pria itu dengan tanganku sendiri.
"Kau tidak boleh ke sana, aku akan membawanya untukmu," jawab Hay-wan kepadaku.
Aku begitu kekeh ingin ikut berperang, akhirnya Hay-wan mengizinkanku untuk ikut berperang. darahku berdesir hebat saat aku membunuh satu persatu pasukan musuh, jiwaku bergejolak serasa mati pun aku akan siap.
Entah apa yang terjadi, bala bantuan pasukan dari Hay-wan datang begitu banyak. hingga Kerajaan Sinbe begitu mudah ditaklukan. hanya dalam sehari peperangan.
"Kita menang!" seru para pasukan yang melihat Kerajaan Sinbe sudah tidak bisa berdiri kembali.
Hay-wan melangkahkan kakinya ke dalam Kerajaan Sinbe, pria itu mencari Kaisar Negeri itu.
Nampak Hay-wan membawa kaisar Kerajaan Sinbe kepadaku.
"Habisi dia!" seru Hay-wan.
Kuangkat pedangku yang telah aku tenteng dari tadi, nampak kulihat pria itu meminta ampun kepadaku. namun tidak ada ampun baginya, karena dia telah merusak semua kebahagiaanku. ku ayunkan pedang ku hingga menebas leher pria itu, terlihat kepala dari Kaisar Kerajaan Sinbe menggelinding ke tanah. semua pasukan Hay-wan berseru gembira.
Akhirnya kami dapat mengalahkan Kerajaan Karena kekuatan dari Hay-wan yang begitu hebat.
Setelah penggulingan Kerajaan Sinbe, aku kembali ke Kerajaan suamiku, Kerajaan Bailang.
Para pejabat Kerajaan Bailang mengangkatku dan Hay-wan menjadi pemimpin di Kerajaan Bailang. Nampak Hay-wan tidak menyetujuinya, namun Aku merayu pria itu demi kelangsungan para rakyat Kerajaan Bailang. Setelah Aku merayu begitu lama, akhirnya Hay-wan mau menjadi Kaisar di Kerajaan Bailang.
Aku dinobatkan menjadi Permaisuri Kerajaan Bailang, dan Hay-wan menjadi Kaisar. setelah pengobatan itu.. hari demi hari kulalui dan kujalani bersama suamiku dengan sukacita, aku mulai belajar mencintai pria itu. karena terlihat pria itu begitu tulus mencintaiku.
*** END ***