Sebuah rumah sederhana yang telah berdiri lama, dengan letak sedikit jauh dari yang lainnya. Pohon tinggi yang berjajar rapi, halaman yang begitu luas dengan rumput hijau yang sengaja dirawat sang empunya, semakin menambah keelokan bangunan tua yang saat ini menjadi pilihan bagi sepasang anak manusia.
Bangunan itu terbangun ditengah perkebunan, kesejukan dan kedamaian amat sangat terasa, dan itulah yang menjadi pilihan bagi pasangan pengantin baru yang tengah berbulan madu.
Suara kicauan burung yang hinggap disalah satu pohon, suara riuh dari bebek yang mencari makan, menambah keriuhan dan keindahan dimata seorang gadis, yang saat ini tengah duduk dihalaman depan, menikmati hari yang mulai menyapa senja.
"Sayang," sapa seorang laki-laki seraya memeluk gadis itu dari belakang.
Membenamkan kepalanya di ceruk leher sang gadis, menghirupnya dan menggigit kecil hingga sedikit meninggalkan tanda kepemilikan disana.
"Mas, ... ini diluar, ntar ada warga yang liat kan malu mas," cecar sang gadis menggeliat, berusaha melepas pelukan suami tampannya.
Ya, mereka adalah sepasang pengantin baru itu, Alea dan Damar. Mereka menikah satu bulan yang lalu, dimana saat ini lagi hangat dan mesra-mesranya.
"Tidak ada siapapun sayang, lagian kenapa harus malu? Uda sah ini," sanggah Damar menyeringai. Dengan gemas, ia langsung mencium sekilas bibir ranum Alea.
Damar duduk disebelahnya, menatapnya penuh damba, tubuh mungil yang baru sebulan ini menjadi miliknya.
"Sayang, aku ingin," ungkapnya, menempelkan dahinya ke dahi istrinya, lalu Damar menggigit gemas hidung mancung Alea.
"Ini masih sore mas, memangnya kamu gak lelah ya? Kita baru aja sampai tadi pagi, dari perjalanan yang cukup jauh. Mending mas istirahat dulu, aku uda masak udang saus padang kesukaan kamu," ujar sang istri menerangkan.
"Memangnya mas ingin apa? Mas ya pengen itu, laper ni perut, nyium wangi masakan kamu," sanggahnya lagi, sambil mengacak-acak rambut istrinya pelan.
"haa? astaga, mau ditaruh dimana wajahku? Haiss, malunya," katanya dalam hati.
Alea hanya bisa tertawa kikuk, malu dengan pikirannya yang melayang jauh.
"Sayang, kamu suka nggak suasana didesa ini? Ini tuh ya, kalo sore hari gini dilapangan desa itu ramai sayang, banyak anak-anak berkumpul, terus kalo malam Minggu disini selalu ada pasar malam," ujarnya panjang lebar, sambil terus menggenggam erat tangan Alea istrinya.
"Benarkah? bukankah ini hari Sabtu mas, berarti malam ini ada pasar malam dong? Kita kesana ya mas, please," ajaknya begitu antusias.
Damar tersenyum melihat antusias istrinya, ia memandangi wajah cantik itu, sambil menerawang jauh ke masa lalu, dimana Alea yang terus menolaknya, karna telah memiliki seorang kekasih.
Penantian itupun berakhir, kala kekasihnya menduakannya dengan sahabatnya, disaat itulah Alea membuka hati dan menerima cintanya.
Damar mengacak-acak rambut Alea dengan gemas, bersyukur akhirnya ia bisa mendapatkan gadis yang dicintainya sejak lama.
"Iya sayang, kita kesana nanti. Tapi sebelum itu, kita makan yuk, mas laper banget," ungkap Damar.
Bangun dari posisinya, mereka pun melangkah masuk, bangunan rumah yang kuno, tapi masih sangat terawat, hingga mereka tiba di dapur dan duduk dimeja makan. Damar duduk menunggu istrinya menyiapkan semua, dengan telaten Alea melayani suami tercintanya.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Malam menjelang, bintang di langit bertaburan menandakan cerahnya malam ini, suara jangkrik dan binatang malam lainnya terdengar bersaut- sautan, ciri khas jika kita tinggal di pedesaan.
Damar tengah bersiap-siap untuk pergi berkeliling desa, dengan kemeja putih, dan di padupadan kan celana jeans berwarna hitam, semakin menambah ketampanannya.
Alea masih setia berada dikamar mandi, entah sudah berapa lama ia disana, akhirnya ia keluar hanya dengan memakai handuk, dan itu memancing Damar untuk usil menggangunya.
"Sayang, kamu mancing mas ya?" ucap Damar, menarik-turunkan alisnya, sambil tersenyum menyeringai.
"Awas ya macem-macem, ini uda malem loh mas," jawab Alea, sedikit menghindar.
tok tok tok
Suara ketukan pintu saat ini, seakan menyelamatkan Alea dari keusilan suaminya. Alea tersenyum menang melihat Damar yang gagal mengganggunya.
"Awas kamu ya," umpat Damar, berjalan keluar sambil mengerucutkan bibirnya.
Alea sontak tertawa, melihat tingkah konyol sang suami. Lalu ia bergegas bersiap-siap, dres putih panjang menjadi pilihan nya, dengan rambut yang tergerai, semakin mempercantik tampilannya malam ini.
Senyum manis seorang gadis didepan pintu menyambut Damar saat tengah membuka pintu, Damar menyerngitkan dahi, merasa tak mengenali gadis itu.
"Maaf, anda siapa?" tanya Damar.
"Permisi mas, saya Ningrum, anak bu Yati yang biasa bersih-bersih disini," ucapnya, sambil tak berkedip memandang sosok Damar di depannya.
"Oh, ada yang bisa saya bantu?" tanya nya lagi tanpa basa-basi.
"Itu mas, saya disuruh ibu kesini, apakah ada yang bisa saya bantu atau kerjakan, barangkali mas dan mbak membutuhkan saya," ujarnya lagi menawarkan diri.
"Maaf, saya untuk saat ini saya dan istri saya tidak membutuhkan apa-apa, silahkan kembali besok saja kesini," Damar mengusir secara halus, seraya tersenyum.
"Wah, dia ganteng banget. Senyum nya ituloh, bikin aku deg deg gan gini, tapi sayang, Uda ada yang punya," kata hati Ningrum, sambil tersenyum salah tingkah.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Kini mereka melangkah keluar dengan bergandengan tangan, menyusuri jalan desa yang terbilang sepi. Ya, pasalnya seluruh warga tengah berkumpul di lapangan, dimana diadakan nya pasar malam setiap akhir pekan.
Alea begitu ceria, sesekali ia sedikit berlari, karna tak sabar ingin segera sampai ke tempat tujuan. Tentu Damar tidak membiarkannya, ia ingin berlama-lama menikmati momen ini bersama istri kecilnya.
Rumah masih sangat jarang disini, masing-masing berjarak 200 meter baru akan menemui rumah warga lain. Setiap tanah kosong selalu berisi tanaman yang sengaja ditanam, para warga menamam pohon singkong bahkan sayuran, itu akan bermanfaat buat mereka. Sehingga jalanan begitu gelap, karna memang minim cahaya. Hanya lampu dari teras rumah warga, penerang mereka saat ini.
"Mas, ayo dong cepetan." Alea merasa tidak sabar
"Iya sayang," sanggahnya, padahal ia sengaja berjalan pelan.
Sampai ketika terdengar suara derap langkah kaki beberapa orang, terdengar dari arah kebun singkong. Awalnya Damar tidak mengindahkan, ia tetap santai berjalan, hingga suara itu semakin jelas dan muncul di hadapan mereka.
Beberapa orang laki-laki dengan memakai sarung untuk penutup wajah mereka, mengepung Alea dan Damar saat ini. Damar dan Alea terbelalak, tidak menyangka sama sekali hal ini akan terjadi pada mereka didesa ini.
"Mas, siapa mereka?" Alea meraih lengan suaminya, seluruh badannya mulai gemetar ketakutan.
"Tenang sayang, mas akan atasi mereka," ujarnya menenangkan.
"Siapa kalian?" tanya Damar, ia memperhatikan mereka, satu dua tiga empat lima enam, ada enam orang yang mengepung mereka.
"Hei, kalian warga baru ya, kenalin gue penguasa di desa ini," ungkapnya seraya tersenyum menyeringai.
"Mau apa kalian, kami tidak mengenal kalian, pergi kalian!" Damar mulai merasa kesal, karna melihat keadaan istrinya yang ketakutan.
"Gue cuma ingin berkenalan dengan kalian, siniin dompet Lo," kata salah satu dari mereka, sembari mencoba menyentuh Alea.
"Bos, cantik juga bini' nya, kayanya seru kalo kita mainin sebentar," katanya lagi, menaik-turunkan alisnya.
"Mas, aku takut, ayo mas kita lari," Alea tidak bisa menahan airmata nya, ia benar-benar ketakutan.
"Kurang ajar Lo, bangsat," umpat Damar, memaki preman-preman dihadapan nya.
Di detik berikutnya Damar dengan gerakan kilat memutar tubuhnya kebelakang, melakukan tendangan kaki hingga tepat mendarat kewajah salah seorang preman, sontak preman itupun langsung tumbang.
Brugh!
Satu dua tiga empat lima, lima preman itupun terkapar tak berdaya dengan serangan Damar. Tapi tunggu, bukankah tadi ada enam preman? Kemana satunya? Damar memutar tubuhnya mencoba mencarinya, ia baru menyadari jika Alea tak lagi berada disampingnya. Ia terbelalak tak percaya, bagaimana bisa ia kehilangan istrinya?
"Alea, sayang, dimana kamu?" teriak Damar, tak percaya akan kebodohannya. Mengapa ia bisa kecolongan seperti ini.
Damar terus menyusuri kebun singkong itu, menajamkan pendengarannya, ia berjalan dan terus berjalan, tanpa terasa ia telah berkeliling selama satu jam, dan belum juga menemukan istrinya itu.
Damar mengacak rambutnya, merasa putus asa, ia mencoba menghubungi ponsel istrinya tapi tidak aktif.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Sementara ditempat lain, sebuah gubuk kecil, tepat ditengah kebun karet diujung desa. Berdiri tegap seorang lelaki, berawakan sedikit tambun, menatap tubuh gadis cantik didepannya, yang tengah pingsan tidak sadarkan diri. Ia tersenyum, berjongkok didekat sang gadis, memperhatikan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Wajah yang cantik, putih dan mulus sekali, pasti sangat nikmat dan akan menyenangkan," ucapnya seraya tersenyum menjijikkan.
Ya, dia adalah Alea, yang tengah diculik salah satu preman itu, ketika Damar masih fokus berkelahi.
Saat tangan kotor pria itu ingin menyentuh, Alea pun tersadar, sontak ia langsung berteriak meminta tolong, preman itu langsung membungkam mulutnya dan juga mengikat tangan nya, ia ingin segera melancarkan aksinya.
"Diamlah sayang, kita akan bersenang-senang," seringainya mencoba mendekati sang gadis.
Tangan lelaki itu mulai menyentuh Alea dari ujung kaki, hingga ke pa ha yang sedikit terbuka, Alea teeus menangis.
"Indah sekali, aku tak sabar lagi sayang," ucap lelaki itu parau, karna menahan hasrat yang kian membuncah.
Ia pun mulai membuka kaos dan ce lana yang ia kenakan, melemparnya asal, hingga menyisakan bo xer saja, lalu berjongkok kembali.
"Kita akan bersenang-senang sayang, percayalah," racaunya lagi, meraih dress putih yang dikenakan Alea.
"Jangan, kumohon. Jangan sentuh aku," ucapnya lirih.
Lelaki itu tidak memperdulikan tangisannya, ia terus mengge rayangi dan mulai ingin menyentuh bagian ba wah Alea dan tepat saat itu, pintu gubuk ditendang dari luar, terlihat Damar dan para warga tengah mendobrak masuk dengan paksa.
"Kurang ajar kau, berani sekali kau menyentuh istriku!" Damar langsung melayangkan tendangan ke milik preman itu, sang preman yang terkejut tidak dapat mengelak, dan langsung terjatuh menahan sakit di miliknya.
Para warga langsung meringkus preman itu, lalu membawanya ke balai desa untuk di tindak lanjuti.
Alea menangis, ia syok dan trauma, hampir saja hal yang paling buruk akan menimpah nya, jika saja suaminya tidak datang diwaktu yang tepat.
Damar berlari menghampirinya, membuka ikatan ditangan nya, memeluknya erat, lalu menciuminya bertubi-tubi, ia benar-benar merasa bersalah akan keadaan gadis yang paling dicintainya saat ini.
"Jangan sentuh aku, tolong ... jangan sentuh aku?" teriaknya ketakutan.
"Ini aku sayang, ini aku Damar, suamimu sayang," Damar menenangkan, tapi seolah Alea tidak mendengarnya, Alea terus memberontak dalam pelukan suaminya.
"Mas Damar, tolong aku mas, pria ini ingin menyentuhku, mas ... tolong aku, hiks," Alea terus meracau.
"Sayang, lihat aku, tatap aku Alea, ini aku suamimu!"
Lagi, Alea tetap tidak bergeming.
Damar melepaskan pelukannya, memperhatikan sekeliling, menengadahkan kepalanya, seraya menghembuskan nafasnya berat. Dress putih itu terlihat sangat berantakan, airmata sang gadis yang terus menerus mengalir, sangat menyakiti hatinya saat ini.
"Sayang, maafkan aku," ucapnya meraih pundak, mencoba merengkuhnya dalam dekapan.
"Jangan sentuh aku, pergi kau!" jerit Alea.
"ALEA, COBA LIHAT AKU, INI AKU ALEA, DAMAR!" bentak Damar, menekankan tiap kata, agar istrinya melihatnya.
Berhasil, Alea melihatnya, ia meraba wajah Damar, memastikan apakah itu benar suaminya.
Setelah yakin, Alea kembali menangis, ia memeluk suaminya erat, berharap perlindungan dari suaminya.
"Mas, aku takut, pria itu ingin menyentuhku, dia pria jahat mas, aku takut ... jangan tinggalkan aku mas, ku mohon!" isak Alea, membenamkan wajahnya kedada suaminya.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku, aku yang terlalu bodoh, tidak bisa menjagamu," Damar pun menangis, ia benar-benar menyesali keadaan mereka saat ini.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Meereka telah kembali kerumah sederhana, yang sengaja mereka pilih, untuk menikmati masa-masa indah berdua. Kini, Damar memutuskan untuk meninggalkan desa ini, desa yang sangat indah, tetapi telah memberikan kenangan paling pahit dalam hidup Alea, istri kesayangannya.