Senja menjingga bersama tenggelamnya matahari sore yang pernah menyengat dalam artian ke pergian. Sama seperti keikhlasan untuk artian cinta.
Khimar dari sosok gadis berusia 20 tahun berkibar oleh hembusan angin sore yang menusuk tulang relung sampai nyeri dalam saraf. Millati Fatimah Az-zaulfa putri dari Kyai Ma'ruf dan Bu Nyai Maryam. Gadis julukan Ning dalam pondok pesantren Roudhotut 'tholibin menatap kepergian cahaya yang menjingga berganti dengan gelapnya malam.
"Allahu akbar Allahu akbar."
Lantunan Adzan merdu menyihir gendang telinga Millati kerap di sebut dengan Ning Zulfa.
Deg, serrr
Jantung si gadis itu memompa lebih cepat dari biasanya, tak hanya sekali bahkan setiap lantunan Adzan beserta jawaban terus merombak ke dalam dada Ning Zulfa.
"Siapa pemilik suara itu?" Batin Ning Zulfa mengerinyit, rasanya baru pertama kali mendengar lantunan lebih merdu dari biasanya.
"Assalamu'alaikum Ning Zulfa." Ucap sosok seumuran dan sejenis itu memeluk Ning Zulfa dengan erat seolah tiada hari esok untuk bertemu. Beginilah kelakuan temannya, Ainun Nur Syabil.
"Wa'alaikumussalam Ai," Jawab Ning Zulfa tersenyum, ia dan Ainun kerap bertemu dan bersama.
"Sudah maghrib, ayo kita ke Masjid. Udah Adzan." Ingat Ainun dengan tersenyum, Zulfa mengangguk kemudian tangannya menarik Ainun untuk berjalan sejajar dengannya.
"Eh ay, itu suara siapa yang Adzan." Tanya Zulfa pelan.
"Ohh itu Ustadz baru, katanya sih pengajar dari desa yang kebetulan di boyong Pak Yai ke pesantren ini." Ungkap Ainun membuat Zulfa mengangguk paham.
Ainun tersadar ia menghentikan langkahnya dengan membulatkan mata sudah mirip dengan burung hantu. "Tunggu, Ning Zulfa jatuh cinta ya? sama Ustadz Hanif??" Tanya Ainun dengan muka berbinar.
"Eng-enggak." Ucap Zulfa menolak apa yang di katakan sahabatnya ini. Ngawur sekali kalau bicara, padahal ia hanya bertanya.
"Ohh namanya Hanif." Batin Zulfa tersenyum simpul.
Zulfa dan Ainun sudah kenal dekat sejak kecil, Ainun yang menjadi Ustadzah sekaligus santri ndalem membuat kebersamaan keduanya menjadi erat dan terikat.
Pak Yai dan Bu Yai juga menganggap gadis itu sebagai saudara putrinya, tanpa membedakan. Zulfa tak masalah dengan itu hanya saja memang usianya dengan Ainun hanya lebih tua Ainun beberapa bulan.
*Seminggu berlalu, hari dimana pertemuan dirinya bersama Ustadz yang benar-benar menyihir lewat lantunan kini berhasil membuat degupan jantung tak menentu dan menyihir Zulfa lewat rupawan.
"Ada apa Ning." Ucap Ustadz Hanif yang melihat Ning Zulfa yang menunduk dalam, ada senyum tipis yang tak di mengerti oleh Hanif.
"Kata Abi, Kamu di suruh mengisi lantunan Ayat suci pada acara kajian di tetangga pesantren besok." Ucap Zulfa menunduk, sekali mendongak degupan jantungnya semakin kencang.
"Baik, Ning. Terimakasih." Ucapan Hanif membuat Zulfa tersenyum senang bukan main.
Cinta memang begitu hal sesederhana sekalipun bisa beranggapan luar biasa, seolah kupu-kupu berterbangan diantara bunga yang bermekaran dalam tubuh Ning Zulfa.
"Assalamu'alaikum." Ucap Zulfa kemudian berlari dengan terburu-buru. Sisi lain Hanif yang hanya menatap heran.
"Wa'alaikumussalam." Jawabnya, ia akui bahwa Ning pondok di Pesantren ini memiliki akhlak yang beradab dan tentu saja paras yang cantik.
Sama seperti yang di kata kebanyakan santri santri dan putra-putra para pediri pesantren yang rela mengantre untuk melamar sang Ning pondok. Selain cantik Ning Zulfa juga Hafidzah, lulusan terbaik dari kairo.
****
"MasyaAllah Ning, kamu lagi kenapa Ning, dari tadi cuma senyam senyum. Nanti kalau Gus Faridz lihat dia gak jadi melamar." Ucap Ainun geleng-geleng.
Zulfa menatap datar Ainun, Gus Faridz? tampan dan soleh idaman Ning pondok lainnya, bisa jadi di gebrek Zulfa kalau berani menyukai Gus itu. Tapi Zulfa juga tidak mencintai. Sebagaimana yang namanya perasaan tidak bisa di paksakan.
"Enggak Ai, aku gak nerima lamaran Gus Faridz." Ucap Zulfa enteng sukses membuat Ainun membelalakkan mata.
Sahabatnya ini benar-benar gak genep atau gimana? Ainun hanya menggeleng pelan. Ning Zulfa ini menunggu apa lagi, sampai pria idaman bernama Gus Faridz ia tolak. Tepuk tangan buat Zulfa.
"Kamu mau nunggu apa lagi sih Ning." Tanya Ainun menatap Ning Zulfa dengan heran, pria mana yang bisa merobohkan dindingnya dari pria yang berusaha keras membuka hatinya.
"Sebenarnya aku menunggu Ustadz Hanif." Ainun tertawa kencang, tapi Ning Zulfa malah mengerinyit heran dengan tingkah Ainun.
"Kenapa?"
"Dari sekian banyak Gus dan Kiyai kamu memilih Ustadz Tengil itu?" Tanya Ainun membuat Zulfa hanya mengangguk polos dengan tatapan lugunya.
Ainun tak menyangka kalau Ning se cantik Zulfa akan jatuh cinta pada Ustadz tengil atau Hanif yang tergolong kalangan biasa, Ainun hanya mangguk-mangguk, ia sebenarnya tidak menyangka kalau Zulfa jujur dengannya.
Tapi Ainun membenci Ustadz baru itu, sebagai Ustadzah di kelas Madrasah Aliyah. Ainun selalu dan kerap bertemu dengan Ustadz itu. Tetapi hanya ada kata 'tidak suka' karena Ustadz itu kerap berbicara bahakan menjahili Ainun, sedangkan sebutan 'Ustadz tengil' terlintas di kepala Ainun.
Seperti hari-hari biasa, Malam Jum'at adalah harinya santri membaca sholawatan dan juga Yasiin. Sudah menjadi tradisi bagi pondok sini, kali ini sholawatan di pimpin oleh Ustadz Hanif.
Lagi-lagi suara itu mampu menyihir perasaan Ning Zulfa, yang diam-diam memendam perasaan. Hanya Ainun yang mengetahui semua perasaannya. Di samping Zulfa ada Ainun yang menyenggol lengan gadis berkemeja putih itu.
Dengan senyum menggoda.
"Calon imam lagi sholawat itu Ning, gak mau rekam??" Tanya Ainun membuat merona dalam pipi putihnya, puas sudah Ainun menggoda gadis itu.
Saat akhir dari acara membuat Ning Zulfa bertemu dengan Ustadz Hanif. Senyum yang di berikan Hanif membuat Zulfa mabuk bukan kepalang, ah dia semacam di beri harapan, di sampingnya ada Ainun yang berbisik menggoda ke telinga Zulfa.
ehem ehem
"Ustadz suaranya bagus." Ucap Zulfa.
"Syukron Ning." Ucap Hanif tatapan nya beralih menatap ke arah Ainun yang tersenyum dengan Ning Zulfa. Sedangkan Hanif menarik sudut bibirnya melengkung, dan tidak di sadari keduanya.
***
Dua bulan berlalu, Zulfa tersenyum menatap cermin dengan setelan gamis merah maroon dengan jilbab senada. Ainun menggeleng pelan,
"Udah cantik Ning." Ucap Ainun.
Kemarin ada kabar jika Hanif akan melamar putri Pak Yai, Ainun yang mendengar itu tak henti-hentinya menggoda Zulfa yang sudah ia anggap sebagai adik kandung. Kepergian kedua orang tuanya membawa dirinya ke pesantren ini.
Kiyai Ma'ruf dan Maryam menganggap Ainun sudah seperti anak kandungnya, Ainun akrab dengan Zahra yang sudah menganggap saudara kandungnya.
Dan di sinilah Ainun Zulfa Kiyai Ma'ruf dan Bu Yai Maryam. Ada orang tua Hanif yang berada di hadapan Kiyai dengan menunduk. Abi Hasan memulai pembicaraan.
"Kedatangan kami ke sini untuk mengantarkan putra kami yang mempunyai hajat untuk melamar salah satu putri pak yai, Ainun."
Deg.
Kedua gadis kakak beradik itu membulatkan mata sempurna, bola mata milik Zulfa memanas seolah akan ada air terjun yang akan menerjang aliran deras lainnya, Begitu pun dengan Ainun yang sangat tidak enak dengan keadaan Zulfa.
Ia tahu kalau Zulfa mencintai Hanif tapi kenapa sekarang dirinya yang di lamar? Lain dengn gadis yang berharap itu terus meremas gamis, ia mendongak sekaligus mengerjab.
"Untuk apa kamu mencintai saya!" Ketus Ainun, biarlah calon mertuanya ilfeel dengan tingkahnya. Asalkan saudara sekaligus sahabatnya ini tidak terluka karenanya. Ia merasa menghianati orang yang mempercayakannya sendiri.
Ainun heran,
"Karena saya mencintai kamu." Ucap Hanif langsung ke inti.
"Kenapa kamu bisa...kamu tahu? saya benci sama kamu." Ucap ainun dalam hati ia menunduk,
Ia merasakan koyak hati Zulfa karena orang yang di cinta memilihnya.
"Untuk apa mencintai saya."
"Untuk berdampingan menuju jannah." Simpel namun membuat hati Zulfa menclos seketika, ia merasa terlalu percaya diri di cintai oleh Hanif..Tapi kenayataannya??
Kiyai ma'ruf menengahi adegan lamaran yang semakin panas. "Nduk mereka datang dengan cara baik, kamu juga harus mengatakan dengan baik jangan terbawa arus api." Bisik Kiyai membuat Ainun melirik ke Arah Zulfa yang menunduk.
"Jadi gimana nduk, kamu mau menjawab apa?" Tanya Kiyai Ma'ruf pada Ainun.
"Saya nurut Pak Yai."
Kalimat itu membuat kiyai Ma'ruf mengangguk paham, ia tersenyum menatap semua yang hadir di sana. "Saya menerima lamaran Nak Hanif, dan maaf untuk kelancangan putri kami." Ucap Kiyai Tersenyum tipis.
"Alhamdulillah, tidak apa Pak Yai." Ucap Hanif dan tersenyum lebar. Sebenarnya sedari dulu ia jatuh cinta dengan Ustadzah bernama Ainun. Namun untuk mendapat perhatiannya Ainun membuat Hanif harus bertingkah tengil.
"Nduk Zulfa, kamu bantu Mbakmu merias saat hari H yo." Ucap Bu Yai.
"Iya Ummi." Jawab Zulfa.
****
Seminggu sudah berlalu, Gadis bernama zulfa sudah cukup untuk menyendiri. Tidak mau bertemu dengan siapapun hanya untuk menata hati. Demi Allah ia ikhlas, walau sempat tak terima kini ia sadar bahwa semua yang di pinta belum tentu takdir nyata.
Hari ini, hari dimana Zulfa harus benar-benar melepas nama Hanif dalam do'a ia juga harus bahagia melihat kakak angkatnya akan menikah.
Di depan pintu ukiran kayu jati itu berdiri sosok berkebaya putih, ia berlari berlutut di hadapan Zulfa menagis dengan derai air mata.
"Maafkan aku." Ainun terisak pedih, Zulfa tidak menangis dia mengelus punggung Ainun
"Kamu jangan gitu, kan udah mau nikah. Gak baik nangis." Ucap Zulfa memeluk Ainun. Keduanya terduduk di lantai putih dengan tatapan sayu. dan air mata yang menggenag di pelupuk.
"Kamu sudah berikan apapun ke Aku Ning, kamu ikhlaskan kasih sayang Umi dan Abi mu ke aku. Kamu ikhlas kan aku jadi anak dari Abi dan Ummi mu.. Dan sekarang ikhlas kamu ternodai oleh cinta kamu."
"Maaf."
Ungkap Ainun tersedu. Zulfa tersentil dengan itu. Memang benar semua kehidupannya terbagi saat hadirnya Ainun.
*Ikhlas bukan untuk kembali mengenang, bukan menagatakan apapun yang di ikhlaskan.*
Pun demikian dengan Zulfa yang sudah ikhlas, sehingga tidak mengungkit kebahagiaannya yang terusik, itu lah kekuatan ikhlas sejati dalam menerima. Meski berat tapi jika ikhlas lebih mendominasi adalah suatu kesungguhan diri bahwa manusia itu telah berhasil menguasai diri.
Zulfa menatap manik hitam milik Ainun, senyum terbaik ia pajang di wajah ayunya.
"Bagaimanapun perasaan, takdir tetap berkuasa. Aku ikhlas karena Allah, setidaknya aku pernah merasa mencintai seseorang. Dan Allah mungkin mengatakan padaku bahwa takdir itu ada."
Zulfa tersenyum melihat Ainun yang mengangguk. Kini Zulfa berjanji akan membuka lembaran baru. Tidak memaksa kehendak yang sudah di gariskan takdir. Mungkin dengan cara membuka pintu hati untuk orang baru.
~END~
NB: Syukron buat yg baca (kalo ada sih hehe)
Gak tau mungkin juga gak nge-feel Dan Typo wkek , tapi gak papa lah. Terlintas gitu aja hehe. Kekuatan ikhlas ya.
Jazakallah kherr, Syukron pokoknya😍