"Besok sore kita berangkat ke Bandung, kamu harus nurut sama ibu. Ini semua demi kebaikanmu. Kamu nggak mau kan kalau keluarga Adi terus-terusan menghina keluarga kita?"
Aku hanya bisa mengangguk tanpa menjawab perintah ibu. Entah aku tak bisa mendefinisikan perasaanku kala itu. Pergi dari kota ini, menginggalkan seseorang yang sudah menguasai seluruh ruang hatiku. Bisakah aku?
Sore hari itupun tiba, perpisahan juga yang akhirnya terjadi. Sepanjang perjalanan Temanggung-Bandung hanya kulalui dengan deraian air mata. Adi Purnomo, pria yang sedari kecil selalu membersamaiku. Cinta pertamaku dan katanya aku juga cinta pertamanya. Aku yakin aku takkan bisa melupakannya. Terakhir bertemu, dia juga berucap takkan melupakanku.
Beginilah nasibku, gadis yang terlahir dari rahim istri kedua. Aku dan kedua kakakku sudah kenyang dengan caci maki para tetangga. Sebegitu hinakah ibuku yang seorang istri kedua?
Bahkan bukan hanya itu, keterbatasan ekonomi pula semakin menambah penderitaan kami. kecewa itu sudah pasti, kenapa ibu begitu mencintai bapakku yang kala itu berstatus suami orang. Sudahlah suami orang, tidak punya kekayaan pula. Haah ... terkadang cinta memang tidak mengenal logika. Dan ibu harus rela banting tulang pergi pulang dari luar kota hanya untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Astaga, kehidupan macam apa ini.
Bahkan tidak cukup itu saja kesedihanku. Kisah cintaku dengan anak tetanggaku menjadi episode terbaru kisah hidupku. Cinta memang tak pandang bulu. Kisah cinta yang terhalang restu orang tua. Betapa bencinya kedua orang tua mas Adi padaku dan keluargaku. Hingga malam itu kedatangan bapaknya mas Adi ke rumahku dengan membawa sebilah parang, beliau mengancam ibuku agar menghalangiku menjalin hubungan dengan anaknya. Itulah alasan ibu membawaku ke kota Bandung ke rumah majikannya untuk mempekerjakan aku membantu majikan perempuan ibuku yang berjualan di kantin asrama TNI.
"Ingat ya Wid, di rumah bu Nurul kamu harus rajin bekerja dan menjaga sopan santun. Kamu tenang aja bu Nurul dan pak Andi orangnya baik kok" kata ibu.
"Njih bu, sendiko dawuh."
Benar kata ibu bahwa kedua majikan kami adalah orang baik. Hingga 1 tahun kulalui dengan senang hati. Walau semua itu tetap tak bisa menutupi derita hatiku kala mengingat kisah cintaku.
Kabar pernikahan saudara sepupuku kala itu menjadi penyebab kepulanganku dan ibuku ke kampung halamanku. Dan tak pernah kusangka kepulanganku sudah di tunggu mas Adi di depan rumahku. Seketika mas Adi bersimpuh di depan ibu, mencium kaki ibuku sambil berkata,
"Bu, tolong jangan pisahkan saya dan Widi."
Sambil berurai air mata dia memohon pada ibuku.
"Aku juga sejujurnya tidak tega memisahkan kalian, tapi kamu tahu kan bagaimana orang tuamu?" Kata ibu.
"saya janji bu, saya akan bicara baik-baik pada kedua orang tua saya agar mau melamar Widi." Jawab mas Adi.
Sungguh hari itu menjadi hari yang mengharukan. Dan keesokan paginya mas Adi datang bersama ibu dan pakdenya untuk melamarku, karena bapaknya tidak sudi melamarkan aku untuk anaknya.
Dan selepas pesta pernikahan saudara sepupuku, pakde dan ibu mas Adi datang lagi meminta surat-surat untuk kelengkapan persyaratan pernikahan kami. Terhitung 11 hari setelah kedatangan pertama keluarga mas Adi ke rumahku, akhirnya kami menikah. Ya, hanya ijab kabul dan selamatan sederhana. Apapun itu aku sudah bahagia, suka-duka, tangis-tawa, dan sehat maupun sakit akan kulalui bersama suamiku tercinta.
Rumah tanggaku bersama mas Adi kami lewati dengan kebahagiaan. Hingga lahirlah sepasang buah hati yang berbeda 8 tahun. Anak lelaki tampanku dan anak perempuanku yang cantik jelita menambah kebahagiaan kami. Mas Adi adalah sosok suami yang bertanggung jawab, baik hati, suka menolong pada sesama, dan tidak pernah sekalipun marah pada istri maupun anak-anaknya. Kami hidup bahagia, pekerjaannya sebagai buruh pengrajin emas dengan penghasilan tidak pasti sama sekali tidak mengurangi kebahagiaan kami. Bagi kami harta bukanlah segalanya asal ada cinta dan kasih sayang itu sudah cukup, karena rejeki sudah ada yang mengatur. Cukup kami berempat ditambah kasih sayang dari keluargaku, itu sudah membuat hidupku sempurna walau keluarga mas Adi mengasingkan kami.
Hingga 21 tahun usia pernikahan kami. Dan 21 tahun itu pula kebersamaan kami harus berakhir, mas Adi meninggalkanku dan anak-anak setelah sakit selama 1 minggu. Mas Adi berpulang ke rahmatullah di usia 42 tahun. Cintanya, kebaikannya senantiasa membersamaiku walau raganya tak bisa kusentuh lagi. Sejujurnya aku ingin tetap bersamanya hingga usia tua, tapi ternyata Tuhan lebih menyayanginya. Walau hati ini hancur aku harus mengikhlaskannya.
Mas Adi, tunggu aku di pintu surga ...