Malam yang terasa hampa dan menyedihkan. Kupeluk lutut erat dan menenggelamkan wajah dalam pelukan itu. Dapat dibayangkan betapa menyedihkannya diri ini. Terbawa hanyut arus malam yang menyayat hati tentang kerinduanku kepada Wiana.
Semua bersorak sorai saling meneguhkan hati pada acara perpisahan sekolah waktu itu. Suara tepukan tangan terdengar gaduh dengan majas-majas yang masih aku kenang. Tak lupa, pelukan itu yang menghangatkan. Kali ini aku memang benar-benar rindu.
“Terlihat murung,” Wiana membangunkan lamunanku. Balasku hanya sebuah senyuman ramah pada temanku itu, tak ingin aku perlihatkan kebingungan yang memalukan ini.
“Apa rencana mu setelah lulus dari sekolah?”
“Aku akan pergi ke Jakarta, ikut kerja bersama tetanggaku."
“Oh ya? Selamat ya, mudah-mudahan kamu menjadi orang sukses,” gumam ku padanya.
Wiana hanya tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat sedikit berbeda, senyuman dengan kedua ujung bibir kanan terangkat.
Aku bawa satu lembar ijazah itu ke hadapan Ibu dan Bapakku. Dan mereka pun turut senang dan mengucapkan selamat padaku. Ya! berbagai ucapan selamat memang tengah sampai ke telingaku, namun kali ini aku benar-benar bingung.
Satu pekan di dalam kandang memang terasa bosan. Hanya mencuci baju, piring dan membantu Ibu di sawah rasanya seperti manusia menyerah pada nasib. Padahal aku memiliki satu lembar Ijazah. Setelah aku merapihkan rumah, tiba-tiba saja telepon genggamku berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Susi teman sekolahku. Lewat pesan singkatnya itu aku mendapat tawaran kerja menjadi seorang admin di salah satu home industry di Jakarta. Aku mengiyakan seketika.
Tak memerlukan waktu lama, aku pun langsung berangkat ke Jakarta. Baru aku tau Jakarta itu seperti apa, ramai dan padatnya memang benar seperti yang sering ku tengok di televisi.
Butuh waktu lama untuk mencari alamat disana, sungguh rasa lelah hampir saja aku terlantar dan bermukim di emperan. Hari sudah mulai gelap. Suasana Jakarta yang mengerikan mulai terlihat. Namun dengan perjuanganku, akhirnya aku temukan keberadaan Susi. Ku tanyakan kabar sebagai kalimat pembuka padanya. Satu malam aku bermukim di tempat tinggalnya. Hanya sekedar numpang tidur dan makan.
Esok harinya aku diantarkan Susi ke home industy tersebut. Tak pernah ku banyangkan aku ternyata bekerja dengan orang Batak. Satu bulan berjalan aku memang diperlakukan seperti budak. Seperti seorang pembantu rumah tangga.
“Tuhan, berikanlah keadilan padaku,” kalimat yang selalu aku panjatkan selepas shalat dengan linangan air mata.
Waktu terus berjalan, dering teleponku berbunyi dan sebuah pesan singkat telah masuk.
“Apa kabar Aluna?” Sepertinya kalimat-kalimat itu sudah menjadi hal yang lumrah sebagai kalimat pembuka.
“Kabar baik Win, kamu apa kabar?” Tanyaku kembali padanya. Aku tau dia sama-sama merantau ke Jakarta sepertiku. Cerita terakhir darinya hanya senyuman kala itu.
“Ku dengar kamu sedang di Jakarta?”
“Iya nih, aku kerja di Jakarta sama sepertimu.”
“Kerja apa?” Tanyanya lebih serius dan kali ini aku benar-benar bingung harus menjawab pesan singkat itu. Gengsi bagiku untuk menyebutkan jenis pekerjaanku yang entah sebagai apa.
“Kerja sebagai admin.”
“Boleh kita bertemu besok, Aluna?” Pintanya
Tak butuh waktu lama, aku pun menemuinya.
Wiana terlihat lunyai dan sedikit lebih kurus. Entah apa yang terjadi padanya. Dia pun terlihat lapar dan segera aku pesankan makanan untuknya agar dia memiliki energi kembali.
“Apa kamu baik-baik saja?”
“Aku disini seperti seorang pengemis, menunggu yang tak pasti. Siang, malam tangan dan kakiku ini bekerja tapi tak ku dapat upah sepeserpun.”
“Bawa aku keluar dari sini Aluna, aku ingin ikut kerja denganmu,” pintanya memohon.
Aku diam tak bergeming. Wiana terus memohon padaku agar membawanya pergi dari rumah terkutuk itu. Wajah dan mata yang tanpa dosa itu memelas kasih padaku. Ku rasakan gesekan tangannya pun sudah terasa kasar. Selama ini dia hidup terlunta-lunta di Jakarta. Pikirku masih banyak yang tak lebih beruntung dariku. Dengan wajah pasrah aku mengiyakan Wiana untuk ikut denganku.
Wiana mengajakku ke tempat bermukimnya selama ini. Disana aku lihat wanita-wanita tua dan muda sedang melarung sepi. Tatapannya kosong, entah apa yang mereka pikirkan. Orang asing adalah tamu yang mereka harapkan mampu membawanya dari rumah itu.
“Kamu mau kemana?” Tanya rekannya.
“Maafkan aku, aku berjanji jika aku sudah sukses, aku akan kembali dan membawamu ikut bersamaku.” Begitulah gumamnya waktu itu.
Air mata terjun melewati pipiku, tak kuasa jika Wiana tau pekerjaanku tak seenak yang dia bayangkan. Setelah aku ajak Wiana tinggal bersamaku, dia terlihat senang, berharap nasibnya bisa berubah. Aku membiarkannya tidur dengan damai di kasurku. Tak tega jika harus membangunkannya.
“Aku akan pergi menjajak barang-barang ini ke customer, kamu tunggu saja disini. Kerjakanlah apa yang mampu kamu kerjakan.” Pesanku pada Wiana waktu itu. Dia mengangguk dan melambaikan tangan padaku ketika aku hendak pergi.
Sore hari aku telah selesai bekerja. Wiana telihat diam dengan seribu bahasa. Batuk yang semakin menjadi-jadi tiada henti.
“Kamu sakit?” Wiana menggelengkan kepalanya dengan senyuman ramah. Aku pikir dia sudah mulai tau pekerjaanku yang serabutan hendaknya seorang asisten rumah tangga. Mungkinkah wanita batak itu menyuruhnya terlalu kasar? Berbagai pertanyaan menyelimuti pikiranku.
Aaah ......! Seharusnya aku tak membawa Wiana ke rumah yang sama-sama terkutuk bagi kami.
Di hari kedua dan hari-hari berikutnya Wiana masih tetap diam. Seperti ada sesuatu yang memborgol mulutnya.
“Sepertinya lebih baik aku pulang saja.,” tiba-tiba dia membuka suara setelah sekian lama membungkam.
“Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”
“Mungkin Jakarta tak cocok bagiku. Aku hanya diperbudak olehnya dan aku merasa lelah, rasanya aku ingin mati saja dan istirahat dengan tenang.”
“Kamu sudah tau sekarang kan?”
“Aku merantau kesini bukan untuk menjadi budak. Aku kira ijazah SMA masih terbilang cukup untuk aku memiliki pekerjaan lebih baik dari seorang budak.” Ucapan Wiana membuat aku tertegun dan sadar. Malu dan rasa bersalahku padanya terus menyeruak dalam hati. Tak pernah aku berpikir tentang nikmatnya bekerja, hanya uang yang aku cari. Wiana akhirnya pulang ke kampung halaman dan membiarkan aku sendiri disini.
Satu bulan pun berlalu, tak tau mengapa ucapannya itu meracuni pikiranku. Isak tangis yang dia bekal ke kampung halamannya membuat aku terpukul karena telah membawanya ke dalam jurang yang terjal.
“Maafkan aku Wiana, maafkan aku.” Kalimat ini terus aku ucapkan dalam hati dan tak aku keluarkan dalam mulutku waktu itu. Satu bulan berlalu, tak ku dengar kabar darinya. Wiana seperti hanyut terbawa ombak. Aku tanyakan kabar lewat pesan singkat tak pernah dia balas. Apakah dia marah padaku? Aku putuskan untuk pergi dari rumah terkutuk itu dan tak akan kembali. Rasanya rindu ini sudah ingin aku luahkan, segera ku ingin memeluk dirinya dan memberikan oleh-oleh dari Jakarta untukknya. Aku singgahi rumahnya, hanya terdapat nenek tua dan seorang adik laki-lakinya.
“Saya ingin bertemu dengan Wiana, Nek.”
“Kamu siapa?”
“Saya Aluna, temannya Wiana,” Nenek itu diam sesaat.
“Mari saya antar,” Nenek itu menggiringku ke sebuah pemakaman. Dalam batu nisan itu tertulis nama Wiana.
“Ini dia Wiana, sudah lama paru-parunya terasa sakit dan tubuhnya terlalu lelah,” jawabnya tegar.
Betapa menyesalnya aku tak mengetahui kondisinya waktu itu. Akhirnya dia membenarkan ucapannya bahwa dia ingin mati saja dan beristirahat.