Seorang gadis bernama Zara, usianya 18 tahun. Dan kini menginjak kelas 3 SMA. Diantara semua gadis seusianya, mungkin Zara adalah gadis paling tidak beruntung. Karena Zara tumbuh di lingkungan keluarga yang tidak harmonis.
Ayahnya adalah sosok pria yang suka berjudi dan minum-minuman keras. Lalu ibunya, tepatnya ibu tirinya, dia sosok wanita yang sangat jahat. Karena ibu tirinya tidak pernah memberi Zara kasih sayang sejak ia masih kecil. Ibu tirinya sangat membenci Zara, baginya Zara hanyalah beban untuk hidupnya.
Karena nafkah yang diberikan ayahnya kepada ibu tirinya, sangat tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka semua. Oleh karena itu ibu tirinya bekerja di salon untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.
Zara memiliki saudara tiri laki-laki, yang seusia dengannya. Dia adalah Rio. Rio sama jahatnya dengan ibunya. Rio seringkali memperlakukan Zara seperti jongos saat di sekolah. Hal itu juga yang membuat Zara sering dibuli oleh teman-temannya yang lain di sekolah.
***
~Di sekolah~
Zara yang baru datang, tiba-tiba terjatuh karena sebuah bola basket menghantam punggungnya. Semua siswa yang melihat kejadian itu bukannya menolong malah menertawakan Zara.
Seorang siswa mengambil bola basket yang menghantam Zara tadi.
"Ups sory, tanganku kepleset! kamu juga kalau jalan sambil liat sekitar donk. Jangan merhatiin jalan mulu." ujar Randi. Siswa kelas 3 yang paling disegani oleh semua siswa karena hobi berkelahinya.
Zara berusaha berdiri, tanpa berbicara apapun. Ini sudah yang kesekian kalinya Randi membuat onar padanya. Tidak hanya di sekolah, saat Randi bermain ke rumah Rio pun, Randi sering mengganggu dan menjahilinya.
"Heh cupu! bawain tas gua sekalian ke kelas. Gua masih nanggung main basket nih. Lagi seru-serunya." seru Rio sambil melempar tasnya ke arah Zara.
Rio dan Randi memang berteman dekat sejak SMP. Hobi merekapun sama-sama suka berkelahi.
Zara pun pergi sambil membawa tasnya Rio.
"Haha... ko masih ada sih gadis berpenampilan cupu kaya dia. Disini memang bukan kota besar tapi di zaman serba canggih kaya gini, kita juga kan bisa berpenampilan gaul ngikut gaya orang kota besar, ya gak?!" ujar para siswi yang ada di lapang sekolah.
"Iya, coba lihat gaya rambutnya masih diikat 2 seperti itu. Cara berseragamnya pun gak ada gaul-gaulnya."
"Kaya kita donk selalu update, Haha!" para siswi itu saling tos tangan.
Dan pandangan mereka teralihkan saat kedatangan siswi paling cantik dan terkaya disekolah. Yaitu Susan.
"Eh Susan tuh!" bisik salah satu gadis-gadis penggosip tadi.
"Wah! mataku langsung silau guys."
Susan yang sifatnya lumayan angkuh, berjalan ke arah lapang tanpa menyapa para siswi yang memperhatikannya dari dekat.
"Rio!" panggil Susan.
Rio yang mendengar suara Susan memanggilnya, reflek menoleh. Rio tersenyum dan segera berjalan menghampiri Susan.
"Hai beb! Kenapa baru datang?" tanya Rio.
"Tadi aku bangun kesiangan. Kita masuk kelas yuk!" ajak Susan.
"Kita jangan masuk dulu deh, mending kita ke kantin cari sarapan dulu. Aku tadi gak sempat sarapan dulu beb." ujar Rio.
"Gitu, ya udah kita kantin. Aku juga kebetulan belum sempat sarapan."
"Tapi beb tasku ada di kelas. Dompetku ada di dalam tas. Gimana donk?" tanya Rio pura-pura kebingungan.
"Oh soal itu tenang aja, aku yang bayar." jawab Susan.
"Beneran! ok deh beb. Bentar aku pamit teman-teman dulu ya."
Susan mengangguk.
"Bro sory gua cabut duluan! Ran lo mau ikut ke kantin?" tanya Rio.
"Gak deh, gua udah sarapan." jawab Randi.
Rio dan Susan pun beranjak pergi ke kantin. Rio memang mempunyai wajah yang tampan,
***
Saat jam sekolah usai Zara mengerjakan piket kelas seorang diri. Karena jadwal piketnya satu kelompok bersama Rio dan teman-teman dekatnya. Hal itu sebenarnya sudah biasa terjadi untuk Zara. Oleh karena itu Zara tidak pernah melawan ataupun protes jika saat jadwal piketnya tiba, dia harus mengerjakannya seorang diri.
Zara tipe gadis yang pendiam dan lemah. Apapun yang di perintahkan oleh Rio, Zara selalu menurutinya. Zara tidak berani melawan Rio. Itu sebabnya Zara sering dibuli oleh Rio dan para siswa lainnya. Zara juga tidak mempunyai teman karena siapapun tahu, jika berteman dengan Zara yang ada mereka pasti akan bernasib sama dengan Zara.
Tetapi ada satu siswa yang suka memperhatikan Zara dari jauh. Dia adalah Putra. Teman sepermainan Zara saat kecil, karena mereka tinggal di satu lingkungan yang sama. Saat kecil Zara dan Putra sangat dekat, tapi setelah beranjak remaja Zara menjauhi Putra. Putra tidak tahu apa alasan Zara menjauhinya hingga kini.
Sebenarnya alasan Zara hanya satu, dia tidak ingin Putra ikut dibuli di sekolah hanya karena Putra berteman dekat dengan Zara. Oleh karena itu Zara lebih baik menjauhi Putra. Dia tidak peduli dengan apa yang dipikirkan Putra tentang sikapnya yang berubah sekarang.
Putra yang saat itu kebetulan ada kegiatan ekskul, melihat Zara yang sedang membersihkan kelas seorang diri. Putra ingin membantunya, tapi pasti Zara hanya akan mengusirnya dari kelas. Putra pun mengurungkan niatnya dan segera kembali ke klub.
***
Zara yang sudah selesai membersihkan kelas, bergegas untuk pulang kerumah. Ibu tirinya pasti akan marah jika Zara pulang telat tanpa alasan. Jika dia mengatakan keterlambatannya karena Rio dan teman-teman lainnya tidak ikut piket kelas, Rio pasti akan semakin membulinya di sekolah.
Zara berjalan kaki dari sekolah menuju halte bis. Tapi diluar dugaan Zara mengalami kejadian buruk. Ada sebuah mobil yang melaju kencang, saat Zara hendak menyebrang jalan. Zara yang tidak sempat menghindar akhirnya tertabrak mobil itu.
Putra yang kebetulan sedang mengikuti Zara dari belakang, sangat terkejut dan segera menghampiri Zara yang sudah tidak sadarkan diri dalam keadaan terluka parah.
"Zara!!" teriak Putra merasa sangat cemas.
Orang yang menabrak Zara itu keluar dari mobil, ia terkejut saat melihat Zara. Putra yang melihat si penabrak pun sangat terkejut karena wajahnya sangat mirip dengan Zara.
"Tolong cepat bawa dia ke dalam mobilku, aku akan membawanya ke rumah sakit terdekat." mohon Si penabrak sangat cemas.
Tanpa berpikir lagi Putra segera membawa Zara ke dalam mobil si penabrak itu. Pikiran Putra sedang kacau saat ini. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Dia ingin bertanya pada si penabrak itu tapi saat ini dia lebih ingin melihat Zara cepat dibawa kerumah sakit.
***
Sesampainya dirumah sakit Zara langsung diberi tindakan di ruang operasi karena keadaannya yang cukup parah.
Putra yang menunggu di depan ruang operasi, merasa cemas begitupun si penabrak.
"Zara... kenapa aku harus menemukanmu dalam keadaan seperti ini?" gumam si penabrak sambil menangis.
Putra yang mendengar itu terkejut.
"Kamu... sebenarnya siapa? tadi kamu menyebut nama Zara? itu berarti kamu mengenal Zara." tanya Putra kemudian.
"Iya... aku saudara kembarnya Zara. Namaku Zora." Jawab Zora, yang membuat Putra tertegun.
"Apa? Zara mempunyai saudara kembar?"
"Ya...Aku dan Zara dipisahkan sejak bayi. Karena orang tua kami bercerai. Aku dibawa ibuku dan Zara dibawa ayahku. Aku juga baru-baru ini mengetahuinya dari ibuku. Saat aku tahu, aku langsung mencari informasi tentang keberadaan Zara. Tujuanku ada di daerah ini memang untuk mencari Zara. Tapi aku tidak menyangka akan bertemu dengan Zara dalam keadaan seperti ini."
"Apa Zara juga tahu jika dia memiliki saudara kembar?" tanya Putra lagi.
"Entahlah, aku harap dia juga tahu. Ngomong-ngomong kamu siapanya Zara?"
"Aku? aku Putra, teman satu lingkungan dirumahnya. Saat kecil kami berteman dekat."
"Memang sekarang tidak?"
Putra menggeleng, "Sekarang dia menjauhiku."
"Kenapa?"
"Entahlah, mungkin aku pernah buat salah. Tapi aku tidak tahu apa kesalahanku."
"Aku ingin tahu cerita saat Zara masih kecil, kamu mau kan menceritakan sedikit cerita tentang Zara?"
Putra berpikir sejenak, lalu kemudian mengangguk dan mulai menceritakan tentang Zara saat Masih kecil, tentang keadaan keluarga Zara hingga tentang Zara yang kini sering dibuli oleh Saudara tiri dan teman-teman di sekolahnya.
Zora sangat miris mendengar cerita itu, air mata Zora menetes kembali. Dia tidak menyangka jika saudara kembarnya itu mengalami kehidupan yang sangat pahit. Tidak seperti dirinya yang hidup serba berkecukupan dan memiliki ayah tiri yang sangat baik padanya.
Zora menghapus air matanya saat dokter keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana operasinya Dok?" tanya Zora.
"Operasi berjalan dengan lancar, walaupun pasien sempat mengalami kritis karena pendarahan. Kami membutuhkan donor darah untuk pasien."
"Ambil darahku saja dok, saya saudara kembarnya." ujar Zora semangat.
"Baiklah, kalo begitu segera ikut saya ke ruang lab."
"Baik dok."
***
Beberapa jam setelah operasi Zara dipindahkan ke ruang rawat selanjutnya. Zara dikabarkan akan mengalami koma dan dokter belum bisa memprediksi kapan Zara akan sadar dari komanya. Semua tergantung yang maha kuasa. Kecelakaan itu mengakibatkan saraf diotak Zara tidak bekerja.
Zora benar-benar sangat menyesal atas kejadian itu. Dia menjadi benci pada dirinya sendiri.
"Sepertinya aku harus segera memberitahu ayahnya Zara tentang ini." ujar Putra.
Zora berpikir sejenak, tiba-tiba terlintas ide dipikirannya tentang suatu hal.
"Tunggu Putra! Apa kamu bisa menolongku?"
"Tentang apa?"
Zora menatap Putra serius.
***
~Dirumah Zara~
"Zara kemana sih sudah malam begini belum pulang!" ujar Ibu tiri Zara jengkel.
Ayah Zara melihat ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul 9 malam.
"Rio kamu tidak tahu kira-kira kemana Zara pergi?" tanya Ayah Zara.
"Aduh yah, mana aku tau. Aku kan gak pernah main bareng Zara di sekolah. Ayah terlalu lembek sama Zara sih, jadinya tuh anak ngelunjak." ujar Rio.
tok..tok..tok..
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
"Nah! tuh pasti Zara, Ayah harus kasih dia pelajaran!" seru ibu tiri Zara.
Ayah Zara berjalan menghampiri ke arah pintu. Saat ia membuka pintu itu, dan melihat Zara berada di hadapannya. Tanpa pikir panjang lagi, ayahnya langsung menampar pipi Zara.
PLAAK!!!
Ayahnya tidak tahu jika yang sudah ia tampar sebenarnya bukan Zara tapi Zora, anak gadis satunya lagi.
Zora menatap terkejut pada ayahnya itu.
"Darimana saja kamu jam segini baru pulang? cepat masuk!" bentak ayahnya sambil menyeret Zora ke dalam rumah.
Zora melihat Ibu Tiri Zara dan Rio yang menatapnya benci. Mereka berdua pasti merasa senang saat melihat Ayah Zara menamparnya. Zora yang sudah tahu semua tentang keluarganya Zara dari Putra, tersenyum kecut.
"Ayo jawab! Darimana saja kamu?" tanya ayahnya.
"Tadi... tadi ada tugas piket dan tugas kelompok
dirumah temanku." Zora melirik Rio sinis. "Aku sudah bilang pada Rio ko yah. Memang Rio gak bilang pada Ayah."
Rio yang mendengar itu terkejut, "Apa?! kapan kamu bilang tentang itu?"
"Waktu tadi selesai jam sekolah kan aku bilang sama kamu. Aku akan pulang telat karena ada piket kelas juga tugas kelompok. Kamunya aja yang langsung ngeloyor pergi dan kabur gak mau kerjain piket kelas juga bareng teman-teman kamu yang jelas-jelas satu jadwal denganku." ujar Zora sambil menatap tajam Rio.
Rio dan ibunya terkejut melihat sikap Zara, selama ini Zara tidak pernah berani menatap mata Rio atau ibu tirinya ketika berbicara. Zara juga tidak pernah mengadu apapun tentang kelakuan Rio di sekolah.
"Rio... benar apa yang Zara katakan. Kamu bolos piket kelas?" tanya Ayah Zara.
"Zara bohong yah, dia hanya ngarang cerita. Dia cuma mengalihkan topik biar ayah gak memarahinya lagi." bela Rio tidak mau kalah.
"Terserah ayah mau percaya sama siapa, yang jelas aku sudah mengatakan alasanku pulang telat hari ini. Oh ya, terima kasih karena ayah memberiku sambutan dengan menamparku." ujar Zora tersenyum kecil pada ayahnya, lalu pergi mencari kamarnya Zara.
Ayahnya merasa ada keanehan dengan Zara. Zara yang biasanya memang tidak akan berani banyak berbicara seperti tadi.
Untungnya Kamar Zara terdapat hiasan bertuliskan nama Zara di pintu, sehingga Zora bisa langsung masuk ke kamar Zara tanpa membuat semua orang dirumahnya curiga.
Zora yang sudah masuk ke dalam kamar, tertawa kecil saat mendengar ibu tiri Zara mengeluh panjang lebar pada ayahnya tentang Zara.
Zora menatap isi kamar Zara yang berukuran kecil itu, barang-barangnya pun terbilang sangat sedikit. Hanya berisikan meja belajar dan buku pelajaran saja. tidak seperti kamarnya yang luas dan berisikan barang-barang yang mahal dan bagus.
Zora merebahkan dirinya di ranjang yang kecil dan tidak nyaman untuk tidur itu.
"Aku rela melakukan ini untuk membalaskan perbuatan mereka yang berbuat jahat padamu Zara. Aku akan membuat mereka menyesali perbuatan mereka dan meminta maaf padamu. Aku akan menggantikan posisimu sementara disini hingga kamu tersadar dari komamu." Zora menyentuh pipinya yang sakit karena ditampar oleh Ayahnya.
"Aku sekarang mengerti kenapa mama meninggalkan ayah dan memutuskan untuk bercerai."
***
Keesokannya di sekolah.
Semua mata tertuju pada sosok Zora yang menjadi Zara. Mereka terkejut karena penampilan Zara yang cupu kini berubah 180°. Rambutnya pun tidak diikat 2, namun Zora membiarkannya tergerai indah.
"Astaga itu Zara kan?"
"Penampilannya ko berubah?"
"Zara ternyata sangat cantik jika berpenampilan seperti itu."
Semua siswa mulai membicarakan penampilan Zara yang baru. Hingga Susan dan gengnya mendatangi Zara ke kelas, untuk melabraknya.
"Wah..wah.. lihat siapa ini? bukankah ini si cupu Zara. Ada apa dengan penampilan lo yang dulu?" tanya Susan sinis.
"Memang kenapa? semua orang berhak untuk berubah kan, atau lo takut kalah saing dengan gue?" tantang Zora. Semua terkejut melihat perubahan sikap Zara yang menjadi pemberani seperti ini.
"Apa? lo jadi saingan gue, gak level banget ya. Lo pikir hanya dengan merubah penampilan, lo udah merasa menjadi yang tercantik gitu."
Zora melirik siswa siswi di kelasnya, "Tanya saja sama mereka, siapa yang paling cantik. Lo? atau gue?"
Rio dan Randi yang baru kembali dari kantin terkejut saat melihat keramaian di kelasnya.
"Ada apa ini?" tanya Rio.
Susan langsung melancarkan aksi manjanya pada Rio. "Rio, lihat kelakuannya Zara. Dia berani menantangku? Dia merasa kalo dia lebih cantik dariku."
Rio melirik Zara, Rio akui Zara memang berubah menjadi cantik dengan penampilannya yang sekarang. Tapi Rio tidak mengerti kenapa Zara bisa berubah drastis seperti sekarang ini.
"Tentu saja kamu yang tercantik beb, Zara... Zara... itu..tetap jelek di mataku." ujar Rio terbata.
"Kamu ko kaya yang ragu seperti itu sih Rio?" tanya Susan.
"Apa? nggak ko. Ragu gimana..." elak Rio.
Zora tersenyum kecut melihat gelagat Rio.
"Kamu Zara?" tanya Randi baru ngeh. "Astaga, kamu cantik sekali ya kalo berpenampilan seperti ini. Kenapa gak dari dulu aja kamu seperti ini?"
"Memang kenapa kalau sejak dulu aku seperti ini?" tanya Zora pada Randi.
"Ya... mungkin aku tidak akan ikut-ikutan membuli kamu seperti yang lain." jawab Randi tersipu malu.
Zora tertawa sinis, "Asal kalian tau, hanya orang-orang rendah yang suka membuli orang lain karena kelemahan seseorang. Kalian pikir bisa membuli itu suatu kebanggaan. Menurutku membuli itu hanyalah suatu kebodohan. Apa kalian tidak berpikir, bagaimana perasaan kalian jika kalian dibuli orang? Memangnya kalian akan terima jika dibuli?"
Melihat tidak ada respon, Zora pun pergi keluar kelas saat melihat Putra yang berjalan melewati kelasnya.
Randi tersenyum kecil sambil menatap Zara yang kini tidak lagi berjalan sambil menunduk, tapi Zara kini berjalan dengan penuh percaya diri sambil menatap ke arah depan. Sebenarnya Randi membuli Zara, karena dia tidak suka melihat gadis yang lemah dan penakut. Tapi kini pandangannya terhadap Zara berubah, dia merasa kagum dengan sifat dan sikap Zara yang pemberani seperti ini.
***
Zora dan Putra duduk bersama di bangku taman sambil minum soft drink.
"Kamu tadi sangat keren, mampu membuat mereka semua terdiam dan tidak berani membalas kata-katamu." puji Putra.
"Aku hanya melakukan yang seharusnya."
"Semoga suatu saatu saat mereka sadar, dan berhenti membuli Zara."
Putra mengangguk setuju.
"Oh ya, bagaimana keadaan Zara sekarang?" tanya Zora.
"Zara sudah dipindahkan ke rumah sakit terbaik lain oleh ibumu. Ibumu benar-benar sangat terpukul, dia menangis sepanjang hari. Dia benar-benar berpikir jika yang sedang koma saat ini adalah kamu. Apa kamu yakin akan melanjutkan rencana pertukaranmu ini?" Tanya putra.
Zora mengangguk yakin, "Aku akan mengatakan yang sebenarnya, saat aku sudah bisa menyelesaikan urusan disini. Aku ingin hidup Zara lebih baik kedepannya."
"Aku mengerti perasaan kamu, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku jadi kamu."
"Thanks ya Put, kamu mau membantu ide ku ini. Aku melakukan ini semata hanya untuk Zara."
Putra membalas dengan senyuman.
***
Selepas pelajaran Zora yang hendak pulang melihat sesuatu yang mencurigakan di dekat gudang sekolah. Seperti ada seseorang yang dipukuli. Saat melihat dengan lebih jelas, ternyata benar Putra sedang dipukuli oleh Randi.
"Apa-apaan kalian?!!" teriak Zora langsung menghampiri Putra.
Randi dan Rio terkejut dan berhenti memukuli Putra.
"Zara..." Lirih Randi.
Zora menatap tajam ke arah Randi, dan dia langsung menampar Randi dengan sangat keras hingga tanganya merah.
"Apa salahnya sampai kalian melakukan ini padanya?!"
"Salahnya karena dia berani mendekatimu. Aku baru tahu jika kamu dan dia ternyata berteman dekat." jawab Randi.
"Memang kenapa jika kami berteman dekat? apa urusan kamu hah?!" bentak Zora.
"Karena aku sebenarnya sudah sejak lama menyukai kamu, aku selama ini mengganggu kamu dan sering membuli kamu itu hanya karena aku ingin kamu termotivasi untuk berubah. Aku ingin kamu berubah menjadi gadis yang tidak lemah seperti sekarang ini." jelas Randi.
Zora tertegun mendengar hal itu, "Awas saja jika kalian berani mengeroyok putra lagi, aku tidak akan tinggal diam dan akan melaporkan kalian pada guru kesiswaan. Ayo Put!" Zora membantu memapah Putra.
"Ah sialan dia berani mengancam gua!" umpat Rio kesal.
Randi hanya mengepalkan tangannya karena kesal melihat Zara yang membela Putra.
***
Hubungan Zora dan Putra semakin dekat, timbul benih-benih rasa cinta diantara mereka. Hingga akhirnya mereka berdua berpacaran. Di sekolah tidak ada lagi yang berani membuli Zara, karena keberanian Zora. Termasuk Rio, kini Rio sudah tidak berperilaku seenaknya lagi dan lebih memilih tidak berurusan dengan Zara. Karena Zora seringkali mengadukan sikap buruknya di sekolah pada Ayah Zara.
Hal itu membuat Ayah Zara murka dan melampiaskan kemarahannya pada ibu tiri Zara. Rio diminta oleh ibunya agar tidak membuat masalah dengan Zara. Jika tidak ibunya akan memotong uang sakunya setiap bulan.
Tetapi peran Zora menjadi Zara tidak berlangsung lama, karena hal itu diketahui oleh Randi saat pembicaraan Zora dan Putra tentang Zara terdengar oleh Randi.
"Apa? kondisi Zara sudah mulai membaik? Apa maksudnya?" tanya Randi merasa heran.
Zora dan Putra terkejut, akhirnya Zora pun menceritakan yang sebenarnya terjadi dan siapa dia sebenarnya kepada Randi.
***
~Di rumah sakit~
"Mah kata dokter sepertinya Zora akan segera sadar dari komanya." ujar ayah tirinya Zora.
"Iya pah, mama sudah tidak sabar ingin melihat Zora membuka matanya."
Tak lama kemudian seseorang membuka pintu.
"Mah...pah..." lirih Zora di ambang pintu.
Saat mereka menoleh, mereka berdua terkejut dan saling menatap.
Zora berjalan menghampiri dan memeluk mamanya. "Aku kangen sama mama..."
"Ka-kamu...?" mama kebingungan.
"Ini aku mah,Zora..."
"Apa?!"
"Tidak terjadi apapun padaku mah, yang sebenarnya terjadi aku tidak mengalami kecelakaan tapi aku menabrak seseorang. Dan yang aku tabrak itu adalah Zara mah, saudari kembarku." Zora menangis sambil menatap Zara.
Mendengar hal itu mamanya mendadak lemas, dipelukan Zora. "Mama senang jika kamu ternyata baik-baik saja Zora..."
Zora dan papa tirinya membantu mama berjalan menghampiri Zara.
"Zara....jadi yang sedang koma ini Zara..." lirih mama menatap Zara senang sekaligus sedih.
"Iya mah...maafkan aku karena takdir mempertemukan aku dan Zara dengan cara seperti ini. Mama harus melihat Zara dalam keadaan koma." Zora menangis sambil kembali memeluk mamanya.
Mama memeluk Zora setelah itu bergantian mengecup kening Zara. "Zara... bangunlah nak... mama ingin bertemu denganmu..."
Seketika itu juga muncul respon dari tubuh Zara. Zara menggerakan jari-jarinya perlahan.
"Zara merespon mah, tadi aku melihat Zara menggerakan jari tangannya!" seru Zora.
"Iya papa juga melihatnya."
"Zara! buka matamu! ini aku Zora.. saudara kembar kamu!" seru Zora, membuat Putra dan Randi yang menunggu diluar ikut masuk ke dalam ruangan.
Zara perlahan membuka matanya, hingga akhirnya dia bisa melihat sosok wajahnya pada diri Zora. Semua tersenyum senang saat Zara sudah mulai tersadar, begitupun dengan Randi. Dalam hatinya dia berjanji akan menjaga Zara dan melindungi Zara mulai saat ini dan nanti, dia ingin membuat hidup Zara penuh arti.
~The End~
Thanks untuk yang sudah membaca jangan lupa beli hati dan komentar ya. Mampir juga ke karya cerpen miss sweety yang tidak kalah bikin bapernya. Juga Karya novel miss yang sudah tamat sampai season 2 berjudul "My Enemy Becomes My Husband".
😘😘😘