Malam semakin larut. Awan bergerak perlahan dan mulai menutupi cahaya terang rembulan. Sepasang kekasih remaja sedang berjalan berdua sambil bergandengan tangan. Sebut saja nama mereka adalah Rey dan Ai. Mereka baru saja pulang dari pasar malam yang diselenggarakan di lapangan kota.
"Rey ... aku capek," keluh Ai sambil menyenderkan kepalanya di bahu Rey.
Namun, bukannya malah merasa iba, laki-laki itu malah memegang kepala Ai kasar dan menyingkirkan sandarannya. "Hei ... kau itu berat, tau. Bahuku bisa sakit karenanya," ucap Rey kesal.
"Haishh ... kau ini, sama sekali tidak peduli dengan keadaan pacarnya hmphh ...." Ai merajuk dan memalingkan wajahnya ke samping.
"Hm," tanggap Rey singkat.
Ai dan Rey memang bukanlah pasangan yang harmonis. Mereka hanya sedikit pemarah, hanya sedikit.
Saat sampai di pertigaan jalan, tiba-tiba, Rey dan Ai dikejutkan dengan pemblokiran jalan.
'Kenapa jalannya ditutup begini? Bukankah saat berangkat tadi, jalan ini tidak apa-apa?' tanya Rey dalam batin.
Dia pun memutuskan untuk bertanya kepada seorang pria paruh baya yang sedang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. "Ehm ... selamat malam, Pak!" sapa Rey.
Pria itu melirik Rey dan menaruh korannya. "Hm? Ah, selamat malam juga. Ada yang bisa saya bantu, Dik?" tanya bapak itu.
"Kalau saya boleh tahu ... kenapa jalan ini ditutup, ya, Pak? Apa sesuatu telah terjadi di sini?" tanya Rey meminta penjelasan untuk memuaskan rasa penasarannya.
Pria itu menatap jalan yang diblokir. "Ya ... benar. Sekitar tiga puluh menit yang lalu, terjadi sebuah kecelakaan misterius. Seorang gadis ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan. Baju yang dia kenakan terlihat sobek-sobek seperti bekas cakaran. Satu tangannya nyaris lepas dan bola matanya hancur. Pokoknya sangat mengerikan," jelas pria itu menceritakan semua kronologi kejadian.
"Ah begitu," ucap Rey puas saat sudah mengetahui alasan kenapa jalan ini ditutup. Namun, di sisi lain, Rey juga merasa merinding soal kematian gadis itu. Sementara Ai, kini sedang berdiri tak jauh dari Rey. Dia tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh Rey dan pria tersebut.
Kresek ...
"Ha?" Atensi Ai teralihkan kepada suara semak-semak bergerak. Dia perlahan mendekat dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ketika membuka semak-semak rimbun itu, mata Ai terbelalak. Dia melihat (blank①....)
"Arggghhh!" teriak Ai terkejut.
Rey dan pria itu pun sontak terkaget-kaget. Mereka langsung berlari menghampiri Ai. "A-ada apa, Ai?!" tanya Rey panik. Namun, Ai sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Rey. Dia hanya diam, mulutnya terbuka, akan tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Re-Rey ... ayo kita pulang sekarang juga!" ajak Ai dengan tubuh gemetar ketakutan.
Melihat Ai bertingkah seperti ini, Rey pun mengiyakan ajakan Ai. "Baiklah, ayo pulang!" Rey berjalan sambil merangkul kekasihnya tersebut agar tidak takut lagi.
"Kami pulang dulu, ya, Pak ...," ujar Rey pamit kepada pria paruh baya tadi.
Pria itu menganggukan kepalanya dua kali. "Iya iya ... cepat bawa pacarmu pulang. Dia terlihat sangat ketakutan," saran pria itu.
Rey berjalan bersama dengan Ai yang ketakutan. Tentu saja ada rasa khawatir yang besar dalam diri Rey. Dia bertanya-tanya dalam dirinya, apa yang sebenarnya Ai lihat tadi?
Saat sedang berjalan, tiba-tiba, Rey berhenti. Dia merasa bahwa dia sedang menginjak sesuatu yang lengket dan kenyal. "Hm?" Rey menatap alas sepatu untuk melihat benda yang diinjak olehnya.
"Hah?!" Alangkah terkejutnya dia, saat mengetahui bahwa yang diinjak adalah (blank②....).
Karena ketakutan, Rey memutuskan untuk berlari sekencang-kencangnya. Dia berhasil melarikan diri, tetapi sayangnya, Ai tidak. Pacarnya itu tidak bergerak sama sekali.
"AI APA YANG KAU LAKUKAN? AYO CEPAT PERGI!" ajak Rey teriak.
Ai menatap Rey dengan wajah pucat. "Re-Rey ... aku tidak bisa bergerak ...," ungkap Ai lirih. Rey mengernyitkan keningnya. Dia bingung dengan maksud Ai yang mengatakan bahwa dia tidak bisa bergerak. Laki-laki itu menatap kaki Ai. (blank③....).
====
Itu adalah cerpen game dari Miku. Benar gak sih? Hehe .... Ganbatte! (/>.<)/💓