Mereka hanya memiliki kesempatan satu kali. Ya, hanya satu kali. Sebelum hubungan mereka menjadi tabu, menjadi terlarang.
Putus asa, Lukas melumat bibir Bianca. Menggunakan kecepatan yang ia bisa untuk memiliki gadis itu. Tak ada perlawanan. Seperti dirinya, gadis itu pun di ambang keputusasaan.
" Lakukan saja. Karena ini adalah kesempatan terakhir yang aku berikan kepadamu. Setelah ini kita tidak memiliki hubungan apa- apa lagi."
Menyakitkan mendengar perkataan itu langsung dari bibir gadis tercintanya. Tapi, memang itu kenyataannya. Bukannya ia tak mau melawan, tapi memang dia tidak bisa.
Hanya dalam hitungan detik Lukas mendapatkan keinginannya, keinginan mereka berdua. Kehormatan yang sangat dijaga Bianca, dengan rela diberikan kepadanya.
Setitik air mata menetes, Bianca menahan rasa sakit di tubuh bagian bawahnya, juga rasa sakit di hatinya.
Hidupnya tak berarti tanpa Lukas, pria yang ia cintai, sepenuh jiwa dan raga.
" Bia,...kau sudah selesai berdandan, sayang? Tamu sudah menunggumu."
Lukas melepaskan dirinya, menatap Bianca begitu dalam. Sudah berakhir.
" Iya, ma. Aku keluar sebentar lagi." Tanpa meninggalkan tatapan Lukas, Bianca menyahut suara mama dari balik pintu.
" Jangan lama- lama, Sayang. Cepatlah."
" Iya, Ma."
Lukas membantu kekasihnya menggunakan pakaiannya kembali. Membuatnya seperti sedia kala, sesempurna mungkin.
" Bia, jangan lakukan ini. Kita bisa pergi bersama. Aku mencintaimu."
Bianca mengecup bibir Lukas ringan, ia tersenyum melepas pria tercintanya, " Aku melakukan apa yang harus aku lakukan. Kita tetap mencintai, meski kita tidak bersama."
" Tapi,..."
" Cinta kita tidak bisa menolong untuk saat ini, Lukas." Bianca sudah membicarakan duduk persoalannya berulang kali, meyakinkan Lukas meski pria itu tidak bisa diyakinkan. " Kita tidak berdaya, kau tahu. Selamat tinggal, Lukas."
"..."
Lukas menundukkan kepala, melepas Bianca pergi dari kamar. Ketika gadis itu membuka pintu, sejenak ia berhenti di sana,
" Jika kau memang mencintaiku, buktikan dirimu, dan rebut aku kembali. Aku selalu menunggumu untuk menjemputku, Lukas." Kemudian, pintu itu menutup.
Lukas, ketidakberdayaannya, ketidakmampuannya, membuatnya menderita kehilangan yang begitu besar. Ia merasa tidak berguna.
Tangan Lukas mengepal, sangat keras.
" Bianca, tunggu aku. Aku berjanji, akan menjemputmu."
Di lantai bawah, kerumunan orang sudah berkumpul di ruang keluarga. Ijab kabul segera dimulai.
" Aku terima nikah dan kawinnya Bianca Binti,..."
🔆🔆🔆
Note: Ini spoiler utk project novelku yup. Penasaran,...penasaran,...