Mati.
Akankah segalanya sempurna?
Menikmati kematian. Merasakan berbeda. Lebih pelan. Ia berdenyut senang seakan waktu menyambutnya. Terhanyut suara dan sensasi cahaya-Nya. Akankah begitu sempurna?
Ia bersyukur. Mempersiapkan kematian bisa lebih mudah saat segala miliknya adalah yang terbaik.
Menyenangkan. Ia beruntung tak perlu bersusah untuk mati. Tubuhnya menderita lebih jauh dari biasa seiring bergulirnya waktu. Namun, ia tak cemas. Kesakitannya ia nikmati. Mati, perlahan.
Sebelumnya ia tak pernah mencium rasanya kematian. Seperti menyelimutinya dalam kesunyian. Merasakannya mendekat. Mati yang terencana. Sungguh, saat terbaik dalam hidupnya bukan ingin menjauhinya. Tapi, menunggunya.
"Tidak ada surat wasiat. Tidak ada harta yang harus dibagikan. Maaf, kehidupanku sudah menghabiskannya dengan rakus."
Dan, tak ada yang akan mengganggunya. Termasuk pria itu.
Kematian datang, wanitanya pun tersenyum. Terbaring bahagia akan ketidak terdugaan waktu. Meemilih menjaga keyakinan bahwa surga di sana akan menyambutnya.
Pria itu, entah kenapa, merasa akan kesepian seumur hidup sepeninggal wanitanya. Wanitanya tak pantas mati dengan cara itu. Menentukan hidup dan mati perempuannya memang bukan hak pria itu. Namun, paling tidak, berikanlah kesempatan satu- satunya kebahagiaan pria itu mengurusnya di sisa waktu perempuannya itu dengan benar.
Tampaknya pria itu kecewa.
Pria itu tak kunjung bisa pahami perempuannya. Sedih menelusup kala mengetahui orang yang kita sayang tak mengharapkan kehadiran kita di sisinya menjelang ajal.
Kebencian macam apa itu? Ada rahasia apa sampai perempuannya takut? Andai pria itu tahu.
Mendengar desas- desus seputar kematian perempuannya, pria itu gemetar ketakutan. Akankah berikut gilirannya?
***
Aku diam. Kamu, tubuhmu masuk liang lahat. Tanah merah itu mulai memakanmu. Melumatmu perlahan sampai habis. Jijikkah kamu dengan tempat barumu itu?
"Aku benci tanah merah. Mengingatkanku akan kematian." Katamu suatu hari kala itu setelah melihat kuburan masal di Aceh, "Ayahku, Ibuku, Adikku tertelan tanah merah itu, walau bukan karena tsunami."
Aku diam. Sekarang kamu menghabiskan waktumu di sana, di dalam tanah merah itu, entah sampai kapan. Mungkin sampai bertahun- tahun lamanya. Aku mempercayaimu.
"Menutupimu dengan tanah merah itu berarti kamu membenciku."
Aku diam. Sepeninggalmu, segala sesuatunya berlangsung melambat. Seperti proses kematianku selanjutnya. Matiku, menyusulmu. Tentang seseorang yang aku saksikan sendiri kematiannya, merasakan ada yang ringan lepas dari jiwaku. Seseorang yang berbaring tenang, cahaya kelabu lembutnya mengiringi sang maut.
Aku diam.