Mentari perlahan membuka matanya, terpampang jelas lintasan renang di hadapannya, tak lama peluit berbunyi dan semua perenang berlomba lomba untuk mencapai garis finish dengan waktu yang singkat.
Juara di umumkan, Mentari memperoleh juara 1, setelah pengumuman juara mentari dan mentornya segera mengemasi barang-barang mereka dan beranjak pulang.
Namun saat hendak keluar ruangan, mentari melihat seorang anak laki laki seumurannya tengah berdiri di tepi kolam sendirian. Merasa penasaran Mentari menyuruh mentornya untuk menunggunya di mobil, lalu menghampiri pria tersebut.
Perlahan-lahan mentari menghampiri anak laki laki tersebut, samar samar ia mendengar suara orang menangis. langkah demi langkah suara isakan itu makin terdengar jelas mentari menelan ludahnya lalu memberanikan diri, dan bertanya "Kau baik baik saja?" Anak laki laki itu menoleh, ternyata benar, anak itu sedang menangis. Tak mampu berkata kata, mentari hanya diam memandang anak laki laki tersebut.
"Namamu Mentari kan?" Ucap anak laki laki tersebut tiba tiba, mentari hanya mengangguk, ia masih takut. "Beruntung sekali." Lanjut anak laki laki itu. Mentari merogoh tasnya dan memberikan mendalinya pada anak laki laki tersebut, "Kau iri? Setidaknya kau harus berjuang lebih daripada ini, kembalikan padaku saat kau sudah bisa mendapatkan mendali sendiri." Ucap mentari lalu pergi meninggalkan anak laki laki tersebut, yang bahkan namanya saja ia tak tahu.
Saat di mobil mentari tersenyum miris, mengingat ucapannya pada anak laki laki tadi, padahal selama ini mentari tak pernah sungguh sungguh, bahkan ia saja tak pernah mempunyai mimpi.
Mentari sampai di depan rumahnya, ia menghela nafas terlebih dahulu, lalu memasuki rumah tersebut. Mentari berjalan mengendap-endap menuju kamarnya,
"Gimana? Menang nggak?" Suara itu mengagetkan mentari dan menghentikan langkahnya menuju kamar. Ia berbalik untuk memastikan asal suara tersebut, dan benar saja, wanita paruh baya tengah berdiri hadapannya sambil melipatkan tangannya di depan dada, dengan tatapan yang mengerikan.
Mentari mengeluarkan selembar kertas dari tasnya lalu memberikan kertas itu kepada wanita itu "Menang mah," ucap mentari ketakutan.
Dengan senang hati wanita itu mengambil kertasnya lalu membacanya, "Kamu jangan malu maluin keluarga kita sebagai perenang profesional ya!" Seketika mentari teringat saat saat kekalahannya dulu, ibunya memarahi mentari mati Matian lalu menghukumnya dengan menahan nafas di dalam air selama waktu yang telah di tentukan. Mentari hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan wanita itu.
Tiga hari telah berlalu, kini jadwal mentari untuk kembali berenang bersama mentornya. Sesampainya di sana seseorang menghampiri mentari yang sedang melakukan pemanasan bersama mentornya "Mentari," panggil seorang laki laki, mentari menoleh lalu mengernyitkan keningnya, anak laki laki yang ia temui tiga hari yang lalu di olimpiade renang.
Mentari menghampiri anak laki laki tersebut,
"Oh yang kemarin menangis." Celetuk Mentari disertai senyuman manis miliknya.
"Kenalin namaku Langit." Langit mengulurkan tangannya lalu di balas oleh Mentari, "lagi latihan? "Tanya langit basa basi, dan di balas anggukan oleh Mentari. "Boleh minta nomer teleponnya? Buat mengembaliin mendali." Ucap langit malu malu, mentari mengambil sesuatu dari tasnya lalu memberikan kartu namanya pada langit, setelah itu meninggalkan Langit. Langit tersenyum lalu kembali ke tempatnya.
Setelah kejadian itu, Langit sering menelepon mentari dan banyak bercerita, tentang latihannya, tentang mimpinya menjadi perenang profesional untuk membanggakan nama keluarga dan negaranya, tentang kekagumannya terhadap keluarga Mentari yang menjadi motivasi untuk meraih mimpinya, perjuangannya meraih mimpinya, dan masih banyak lagi.
Tak terasa tiga bulan berlalu, semakin hari langit semakin dekat dengan Mentari, hingga kejuaraan renang berikutnya.
Langit berhasil mendapatkan rekor tercepatnya yang hanya berselisih 1 detik dengan waktu Mentari cetak di kejuaraan ini. Ibunda Mentari yang mengetahui hal ini langsung memarahi Mentari saat mereka tiba di rumah.
"Mentari, kamu kenal kan sama anak itu! Dia hampir kalahin kamu mentari, satu detik, satu detik lagi waktu kalian bakal sama, fokus mentari fokus, mama cuma mau kamu fokus sama renang, nggak ada yang lain, cuma itu nggak bisa Mentari?" Mutiara, Ibu mentari berteriak teriak di depan mentari, mentari hanya menunduk. "Mama sita handphone kamu, biar kamu nggak bisa telfonan lagi sama dia, kamu pindah tempat biar kalian nggak bisa ketemu lagi, mama bakal buat perhitungan sama anak itu." Lanjut Mutiara lalu merebut handphone yang di genggaman mentari dan hendak pergi meninggalkan Mentari.
"Jangan mah, biarin aja Langit, langit nggak ada hubungannya sama mentari, habis ini mentari janji, mentari bakal latihan lebih keras lagi sampe bisa ngalahin rekor tercepat papa." Mohon mentari sambil menahan tangan Mutiara, air matanya tak dapat ia bendung lagi.
"Nggak ada sejarahnya kita berteman apalagi jatuh cinta pada saingan kita sendiri." Mutiara melepaskan paksa tangan anaknya lalu melenggang pergi.
Keesokan harinya, Mutiara datang menemui Langit di salah satu cafe di pusat kota.
"Saya peringatkan kamu ya jangan ganggu anak saya, apalagi memanfaatkannya untuk meraih mimpi kamu itu." ucap sadis Mutiara
"Maaf sepertinya anda salah paham, saya dan mentari hanya berteman, saya tidak ada maksud lain kepada anak anda, dan untuk mimpi saya, ada apa dengan mimpi saya? Bukankah semua orang berhak meraih mimpinya masing masing? Terus bangun meskipun jatuh berulang kali, terus berlatih meski tak ada yang menyemangati, dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya mendapat tamparan keras dari anak anda, Mentari, ia menjadi alasan saya untuk terus berusaha meraih mimpi saya sebagai perenang profesional, sama seperti semua keluarga anda, dan mendiang suami anda." Langit memberikan mendali tiga bulan lalu yang mentari berikan kepadanya "Tolong ucapkan rasa terimakasih saya kepada anak anda, saya berhasil mendapatkan mendali saya sendiri, dan hasil dari jerih payah saya sendiri, dan saya harap, anda tidak terlalu keras kepada anak anda sendiri." Setelah mengucapkan itu Langit undur diri dan meninggalkan cafe itu.
Mutiara terdiam, lalu bergegas pergi menuju kediamannya, ia memasuki kamar mentari dan hanya menemukan sebuah surat di meja belajarnya
"Dear Mama
Maafin Mentari karena ngecewain mama,
Maafin Mentari Karena nggak bisa mewujudkan harapan mama,
Kalau boleh jujur, Langit satu satunya teman yang mau ngertiin mentari, mau dengerin keluh kesah mentari, mentari sedih mentari nggak boleh main lagi sama Langit, Langit baik kok mah, dia punya mimpi mimpinya tinggi banget, dia mau jadi kaya mama, bahkan lebih.
Nggak kaya mentari, mentari nggak pernah punya mimpi, mentari cuma lakuin apa yang mama mau, renang, tapi itu nggak buat mentari seneng mah.
Sekali lagi mentari minta maaf."
Air mata mutiara mengalir deras, ia menyadari kesalahannya pada anaknya, ia segera mencari keberadaan mutiara, hingga malam menjelang, namun mutiara tak kunjung menemukan keberadaan anaknya.
Hingga polisi melaporkan bahwa anaknya, Mentari di temukan di dasar kolam dengan keberadaan tak bernyawa.
Sedih, menyesal, kecewa dan marah pada diri sendiri, itulah yang di rasakan Mutiara hingga akhir hayatnya.