CEPRET! CEPRET!
Bunyi suara kamera yang mengambil gambar di tempat kejadian. Terlihat korban yang tewas mengenaskan di bagian wajah disertai luka tusuk dimana-mana pada bagian tubuhnya. Korban tersebut hanya seorang warga biasa yang handal dalam lukisan.
KLIK!
Seorang gadis berambut panjang gelombang mematikan siaran TV itu dan fokus dengan aktivitasnya menggambar.
"Sekali lagi korban bertambah," kata gadis itu.
Sebuah kota yang entah darimana sering terjadi kasus pembunuhan. Sepertinya tidak cukup jika menyebutnya kasus pembunuhan tapi lebih tepatnya pembunuhan berantai. Semua pelukis terkenal hingga sampai orang-orang biasa yang handal dalam menggambar, semuanya ditemukan tewas mengenakan dengan kondisi yang sama, yaitu wajah dihancurkan dan luka tusuk dimana-mana disekujur tubuh.
Kasus itu berlangsung 1 tahun yang lalu setelah pelukis terkenal di dunia ditemukan tewas mengenaskan diruang gambarnya dengan kondisi serupa. Semenjak itulah, para pelukis tiba-tiba terbunuh begitu saja.
Para polisi mengasumsikan itu adalah perbuatan seseorang yang menaruh dendam kepada seorang pelukis, tapi sampai dipenjuru kota pun tak ada yang menemukan pelaku pembunuhan tersebut. Alhasil, semua pelukis yang handal dikota itu benar-benar di sapu bersih.
Hingga kedatangan seorang gadis pindahan Jepang yang jago dalam lukisan. Semua orang menyebutnya "The Real Paint" karena idak hanya gambarnya yang terasa seperti nyata, tetapi sosok gadis itu sesungguhnya adalah lukisan. Siapapun yang akan melihatnya tidak akan pernah menolehkan pandangan mereka bahkan sedetikpun.
Selain itu, semua orang juga menganggapnya patung boneka yang berjalan. Ya, gadis itu adalah...
"Anna?" panggil seseorang yang membuat aktivitasnya terhenti.
"Iya, Ibu? Ada apa?" teriak Anna.
"Temanmu berkunjung!"
Anna bangkit dan keluar dari kamarnya. Ia menuruni tangga dan melihat 3 teman sekolahnya yang merupakan tetangganya.
"Yo!" sapa Rei lelaki berambut raven.
"Kami datang untuk mengerjakan pr bersama, kami juga membawa temiyage(Oleh-oleh)," senyum Fumie gadis berambut sebahu.
Satu lelaki lainnya hanya tersenyum, ia adalah Kuro. Kurang lebih sikapnya seperti Anna yang juga pendiam.
"Kalau begitu di kamarku saja," kata Anna.
"Ojyama shimasu!" ucap ketiga teman Anna.
*Ojyama shimasu adalah kata-kata yang biasa diucapkan oleh tamu kepada tuan rumah, yang mengisyaratkan tamu memasuki tempat mereka.
•Kamar Anna•
"Heeh, kau masih menggambar?" tanya Fumie.
Anna mengangguk sambil meneteng round tray berisikan gelas teh, pelengkap temiyage.
"Silahkan duduk," kata Anna mempersilahkan.
"Woah, lukisanmu benar-benar terasa nyata, aku bahkan sangat sulit mengalihkan pandanganku darinya," kata Rei.
"Bukankah sudah kuperingatkan untuk berhenti melukis, kau ingin menjadi korban selanjutnya? Aku tidak mau kehilangan teman sepertimu," kata Fumie.
"Benar, meskipun kami tidak berharap seperti itu, ini demi kebaikanmu," kata Rei.
"Aku juga berpikiran yang sama," kata Kuro.
"Ayolah, kenapa kalian begitu percaya kalau setiap pelukis di kota ini dibunuh? Buktinya aku sudah pindah setengah tahun dan masih baik-baik saja, malah orang lain yang menjadi korbannya," kata Anna.
"Anna-chan, kami ini sedang serius," kata Fumie.
"Aku juga serius," kata Anna datar membuat ketiga temannya itu hanya pasrah.
Sudah berapa kali Anna diperingatkan tetapi gadis itu mengabaikan dan tetap melukis. Ya, satu lagi julukan yang biasa diberikan kepada Anna, itu adalah "Maniak Gambar".
Hampir 24 jam, gadis itu sering melukis dan seluruh isi kamarnya terisi dengan gambar. Tapi, satu hari itu mereka fokus mengerjakan tugas.
Pagi berikutnya, salju telah memenuhi jalanan kota beserta atap rumah.
•Sekolah•
Anna menutup loker sepatu dan menggunakan sepatu resmi sekolah sambil mengeratkan syalnya seperti ketiga temannya.
"Dinginnya," kata Fumie sambil menggosok-gosok tangannya.
Rei dan Kuro berjalan di belakang kedua gadis itu hingga sampai di kelas. Seperti biasa, mereka akan belajar sesuai jadwal, istirahat kemudian belajar lagi lalu pulang.
Perjalanan pulang...
"Rei-kun! Berhenti menginjak-injak salju seperti itu, tanahnya jadi terlihat tidak bagus," tegur Fumie.
"Habis ini sangat asik," kata Rei.
"Rei-kun!"
Anna dan Kuro hanya memandangi Fumie mengejar Rei yang mengoloknya. Pandangan Anna tertuju ke arah tanah bersalju yang diinjak Rei barusan. Ia pun berjalan ke sana. Anna meratakan tanah bersalju tadi lalu melukis sebuah pohon di depannya.
"Menggambar lagi?" tatap Kuro.
Anna berdiri setelah lukisannya di tanah bersalju itu selesai.
"Ayo susul mereka," kata Anna membuat Kuro bergegas.
Tak lama kemudian, disela kepergiannya muncul sosok misterius sambil menyeret nagita berbilah ganda menatap lukisan Anna.
Berselang detik, ia merusak lukisan itu dan berjalan mengikuti arah Anna dan ketiga temannya pergi.
Malamnya, salju begitu lebat membuat ranting pepohonan sesekali membentur jendela kamar Anna. Akan tetapi hal itu tidak mengganggu aktivitasnya yang tetap melukis.
BUGH! PLAK!!
Tiba-tiba jendela kamarnya langsung terbuka, angin dan butiran salju dari luar jadi masuk. Anna bangkit dan hendak menutup jendela.
SRETT!
DEG!
Anna terdiam yang masih memegang kedua pintu jendela kamarnya. Tiba-tiba (blank).
"T-Tadi itu apa?" tanya Anna yang masih terbebelak.
Ia pun kembali sadar dan menutup jendela. Saat itu juga, lampu kamarnya padam.
"Ibu?! Ayah?! Listriknya padam!" teriak Anna sambil meraba-raba.
Tidak menerima balasan dan menunggu selama 15 menit membuat Anna turun.
"Ayah? Ibu? Kenapa lampunya padam? Aku jadi tidak bisa menggam-"
DEG!
Anna mematung melihat (blank). Tubuh mereka tidak bisa dikondisikan lagi membuat tangan Anna gemetar. Matanya masih membulat besar.
"A-Ayah? I-Ibu?"
SINGG! TINGG!
Terdengar suara gesekan dilantai membuat Anna menoleh. Suara itu semakin mendekat, tapi tiba-tiba hilang. Dengan nafas tersengal, Anna masih fokus menatap kegelapan di depanya.
JRENGG!
Sosok itu langsung muncul tepat di depan wajahnya membuat Anna tidak berkutik.
Keesokan harinya...
Rei, Fumie dan Kuro heran setelah mereka beberapa kali menekan bel tapi tidak ada yang membuka pintu.
"Sepertinya Anna masih tidur," kata Rei.
"Itu pasti karena dia begadang lagi melukis, aku sempat melihatnya kemarin menutup jendela," kata Fumie.
"Kalau begitu kita bangunkan saja sebelum terlambat ke sekolah," usul Kuro.
Fumie pun membuka pintu, saat itu juga ketiga orang itu mematung melihat isi rumah tersebut. Tubuh mereka gemetar bukan main melihat (blank).
"Anna!" pekik ketiga temannya histeris.
Semenjak malam itu, hanya Anna yang melihat sosok itu. Sosok yang benar-benar menyerang pelukis. Kota dimana seorang pelukis disapu bersih.