Sepuluh tahun yang lalu, terjadi peperangan antara dua negara. Semua orang diharuskan pergi berlindung ke tempat perlindungan yang memang dibuat khusus untuk situasi darurat seperti itu. Walau demikian, tetap banyak yang terluka maupun meninggal karena orang-orang nekat keluar dari tempat itu untuk mencari makanan. Mereka berpikir, buat apa berlindung jika tetap akan mati karena kelaparan.
Pasukan militer selalu mengucap janji bahwa peperangan ini akan segera berakhir dan ada saatnya semua kembali seperti semula. Namun, sayangnya sudah hampir satu tahun perang ini ‘tak kunjung berakhir. Setiap jalan pasti ada militer yang bertugas untuk berjaga-jaga jika ada serangan mendadak.
“Cepat lari!” Terlihat semua orang berlari dengan rasa takut akan serangan mendadak tersebut. Alarm dibunyikan di pusat kota, mengingatkan kepada semua orang untuk tetap waspada.
“Tolong izinkanku masuk!” mohon seorang pria. Sebut saja Gef. Di saat semua orang ketakutan, dia malah ingin melawan para penjaga. Gef memohon agar diizinkan masuk di sebuah bangunan yang dijadikan rumah sakit sementara. Dian, istrinya akan segera melahirkan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk sekarang ini. Berbagai do’a dia panjatkan mengharap pertolongan dari Maha Pencipta alam semesta.
Lama Gef menunggu, usahanya sia-sia, dia tetap tidak diizinkan masuk. Beberapa menit berlalu, do’a Gef terkabul. Suara ledakan bom lawan mampu mengalihkan fokus semua penjaga yang ada di sana. Gef menerobos masuk dengan hati-hati dan segera pergi untuk mencari Dian.
Saat masuk ke dalam, betapa terkejutnya Gef saat melihat banyak sekali mayat yang berderet di sana. Masuk lebih dalam, dia menemukan banyak orang terluka yang sedang dirawat di sana. Mulai dari luka ringan akibat tergores karena terjatuh hingga luka berat akibat terkena serangan berupa bom dari musuh.
Lama dia mencari, tapi ‘tak kunjung menemukan tempat di mana Dian melahirkan. Hingga dia sampai di ujung bangunan dan tinggal pintu terakhir yang belum diperiksa. Saat ingin membuka, rupanya telah ada orang lain yang membukanya dari dalam. Seorang dokter keluar yang diikuti oleh beberapa perawat yang membawa sebuah brankar berisi seseorang dengan ditutupi kain kafan.
“Tidak! Jangan bilang itu adalah Dian? Di mana anakku?” batinnya bertanya. Entah angin dari mana yang menyibakkan sebagian kain putih penutup dan menampakkan sebuah tangan dari mayat tersebut. Terlihat sebuah cincin yang sangat familiar baginya. Ya, cincin yang sama dengannya. Cincin pernikahan mereka yang dia beli 15 tahun yang lalu.
“Kau di sini? Cepat ikut aku ke tempat perlindungan sebelum keadaan semakin memburuk.” Bukannya menolak, Gef malah begitu mudahnya diseret untuk mengikuti militer itu. Tiada lagi harapannya untuk hidup, dia lebih menginginkan mati di tengah ledakan bom daripada hidup untuk saat ini.
“Tunggu! Bawalah bayi ini bersama kalian ke sana. Dalam tas ini berisi semua yang diperlukan untuk bayi ini. Tidak perlu khawatir kehabisan, kemarilah untuk mengambil persediaan.”
Mendengar kata bayi, Gef berbalik dan berlari menghampiri bayi itu dan langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang. “Ayah akan menjagamu dari kejamnya dunia.”
***
Sepuluh tahun berlalu, siapa sangka anak yang lahir di tengah-tengah peperangan itu tumbuh menjadi anak yang selalu dibanggakan oleh Gef atas semua prestasi yang telah dia raih sejak usianya masih lima tahun.
“Henri? Kau sedang apa, Nak? Ayok makan malam di luar untuk merayakan keberhasilanmu kali ini.” Mendengar Gef, ayahnya berjalan mendekat, Henri dengan segera menyembunyikan sebuah kertas yang dia dapatkan dari sebuah perpustakaan tua di kotanya.
Saat memasuki kamar Henri, Gef merasa aneh dengan tingkah laku Henri yang seperti baru saja menyembunyikan sesuatu darinya. Netranya menelusuri seluruh ruang yang dindingnya dipenuhi oleh semua piagam penghargaan dari anaknya yang telah terkumpul selama lima tahun terakhir.
Pandangannya terhenti saat melirik ke kolong tempat tidur Henri. Gef langsung tahu bahwa Henri tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Terlihat dari tingkah Henri yang tidak ingin ayahnya melihat ke kolong tempat tidur itu.
“Ayah melihat apa?” tanya Henri yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Tidak,” jawab Gef dan langsung mengecek ke kolong tempat tidur Henri dan melihat selembar kertas yang berisikan angka-angka secara acak.
Melihat Gef mengetahui apa yang dia sembunyikan, Henri diam tertunduk sambil menghela napas untuk meyakinkan dirinya agar tidak khawatir tentang kertas tersebut karena belum berhasil memecahkannya.
“Apa ini?” tanya Gef yang melihat kertas itu full dengan angka acak.
“Aku tidak tahu, Ayah. Aku menemukannya di perpustakaan tepatnya di dalam buku yang aku pinjam hari ini. Gef mengamati kembali semua angka itu. Namun, Gef beranggapan bahwa kertas itu tidak berguna sama sekali dan menyuruh Henri untuk membuangnya.
“Buang saja, ini ‘tak memiliki makna sama sekali,” ucap Gef kepada Henri.
“Menurutku tidak. Setiap tulisan atau karya lainnya pasti memiliki makna tersendiri bagi yang menulis atau yang menciptakan karya tersebut. Tidak memandang itu sebuah huruf, angka, garis bahkan tanda baca yang terlihat aneh bagi kita yang melihat atau mebacanya. Semua ada makna tesembunyi di baliknya. Kita hanya perlu memahaminya secara perlahan dan tidak memaksakan diri untuk bisa paham arti dari sebuah tulisan atau karya tersebut,” jelas Henri kepada Gef. Gef pun menyetujui apa yang dijelaskan Henri dan membiarkan anaknya bebas mengekspresikan diri dari semua angka itu.
“Baiklah jika itu menurutmu. Jadi, malam ini kita makan di luar?” tanya Gef memecahkan suasana. Mereka saling pandang dan akhirnya tertawa bersama dalam kehangatan sebuah hubungan ayah dan anak.
Gef membiarkan Henri melakukan apa yang ingin dia lakukan, asal jangan pernah melampaui batas kemampuan otaknya yang kini masih berusia sepuluh tahun. Jika tidak, itu akan membuatnya menjadi stress dan frustasi karena tidak dapat memecahkan masalah yang ada. Untuk itu Gef selalu berada di samping Henri untuk membantunya jika dia berada dalam kesulitan.
Saat dalam perjalanan menuju restoran tempat dia dan Henri akan merayakan keberhasilan Henri yang ke sekian kalinya, Gef terkejut dan mengerem secara mendadak di sebuah pangkal jembatan yang terlihat akan roboh. Kendaraan yang berada di belakang tidak peduli dan memilih untuk mendahului mobil yang dikendarai Gef. Saat ingin memutar balik mobilnya, suara ledakan menggelegar yang ternyata berasal dari semua kendaraan yang mendahului mobilnya tadi mengalami kecelakaan beruntun.
Kecelakaan terjadi karena mobil terdepan mengerem mendadak dan meledak yang mengakibatkan semua kendaraan yang ada di sana kena imbasnya dan hancur seketika. Kejadian itu tidak berhenti sampai di situ, jembatan yang diakui kekokohannya itu seketika ambruk dan semua yang di atasnya terjatuh ke dalam laut yang tepat berada di bawahnya. Gef langsung memeluk putranya untuk menenangkannya dan bersyukur jika dia dan putranya masih diberi keselamatan.
Henri merasakan hal yang aneh pada kecelakaan tersebut dan mengeluarkan kertas angka yang disimpan pada saku celananya. Dia merasakan sebuah sengatan hebat saat melihat angka-angka itu. Henri pun bertanya kepada Gef untuk memastikan bahwa dia memang menemukan jawabannya.
“Ayah, tanggal berapa sekarang?” tanya Henri dengan tubuh yang bergetar.
Gef mengecek handpone. “15, Agustus 2020.” Mendengar jawaban dari Gef membuat Henri merasa yakin bahwa angka-angka di kertas itu sebenarnya sebuah teka-teki tempat terjadinya musibah yang besar.
“Ada apa?”
“Cepat putar balik pulang ke rumah, akan kujelaskan semuanya.” Gef menuruti keinginan Henri dan penasaran apa yang baru saja terjadi pada putranya itu. Dia memutuskan putar balik dan kembali ke rumah. Rencana untuk merayakan keberhasilan Henri pun sudah ‘tak terpikirkan lagi.
Sesampainya di rumah, Henri menceritakan kejanggalan yang dirasakannya. Henri menceritakan bahwa dia telah menemukan makna dari kumpulan angka itu dan akan menjelaskan bagaimana konsep dari semua angka yang ada.
Namun, sebelum menjelaskannya Henri bertanya pada Gef apakah ada bencana besar yang terjadi pada tgl 7 Mei 2005. Dan yang benar saja, Gef mengingat pada saat itu adalah hari pernikahannya dengan Dian.
***
“Selamat atas pernikahannya.” Ucapan yang diberikan kepada pasangan baru resmi menikah pada hari itu. Kebahagiaan terpancar dari semua tamu undangan yang turut hadir dalam pesta pernikahan. Ya, itu adalah hari di mana Gef dan Dian mengucapkan janji suci pernikahan mereka.
Namun, siapa sangka setelah acara selesai, badai hujan disertai puting beliung yang sangat dahsyat meluluhlantahkan kota. Semua gedung tinggi ambruk dalam hitungan detik dan banyak memakan korban jiwa. Sangat mustahil untuk bisa selamat dari bencana besar tersebut. Untungnya, Henri dan Dian melangsungkan resepsi pernikahan pada sebuah lapangan yang sangat luas. Tidak terdapat pohon ataupun bangunan yang membahayakan akan roboh menimpa mereka. Hanya saja semua properti pernikahan telah melayang entah ke mana perginya. Semua basah, tapi harus bertahan di sana walau dalam jangka waktu yang panjang demi keselamatan.
Esoknya dikabarkan bahwa badai itu memakan ribuan bahkan jutaan orang di kota. Henri dan Dian sangat bersyukur karena selamat dari badai terdahsyat dalam catatan sejarah.
***
Henri sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, kini dia merasa seperti orang dewasa yang bijaksana dan benar apa adanya.
“Sebenarnya ada apa?” tanya Gef. Henri mearik napas dalam dan siap menjelaskan semuanya.
“Ayah lihat ini.” Henri memperlihatkan sederet angka yang menunjukkan koordinat titik lapangan tempat Gef melangsungkan pernikahan dan menunjuk angka di sebelahnya untuk tanggal pernikahan orang tuanya. Gef yang bingung hanya menggelengkan kepalanya.
“Lihatlah, Yah. Perhatikan! Ayah bilang kalau Ayah menikah dengan Ibu di sebuah lapangan yang sangat luas.” Gef masih bingung.
“Kalau tidak salah lapangan itu berada di alun-alun kota. Benar?” Gef tidak menyangka jika Henri bisa mengetahuinya. Dalam cerita dia hanya menyebutkan lapangan luas dan tidak menyebut letak posisinya.
“Aku bisa tahu dari sini. Jadi ini memberitahukan kita untuk mengetahui letak posisi dan tanggal kejadian sebuah bencana besar. Seperti yang di jembatan tadi, angka yang ini persis menunjuk koordinat letak jembatan dan tanggal hari ini,” jelas Henri. Gef terkejut jika semua yang dikatakan Henri benar apa adanya.
“Pada tanggal 24 Juli 2010, tepat satu hari setelah kelahiranku, perang terdahsyat antara dua negara terjadi. Di sini tidak ada angka yang menunjukkan titik koordinat tapi sudah jelas pada waktu perang banyak memakan korban.” Gef hanya bisa terdiam mendengar Henri menjelaskan semuanya.
“Dan---“ Henri terdiam, dia tidak sengaja melihat angka yang menunjukkan tanggal.
“Kenapa?”
“Ayah, lihat! Ini tanggal besok. Apakah akan terjadi bencana? Menurut perkiraanku ... di hotel kota! Dekat sekolahku, Ayah.” Gef menggelengkan kepala ‘tak percaya dan merebut kertas itu dari Henri. Dia melihat angka yang Henri tunjukkan, dan benar jika koordinat itu tepat berada di hotel dekat dengan sekolah Henri. Karena taku hal itu benar, Gef tidak memperbolehkan Henri untuk sekolah besok pagi.
Esoknya Gef pergi meninggalkan Henri sendiri di rumah dan mengecek apakah benar-benar terjadi suatu bencana? Di jalan menuju hotel, terjadi kemacetan yang panjang. Gef menduga bahwa tebakan Henri benar apa adanya. Dia memutuskan turun dari mobil dan berlari untuk melihat apa yang terjadi. Yang benar saja, hotel itu kebakaran dan api mencapai sekolah yang terletak di sebelahnya. Banyak siswa yang terluka. Gef langsung lemas seketika dengan apa yang sedang dia saksikan saat ini.
Kejadian demi kejadian di tempat menurut perkiraan Henri dan Gef selalu benar dan ‘tak pernah melenceng. Mereka bahkan tahu jika apartement yang ditinggali mereka akan terjadi kebakaran dan secepatnya untuk pergi pindah ke apartement yang baru.
***
Enam tahun berlalu, Henri baru menyadari jika angka-angka tersebut kurang lengkap karena ujung kertas itu sobek. Dia dan Gef memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan tempat dia menemukan sobekan kertas tersebut.
Mereka mencari petunjuk ke seluruh perpustakaan. Di ujung kertas yang ada, hanya menunjukkan waktu dan titik koordinat tanpa adanya tanggal kejadian. Mereka berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan jawaban yang mereka cari.
“Kau menemukannya?”
“Tidak.”
Tidak cukup sampai di sana, mereka berdua bahkan mengunjungi semua profesor terkenal di kota itu dan menanyakan mereka tentang angka-angka yang ada di kertas usang tersebut. Henri menjelaskan maksud dan tujuan mereka ingin mengetahui kelanjutannya. Namun, para profesor tidak ada yang mempercayainya.
Di balik kertas terdapat tulisan kecil, sangat kecil dan hanya bisa di lihat apabila menggunakan kaca pembesar. Mereka membaca satu kata yang ditebak bahwa itu nama seseorang. Kemungkinan besar itu adalah orang yang menulis semua angka tersebut. Sayangnya, setelah ditelusuri orang yang dimaksud dikabarkan meninggal sudah lama. Dia merupakan ilmuan paling hebat pada masa itu.
“Kita harus apa, Yah?”
“Sudah cukup kita mencari, kita hanya bisa tahu setelah kejadian itu muncul. Kita hanya bisa berserah diri pada sang Pencipta Alam Semesta. Kita semua akan mati pada akhirnya.” Setelah menyelesaikan perkataannya, Gef dan Henri pergi ke titik koordinat yang ada dan menunggu waktu. Entah bagaimana mereka yakin bahwa bencana akan terjadi hari itu.
Tepat pukul 12 siang, udara terasa semakin panas dan panas sehingga siapa pun akan merasa kesakitan karena menghirup udara panas tersebut. Henri mendongak, kaget dan tidak bisa menghindar. Sebuah meteorit berukuran besar pun jatuh tepat pada dirinya. Seluruh bumi pun mengalami kehancuran. Tiada satu pun makhluk hidup yang tersisa.
“Sepintar apa pun dirimu dan sekuat apapun usahamu, semua tidak bisa dibandingkan jika Tuhan Pencipta Alam Semesta telah berkehendak.”
END