Suara-suara aneh itu terdengar lagi. Suara yang sangat ingin kulupakan. Aku mendesah berat. Napasku sesak. Ingin rasanya aku menangis tapi aku tidak boleh lemah. Umurku memang baru 17 tahun tapi aku tidak boleh kalah dengan mereka. Ya, mereka. Mereka yang kusebut hantu. Setiap hari menerorku.
Mereka suka menampakkan wajah hancurnya padaku. Wajah yang tak berbentuk dan wujud yang tak sempurna. Apalagi kalau bukan si tangan buntung dengan baju putih berlelehan darah atau si buruk rupa rambut panjang hitam namun punggungnya bolong. Merekalah pengganggu terbesar dalam hidupku. Apalagi hantu yang ususnya terburai mengucurkan darah segar. Menjijikkan.
Aku tak boleh takut. Harus kuat. Aku bisa.
Aku mengambil sorban putih peninggalan almarhum ayahku dan mengibaskannya pada mereka yang berusaha mendekat dan mengganggu. Ajaib, mereka takut dan pergi menghilang seperti angin.
Namun ada satu sosok yang dari tadi memperhatikanku, dia berdiri di ujung pohon ketapang. Sorot matanya yang tajam seolah memperingatkanku agar jangan macam-macam padanya. Gadis berbaju serba hitam yang cantik menatapku sambil tersenyum sinis.
Aku akui dia cantik. Namun entahlah mungkin juga salah lihat karena aku hanya melihatnya dari kejauhan saja. Mata kami hanya saling tatap selama satu menit dan dia menghilang seperti asap.
Rasa penasaranku semakin tinggi. Aku mulai berpikir dia siapa? Asalnya darimana? Kenapa dia mendatangiku? Anehnya wujudnya cantik dan bersih. Tidak seperti astral lain yang hancur lebur.
Aku terdiam dan melamun. Sayup-sayup terdengar suara bisikan.
"Sonia... Sonia..."
Aku menoleh ke arah kanan dan kiri namun tidak ada orang.
"Sonia.. Sonia.. Datanglah padaku besok malam di taman bunga. Aku menunggumu." Suara itu kembali terdengar ditelingaku. Membuatku merinding.
Pikiranku mulai terbuka. Hanya curiga kalau dia adalah si cantik berbaju hitam. Namun entahlah, hanya dugaanku saja. Aku harus memastikannya.
Tepat jam 11 malam aku datang ke taman bunga. Taman yang memang penuh dengan bunga warna-warni. Jaraknya tidak jauh dari rumah.
Angin dingin bertiup lembut di pipi kanan ku. Tanda ada seseorang yang datang. Tentunya bukan manusia, tapi astral dan akhirnya dia muncul. Si cantik berbaju hitam tepat berada dihadapanku. Rambutnya panjang hitam terurai dengan baju serba hitam. Dia menatapku dan tidak bicara sedikitpun. Dia hanya mengajakku salaman. Seperti ada yang ingin dia perlihatkan padaku tentang masa lalunya. Aku membalas dan menggenggam tangannya yang sangat dingin.
Dia memperlihatkan masa lalunya. Masa lalu yang sangat kelam. Hampir 5 menit lamanya dia menggenggam tanganku. Tubuhku gemetar setelah melihat semuanya. Aku terduduk lemas dan menangis.
Namanya Ratih. Dia meninggal 500 tahun lalu. Ayahnya seorang raja yang cukup terkenal kala itu dan dia adalah anak tunggal. Kerajaan yang mereka kuasai hanyalah sebuah kerajaan kecil namun rakyat sangat makmur dan berkecukupan.
Kecantikan parasnya sudah banyak diketahui oleh kerajaan-kerajaan di luar sana. Banyak dari mereka yang mengirim utusan untuk melamarnya. Namun Ratih memilih menolak dengan alasan masih belum siap menikah.
Hingga suatu hari, utusan dari kerajaan ujung timur datang dan melamar. Namun masih juga ditolak. Sang raja kesal dan menyuruh pasukan menyerang kerajaan Ratih. Terjadilah perang besar. Semua orang tewas kecuali Ratih. Namun Ratih dibawa paksa ke kerajaan timur untuk dinikahi paksa sang raja. Ratih menolak dan disiksa selama setahun agar mau menerima pinangan sang raja namun dia tetap menolak. Akhirnya karena Ratih tidak kuat dengan siksaan itu, dia mengiyakan permintaan sang raja. Dihari pernikahan Ratih didandani dengan sangat cantik dengan baju serba hitam. Setelah dirias, Ratih diminta menunggu di kamar pengantin sendirian. Ratih yang sudah sangat tertekan mengambil sebuah tali dan memilih gantung diri tepat sebelum pelayan raja menjemputnya. Semua orang histeris.
Yang membuatku gemetar adalah sang raja biadab itulah yang memenggal kepala ayah Ratih tepat dihadapan Ratih. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ratih melihat ayahnya dibunuh dengan mengenaskan tepat dihadapannya.
Aku terdiam dan masih memandang wajah Ratih yang cantik.
"Lalu apa yang membuatmu masih bergentayangan? Apa ada sesuatu yang kau tunggu?" tanyaku dengan lembut. Dia tersenyum dan kembali menyentuh telapak tanganku. Tangannya dingin sekali seperti es. Dia kembali memperlihatkan sebuah selendang berwarna merah dengan aksen emas diujung selendang. Aku tercengang. Kaget bercampur takjub. Selendang itu indah sekali. Seperti bukan selendang biasa.
"Apa selendang itu milikmu? Kamu ingin aku menemukannya dan mengembalikannya padamu kan?" aku kembali bertanya secara bertubi-tubi. Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
Aku mengiyakan dan bergegas pulang. Di dalam kamar aku berpikir bagaimana caranya aku menemukan benda yang umurnya sudah ratusan tahun dan harus kucari kemana, aku sendiri tak tahu jawabannya. Aku memilih tidur dan berlayar ke alam mimpi.
Dua bulan berlalu, aku belum juga menemukan cara bagaimana menemukan selendang itu. Aku sudah bertanya pada semua astral yang kukenal namun hasilnya nihil.
Suatu hari, seorang anak kecil berkopiah menghampiriku yang sedang duduk diatas ayunan sambil melamun. Dia bilang dia tahu tempat selendang itu. Terkubur disebuah pohon dekat sebuah halaman patung besar di kota.
Malam harinya aku bergegas kesana. Menggali pohon yang dimaksud dan berhasil menemukannya. Namun, beberapa penunggu jahat disana menggangguku. Mereka melempariku dengan batu. Kemudian tertawa cekikikan. Salah satu kuntilanak berusaha mencekikku. Kukunya yang panjang disertai cengkeraman kuat, membuatku tak bisa bernapas. Aku tercekat dan tak bisa melawan. Sayup-sayup terdengar suara cekikikan senang dari penunggu yang lain.
Aku berusaha melawan namun gagal, tubuhku lemas. Namun keajaiban datang. Ratih datang dan menghantam kuntilanak itu. Mereka saling mencengkeram dengan kuat.
"Sonia, pergi. Jangan disini. Berbahaya." bisik Ratih padaku. Aku mengangguk dan pergi sambil membawa selendang itu. Anehnya selendang itu tidak lapuk dan masih kuat.
Aku berlari menuju taman bunga. Tidak berapa lama Ratih datang dan tersenyum padaku. Dia berjanji, kuntilanak itu tidak akan pernah menggangguku lagi.
Aku menyerahkan selendang itu padanya. Dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih kemudian menghilang seperti angin ke langit.
Aku hanya tersenyum melihatnya pergi dengan senyuman. Setidaknya aku sudah menepati janji.