Dia...
Seseorang yang aku kenal di sela pekerjaan ku sebagai pegawai freelance. Sosok wanita yang terlihat sangat polos, dan dia tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi sama perasaan dia sendiri.
Dia terjebak dalam dunia cinta segitiga,
" Hari ini kemana,?" tanyaku kepada nya, dia terdiam dan hanya asyik dengan handphone nya. Tapi sudahlah mungkin sudah kebiasaan dirinya untuk tidak menghiraukan orang-orang disekitar nya.
" Kamu nanya aku,?" dia bertanya balik kepadaku " Maaf," ujarnya sambil memegang tangan ku.
Aku mengangguk kecil dan tersenyum, sudahlah lupakan. Gumamku dalam hati.
Dia adalah temanku, Isyana putri sandria seorang wanita yang berjuang sendiri membesarkan anaknya dan suaminya yang sudah lama tidak bekerja karena di PHK. Mungkin sangat miris melihat seorang ibu yang berjuang sendirian. Sementara sang suami beralih tugas menjadi seorang bapak rumah tangga.
Hari ini Isyana mengajakku pergi ke suatu tempat, cafe yang biasa dia kunjungi di sela dia merasa lelah dan penat.
" Kamu ikut ya,?" tanya Isyana kepadaku.
" Tapi aku ga bisa lama," jawabku sambil mengerutkan kening.
" Ich kok gitu," ujar Isyana sambil sembari merengek kepadaku. " Nanti aku traktir,!" bisiknya di telingaku.
" Hmmmmm.... baiklah," jawabku sambil tersenyum.
Mungkin bukan hanya masalah dia akan mentraktir aku, tetapi masalah waktu yang seharusnya dia jadikan quality time bersama anak dan suaminya yang telah dia tinggalkan selama dia bekerja. Aneh saja, dia lebih memilih nongkrong nongkrong di bandingkan pulang dan melihat anaknya.
Tak lama kita berdua sampai di cafe yang kita tuju, Aku lihat ada perubahan mimik muka yang berbeda dalam diri Isyana. Dia terlihat bahagia. Tidak seperti biasanya.
" Hallo,!!" sapanya kepada sosok pria yang sudah lama duduk di kursi yang seperti nya sedang menungggu kedatangan kami berdua.
Wajah asing terlihat dimataku, kulihat Isyana terlihat asyik dan nyaman saat melihat pria yang tidak pernah aku kenal sebelumnya.
" Mau makan apa,? silakan pesan," ujarnya sambil melihat ke arah kita berdua.
" Pesan makan Rai," ujar Isyana kepadaku, aku mengangguk pelan.
" Sayang mu makan apa,?" Tanya Isyana kepada sosok pria yang sedang duduk di hadapanku.
' Sayang,?' apa ada yang salah dengan telingaku,? apa ada salah dengan pendengaran ku. Aku terdiam dan melihat Isyana dengan pria yang dia sebut sayang.
Apa yang sebenarnya terjadi,? apa aku terlalu polos atau apa,? Apa ini alasan dia mentraktir makan kepadaku hanya untuk menutupi kesalahan dia yang telah dia perbuat,? oo Tuhan...
Setelah selesai makan, walaupun rasanya kikuk aku makan bersama mereka berdua. Isyana menggandengku dan berjalan menyusuri koridor cafe.
" Maaf ya," ujarnya lagi. " Kamu pasti kaget Rai,?" tanya Isyana kepadaku.
" Tenang saja," jawabku. Walaupun sebenernya aku tidak bisa menerima sama apa yang dia lakukan hari ini kepadaku.
Pria itu bernama Dava, pria muda yang dia kenal saat perjalanan tugas ke Jakarta waktu itu. Awalnya hanya sekedar rekan kerja biasa, tetapi mungkin karena terlalu sering dipertemukan hubungan mereka menjadi berubah. Ada perasaan yang tidak bisa mereka bohongi, cinta yang terlarang.
Sebenarnya aku merasa bersalah kepada suaminya, walaupun dia tidak bekerja dan hanya mengurus anaknya di rumah, tetapi rasanya tidak etis untuk suaminya, karena lambat laun apa yang terjadi akan terbongkar dan akan mencelakakan mereka berdua.
" Rai,?" tanya Isyana kepada ku di sela jam istirahat kerja. Aku menatapnya. " Mau bantuin aku ga,?" tanya Isyana dengan sedikit cengengesan.
" Iya apa,?" tanyaku kebingungan.
" Nanti malam aku mau pergi sama Dava," jelasnya lagi
" Iya terus,?" tanyaku lagi
" Bantuin aku bohong ya sama suami aku," ujarnya lagi sembari menggenggam tangan ku. Aku sedikit mengerutkan kening. " Aku cuma minta fhoto kita berdua aja kok ga lebih, nanti kalo suami aku telpon kamu angkat ya," ujar nya lagi sembari memohon kepadaku.
Aku sedikit terdiam dan menghela nafas panjang, apa yang aku lakukan,? apa aku membantunya berbohong kepada suaminya sendiri,? Walaupun berat pada akhirnya aku tetap membantu Isyana untuk tetap berbohong kepada suami dan anaknya.
Sampai kapan aku harus menutupi kesalahan Isyana kepada suaminya,? karena selama ini aku yang dijadikan alasan.
Lambat laun mungkin suami Isyana melihat ada yang aneh dalam diri istrinya. Suami Isyana sering menelpon ku, dan menanyakan keberadaan Isyana. Lama-kelamaan aku menjadi bingung, karena harus mencari alasan untuk menutupi kesalahan orang lain yang mengatas namakan diriku. Apa yang telah aku lakukan sebenarnya,?
Minggu ini aku diundang ke rumah Isyana, katanya ada syukuran anaknya, ini karena anaknya juga aku akhirnya datang ke rumah Isyana. Dan betapa kagetnya saat kulihat Dava sudah berdiri di depan rumah Isyana.
" Kenapa ada disini,?" tanyaku kepada Dava. Dia menjelaskan panjang lebar dan pada akhirnya pada intinya aku menyadari kalau aku hanya dijadikan alat kebohongan mereka berdua.
Bisa-bisanya Dava datang kerumah Isyana, apa yang sebenarnya mereka pikirkan,?
" Kalian sudah datang,? bukannya nelpon aku, ayoo masuk," ujar Isyana yang tiba-tiba membuka pintu dan berbicara seperti itu.
" Ayo masuk," ajak suami Isyana, yang masih menggendong anak nya.
Aku lihat di dalam rumah sudah banyak orang, Dava yang dari tadi ada di dekatku membaur dengan orang-orang yang ada didalam rumah Isyana.
Sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang mereka pikirkan saat ini.
Aku menarik tangan Isyana dan mengajak dia mengobrol.
" Ada apa sich,? kenapa kamu mengarang cerita kalau Dava pacar aku,?" tanyaku sambil melihat ke sekeliling rumah.
" Kan kamu mau bantuin aku dari awal, jadi jangan tanggung-tanggung buat bantuin aku," jawabnya dengan senyuman. Aku mengerutkan kening.
" Bantu kamu dalam hal apa,? aku ga suka ya aku dijadikan alat untuk membohongi suami kamu," jelasku kepada Isyana
" Jangan so suci, jangan ngajarin aku dalam hal seperti ini,karena kamu bukan siapa-siapa aku," jelas Isyana sambil pergi berlalu.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan,?
Aku merasa bersalah pada diriku sendiri, karena memang dari awal aku yang menutupi semuanya. Tapi tidak dengan ending seperti ini.
Malamnya aku pulang dengan perasaan bersalah. Bukan aku so suci atau apalah yang dia katakan. Alangkah baiknya dia berpikir sebelum bertindak, apa dia tidak merasa kasian sama anaknya,? apa dia tidak takut dengan adanya karma. Tuhan apa yang harus aku lakukan,?
Pagi ini aku memutuskan untuk pergi ke rumah Isyana, rasanya aku tidak sanggup untuk menutupi semua sama apa yang dilakukan selama ini.
Sepulang kerja aku langsung berangkat ke rumah Isyana, perasaan ku pun sudah mulai tidak karuan. Banyak hal yang aku takutkan saat ini.
Aku berdiri di depan rumah, tanganku masih gemetaran saat akan mengetuk pintu rumah nya Isyana.
" Maafin aku, aku tidak bermaksud menyakiti kamu," dari dalam rumah Isyana terdengar suara meminta tolong. Aku dengar suaranya, suara Isyana yang sedang merintih menahan sakit.
Ada apa di dalam,? aku mengetuk pintu rumah Isyana. Ada perasaan takut menyelimuti pikiran dan hati aku.
" Isyana,!!!!! Isyana,!!!!!" aku mengetuk pintu rumahnya dan terus berteriak memanggil namanya. Tapi tidak ada tanda-tanda Isyana untuk membukakan pintu untukku. Aku takut dia kenapa-napa di dalam.
Astaga aku tidak tahu harus berbuat apa,?
Aku takut Isyana kenapa-napa,?
Keesokan harinya....
Di tempat kerja ramai masalah Isyana yang di rawat di rumah sakit akibat kdrt yang di alaminya semalam. Banyak orang yang bertanya kepadaku tentang permasalahan keluarga mereka.
Dan pada akhirnya masalah yang ditutupi oleh Isyana harus di ketahui oleh orang banyak, aib yang aku tutupi untuk kebaikan Isyana pun akhirnya terungkap.
Karena tidak ada rahasia yang bisa ditutupi dengan baik.
Dan pada akhirnya kebenaran akan terungkap bagiamana caranya.