Cipta merengkuh Iris. Berbagi kehangatan yang tersisa. Waktunya tersisa sedikit lagi. Ia ingin membawa kenangan mereka bersamanya.
" Mencintaiku sampai akhir. Bisakah kau memenuhi janji itu?" Emosi tak menghadirkan perubahan apa pun dalam penampilan Cipta. Pria itu tetap menatapnya dengan kesungguhan hati. Menanti jawaban keluar dari bibir kekasihnya.
" Apapun yang kau minta." Ketulusan itu menjawab semua keraguan Cipta akan cinta Iris kepadanya.
Senyum keduanya terangkai indah. Iris memberikan bibirnya untuk dikecup. Simbol sederhana itu menguatkan Cipta. Bibir mereka bertemu.
" Aku beruntung bertemu denganmu." Cipta menyentuh helai rambut hitam Iris, merasakan tekstur lembut itu di jemarinya. " Gadis berhati baik, sederhana, dan setia."
Bibir Iris cemberut, " Dulu kau bilang aku menyebalkan, berisik, dan susah diatur. Cepat sekali kau berubah pikiran."
" Itu dulu." Cipta kembali menciumnya di bibir, " Kau telah membuktikan sesungguhnya cinta itu kepadaku. Aku buta dan menyesalinya kini."
" Bukankah kau hanya membuktikan dangkalnya pemikiranmu?" Iris membiarkan Cipta merebahkan kepalanya di bahunya. Tangan mereka saling terjalin.
Danau tenang di depan mereka belum terlalu ramai saat pagi. Sebentar lagi, orang- orang akan datang dan memenuhi tempat itu.
" Maukah kau memaafkan aku, Iris?" Setelah hening menyelimuti keduanya cukup lama, Cipta bersuara, pelan, nyaris berbisik. Matanya perlahan terpejam.
" Apakah kau memberiku pilihan?"
Cipta tersenyum samar, " Kau marah padaku?"
" Kenapa aku tidak boleh marah kepadamu?"
Cipta menarik napasnya perlahan, " Kau tidak boleh marah padaku, Iris, karena aku sangat mencintaimu. Pada akhirnya, hanya kau yang ada di hatiku."
Cairan bening itu menetes menuruni pipi Iris, " Kenapa kau tidak tanya, kenapa aku marah kepadamu, hah? Apa kau tahu sebabnya?"
" Aku tidak suka kau menangis, Iris." Cipta sedikit mengeluh kepada gadis itu, " Jangan menangis."
" Kau jahat, apakah kau tahu itu?"
Seandainya waktu dapat berputar kembali, Cipta akan membuat segalanya berbeda. Menyambut cinta Iris begitu ia tahu jika gadis itu menaruh hati kepadanya. Menghargai semua perhatian Iris kepadanya. Dan, mengembalikan cinta Iris dengan sepantasnya.
Seandainya,...
" Iris, cintaku hanya akan membuatmu sedih dan menderita. Kehidupan tidak membuat banyak pilihan untukku. Kau terlalu berarti bagiku. Cintaku akan menjadi beban buatmu."
" Kau memang keras kepala." Iris mendesah.
" Ya, aku memang berkepala batu."
" Aku tidak akan berdebat denganmu soal itu." Iris merasakan kepala Cipta kian berat menekan bahunya. Ia tetap menatap danau di depannya, tak kuasa menoleh ke samping. " Cip, aku tidak akan marah lagi padamu. Katakan kau mencintaiku."
" Aku tidak mau."
" Kalau begitu aku tidak akan memaafkanmu seumur hidupku. Aku akan selalu menangis dan mungkin akan membenci hidup ini."
Jemari Cipta mengencang sesaat, " Jangan lakukan itu. Kehidupan tidak untuk dibenci. Kau akan menodai kehadiranmu di dunia ini. Iris, garis hidup manusia semua sudah ada catatannya. Kapan datang dan kembali. Adapun penyebabnya, itu hanya misteri. Kau hanya melelahkan dirimu jika ingin mencarinya. Ikhlaskan semua. Hidupmu."
" Kalau begitu katakan,..." Iris mendesaknya.
" Bawel,.."
" Cipta!"
" Aku mencintaimu, Iris. Selamanya mencintaimu,.."
Kepala Cipta terkulai, begitu napasnya berakhir. Waktunya sudah tiba, ia harus kembali. Ia tak bisa menunda lagi meski pun ia mau.
Angin berhembus membawa Cipta bersamanya. Tertinggal keheningan dan sosok Iris seorang diri. Matanya terpejam,
" Aku mencintaimu, Cipta."
🔆🔆🔆