Tik Tok Tik Tok
Suara detik jam itu mengalun dalam kesunyian malam. Tidak nyaring, tapi mengusik. Seperti 'kita', tidak bersua tapi aku merindu. Langit-langit kamar menemaniku. Ah, memandang langit kamar saja membuatku teringat kisah kita.
Atau haruskah kusebut saja, kisahku ?
-TaliYangTidakTersambung-
Hari itu pertamakalinya aku mengenal sosokmu. Berdiri didepan sembari menjelaskan materi itu. Mungkin, aku terpikat pada tuturmu, tersihir jiwamu. Duniamu, segala hal tentangmu, menawan. Terpikat pada dirimu. Jika Raisa bilang, itu 'Jatuh Hati'.
Semakin hari perasaan aneh ini menggebu. Aku selalu mencari celah agar bisa berada didekatmu. Bisa bercakap denganmu walau hanya lewat pesan singkat. Walau dengan topik permbicaraan yang terkesan dibuat-buat. Perasaanku menggila. Perlahan aku menjadi lebih serakah.
"Bolehkah aku ingin lebih dari ini?" ujarku.
"Lebih apa?" tanya sahabatku.
Aku hanya tersenyum. Mari kita rahasiakan ini sejenak dari lingkup kehebohan.
Hari-hari serakahku terus berjalan. Setiap hari aku sadar bahwa aku menjadi lebih...
Jika kau tanya sejauh apa khayalanku, aku sudah ke bulan. Ya, mungkin lebih tepatnya bagai punuk merindukan bulan?
"Harus kukatakan," sekali lagi aku berbicara pada diriku sendiri. Sudah aku putuskan. Aku tidak bisa lagi menahan emosi yang baru pertama kurasakan. Menggila. Menggebu. Merindu.
Dengan jantung berdebar-debar. Tangan yang sedikit berkeringat. Aku menahan gejolak. Mengetik pelan, menyatakan bahwa hatiku sangat mengaguminya. Bahwa aku... sangat menyukainya. Sangat.
Ia tidak terlalu tinggi untuk ukuran pria. Bicaranya lembut. Suaranya merdu sekali. Kulitnya putih. Bulu matanya lentik sekali. Sorot matanya tajam dan lembut bersamaan.
"Dia yang hanya selalu galak padaku,"
Ah, sepertinya aku semakin kacau.
Centang dua abu-abu itu perlahan berubah menjadi biru.
Jantungkku menggebu.
Penasaran
Takut
Suka
Khawatir
Bahagia
Menjadi satu. 'Ting' notifaksi pesan masuk. Dengan tangan gemetar aku membuka pesan itu. Tulisan panjang memenuhi layar. Aku tertegun sejenak.
"Aku sudah bertunangan, sudah lama." bait ini yang selalu terngiang. "Terimakasih karena kamu sudah berani. Kita tidak tahu jodoh itu akan seperti apa. Memperbaiki diri adalah jalan yang terbaik untuk saat ini."
Balas pria itu.
Bijaksana.
Lega.
Aku tersenyum. Tapi genangan hangat ini tidak bisa menipu siapapun.
Tidak ada penolakan secara halus. Tidak ada penolakan tanpa rasa sakit. Apakah aku juga kecewa? Tapi, tembok ini terlalu tinggi.
Kamu milik 'dia'.
-TaliYangTidakTersambung-
Air dingin malam ini kembali menemani aku. Telapak tangan, hidung, wajah, tangan dan kaki. Kuharap air ini dapat sedikit menyadarkanku. Membantu aku menghapus sedikit saja rasa rindu yang tidak pada tempatnya ini.
Diatas sajadah ini, aku letakan hatiku yang terpatah. Bagai tali yang tidak tersambung. Satu, aku sangat menyukaimu. Dua, aku merindukanmu, sangat. Tiga, Kamu milik 'dia'. Empat, apakah rasa rinduku ini akan menjadi dosa untuk aku dan kamu?
Diatas tanganku yang mengadah ini. Aku memegang erat pada tali itu. Tali terputus yang setiap harinya menjadi semakin rapuh. Tembok itu mengikis taliku yang sudah rapuh.
Diatas sajadah ini, aku titipkan sisa taliku. Hingga ia kembali kuat.
Hingga ia tersambung kembali.
Aku tidak tau, sampai kapan...
Tapi, aku sedang berjalan kedepan.
Tentu saja tanpa kamu.
Salam dari rinduku. Selamat bertambah tua bulan ini, ya.
Segala doa terbaik dari aku untuk kamu. Dari aku yang pernah, mencintaimu.
-TheEnd-
Holla ! Aku dedikasikan cerita ini untuk kamu yang sedang patah hatinya. Meski harus adu urat dulu kan krn izin biar bisa aku publish gitu. Aku cuma mau bilang, kamu keren !
Mau ceritanya dibuat story juga ? Bisa dm ya @mellisameme_