Novel ini bercerita tentang tiga anak SMA yang super kocak. mereka diteror oleh hantu disekolah, berawal dari kebodohan mereka sendiri yang percaya akan mitos yang baru mereka dengar yaitu kalau melumuri kursi orang yang paling menyebalkan dikelas dengan saos cabe pada malam hari maka keinginan mereka akan terkabul dan keinginan mereka adalah ingin bayar hutang ke ibu kantin.
Ternyata dimulai dari sana terungkap kalau banyak keganjilan yang terdapat disekolah mereka dengan muncul sesosok hantu perempuan berambut sebahu. dari kejadian itu setiap hari mereka selalu diteror sosok tak kasat mata yang selalu menggangu mereka saat disekolah.
#
Bagian satu (Saos Cabe di Kursi)
Langit gelap dan muram, denting suara jam mengalun kencang dan riuh pepohonan yang diterpa angin membuat suasana semakin terasa mencekam.
Tiga orang laki-laki berjalan beriringan dengan tawa yang mengembang, mereka saling menebar senyum dan bertepuk tangan.
"kenapa sih, kita jalan malam-malam kesini ?". Tanya gini polos, sambil mengunyah nasi yang dicampur keju dan coklat, dengan repotnya ia membawa tempat makan bergambar Spongebob dilengan kanannya itu.
"cerewet banget sih, ikut aja. jangan banyak tanya!!!". Bentak karmus sambil melotot kearah gino.
Gino langsung menunduk sambil meneruskan makannya kembali.
Mereka bertiga masih terus berjalan, menyusuri jalanan setapak menuju kelas X -1 yang berada dilantai dua.
Sepi terasa sekali diruangan itu, yang terdengar hanya langkah kaki mereka bertiga saja.
Jim berjalan paling depan. pria berkulit hitam dan bertubuh tinggi itu memang terkenal yang paling pemberani diantara kedua temannya.
Sedangkan yang yang berjalan ditengah ada Gino, pria berwajah blasteran Jerman Jawa yang sifatnya seperti anak kecil, ia manja dan polos.
dibelakang Gino ada Karmus ia terlihat kesusahan, nafasnya menderu seperti uap kereta yang melaju. baru berjalan sebentar saja Karmus pasti sudah sangat kelelahan karena tubuhnya yang besar membuat ia sulit berjalan.
Karmus berjalan melewati beberapa kursi hingga sampai di kursi paling belakang ia masih terlihat kesusahan memegang wadah besar yang didalamnya berisi saos cabe yang merah, kental dan terlihat sangat lengket.
Dengan cepat Karmus mengolesi bangku kayu itu dengan saos sambal yang ia pegang. Segurat senyum licik terlihat dibibirnya yang kehitaman.
"sudah cukup, Karmus. Aku tak kuat lagi., melihatnya". Bentak Jim yang berada tepat dibelakang Karmus.
Jim mengambil wadah plastik yang dipegang Karmus. ia merebutnya dengan paksa. Jim meraba wadah itu sudah kosong dan hanya tersisa disela-sela pinggirannya, langsung saja Jim merogoh saku celananya dan mengambil dua buah potong tahu dan mengolesinya dengan saos yang masih sisa itu. wajah Jim seketika berubah ia tersenyum puas.
Jim sebenarnya paling tidak setuju dengan ide ini, ia yang paling menolak saat Karmus memberitahukan kepadanya kalau mengolesi saos pada malam hari maka keinginan kita akan terkabul. namun Jim tidak enak jika hanya teman-temannya saja yang berangkat ditambah lagi Jim sangat menyukai makanan pedas termasuk saos ini.
" Ini semua gara-gara Gino, aku percaya saja dengan omongan si bule bodoh itu tentang apa yang ia baca di koran bertanggal lama. kalau kita bakal bisa bayar hutang jika mengoleskan saos cabe ke bangku orang yang paling menyebalkan dikelas. kalau saja bukan karena aku ditagih ibu kantin mana mau aku malam malam ke sekolah seperti ini." Kata Karmus kesal. ia mendelik kearah Gino yang sedang makan dengan santainya ditengah kegelapan.
" Karmus, sudah selesai belum?" Tanya Gino. wajah tampannya meringis ketakutan.
"Karmus, Gino Capek nih megang Senternya." kata Gino lagi.
"Sebentar lagi." Balas Karmus.
"Rasakan kau Dani. Bocah sombong Yang selalu mengingatkan ada tugas jika ditanya oleh guru." Umpat Karmus dalam hatinya sambil tersenyum riang.
"Ayo sudah selesai kita pulang." kata Karmus sambil mengajak teman-temannya keluar kelas.
Saat Karmus melangkahkan kaki keluar kelas dihadapannya sudah ada sosok perempuan berambut sebahu yang berdiri mematung. Karmus takut kalau itu gurunya yang kebetulan lewat, dengan cepat Karmus meminta maaf, sambil terus menundukan pandangannya ke bawah.
"Karmus, ayo cepat katanya mau pulang". Kata Jim sambil menepuk lengan Karmus . seketika Karmus kaget, karena perempuan berambut sebahu yang didepannya sudah tidak ada lagi.
"Jim, itu ada perempuan, kamu enggak lihat?". tanya Karmus sambil berjalan dibelakang Jim. dan Jim menjawab dengan menggelengkan kepala.
Saat menuruni tangga dan melewati lorong kelas untuk kelantai bawah. karmus mencium sesuatu yang menyengat dan tiba tiba dari arah kelas yang baru saja mereka tinggalkan terdengar dentuman keras pintu yang ditutup. Karmus dan Jim kaget, mereka saling tatap tanpa bicara. hanya satu yang mereka pikirkan yaitu lari sekencang mungkin.
#
Bagian satu sudah selesai.
maaf kalau banyak typo, karena autor baru pertama kali nulis cerita.
Terimakasih sudah membaca.semoga kalian suka sama tulisan yang ditulis sama autor