Kami berlari menuju puncak menara di gedung ini, sementara itu ketiga monster tadi terus mengejar kami dan menyerang, menghancurkan beberapa benda, bahkan tangga yang kami naiki hancur dibuatnya. Aku mencoba meluncurkan serangan dengan menembaki ketiga monster itu, agar langkah mereka sedikit terhambat, tapi sia-sia saja peluruku tak berefek sama sekali. “Senjata macam apa ini? Ah.. wajar saja aku masih di level 1 belum cukup memiliki poin untuk membeli senjata yang lebih kuat,” Gumamku kesal. Kini kami sudah berada di puncak menara, begitu pun dengan ketiga monster itu. Di balik wajah buruknya ku lihat mereka tersenyum dan mengarahkan senjata ke arah kami.
“Matilah kalian!” Suaranya terdengar menggema.
Aku dan Nathan benar-benar terpojok, tak pernah ku sangka aku akan mati konyol dalam sebuah game.
—
“Loh, tadi Ibu ke sini kalian tidak ada di kamar? Ke mana tadi kalian ini?” Ibu tampak bingung.
Aku dan Nathan saling berpandangan, saat ini kami kembali berada di kamar Nathan. Ku lihat komputernya sudah mati. “Ibu tadi yang mengeluarkan gamenya dan Ibu juga yang mematikan komputernya,” Lanjut ibu melihat aku dan Nathan terdiam. “Sudah ayo cepat kita makan malam, Ayah sudah menunggu,” kata ibu kemudian berlalu.
Tiba-tiba layar komputernya menyala lagi dan…
“Tidak, tidak lagi!” Aku dan Nathan segera pergi meninggalkan kamar.