Dia adalah seorang putri yang tak diinginkan.
Dia seorang teman yang tak diharapkan.
Dia berjuang menghadapi kerasnya hidup sendirian.
Tapi dia bisa membuktikan kepada dunia, kalau dia mampu bertahan meski hanya seorang diri.
***
Ini adalah kisah tentang dia, seorang gadis yang bernama Lili. Sebuah nama sederhana yang diberikan seorang nenek tua, yang menemukannya saat bayi di tempat pembuangan sampah.
Keadaannya saat itu sangat memprihatinkan. Tali pusar yang masih basah, tubuh masih berwarna kemerahan. Menandakan bahwa bayi itu baru saja dilahirkan beberapa saat yang lalu. Dia hanya dibalut oleh selembar kain tipis yang berlumuran darah. Dan dimasukkan kedalam kardus bekas, karena tubuhnya yang sangat kecil.
Saat sedang memulung, nenek Ripah mendengar suara tangisan bayi yang sudah melemah. Suara itu sangat memilukan, ia mencarinya dan menemukannya hampir tertumpuk oleh sampah di sekitarnya. Ia segera mengambil bayi itu dan membawanya ke rumah bidan yang ada disana.
Sepanjang perjalanan menuju rumah bidan, dalam hatinya bergumam. "Orangtua mana yang tega membuang bayi secantik ini, aku yang sejak dulu menginginkan anak saja tidak diberi oleh Tuhan, bahkan sampai suamiku meninggal".
Saat bidan memeriksanya, bidan mengatakan jika bayi tersebut kedinginan dan sudah dehidrasi. Karena belum diberi apapun sejak dilahirkan. Nenek Ripah memberikannya susu formula, karena ia masih melihat binar mata dari bayi mungil itu. Yang menyiratkan bahwa bayi tersebut masih ingin hidup.
"Nenek akan merawatmu sebaik mungkin Lili, bayi yang mungil, putih dan cantik seperti bunga Lili".
Mulai saat itu nenek Ripah memutuskan untuk merawat Lili ketimbang menyerahkannya ke kantor polisi. Dengan penuh ketulusan Nenek Ripah merawat Lili. Ia selalu membawa Lili kemanapun ia pergi, bahkan saat sedang memulung sekalipun. Hingga Lili terbiasa dengan keadaan itu. Lili tumbuh menjadi anak yang ceria dan patuh terhadap nenek Ripah. Ternyata Lili juga pintar meskipun tidak sekolah formal, ia hanya mengikuti sekolah terbuka yang diadakan oleh sekelompok orang yang masih peduli dengan nasib para pemulung.
Di sekolah itu selain diajarkan pelajaran biasa atau tertulis, juga diajarkan cara membuat kerajinan tangan dari barang bekas. Lili sangat tekun, dia bisa melakukan semua yang diajarkan. Meskipun dia dijauhi oleh teman sebayanya, dia tidak peduli. Teman-temannya menganggap dia berbeda, karena tidak mempunyai orang tua seperti mereka. Ya begitulah kalau anak kecil sudah sering menonton sinetron azab, jiwa pembully hadir begitu saja.
Dia masih mempunyai nenek Ripah, itulah pikirnya. Tapi semua berubah, saat suatu hari nenek Ripah mulai sakit-sakitan. Lili yang biasanya tak boleh memulung dan hanya disuruh fokus pada belajarnya oleh nenek Ripah, kini terpaksa mulai memulung untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan nenek Ripah.
Meskipun Lili masih kecil, ia dengan telaten mengurus nenek Ripah. Dari mulai memasakkan bubur dwngan panduan nenek Ripah, menyuapinya, membelikannya obat, juga mengelap tubuh nenek Ripah. Nenek Ripah merasa bahagia, karena di usia tuanya dan pada saat dia sakit-sakitan ada yang mengurusnya.
Dua tahun sudah nenek Ripah sakit-sakitan, dan selama itu pula Lili bekerja keras dengan memulung dari pagi sampai petang. Ia mencari botol bekas, kardus, apapun itu yang laku dijual agar bisa terus membeli obat untuk sang nenek.
Hingga pada suatu hari, penyakit nenek Ripah semakin parah. Lili tidak mempunyai uang untuk membawanya ke Rumah Sakit. Hingga nenek Ripah mneghembuskan nafas terkhirnya. Lili merasa sangat terpukul, sedih, hancur. Dia tidak memiliki siapaun lagi di dunia ini, sendirian, dikucilkan. Diusianya yang baru 12 tahun ia harus hidup sebatang kara. Tetapi ia tetap harus melanjutkan hidupnya, bertahan melawan kerasnya kehidupan. Ia tidak ingin membuat nenek Ripah yang telah merawatnya kecewa jika ia menyerah begitu saja.
Dia mulai serius sekolah lagi dan menekuni ilmu yang ia dapat dari bersekolah terbukanya itu.
Lili bisa membuat berbagai macam kerajinan tangan seperti tempat tisyu, bingkai foto, tempat pensil, gantungan kunci dan lain sebagainya dari limbah yang ia dapat saat memulung. Hasil karya Lili tersebut difoto oleh gurunya yang mengajarnya disekolah terbuka. Lalu diposting, dipromosikan diberbagai jejaring sosial media dan internet.
Ada seorang pengusaha bernama Herman yang melihat postingan itu di internet dan dia tertarik dengan karya-karya yang menurutnya unik tersebut. Pengusaha itu lalu mendatangi sekolah terbuka Lili, dan meminta agar Lili mau membuatkan karya-karya tersebut dalam jumlah banyak dan dia akan memasarkannya.
Lili menyetujuinya, karena baginya itu adalah hal yang menyenangkan. Tapi ia meminta syarat agar Tuan Herman menyediakan bahannya, tidak mungkinkan dia harus memulung dan juga membuat karya itu seorang diri? Lalu Tuan Herman mulai membeli semua hasil yang didapat dari pemulung yang ada disana agar bisa dijadikan karya oleh Lili.
Beliau juga meminta Lili untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain untuk membantunya dalam pembuatan karya itu. Pesanan pertama sudah selesai dan mulai dipasarkan oleh Tuan Herman. Hasil yang tak disangka-sangka, banyak orang yang tertarik dan berminat oleh produksi dari Tuan Herman yang memang Pengusaha ternama.
Tuan Herman merasa senang dan bangga pada kecerdasan Lili, yang begitu gigih diusianya yang masih belia. Beliau memutuskan untuk menjadi orangtua asuh bagi Lili dan menyekolahkannya disekolah formal agar Lili bisa mengembangkan bakatnya.
Lili mau, tapi Lili memilih untuk tetap tinggal dirumah nenek Ripah. Agar bisa selalu mengenang nenek Ripah.
Hari berganti bulan, dan bulan pun berlalu berganti tahun. Tahun demi tahun terlewati dengan penuh suka duka. Kini Lili sudah menyelesaikan pendidikannya dengan cepat berkat kecerdasan yang dimilikinya. Ia dipercaya oleh Tuan Herman untuk mengurus pabrik miliknya yang bergerak dibidang furniture, karena disitulah bidang Lili sejak kecil.
Ia terus membuat desain-desain furniture yang baru untuk kemudian diproses dipabrik yang dikelolanya. Furniture yang dihasilkan dikirim hingga ke Luar Negara. Pabrik tersebut menjadi semaki maju dan berkembang ditangan Lili.
Lili mulai membuka pabrik baru miliknya sendiri dari hasil yang didapatkan selama bekerja pada Tuan Herman. Tuan Herman tidak masalah akan hal itu, malah ia meminta Lili untuk tetap mengurus pabriknya juga. Karena permintaan pasar semakin meninggi jadi kedua pabrik tersebut tetap bisa beroperasi bersama.
Kini Lili menjadi seorang pengusaha muda yang sukses. Ia mampu membuktikan kepada kedua orangtua yang telah membuangnya, bahwa dia bisa hidup bahkan sukses tanpa mereka. Semoga kelak orangtuanya menyesal jika tau anak yang telah dibuangnya kini menjadi seorang yang berguna bagi banyak masyarakat dan membanggakan negara. Karena menjual produk asli dari Indonesia ke Luar Negara.
"Nenek Ripah, terimakasih karena engkau dulu telah sudi memungutku saat orangtuaku sendiri tak menginginkanku. Berkatmu kini aku bisa menunjukkan pada dunia, bahwa aku mampu berpijak pada kakiku sendiri".
Lili membangun gubug reot nenek Ripah menjadi sebuah bangunan megah nan kokoh, yang dijadikannya sebagai panti asuhan untuk anak-anak terlantar yang bernasib sama sepertinya. Agar tidak ada lagi anak yang harus merasakan penderitaan seperti dirinya dulu.
"Terimakasih Nenek Ripah, terimakasih Tuan Herman. Jasa kalian tak akan pernah aku lupakan"
Gumam Lili menutup buku bersampul biru yang berisi perjalanan hidupnya.
Rencananya dia akan membukukan kisah hidupnya agar orangtuanya tau bahwa anak yang mereka sia-siakan masih hidup dan baik-baik saja sampai detik ini.
Hidup sendiri.
Tanpa mereka yang disebut orangtua.
Selesai.🤗
Semoga tidak akan pernah ada lagi anak yang bernasib sama seperti Lili ya🥺.