Pena-pena mungil milik gadis jelita ini mulai mengisi coretan kertas putih. Cahaya rembulan dan sang bintang pun terpancar hingga ke dalam sudut-sudut kamar melalui sela-sela jendela.
“Kapan kak Mawar bisa nerima Airin sebagai adiknya? Kapan ia akan memanggil Ai dengan sebutan dik? Kapan kakak bisa memelukku, mendorong kursi rodaku dan menikmati secangkir cokelat favoritku berdua.” Tulis Airin di diary hariannya.
Pertanyaan itulah yang selalu menghantui Airin setiap malam.
Kapan kak Mawar bisa manggil Ai dengan sebutan dik?
Kapan Ai bisa merasakan pelukan hangatnya?
Kapan dia bisa mendorong kursi roda Ai?
Kapan kita bisa menikmati cokelat bersama?
Sejak Airin dilahirkan di dunia ini, ia belum pernah melihat kakaknya tertawa untuknya, ketika balita pun kak Mawar selalu memusuhi Airin. Fikiran Airin mulai melayang ke 14 tahun yang lalu, ketika ia berumur 2 tahun dan kakak berumur 8 tahun.
“Aduh kak sakit kak.” Rintih Airin ketika kakinya terjepit di rantai sepeda yang dikayuh kak Mawar.
“Hahaha.. tahan ya anak pembawa sial, jangan kamu fikir kakak dengan senang hati membiarkanmu bermain bersama kakak.”
Apa? Jadi ternyata kakak pura-pura baik di depan bunda tadi hanya untuk mencelakaiku. Ya Tuhan tolong Airin. Batin Airin sambil melihat darah ke luar memancar deras dari kakinya.
“Bunda, aku gak mau ribut sama bunda cuma gara-gara anak pembawa sial itu.”
Suara teriakan Mawar membuat hati Airin bagai tertusuk seribu pedang, matanya mulai berkaca-kaca, hatinya rapuh bila kakaknya selalu menyebutnya sebagai anak pembawa sial, padahal ia tidak pernah tau apa salahnya selama ini.
“Gak. Dia itu gak bisa ngembaliin semua, dia itu anak pembawa sial, bunda lupa gara-gara dia, kita kehilangan ayah dan kehidupan bahagiaku.”
Hati Airin semakin tertusuk rasanya, bulir-bulir putih itu sudah menggenangi pipinya sejak tadi, sejak keributan antara ibu dan kakaknya.
“Lihat saja bun, semenjak ada dia kita selalu aja ribut, itu karena dia, kita ribut karena anak pembawa sial itu.” Terdengar suara Mawar membentak.
Plak… suara tamparan keras mulai terdengar, dan disertai isak tangis Mawar dari luar kamar.
Airin membawa kursi rodanya ke luar kamar, ia berjuang sekuat tenaga hingga mencapai ruang tengah, dimana keributan terjadi.
“Pergi kamu! Kamu bukan anak bunda, kamu…” terputus,
“Airin.” Toleh bunda tersentak melihat Airin berdiri disana, menyaksikan kakak dan ibunya bertengkar itu.
Ya Allah, Airin.. kenapa kamu disini? Ya Tuhan, kuatkanlah hatinya agar bisa menerima semua ini, dan berikanlah hidayah pada Mawarku. Mawar yang sudah layu sejak lahirnya Airin yang menggantikannya. Batin bunda.
Brak… suara pintu tertutup keras membuyarkan lamunan bunda dan juga Airin.
“Kakak?” Airin mengayuhkan kursi rodanya ke pintu kemar Mawar.
“Kakak. Kak. Buka kak!”
“Airin. Sayang ini…”
“Ai kecewa sama bunda, kenapa bunda memarahi kak Mawar, kak Mawar itu baru saja pulang dari kampus bun, dia juga pasti cape.” Kata Airin sembari meninggalkan bunda menuju kamarnya.
Byur… air sedingin es itu membasahi wajah gadis yang tengah lelap tertidur ini, seketika mata indahnya terbuka, dan ia kaget mendapati sosok kakaknya yang menyiramnya menggunakan gayung.
“Enak tidurnya? Puas.” Bentak Mawar sambil melotot.
“Kak Mawar?” Airin bangun dari ranjangnya dan terduduk meraih kursi rodanya.
Dak.. kaki jenjang milik Mawar mendorong kursi roda itu hingga menjauh dari tubuh Airin, padahal ketika itu Airin sudah siap untuk mendudukinya, akhirnya tubuh Airin pun jatuh terduduk di atas lantai membuat tulang pinggangnya benar-benar terasa hancur, belum lagi kakinya yang terpaksa membentur lantai, membuat kaki itu kaku dan tidak bisa bergerak.
“Gimana? Sakit?” tanya Mawar mengangkat satu alisnya, bulir-bulir putih di wajah Airin pun mulai mengalir deras, Airin sudah tidak sanggup berbicara apa-apa, ia merasa kakinya sudah remuk saat ini.
“Ini belum seberapa anak pembawa sial, ini hanya untuk tamparan bunda kemaren, belum ketika bunda memarahiku, mencaciku, menusuk hatiku,”
“Belum juga atas kepergian ayah.” Lanjutnya tersenyum evil.
“Kak. Airin minta maaf kak, Airin bingung selama ini, apa salah Airin kak?”
“Salahmu,”
“Banyak. Udah membuat ayah pergi, udah merenggut kebahagiaan masa kecilku, udah membuat bunda membenciku, udah mengalihkan perhatian bunda dariku, udah merenggut semua yang ku,”
“Dan masih banyak, dan aku gak akan nyebutin sekarang karena apa? Karena udah gak ada waktu buat si anak pembawa sial bahagia.”
Setelah berkata seperti itu Mawar mulai menarik rambut Airin, ia menyeret tubuh Airin hingga sampai di kamar mandi. Untunglah rumah mereka sangat kecil, hingga jarak kamar Airin ke kamar mandi hanya sedikit.
Byur… Mawar mulai menyiram Airin dengan gayung di kamar mandi, Airin hanya diam ketakutan tak berdaya, dia mengigit bibir bawahnya tajam dan tubuhnya ikut bergetar karena kedinginan.
“Ini untuk rentetan cacian bunda kemarin, dan itu masih belum cukup, masih membekas di hatiku.”
Byur… Hingga pada siraman selanjutnya sesuatu telah menarik tubuh Mawar hingga terdorong ke belakang, ke luar dari kamar mandi, dan ternyata itu adalah bundanya.
“Bunda.” Lirih Mawar, Mawar pun segera berlari ke kamarnya sendiri.
“Bunda.. hiks.. hiks..” tangis Airin ketika sudah mendapati bundanya, Airin memeluk bunda erat-erat, begitu pun dengan bundanya.
“Ai. Sayang. Ai kedinginan? Sudah ya, Ai nggak usah takut, bunda ada disini.”
“Hiks.. hiks.. bunda..” Airin semakin mempererat pelukannya.
“Sayang, bunda akan membuatkan surat untuk kamu libur hari ini ya!”
“Ti.. tidak bun, Ai harus ikut acara perpisahan angkatan Airin.”
“Tapi Airin, keadaanmu tidak baik.”
“Bunda.”
“Kamu yakin?” jemari ibunda mengusap pipi bekas air mata anaknya itu. Airin mengangguk mantap.
“Mandi dan bersiaplah! Bunda akan mengantarmu.”
“Terima kasih bun.”
Setelah peristiwa tadi pagi, Airin jadi kepikiran terus sehingga ia tidak bisa konsentrasi dengan panggung perpisahan di depannya ini, ya hari ini adalah hari perpisahan angkatan Airin dari kelas tiga SMA.
“Baiklah, pengumuman selanjutnya, tentang murid teladan dan perolehan nilai rapor tertinggi selama tiga tahun terakhir adalah.. diraih oleh… Airin Arose Septianti.” Suara gemuruh tepuk tangan mulai terdengar, satu dua tiga detik lamanya Airin tersadar dari apa yang dilihatnya.
“Bunda, Airin bun.”
“Iya kamu sayang.” Airin pun berpelukan dengan bunda dan juga linangan air matanya.
Mereka pun maju ke panggung.
“Piala ini Ai persembahin buat bunda, juga buat kak Mawar yang selalu Ai tunggu dan juga untuk ayah dan kakak Ai, Ai ingin membuat kalian bangga sama Ai. Ai yakin suatu saat nanti kita bisa bersama lagi.” Semua yang ada disana terenyuh dengan keadaan Airin.
Setelah Airin dan bunda maju ke atas panggung, tak berapa lama Airin pergi sebentar ke depan lab IPA.
“Airin.” Kata seseorang di lab.
“Arsy. Ngapain gak ada di acara?”
“Lagi benahin lab nih, sayang gue mau cabut dari nih sekolah.”
“Hahahaha.. oh ya liat ini.” Airin memperlihatkan pialanya.
“Lo jadi murid teladan? Queen of the besting angkatan kita?” Airin mengangguk senang, Arsy pun lalu memeluk sahabatnya itu, ya mereka adalah dua orang tak terpisahkan.
“Selamat ya Ai. Selamat.” Kedua bola mata Airin pun berkaca-kaca.
“Ini juga berkat bantuan Arsy, Arsy udah mau selalu ada buat Ai.”
“Kan kita sahabat?”
“Ya kita sahabat.” Mereka pun berpelukan lagi.
Tiba-tiba Airin melihat sekelebat bayangan dari ruangan sebelah lab. Ya, di ruangan TIK, Ai segera melihatnya dari jendela, jendela itu memang dibuat rendah supaya komputer yang berjajar rapi terlihat.
“Kak Seto.” Lirih Airin.
“Kenapa?” tanya Arsy.
“Itu pacarnya Clara?”
“Iya, kak Seto, mahasiswa UGM,” Airin semakin tercengang.
“Lo kenal?”
“Di.. dia pacar kakak Ai.”
“Hah? Pacar? Ayo cepat kita bongkar kejelekan si muka belang itu.”
“Nggak usah, kita ke rumah Ai aja, biar Ai bicara sama kak Mawar.”
Airin dan Arsy pun pergi ke rumah Airin akhirnya, beruntung hari ini Mawar ada di rumah, karena tidak ada jam kuliah dan Seto yang sedang menemani si Clara.
“Kak. Kak Mawar.” Ketuk Airin di pintu.
“Lo yakin?” bisik Arsy.
“Arsy di luar aja ya! Biar Ai bicara sama kakak.”
“Arsy di luar aja ya! Biar Ai bicara sama kakak.”
“Iya deh.” Arsy pun duduk di sofa ruang tamu.
“Kak?” Airin mulai memasuki rumah dan mengetuk di pintu kamar Mawar.
“Kak Mawar.” Perlahan Airin membuka pintu, ia melihat Mawar sedang bersolek di depan cermin.
“Kak?” Airin mendorong kursi rodanya mendekati Mawar.
“Kak, Ai dapet piala, ini Ai persembahin buat kakak.”
“Emang lo fikir, gue bodoh apa? Pake persembah-persembahin, gue gak butuh.”
“Kak Ai mo ngomong sesuatu, ini penting.”
“Lo ngapain sih masuk kamar gue, keluar!”
“Tapi kak,” Mawar mendorong Airin dengan kakinya.
“Kak Seto…”
“Kak Seto apa?”
“Kak Seto selingkuh.”
Plak… Mawar menampar keras pipi Airin yang duduk di atas kursi roda.
“Beraninya lo, dasar gak tau diuntung, anak pembawa sial. Setelah lo bikin gue ama bunda ribut, lo juga mau bikin gue sama Seto ribut. Lo kenapa sih selalu gak suka lihat gue bahagia? Gue benci lo anak pembawa sial, benci.”
Brak.. Mawar mendorong kursi roda Airin keras hingga Airin jatuh terduduk di lantai.
“Lo itu ya, semenjak ada lo, bunda udah ngelupain gue, bunda cuma perhatian sama lo, ayah juga ninggalin gue gara-gara lo lahir, padahal ayah sayang banget sama gue. Dan semenjak ada lo, gue udah gak punya siapa-siapa, gue ngerasa gue anak yatim piatu. Dan gue gak pernah punya adek, apalagi cacat kayak lo.”
Ketika Mawar mengangkat tangan untuk menampar Airin lagi, sebuah tangan menahannya.
“Buktikan! Kak Seto dan Clara masih ada di lab TIK SMA kita.” Kata Arsy.
“Ini lagi, anak bau kencur sok pahlawan.” Mawar pun pergi dari rumah.
Tiba-tiba bunda datang dan memeluk Airin erat.
Bunda membawa Airin ke sebuah taman favorit Airin, hanya disanalah Airin bisa menenangkan diri.
“Bunda, Airin kasihan sama kakak, dia terlalu menderita bun.”
Bunda, memeluk Airin dengan mata berkaca-kaca seraya berkata,
“Bunda sangat bersyukur punya anak kayak kalian berdua, punya Airin yang berhati berlian dan punya Mawar yang kuat sekeras baja.”
Mata Airin menangkap sosok sebuah keluarga, dua orangtua, dan tiga anaknya.
Andai, ayah dan kakak masih disini, keluarga kita akan seperti mereka. Tertawa, tersenyum dan selalu bersama. Terima kasih ya Allah sudah memberiku bunda sehebat bundaku.
“Ai mau es krim?” tanya bunda ketika melihat anaknya menatap sekawanan anak kecil yang sedang menikmati es krim, padahal ia tak tau betapa mirisnya hati Airin ketika melihat kebersamaan keluarga mereka.
Airin tak menjawab,
“Bunda belikan dulu ya sayang.” Bunda pun segera meninggalkan Airin untuk membeli es krim di seberang jalan.
Tak berapa lama, Airin menangkap sosok Mawar di tengah hingar bingar kota, lalu lalang orang yang berjalan pun agak menutupi wajah milik Mawar yang sepertinya muram itu.
“Kak Mawar?” ucap Airin, Airin mulai mendorong kursi rodanya, sekuat tenaga ia memutarkan roda kursi hingga mendekati sosok itu.
Tampak Mawar hendak menyeberang dari trotoar sana,
“Kak Mawar mau kemana ya?”
“Kak Mawar.” Teriak Airin.
“Ai.”
“Ai, kamu diam, kakak kesana ya!”
Apa? Kakak memanggilkan kakak untukku? Oh ya Tuhan ini benar-benar taufik hidayahmu. Apa yang sudah terjadi? Apa kakak sudah tidak membenciku?
Mawar berhasil mendekati Airin sampai ke trotoar seberang.
“Ada apa kak?” tanya Airin senyum.
“Kali ini dugaanmu benar, Seto dan Clara emang selingkuh, dan aku sudah gak punya hubungan dengan Seto.”
“Benarkah kak?” Airin senyum.
“Tapi, asal lo tau ya! Aku gak akan minta maaf dan terima kasih sama lo, lo tetep aja jadi anak pembawa sial, dan selamanya jadi pembawa sial, liat aja! Clara itu temen lo kan. Gue benci lo.” Maki Mawar, setelah itu Mawar melangkah pergi, hendak menyeberang jalan lagi.
“Kak Mawar mau kemana?” tarik Airin,
“Jangan kak! Jalannya ramai banget.”
“Lepasin!” Mawar melepas tangan Airin kasar.
“Kakak…” teriak Airin ketika Mawar menyeberang sebuah truk kuning hendak melintasi jalanan itu dengan kecepatan tinggi.
Sekuat tenaga Airin memajukan kursi rodanya, ia mendorong Mawar, hingga terhempas ke trotoar, akibatnya Airin tertabrak truk itu, tubuhnya terhempas jauh, darah mengucur dari segala penjuru tubuhnya, semua yang ada disana menatap tanpa bisa bergerak, rohnya sudah melayang tinggi meninggalkan jiwanya.
“Airin. Adikku…” teriak Mawar berlari mendekati tubuh yang sudah tak berdaya di atas aspal itu.
Mawar mendekap tubuh itu dengan segenap pelukan, air matanya mengalir deras di wajah cantiknya, sungguh ia terenyuh melihat darah segar dari wajah Airin.
“Sayang, jangan tinggalin kakak, kakak minta maaf, kakak sayang kamu. Kamu adik kakak, kamu bukan anak pembawa sial. Kamu anak yang baik.” Teriak Mawar di sela isak tangisnya.
Bunda yang melihat kejadian itu nyaris pingsan ketika seseorang menangkap tubuhnya.
Tubuh Airin akan dimasukkan ke dalam ambulan yang baru saja datang itu,
“Adikku. Airin jangan tinggalin kakak!” kata Mawar memegang erat tangan Airin sebelum akhirnya mereka dipisahkan mobil ambulance.
“Mawar, kita bertemu di rumah sakit.” Teriak bunda dari dalam, Mawar hanya mengangguk.
Sudah satu minggu sejak kecelakaan itu, Airin koma di rumah sakit, Mawar selalu menungguinya, di kursi sebelah ranjang milik Airin. Mawar tak mau makan, ia sungguh kacau. Semenjak kejadian itu, batinnya sadar, bahwa ia tak seharusnya menyiksa Airin, membuatnya lumpuh, mencacinya, menghina dan berlaku kasar padanya, ia selalu mengatakan bahwa ia malu punya adik cacat padahal ia yang membuatnya cacat.
“Mawar makan dulu ya! Biar bunda yang menjaga Ai.”
“Tidak bun, Mawar gak akan makan sebelum Ai makan,”
Otak Mawar seakan menjadi sebuah strip film yang memutar potongan-potongan peristiwa saat ia berlaku bengis pada Airin, saat membuatnya lumpuh, saat mendorong kursi roda, saat mencaci dan memakinya. Air matanya sudah mengalir deras sejak seminggu yang lalu, membuat kedua bola matanya memerah.
“Mawar janji, jika Airin sudah bangun, kita berlima akan menikmati cokelat hangat bersama.” Kata Mawar kepada bunda, kakak dan juga ayahnya yang telah kembali, persis seminggu yang lalu.
Dua hari kemudian, kedua kelopak mata milik Airin mulai bergerak-gerak, ia mencoba membuka kelopak matanya, terlihat samar-samar sebuah wajah yang selalu ia impi-impikan.
Kakak.
Bunda.
Mata Airin mulai menatap orang di belakng mereka yang sedang tersenyum.
“A… ayah…” kata Airin lemah, sang ayah pun mendekatinya dan mengangguk, lalu mereka berpelukan erat, Airin menangis tersedu-sedu, sungguh ia tak percaya bahwa ia akan melihat seseorang yang hanya bisa ia lihat dalam figura di mejanya selama ini, seseorang yang selalu ia bayangkan bisa membuatnya tertawa, seseorang yang tak pernah ia panggil ayah sejak lahir, seseorang yang hanya ilusi hidupnya selama ini sudah berada di depan matanya.
Setelah pertemuan yang mengharukan itu, mereka mengadakan makan malam dengan cangkir cokelat di atas meja, secangkir untuk berlima, secangkir yang akan mengisi kebahagiaan bersama, secangkir yang merupakan bukti cinta, kasih sayang dan kehidupan yang menyatu.
“Secangkir cokelat impianmu.” Kata kak Mawar, lalu mereka meneguk bergantian.
Mawar dan ayahnya kembali seperti 16 tahun silam, ceria dan tertawa bersama.
Airin sungguh terenyuh bisa melihat Mawar kembali tersenyum dan bahagia.
“Airin. Sekarang kamu percaya kan kalau kakak sudah berubah?” tanya bunda.
“Kak Mawar minta maaf ya sayang, sudah sering membuatmu terluka, ini semua takdir kita, itu bukan karema kamu, dan anak pembawa sial itu tidak ada. Itu hanya karena kakak ketika itu masih tersesat, jauh dari agama, hingga menyalahi takdir.” Mawar pun memeluk Ai erat.
“Ai pengen kalian menjadi satu keluarga yang bahagia lagi.” Kata Airin lemah sebelum akhirnya tubuhnya terjungkir ke belakang.
“Airin. Airin.” Senyum di bibir Mawar langsung lenyap digantikan dengan wajah paniknya, ia mengguncang tubuh Airin.
“Airin…” teriak Mawar ketika ayah dan bunda membawanya ke rumah sakit.
“Airin…” teriak Mawar lagi ketika ia tau bahwa mata indah itu sudah tertutup untuk selamanya, sudah tiada lagi yang memanggilnya kakak, sudah tiada lagi yang menangis di tengah malam, sudah tiada lagi caci maki yang menghiasi pondok kecil itu, tiada lagi rembulan bersinar di malam hari, mawar yang layu akankah semakin layu atau berusaha untuk bersemi kembali, mekar kembali?
End